
Neli memakan makanan yang sudah terhidang dengan lahap meskipun lidahnya terasa kelu juga dengan makanan yang mempir di mulutnya terasa hambar.
Wanita yang kini tengah hamil muda itu menelan gumpalan demi gumpalan makanan sehat yang tersaji, tidak ada perbincangan antara Neli dan mertuanya Neli fokus menghabiskan makanan yang ada di hadapannya. Dan saat makanannya selesai, ibu mertuanya menyuruh Neli untuk masuk ke kamar tamu yang sekarang menjadi kamarnya selama tinggal di sana.
Neli sudah merebahkan tubuhnya di kamar mewah itu, nuansa kamar yang di tempatinya di dominasi dengan warna putih. Entah Neli terlalu lelah atau karna memang sudah pasrah Neli tidak protes saat ibu mertuanya melarang Neli untuk keluar kamar.
Kaisar sudah kembali turun tampilannya sudah lebih segar dengan pakaian semi pormal yang melekat di tubuhnya. Rambutnya juga di sisir rapih dan tertata. Bersamaan dengan itu ayah Kaisar juga datang dengan dua orang tamu bersamanya. Satu di antaranya seorang pria paruh baya sepantaran ayahnya dan satu orang lagi seorang wanita dewasa yang mungkin perkiraan umurnya tak jauh dengan Kaisar.
Ternyata tamu yang di maksud ibunya adalah teman lama ayah dan ibunya. Tapi apa maksud dari makan malam ini, jangan-jangan perjodohan seperti waktu itu. Perjodohan antara Kaisar dan Shifa. Ada keraguan di hati Kaisar akan prasangkanya mengingat ia sudah menikah dan sebentar lagi ia akan memiliki anak.
Untuk sejenak mereka larut dalam basa-basi singkat hingga wanita yang bernama Laila itu memperkenalkan diri di hadapan Kaisar dan orang tuanya.
"Bu dimana Neli?" Kaisar berbisik di telinga ibunya.
Ibu Kaisarpun berbisik di telinga putranya. "Ada di kamarnya biarkan saja yang penting dia sudah makan. Jangan merusak suasana Kaisar." setiap kalimat ibunya terdapat penekanan.
"Kai aku tidak menyangka kau akan tumbuh menjadi pria tampan seperti ini." Laila mencoba mengakrabkan diri orangnya berdifat humble dengan setiap situasi di sekitar.
__ADS_1
"Kau bisa saja La, aku juga hampir lupa kapan terakhir kali kita bertemu."
Sedangkan para orang tua larut membicarakan bisnis mereka masing-masing di tengah makan malam yang mereka lakukan.
Neli merasa tenggorokannya kering sehingga ia memutuskan untuk keluar kamar. Neli tak tau jika di ruang makan tengah ada pertemuan keluarga. Samar-samar Neli mendengar perbincangan antara Kaisar dan seperti seorang wanita tapi Neli tidak terlalu memikirkan hal itu, Neli masih melanjutkan langkahnya menuju dapur. Dan sebelum sampai di dapur Neli harus melewati meja makan.
"Neli kau mau kemana?" Kaisar menanyai Neli yang hendak berjalan ke arah dapur.
"Aku, aku mau mengambil minum." Neli berhenti sejenak memandang ke arah Kaisar dan keempat lainnya yang berada di meja makan.
"Ibu Dian siapa gadis itu?" Laila bertanya pada Nyonya di rumah itu. Gadis itu tersenyum ramah pada Neli, dan hanya Neli balas dengan senyuman canggung.
Kaisar menatap tajam ibunya saat mmengatakan hal yang tidak menyenangkan, sedangkan Dian tidak bereaksi apapun, seolah tatapan anaknya tak berpengaruh apapun untuk dirinya.
Sekali lagi ibu mertuanya menghina dan merendahkan dirinya dengan sengaja. Neli menatap kesembarang arah, mencoba menahan air matanya agar tidak tumpah di sana. Seandainya saja Neli mengetahui jika di ruang makan tengah ada pertemuan keluarga mungkin Neli akan lebih memilih menahan rasa hausnya, atau lebih memilih meminum air kamar mandi dari pada harus di permalukan lagi.
"Saya permisi Nyunya." Neli membungkukan badannya.
__ADS_1
"Neli, jika kau butuh sesuatu kau bisa menyuruh pelayan di rumah ini." Kaisar masih duduk di kursinya ia tak berani bertindak saat mata ibunya kembali menemui dirinya.
"Tidak usah Tuan Muda. Saya bisa bisa melakukannya sendiri." Neli cepat-cepat berlalu air matanya tak dapat ia pertahankan dengan waktu lebih lama lagi.
Rasa hausnya kini telah menguap entah kemana yang tersisa di tenggorokannya hanya rasa getir saja.
Kaisar menatap nanar tubuh Neli yang hilang di telan pembatas ruangan. Alih-alih Neli mengambil minum wanita hamil itu malah lebih memilih memasuki kamar mandi untuk menumpahkan air sialan yang tak tau diri dari matanya.
"Pantas saja. Kemarin Kaisar ingin cepat-cepat pulan kesini ia ingin makan malam dengan wanita cantik itu. Perbedaan antara aku dan gadisnya bagaikan langit dan xa. Terlalu banyak wanita di sekitar Kaisar. Aku akan menunjukan cintaku, tapi aku tak akan memaksamu untuk mencintaiku. Jika nanti kau harus pergi aku akan menerimanya." gunam Neli. Ia segera membersihkan sisa-sisa air matanya dan membasuh wajahnya dengan air kran. Saat ia membuka pintu Kaisar sudah ada di hadapan pintu dan mendorong Neli sehingga memasuki kamar mandi kembali.
"Apa maksudmu memanggilku Tuan Muda?" Kaisar terlihat murka dengan gigi-giginya yang bergemelatuk.
"Lalu aku harus memanggilmu apa? Tuan besar?" Neli tertawa, tapi tawa itu tidak menghibur sama sekali, justru seakan menegaskan kerapuhannya.
"Aku suamimu Neli. Aku bukan majikanmu!"
"Kau lebih pantas menjadi majikanku." Neli menerobos tubuh Kaisar yang menghalangi pintu.
__ADS_1
"Apa harus ku ingatkan jika kau istriku!" Kaisar melabuhkan ciuman basah di antara belahan bibir istrinya.