Perangkap Cinta Pertama

Perangkap Cinta Pertama
Pria Dewasa Normal


__ADS_3

Tepat pukul lima pagi Kaisar membuka matanya. Mata Kaisar mengerjap beberapa kali saat mendapati wajah Neli berada tepat di hadapannya. Kaisar menilai dengan seksama wajah itu. Menurutnya tidak terlalu cantik, Kaisar pernah melihat atau bahkan sering melihat wanita yang lebih cantik Dari Neli. Tapi ada daya tarik tersendiri yang seakan membelenggu Kaisar, sedingga Kaisar sulit melepaskan diri dari wanita itu.


Tangan yang membelit pinggangnya secara perlahan Kaisar uraikan. Kaisar bangkit untuk kembali ke kamarnya, dan sebelum berlalu Kaisar mengecup lebih dulu kening istrinya.


"Semoga pagi ini Kau tidak mual Neli. Sayang jangan nakal kasihan Mamamu." Kaisar melabuhkan satu kecupan di perut istrinya yang tertutup pakaian.


Kaisar berlalu memasuki kamarnya, untuk melanjutkan tidurnya.


Dian memasuki kamar putranya ia duduk, di ranjang besar milik Kaisar. Memperhatikan Kaisar yang tengah mengenakan jasnya.


"Kai batasi setiap interaksimu dengan Neli. Ingat kau harus menceraikan wanita itu setelah dia melahirkan anakmu." Ibu Dian melipat tangannya di dadanya dengan angkuh.


"Kenapa seperti itu Bu.?" Kaisar tak habis pikir dengan cara berpikir ibunya. Dulu ibunya yang memaksa dirinya untuk menikahi Neli, dan sekarang apa lagi ibunya mewanti-wanti agar dirinya bercerai dengan istrinya di saat Neli sedikit demi sedikit mengisi hatinya yang kosong.


"Ibu akan menberikan perhatian untuk istrimu. Istrimu tak akan kekurangan perhatian maupun kasih sayang dari ibu sebagai ibu mertuanya. Asalkan kau harus menuruti apa kata ibu." Ucap Dian tegas.


"Bu. Jika aku menceraikan Neli itu tidak adil baginya." Kaisar menghadap dan mendekati ibunya.


"Berikan konfensasi yang besar untuknya. Jamin kehidupannya, tapi biarkan anakmu agar tetap bersama kita." Dian menatap dalam putranya. "Ibu ingin yang terbaik untukmu. Jangan meragukan Ibu." Dian berkata semakin dalam membuat Kaisar tak tega untuk membantah ibunya.


"Mari buat kesepakatan Bu."


"Maksudmu?"


"Beri Kaisar waktu sepuluh tahun untuk hidup bersama Neli sebagai suaminya yang sesungguhnya." ucap Kaisar penuh permohonan.


"Itu terlalu lama Kaisar." Dian berdecak. "Lima tahun. Ibu memberikanmu waktu lima tahun untuk kau hidup dengan istrimu. Dan anakmu biar ibu yang mengaturnya di rumah ini. Tapi setelah itu lepas istrimu." Akhirnya Dian mengalah bagai manapun ia seorang ibu yang memikirkan juga keinginan anaknya.


"Beri waktu Kaisar enam tahun untuk hidup dengan Neli Bu. Setidaknya aku ingin membahagiakannya di waktu yang singkat itu." Kaisar menunduk.

__ADS_1


"Baiklah, kita akan membuat perjanjian hitam di atas putih. Kau tau difat ibukan." Dian menatap putranya.


"Terserah ibu saja."


"Ibu akan atur semuanya kau tinggal menandatanganinya nanti." putus Dian sebelum keluar kamar putranya.


'Harusnya aku tidak seberat ini untuk melepaskan Neli.' pikir Kaisar dalam hati.


.


Neli sudah bangun sejak setengah jam yang lalu. Lebih tepatnya beberapa menit setelah Kaisar berlalu dari kamarnya.


Wanita hamil itu melihat tempat di sebelahnya yang tampak kusut. Neli menduga jika ada seseorang yang tidur di sampingnya. Ia menyentuh tempat di sebelahnya yang masih terasa hangat berarti itu tandanya orang tersebut baru saja berlalu.


Neli juga mengingat jika sepanjang malam tubuhnya merasa mendekap sesuatu yang ketas seperti seongok tubuh, pikir Neli.


"Dek, kau jadi anak baik sekarang. Terimakasih." Neli mengelus perut ratanya.


Sebelum memasuki kamar mandi Neli meminum airputih terlebih dahulu. Sudah menjadi kebiasaannya sejak lama jika bangun tidur ia akan meminum air putih sebelum memulai harinya. Tapi sejak sebulan terakhir Neli tidak melakukannya di karnakan setiap pagi ia selalu mual dan muntah-muntah.


Neli membersihkan diri dan sudah memakai pakaiannya yang rapih. Wanita hamil itu keluar dari kamarnya.


"Neli ayo sarapan bersama!" Ibu mertuanya mengajak Neli untuk sarapan bersama. Neli hanya mengangguk ia masih canggung untuk sekedar berbincang dengan mertuanya itu.


Sudah tersedia susu hamil pula di atas meja makan.


Neli diam sejenak. Ibu mertuanya yang kemarin bersikap ketus padanya kini sedikit ramah. Apa mungkin ibu mertuanya terpengaruh omongannya kemarin atau ada hal lain pikir Neli. Tidak tau saja wanita hamil itu jika sebenarnya ibu mertua dan suaminya sudah membuat kesepakatan.


.

__ADS_1


Hari demi hari terus berlalu kini kandungan Neli sudah menginjak usia delapan bulan, dan selama itu pula Kaisar tidur di kamar istrinya tanpa di ketahui ibunya. Sedangkan Neli sendiri selalu menunggu Kaisar di kamarnya, karna pria itu akan tidur bersamanya sejak pukul sebelas malam.


Ibunya beralasan jika Kaisar tidur dengan Neli ia takut tidur Kaisar yang tidak anteng dapat melukai calon cucunya yang berada dalam perut. Neli sendiri mengetahui jika itu adalah alibi sang mertua saja.


Neli tidak bekerja ia hanya berdiam diri di rumah saja tanpa kegiatan. Bahkan mertua dan suaminya melarang Neli untuk berkunjung ke rumah ibunya selama hamil.


Seperti biasa Kaisar akan pindah ke kamarnya saat pukul lima pagi.


Calon cucu pertama Dian berjenis kelamin laki-laki membuat wanita setengah baya itu bahagia, ia bahkan sudah menyiapkan rumah dan banyak tanah sebagai ucapan terimakasih untuk menantunya.


Hari itu hari dimana adalah hari apes bagi Kaisar. Ia ketahuan ibunya saat keluar dari kamar istrinya sendiri dengan rambut yang basah menandakan jika ia dan istrinya telah melakukan hubungan suami istri.


"Kai apa yang kau lakukan?" Tanya Dian tiba-tiba. Wanita yang masih mengenakan piama tidurnya menodong putranya dengan pertanyaan tak bermutu.


"Aku. Aku." Kaisar gugup saat melihat pandangan ibunya yang seakan menguliti dirinya.


"Jangan katakan kau habis tidur dengan istrimu?" Dian bertanya marah dengan tangan yang mengepal, Kaisar tau jika maksud tidur yang di katakan ibunya adalah tidur dalam kata lain. Bukan tidur yang sesungguhnya.


"Apa salahnya aku menggauli istriku sendiri Bu." Kaisar mulai jengah dengan sikap ibunya yang menurutnya terlalu ikut campur masalah pribadinya.


"Kau melanggar perjanjian kita Kai." tuding ibunya.


"Perjanjian mana yang ku langgar. Jangan mengada-ngada Bu, aku sudah bilang akan menjadi suami sesungguhnya untuknya." Kaisar membawa ibunya untuk berbicara menjauh dari kamar Neli.


"Kau tidak perlu memberinya nafkah bathin Kaisar, materi dan perhatianmu sebagai seorang suami saja sudah cukup." Dari nada ibunya Kaisar menyadari jika ibunya belum berubah sedari dulu, masih mengatuh apapun tentang hidupnya.


"Mungkin Neli merasa cukup. Tapi aku yang tidak Bu, aku adalah pria dewasa yang normal Bu, ini memalukan untuk ku bahas tapi ibu harus mengetahui ini. Aku membutuhkan tempat untuk menyalurkan hasratku." Kaisar membuang mukanya, ia tak paham dengan jalan pikir ibunya yang menurutnya terlalu rumit.


Dian hanya diam. Padahal hatinya ketakutan jika putranya menentangnya.

__ADS_1


__ADS_2