
Neli memeluk erat tangan Kaisar. "Ah aku merasa memiliki suami."
Tuk ...
Kaisar mengetuk dahi istrinya.
"Memang aku suamimu, bukan ajudanmu." Kaisar mendelikan matanya. Tapi Kaisar membiarkan tangannya di dekap erat oleh istrinya.
"Neng Neli mau kemana?" Seorang ibu yang tinggal di dekat rumah sewa bertanya pada Neli.
"Ini Bu, mau periksa kandungan ke klinik." Neli tersenyum ramah pada ibu itu.
"Aa."
"Hati-hati Neng." Ibu itu membawa daun kelapa kering di penggungnya, serta sebilah golok di tangannya. Dan berlalu menuju rumahnya.
"Neli untuk apa daun kelapa kering itu?" Kaisar sampai memutar lehernya memandangi ibu pembawa daun kelapa kering telah berlalu jauh di belakangnya.
"Nanti daun kelapa kering itu di raut Kai, dan di ambil lidinya untuk di bikin sapu lidi atau kerajinan tangan lainnya." Jelas Neli.
"Oh. Begitu." Kaisar mengangguk-anggukan kepalanya.
"Neli mana? dari tadi kok gak sampai-sampai."
"Sabar. Itu sudah sampai Kai di depan." Neli menunjuk klinik kecil di sana. Kecil sekali untuk ukuran pusat kesehatan.
Keduanya masuk dan mendaptar ke repsionis.
Dikarnakan tidak ada pasien lain maka mereka tidak perlu mengantri di sana dan langsung memasuki ruang pemeriksaan.
Kaisar melototkan matanya saat yang masuk ke ruang pemeriksaan adalah seorang dokter muda seumuran dengannya.
"Neli apa ini alasanmu begitu bersemangat tinggal di kampung ini?" Kaisar menatap tajam istrinya.
"Apaan si Kai?" Neli memutar matanya malas.
"Ada yang bisa saya bantu?" Dokter yang bernama Arka itu bertanya ramah. Jika kalian bertanya dari mana Kaisar mengetahui nama dokter itu tentu saja dari tag nama yang berada di dadanya.
"Tidak."
Dokter Arka mengerutkan kening tak mengerti dengat sikaf ketus yang Kaisar tampilkan.
__ADS_1
"Apa ada dokter lain selain dirimu? Lebih tepatnya dokter wanita."
"Maaf A, di sini hanya ada beberapa dokter saja. Dan untuk dokter wanita sendiri tidak ada jadwal praktek hari ini. Hanya saya dan rekan saya yang juga sesama pria yang bertugas hari ini." ujar dokter itu sopan.
"Ya sudah aku tidak jadi periksa." Kaisar masih berkata ketus dengan tatapan sinis.
"Tapi A-"
"Kau pikir aku abjad di panggil a sedari tadi."
Tanpa bertanya lagi Kaisar membawa
Tangan istrinya untuk menjauh dari dokter yang kini berniat mendekat kearah mereka.
Kaisar terus membawa Neli menjauh dari klinik dengan mulut yang tidak dapat berhenti menggerutu. Kaisar menyangka jika Neli sengaja ke klinik itu ingin menemui dokter muda itu. "Dasar ganjen." Kaisar mencibir Neli, sedangkan Neli tidak menanggapi ucapan Kaisar.
"Pelan-pelan jalannya. Jangan hanya untuk menyamai langkahmu aku harus berlari." Neli berucap sampai membuat langkah Kaisar di terhenti.
"Maafkan Papa. Dek, salahkan Mamamu yang membuat Papa kesal." Kaisar mengusap perlahan perut datar Neli. Menyelinapkan jemarinya kebalik perit istrinya.
Entah Neli baperan atau mudah terbuai akan sentuhan Kaisar, darahnya berdesir hebat juga dengan suhu wajah yang memanas dengan rona merah menjalar sampai ke telinganya. Kaisar selalu berlaku manis saat berucap pada calon bayinya. Jika orang yang tidak mengetahui sikaf Kaisar maka akan menilai Kaisar sebagai pria yang hangat, padahal sebenarnya Kaisar seorang yang dingin juga sangat tidak perduli jika tidak menguntungkan untuknya.
"Kau ingin di priksa pria sok tampan itu, begitu. Ingin di pegang-pegang tubuhmu dengan tangan gemulainya. Ck jangan jadi wanita gatal, kau sedang mengandung anakku." Kaisar berkacak pinggang saat mengatakan itu, seakan Neli adalah wanita yang pandai menggoda seorang pria.
"Haduh, Kaisar otakmu isinya apa sih? Pikirannya selalu kotor akan seseorang. Aku heran seorang bos besar sepertimu mudah sekali memfitnah dan menggunjing orang. Aku curiga kau anak dari salah satu ibu tadi yang berkumpul untuk menggosip." Neli neninggalkan Kaisar yang masih berkacak pinggang dengan emosi yang belum menurun sama sekali.
Ngek ... Ngek ...
"Cilok ... Cilok ... Cilok ..."
Seorang pedagang yang meneriakai nama dagangannya membuat selera makan Neli naik kembali, perutnya terasa lapar saat ini padahal baru beberapa saat lalu Neli sarapan.
Neli mencoba menyentuh kantong pakaian yang ia kenakan kosong tak ada uang di sana, tak ada dompet juga. Neli membuka ponsel yang ia bawa, biasanya ada selipan rupiah disana tapi sialnya kali ini Neli tak menemukan uang seperakpun. Neli menengok ke belakang Kaisar masih di tempatnya berdiri tadi dengan tangan yang masih di pinggangnya.
"Apa?" Kaisar mengangkat dagunya.
Neli tengah berperang. Tapi jika ia malu meminta duit pada Kaisar maka ia gak akan bisa jajan cilok, akhinya wanika itu membuang ego malunya.
Neli kembali mendekati Kaisar "Hehehe. Kai aku minta duit buat jajan cilok." Neli meringis malu.
"Tidak tau malu." Kaisar mengambil dompetnya dan menyerahkan selembar rupiah berwarna merah. Dan di sambut Neli dengan senyuman lebarnya.
__ADS_1
"Terimakasih."
"Mang cilok, Mang." Neli repleks berlari yang membuat Kaisar geram sekaligus khwatir.
"Neli jangan lari." Kaisar menyamai langkah istrinya.
"Eh,"
Neli memelenkan jalannya, agar tidak terkena semprotan kembali dari pria tampan itu.
"Enaknya." Neli tak henti-hentinya memasukan cilok yang berbentuk bulatan kecil pada mulutnya.
Sepanjang perjalanan Neli memakan makanan itu tanpa sisa. "Aduh kok di jalan ini banyak semut rangrang sih." Neli menepuki beberapa semut yang merayap dan menggigiti kakinya. "Ih panas perih." Neli mengeluh.
"Ayo buru jalannya." Kaisar menatap pohon rambutan tadi sudah tumbang dan tergeletak di pinggir jalan dengan di kerubuni bapak dan ibu pemilik pohon rambutan itu.
"Lah kok pohon rambutannya di tebang Pak?" Neli berujar polos tak sedikitpun ia curiga jika pelaku utama dari tumbangnya pohon rambutan itu adalah dirinya.
"Kan, Neng Neli ingin rambutan nya jadi suami Neng Neli membelinya sekalian dengan pohonnya." ujar istri bapak pemilik pohon rambutan.
Neli melongo dengan mulut terbuka lebar.
"Cepat Neli kau mati rasa, semutnya mulai banyak." Kaisar yang tak sabar menggendong Neli menuju rumah sewa yang tak jauh dari sana.
"Pak, Bu. Tolong pastikan semuknya pergi sebelum membawa rambutan itu pada istriku." Kaisar berujar sambil berlalu dari sana.
"Kai kau membeli pohon rambutan Pak Nadi?" Neli ingin memastikannya.
"Ya Neli aku membelinya. Jika tidak membelinya mana mungkin Bapak tadi sedermawan itu menebang pohon rambutan demi untuk memberikan buahnya pada orang hamil." Kaisar menatap Neli dengan tampang meledek.
"Berapa kau membelinya?"
"Lima juta."
"Hah, lima juta hanya demi rambutan." Neli melotot tak percaya tangan yang mengalung di leher Kaisar mulai mengendur.
"Tadinya malah aku menawarkan sepuluh juta. Tapi bapaknya hanya menghargakan rambutannya lima juta." Kaisar berkata datar membuat Neli semakin kesal.
"Kau itu boros sekali Kaisar. Jangan hamburkan uangmu untuk hal yang tidak penting. Aku tak ingin di katakan sebagai istri pengeretan saat menghabiskan duitmu." Neli berpikir terlalu jauh, apa lagi dia tidak mengenal dengan benar keluarga Kaisar. Bayangan tentang mertua dzalim menghantui otak Neli, mengingat Kaisar orang penindas bisa saja itu di turunkan dari orang tuanya bukan?
"Uangku tak akan habis. Aku kaya raya."
__ADS_1