Perangkap Cinta Pertama

Perangkap Cinta Pertama
Sabar Kai


__ADS_3

Neli mendorong kasar dada Kaisar yang tengah menghimpitnya, sampai pertautan antara bibirnya dan bibir Kaisar terlepas paksa.


"Lepas Kai! Bagaimana jika ada yang melihat kau memasuki toilet yang di dalamnya ada aku." ucap Neli panik ia ingin segera keluar dari situasi ini.


"Biarkan saja, siapa yang akan melarang sepasang suami istri yang berada dalam satu toilet bersama." Kaisar berucap acuh tanpa Ekspresi.


"Kau kan sedang makan malam." Neli mengingatkan. "Ada tamu cantik juga." ucapnya kembali dengan nada sinis.


Kaisar mengenali nada sinis istrinya itu sebagai tanda jika Neli memang tengah cemburu saat ini. Tak perlu bertanya Kaisar paham betul tingkah laku Neli.


"Makan malamnya sudah selesai dari setengah jam yang lalu Neli, aku menunggumu di depan pintu lebih dari sepuluh menit. Untung saja aku tidak menendang pintu dialan ini."


"Siapa yang menyuruhmu menungguku." Neli mencebikan bibirnya.


"Ayo kita keluar, setelah ini kau harus istirahat."


"Iya, sebentar aku belum minum." Neli melangkah ke dapur dan meneguk dua gelas air putih hingga tandas.


Kaisar membawa dua botol air mineral berlabel aquarius dengan ukuran satu setengah liter, ia hendak ke kamar tamu untuk menemani Neli istirahat tapi langkahnya di hentikan sang Ibu.


"Kau mau kemana Kai?"

__ADS_1


"Ini sudah malam Bu, aku ingin istirahat."


"Tidur di kamarmu Kai." Ibu Dian berkata tegas tanpa ingin di bantah oleh putranya.


Kaisar menghembuskan nafas kasar saat ibunya di bantah wanita yang telah melahirkan kedunia itu akan berbuat nekad, bahkan pernah sampai mengancam mau bunuh diri saat putrinya hendak bercerai dengan menantunya dulu.


"Iya Bu. Kaisar mengantarkan air mineral ini dulu." Kaisar menunjukan dua botol air di tangannya. Dan berlalu memasuki kamat tamu.


Kaisar memutar tutup botol yang masih tersegel sampai terdengar bunyi 'Krek.' pertanda tutup botol itu sudah tak tersegel lagi.


Kaisar juga membaringkan tubuh istrinya juga menyelimuti tubuh itu dengan selimut. "Tidurlah." Kaisar mengecup kening juga perut istrinya. "Anak Papa jangan nakal ya." Kaisar meninggalkan istrinya setelah mematikan lampu.


Sepatuh itu Kaisar pada ibunya. Gunam Neli dalam hati, pria tampan itu selalu nengabaikan apa kata orang kecuali kata dari ibunya. Setiap patah kata dari ibunya adalah perintah bagi Kaisar, karna selama ini ibunya memang sangat menyayanginya. Bagi Kaisar Apa yang di perintahkan ibunya adalah kebenaran dalam hidupnya.


"Ingat! Kau menikahinya demi bayimu. Demi cucu ibu, jangan sampai di waktu saatnya nanti kau keberatan untuk melepas wanita itu." Dian memperingati putra tunggalnya. Ia ingin cucunya lahir dengan identitas yang jelas, dan setelah itu ia sendiri yang akan membesarkan sang cucu. Supaya Kaisar bisa memulai hudup barunya.


"Meskipun cara calon cucu ibu hadir dengan cara tidak tepat, tapi Ibu akan tetap menyayanginya." lanjut Dian kembali.


"Heem." Hanya gunaman tak jelas yang Kaisar ungkapkan sebagai respon.


.

__ADS_1


Kaisar tidak bisa memejamkan mata. Sudah lebih dari satu jam yang lalu Kaisar bolak balik mengitari seluruh ranjangnya, tapi matanya enggan untuk terpejam ia gelisah mengingat Neli, ia ingin tidur di samping wanita memeluk tubuh yang kemarin malam ia peluk dalam tidurnya.


Cukup sudah Kaisar tak tak tahan lagi. Ia butuh istirahat dan jika ia masih berada di kamarnya maka bisa di pastikan ia tak akan bisa istirahat sedangkan ia perlu tidur agar kembali segar esok hari.


Kaisar memutuskan untuk menyelinap ke kamar istrinya, untung saja ia memiliki cadangan kunci kamar tamu.


Kaisar pelan-pelan membuka pintu kamar tamu ternyata tidak di kunci.


"Ceroboh sekali."


Neli tertidur meringkuk di atas ranjang tanpa selimut sama sekali. Selimut yang di pakaikan Kaisar tadi sudah terongok di kakinya.


"Kau memiliki apa Neli,? aku sampai ingin tidur bersamu. Astagha aku lupa Nelikan sedang hamil ini pasti ikatan antara aku dan bayiku. Kata orang seorang calon ayah akan selalu ingin tidur dengan anaknya." entah sejak kapan Kaisar mempercayai tahayul seperti itu. Tapi jika di bilang tahayul juga tidak penelitian dokter juga mengatakan demikian.


Kaisar masih memandangi wajah Neli dengan seksama terlihat tenang dalam tidur yang membuainya.


Tapi seketika tubuhnya terasa panas saat Neli merubah posisi tidurnya menjadi terlentang dengan pakaian yang terangkan keatas memamerkan paha mulusnya.


"Sial bukannya tenang, aku malah tambah gelisah. Dasar anatomi tak tau diri liat begituan langsung bangun." Kaisar merutuki adik kecilnya yang berdiri. Sebisa mungkin Kaisar menahan hasratnya, ia tak tega jika harus membangukan istrinya yang tengah tertidur pulas.


"Sabar Kai. Sabar." Kaisar mensugesti dirinya sendiri.

__ADS_1


Pakaian yang terangkat itu Kaisar benarkan agar ia dan adik kecilnya bisa tidur dengan lelap. Kaisar mengingatkan dirinya sendiri agar bangun pagi-pagi buta sekitar jam lima pagi agar ibunya tidak memergokinya keluar dari kamar yang di tempati istrinya.


__ADS_2