Perangkap Cinta Pertama

Perangkap Cinta Pertama
Aus ... Mari Pergi


__ADS_3

Selang satu tahun Kaisar sudah bertunangan dengan wanita yang bernama Laila.


Neli juga hadir di pertunangan mantan suaminya itu, dengan membawa kereta dorong Austin. Bayi yang baru berusia setahun lebih itu tampak menggemaskan dengan kemeja berwarna Navy juga dasi berbentuk kupu-kupu berwarna abu muda senada dengan celana bayi itu.


Raut senang Kaisar yang tadi berbinar hendak menyambut bayinya kini berubah keruh saat pria yang bernama dokter Ziano turut hadir di antara bayi dan mantan istrinya.


"Kaisar tersenyumlah!" Ibu Kaisar menyikut putranya yang terlihat murung.


Ibu Kaisar mencari Fokus pandang putranya dan menemui Neli mantan menantunya juga cucu kandungnya yang tampak terlelap di kereta dorong.


Putri pertama Ibu Dian tidak hadir karna karna tengah menemani suaminya tugas di luar kota. Sedangkan Una cucu angkatnya. Hanya duduk dengan wajah di tekuk. Entah apa yang di pikirkan gadis muda itu, sehingga wajahnya terlihat kusut.


"Diam di tempatmu! Jangan menghampiri Austin. Ibu belum nengatakan jika kau memiliki anak sebelumnya." Ibunya memberikan petuah pada putranya.


Sekuat mungkin Kaisar menahan diri untuk tidak menghampiri putranya.


"Neli kau di undang sebagai apa? Mantan istri? Atau ibu dari putramu?" tanya Ziano sebenarnya mereka bertemu di sana tidak sengaja bukan janjian atau apapun.


"Entahlah, mungkin sebagai mantan pegawainya." Neli terkekeh. "Tapi aku tak berani menghampiri mereka takut merusak acara. Kata ibu mertuaku tunangan Kaisar tidak mengetahui jika Kaisar pernah menikah sebelumnya itu sebabnya aku masih berada di sini." Neli berkata jujur pada pria yang ramah dan sangat baik itu.


"Ya ampun Aus, semakin montok saja." Ziano beralih menatap Austin yang tengah memadukan mainannya dalam mulutnya.


"Aus ..." Ziano menyapa bayi gembul itu. Yang di tanggapi dengan gelak tawa Austin.


Kaisar tampak serasi duduk bersanding dengan Laila. Gadis itu sangat anggunly dan sopan. Cocok dengan Kaisar yang berwibawa, kepemimpinannya tampak menguar dari auranya. Sesekali mata Kaisar menemui Neli.


"Neli sepertinya Austin haus." Ziano yang bermain dengan Austin menyadari bocah itu mengantuk terlihat dari bocah gembul itu yang mengucek kedua matanya bergantian.


"Anak Mama mengantuk? Iya?" Neli meraih bayinya dan menimangnya dalam gendongannya. Ziano memperhatikan Neli dari tempatnya berdiri, ada luka yang berusaha wanita itu sembunyikan dari matanya.


"Zi, bisa tolong ambilkan botol susu di kantong kereta dorongnya." Ziano mengangguk dan mengambil botol penuh yang terisi cairan berwarna putih itu.

__ADS_1


"Kau memberinya susu Formula?" Tanya Ziano.


"Tidak, itu adiku. Hanya saja aku membiasakannya meminum di botol agar Austin terbiasa. Aku tidak bisa menyusuinya secara langsung setiap saat, ada kalanya aku harus keliar untuk mengerjakan sesuatu agar bisa menghasilkan uang, untuk biasa hidup kami." pungkas Neli.


"Mantan suamimu kaya. Kenapa kau masih bekerja?"


"Yang kaya mantan suamiku, bukan aku." Neli meraih botol susu dan memberikannya pada bayinya.


"Maksudku masa kau tidak mendapat tunjangan?"


"Ada. Tai aku bukan typikal wanita yang gemar berpangku tangan. Aku lebih menikmati hasil kerja kerasku." ujar Neli.


"Tunggu di sini. Aku akan mencarikanmu kursi."


Neli hanya mengangguk.


Kaisar merasa tidak berguna saat melihat Neli kerepotan sendiri mengurus putranya.


"Mau kemana kau?" Ibu Kaisar menghentikan langkah putranya.


"Diam di tempatmu. Kita sudah memberinya banyak konpesasi. Jika kau ingin menemui putramu nanti setelah acara selesai. Jangan berbuat hal aneh jika kau tak ingin ibu berbuat nekad." untuk kesekian kalinya Kaisar terpaksa menuruti perintah ibunya.


Ziano kembali dengan kursi dan menyuruh Neli untuk duduk. Setelah bayinya terlelap Neli membaringkan putranya di kereta dorong.


Seorang Mc mengatakan jika acara utama akan di mulai yaitu pertukaran cincin.


Neli tak sanggup untuk melihat hal ini. Bisa-bisa ia tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis.


"Zi, aku titip Austin sebentar."


"Kau mau kemana?"

__ADS_1


"Toilet Zi."


"Baiklah." Ziano melihat cairan yang melapisi mata Neli yang hendak tumpah, sehingga ia membiarkan Neli untuk menenangkan diri.


Ziano tau ini tidak mudah bagi seorang Neli.


Neli melangkah pergi.


Baru beberapa saat Neli pergi, tepat di saat Kaisar akan menukar cincin, Austin yang terlelap tiba-tiba menangis kencang. Membuat Semua tamu menatap ke arah bayi itu.


"Hua ... Huaaa ..."


"Pak tenangkan bayinya jangan mengganggu." ujar salah seorang tamu.


"Cup cup. Diam ya sayang." Ziano mengangkat bayi itu menepuk pelan punggung Austin berusaha menenangkan bayi dalam dekapannya.


"Kau ayahnya bukan sih? Masa tidak bisa menenangkannya."


"Bawa pergi bayimu. Jangan sampai kalian di usir dari sini."


Ziano masih berdiri di sana hanya tengah menunggu reaksi Kaisar tapi sepertinya, ayah dari bayi yang tengah ia gendong terlihat tak perduli.


"Dokter Ziano. Maaf tolong Bawa pergi bayimu!" Abraham berkata sopan.


"Kuharap kau mengerti. Ini acara pertunangan putriku, tolong aku tak bermaksud tak sopan." calon mertua Kaisar itu meminta maaf.


"Baik Tuan Abraham. Maaf karna mengganggu acara putrimu." Ziano meninggalkan kereta dorongnya. Kedua tangannya sibuk menenangkan bayi dalam gendongannya.


"Aus ... Mari pergi." Ziano membawa bayi itu dari tengah acara.


"Kemana Mamamu?"

__ADS_1


Kaisar hanya memejamkan kedua matanya. Ia bodoh ia tidak bisa berbuat apapun.


Ya siapapun pasti mengatakan Kaisar Ayah paling buruk.


__ADS_2