
Neli dan Kaisar duduk di dekat gerobak tukang bubur ayam yang ada di taman itu. Belum sempat keduanya makan ponsel Kaisar sudah berbunyi.
'Una.' Nama itu terpampang nyata di ponsel Kaisar membuat Neli berdecak tak suka. Bujan sekali dua kali ini terjadi. Una gadis itu kerap kali menghubungi Kaisar di saat waktu libur. Ada saja urusan yang di lakukan antara om dan keponakan palsu itu. Memuakkan.
Kaisar mengangkat teleponnya dan menjauh dari sana.
"Neli aku harus pergi. Una minta di jemput dia baru saja putus dengan pacarnya." ungkap Kaisar.
"Kok gitu sih Kai. Kau yang mengajakku keluar tapi kenapa kau justru malah ingin pergi. Lalu bagai mana aku pulang? setidaknya antarkan aku pulang dulu Kai, aku tak membawa ponsel." Neli kesal bukan kepalang saat Kaisar begitu peduli dengan keponakan palsunya, mungkin jika ia tidak mengetahui Kaisar dan Una tidak terikat hubungan darah, bisa jadi ia tak sekesal sekarang ini.
"Neli ayolah. Una abis mendapatkan kekerasan dari mantan kekasihnya. Aku akan pesankan taksi online, kau tinggal tunggu saja. Aku harus pergi sekarang." Kaisar segera bergegas meninggalkan istrinya. Pikirannya sudah kemana-mana saat mendengar keponakannya terisak karna di pukul oleh kekasihnya.
Kaisar menyayangi Una layaknya seorang Om pada keponakannya, tapi entahlah dengan gadis itu.
"Tega kau Kai." Neli menatap nanar mobil Kaisar yang mulai membelah jalanan.
Satu tetes air mata kembali lolos dari manik indah Neli. Sebisa mungkin ia harus kuat dengan yang tengah ia jalani.
Neli mengabaikan rasa mulas pada perutnya yang melilit beberapa kali.
Seorang pria yang tengah makan bubur di seberang mejanya mendekat mengulurkan tissue pada Neli.
"Jangan sambil nangis makannya. Menangis saat hamil juga tak baik bersedih setabilkan emosimu Nona." ujar pria itu.
__ADS_1
Neli hanya menganguk pelan. "Terimakasih." Neli juga mengambil tissue yang di ulirkan padanya.
Belum sempat Neli menyelesaikan makannya perutnya semakin terasa di remat dengan kuat. Apa yang terjadi padanya. Neli bertanya-tanya dalam hati.
"Aw." Neli memekik pelan di sertai ringisan.
Pria yang hampir duduk kembali di kursinya mengurungkan niatnya.
"Kau kenapa?" Pria itu mendekat ke arah Neli juga dengan orang-orang di sekitarnya.
Neli tidak mampu berdiri kakinya terasa lumpuh. Pusar perasaannya hanya berpusat di bagian perutnya saja.
"Tolong aku! Ini sangat sakit." Neli sudah memegangi perutnya. Pria itu melihat ke arah kaki Neli, cairan bening sedikit kekuningan mengalir di antara kedua kakinya terus turun melewati betis hingga ke mata kakinya.
"Astaga kau mau melahirkan." Pria itu mengenali tanda-tanda melahirkan pada seorang wanita hamil. Ya pria itu seorang dokter, meskipun ia seorang dokter umum tapi ia mengenali tanda dan gejala pada perempuan yang hendak melahirkan.
Di bantu oleh orang-orang yang berada di sana Ziano membawa tubuh Neli ke mobilnya dan membawa wanita hamil itu kerumah sakit.
Setelah menjalani beberapa pemeriksaan oleh dokter sepesialis kandungan Neli di sarankan untuk menjalani oprasi caesar karna tekanan darahnya yang tinggi juga air ketubannya yang telah pecah lebih dulu, maka sangat beresiko jika Neli melahirkan dengan normal.
"Dokter Ziano di mana keluarga pasien?" tanya seorang dokter wanita.
"Entahlah, saya tidak tau lebih anda melakukan tindakan dari pada menanyakan hal tak penting itu." ujar Ziano datar.
__ADS_1
"Bagai manapun kita perlu mendapatkan tanda tangan keluarga pasien sebelum mengambil tindakan." ujar dokter itu kembali.
"Saya bertanggung jawab atas pasien itu." ujar Ziano lagi.
"Baik dokter Zi. Jika itu keputusannya, kami akan melakukan tindakan oprasi caesar melihat keadaan dan kondisi pasien yang mustahil untuk melakukan persalinan normal."
"Ya lakukan."
Selama hampir dua jam Neli berada di ruang oprasi. Ziano hanya duduk seorang diri di luar kamar oprasi, untuk menunggui wanita yang baru pertama kali ia lihat padi tadi. Ia sampai merusak hari akhir pekannya demi menolong ibu hamil yang Ziano ketaui bernama Neli itu.
Setelah beberapa waktu menunghu dokter dan perawat kembali dengan membawa seorang bayi mungil dengan pipi gembulnya, dan yang paling mencolok dari bayi itu adalah bibir merah, juga hidung mungil yang mancung, sedangkan bola mata bayi itu yang berwarna hitam legam persis seperti bola mata Neli.
"Dokter Zi, bayinya laki-laki di sangat se-"
"Bagai mana keadaan ibunya?" yang Ziano khawatirkan adalah wanita yang baru saja melakukan oprasi.
"Dia baik, dok. Sudah sadar dari pingsannya, selama oprasi berlangsung ia tak henti-hentinya meneteskan air mata dengan mata terpejam." ujar dokter itu.
Ziano meraih bayi mungil itu dalam gendongannya dan kembali masuk menemui wanita bernama Neli itu.
"Kenapa kau menangis? Lihatlah putramu lahir dengan sehat dan selamat. Sambutlah dia dengan kebahagiaan. Kelahirannya adalah anugrah terindah untukmu." Ziano menunjukan bayi mungil itu pada Neli. Dan Neli hanya melihatnya sekilas lalu tersenyum hangat.
"Aku bahagia atas kehadirannya Tuan. Yang ku tangi adalah takdirku sendiri." Neli menyeka air mata yang selalu lancang dan tau diri selalu merembes di kelopak matanya.
__ADS_1
"Kau menangisi takdirmu?" Tanya Ziano.
Neli diam membenarkan pertanyan pria dihadapannya.