
Neli memakan seluruh makanan yang di beli oleh orang suruhan Kaisar, wanita itu terlihat sangat rakus persis seperti anjjing lapar yang tengah kesurupan. Bahkan jatah Kaisarpun ia makan hingga tandas, Kaisar menelan salivanya susah payah saat Neli tidak memperdulikan sikaf malu-malunya di hadapan Kaisar.
"Kau seperti seorang musafir yang kelaparan!" cibir Kaisar tapi pria itu malah memotong beberapa buah untuk istri barunya. "Berapa minggu kau tak makan?"
"Entah lah Kai, aku lupa kapan terakhir kali aku makan enak. Anakmu terlalu kolokan bahkan aku selalu mual saat mencium bau makanan." Neli kembali memasukan potongan buah dalam mulutnya.
"Kai, aku ingin makan dukuh tolong kupasin, pisahin juga daging dan bijinya." perintah Neli tampa benan.
"Yang benar saja kau, bagaimana caraku memisahkannya?" kalian bauangkan sendiri lah padajal buah dukuh itu kan banyak bijinya, hampir setial buah terdapat bijinya, pusing sekali Kaisar menuruti keingina wanita hamil ini.
"Terserah, ini keinginan bayimu. Jika ingin bayimu ileran tidak papa." Neli merajuk melipat tangan di dadanya.
Kaisar menghela nafas kasar ia harus mengalah selama Neli tengan mengandung anaknya. Dengan telaten kaisar memisahkan satu persatu buah itu dari kulit dan bijinya.
"Kau sekarang seperti orang sehat." Ujar Kaisar di tengah aktipitasnya memisahkan kulit dan biji buah dukuh.
"Aku memang sehat, dan waras tentunya."
"Bukan itu maksudku. Tadi saat aku datang kau terlihat sangat lemah dan tak bertenaga, tapi sekarang kau sudah kembali menjadi energik dan bersemangat, apa seberpengaruh itu diriku untukmu?" Kaisar tetsenyum mengejek.
"Percaya diri sekali kau berkata seperti itu, aku terlihat lemas tak bertenaga itu karna aku bel makan sejak kemarin dan kembali sehat setelah menyantap makanan. Bukan karna dirimu." Neli membuang mukanya.
"Habiskan makanamu kita harus mandi, keramas serta memotong kuku." Kaisar menyerahkan buah yang sudah selesai ia kupas.
__ADS_1
"Tapi dingin." Neli tidak berbohong udara di sini memanglah dingin, juga dengan keadaan Neli yang kurang sehat.
"Aku akan memandikanmu dengan air hangat."
"Disini bukan seperti di kota, tidak ada shower air hangat. Nanti saja aku mandinya.," Neli mencari aladan agar tidak harus mandi, sumpah Meli malas jika harus menyentuh ais, sepertinya ia sedang cosplay jadi kucing libur mandi.
"Ada kompor Neli. Jangan membantah aku lebih sudi memasak air dari pada harus bergadang nanti malam karna tak dapat memejamkan mata karna aroma tubuhmu yang busuk."
Neli hanya mencebik kesal kebiasaan Kaisar belum berubah.
Kaisar memasak air untuk mandi Neli, juga pria itu menyisir rambut dan memotong kuku Neli dengan telaten. "Kau harus membayar dengan mahal diriku, seorang bos melayani karyawannya, itu adalah ke ajaiban."
Neli hanya diam ia tak berencana menyauti apa yang Kaisar ucapkan, atau akan ada perdebatan kembali. Padahal Neli tidak menyuruh Kaisar untuk melayaninya.
Kaisar mengambil salah satunya membaca dan menelitinya.
"Hentikan pemakaian skin care ini Neli. Kau sedang hamil kandungan di dalam produk ini tak baik untuk wanita hamil." Kaisar menjnjukan komposisi produk yang di pakai Neli.
"Lalu aku harus memakai produk apa, jika wajahku tak memakai itu wajahku akan berjerawat dan aku akan terlihat semakin jelek." Neli mencebik, Kaisar seenak jidatnya mengaturnya ini dan itu.
"Jerawat tidak akan membuatmu mati Neli. Nanti akan ku blikan produk lain tentunya yang aman untuk ibu hamil." Kaisar meletakan kembali produk kecantikan milik Neli di tempat asalnya.
Malam sudah mulai larut, udara dingin kian menusuk tulang Kaisar, ya pria itu butuh kehangatan. Melihat Neli yang tengah memakan cemilannya sambil menonton tv membuat darah Kaisar berdesir, berdua dengan Neli rasanya tidak aman padahal sebelumnya Kaisar belum pernah seterang sang ini pada seorang wanita.
__ADS_1
"Neli." serak-serak becek Kaisar memanggil wanita yang sudah menjadi istrinya.
"Ada apa?"
"Dingin." ujar Kaisar dengan mata yan sudah berkabut.
Neli beranjak membuat segelas teh rempah. Dan meletakan di atas meja di hadapan Kaisar.
"Teh ini akan menghanyatkan tubuhmu."
Kaisar menarik tangan Neli sampai wanita yang tengah hamil muda itu terduduk di pangkuan Kaisar dengan posisi punggung Neli yang merapat ke dada Kaisar.
"Aku ingin kehangatan yang lain Neli." Kaisar berbisik sensual di telinya istrinya gigi dan bibirnya mengapit pelan cuping telinga Neli.
Tubuh Neli menegang matanya sudah melotot juga dengan keringat dingin yang turut keluar dari kening dan telapak tangannya.
Neli hendak beranjak tapi Kaisar menahan kuat tubuh wanita hamil itu untuk tetap pada posisinya. Sebulan lebih ia tak menyentuh wanita manapun setelah sebelumnya ia menggagahi Neli.
"Kaisar, lepas jangan seperti ini." Neli menatap datar Kaisar sebisa mungkin menyembunyikan ketakutannya.
"Aku suamimu Neli, Layani aku. Atau aku akan mencari lubang lain untuk menumpahkan benihku."
Neli mematung dengan bibir yang melipat ke dalam, di atas pangkuan Kaisar. Ia di lema antara menuruti keinginan suaminya atau membiarkan Kaisar mencari kesenangan dengan wanita lain.
__ADS_1