Perangkap Cinta Pertama

Perangkap Cinta Pertama
I love you to suamiku


__ADS_3

Kaisar mau tak mau memanjat pohon rambutan yang di penuhi dengan rambutan matang itu.


Kaisar memanjat rambutan itu meskipun langsung di sambut dengan gigitan semut rangrang. Ya Tuhan ini pertama kalinya Kaisar menyerahkan dirinya untuk di sambut dengan penderitaan yang terasa sakit. Sialan, seandainya saja Kaisar tidak memikirkan Neli yang menginginkan rambutan dari tangannya langsung ia tak ingin repot-repot seperti ini.


Baru satu tangkai Kaisar meraih rambutan itu, ia sudah menyerah puluhan atau mungkin ratusan semut rangrang itu menggigiti tubuhnya baik yang tampak naupun kedalam bajunya. Semuk itu bahkan menggititi perut kotak serta asetnya. Cuku Kaisar tidak setabah itu dalam menghadapi cobaan.


Kaisar memilih mekloncat turun dengan setangkai rambutan di tangannya. Neli menghitung rambutan di tangan Kaisar tak lebih dari enam biji.


"Kai itu tidak cukup aku ingin lagi."


"Diam Neli." Kaisar menyentak Neli tangannya sibuk mengusir semut yang sejak tadi menggigitnya. Panas perih semua itu Kaisar rasakan. Mungkin ini yang di maksud rasanya kaya di madu suami seperti yang di nyanyikan artis pantura itu, panas dan perih datang secara bersamaan.

__ADS_1


"Kau ingin aku mati di makan semut setan itu. Kemudian kau dan anakku mendapat warisan dan asuransi dariku? Picik sekali pikiranmu." Kaisar masih mengusir semut-semut itu.


"Mana seperti itu. Di gigit semut tidak akan membuatmu mati." Neli mencebik. Di tengah Kaisar yang kepayahan mengusir semut-semut itu Neli malah menyantap rambutan yan di dapat Kaisar rasanya sangat manis. Dalam sekejap Neli sudah menghabiskan rambutan itu. Kaisar sendiri masih mengaduh dan menepuki semut di dalam celananya. Kaisar bahkan membuka kemeja yang ia kenakan demi mengusir semut rangrang di tubuhnya.


Orang-orang yang tak sengaja lewat menatap kagum tubuh berotot nan terawat Kaisar. Meski di hiasi dengan ruam akibat gigitan semut itu. Tidak merubah sedikitpun pandangan kagum dan memuja dari orang-orang itu.


"Kau sengaja ingin memamerkan tubuhmu?" Neli segera merebut baju pria itu dan memakaikannya kembali. "Tubuh Ini milikku kau tidak memiliki hak untuk mempertontonkannya." Neli memakaikan kancing baju Kaisar dengan tergesa membuat Kaisar menatap heran lalu sedetik kemudian Kaisar mengulum senyumnya dengan cara melipat bibirnya rapat.


"Kau masih ingin rambutannya?" Saat Kaisar Neli mengangguk dengan antusias.


Kaisar mendekati bapak pemilik rambutan yang juga menyerahkan balsem paadanya. Kaisar keberatan untuk memakai balsem itu jadi ia menolaknya dengan sopan. Kaisar tampak berbincang-bincang sebentar. Entah apa yang Kaisar bicarakan tapi Bapak itu terlihak mengangguk beberapa kali dan bekata "Muhun dan wios." dalam artian baik dan tidak papa.

__ADS_1


"Ayo. Kita periksa dulu. Nanti kau akan makan rambutan itu sepuasmu." Kaisar mengapit tangan Neli untuk berjalan di sampingnya. Neli hanya mengangguk ragu dan sesekali menengok ke atas pohon rambutan itu.


Orang desa sangat ramah-ramah meskipun di sana Neli sebagai pendatang baru tapi orang-orang di sana sangat peduli dan sangat santun dalam berbicara. Tapi tidak semua sih, contohnya ada beberapa ibu-ibu yang kemarin mengatai Neli sebagai wanita malam kini kembali berbisik-bisik di dekat kerobak tukang sayur.


"Wajahnya biasa aja tapi orang yang di gandengnya jelmaan dewa yunani Ceu." Celetuk salah seorang rombongan ibu-ibu kepo itu. Tentu saja orang itu sengaja, kalo tidak sengaja mana mungkin orang itu terang-terangan berkata seperti itu. Terlebih berbisik tidak mungkin sekencang itu. Dan lagi di sinikan mayoritas penduduknya bahasa sunda, masa tiba-tiba menggosip dengan bahasa indonesia selain hanya agar terdengar di telinga Neli.


Ternyata di mana-mana mencampuri urusan orang adalah tradisi dari tetangga di sekitar tempat kita berada baik itu di kota maupun didesa ada saja orang yang usil akan hidup orang lain.


Neli hendak menyaut dan menyangkal. Tapi genggaman jemari yang hendak Kaisar lepaskan malah semakin menggenggam tangan Neli dengan semakin erat. Dan Kaisar membisikan sesuatu di telinganya.


"Jika tidak merugikan atau melukai fisikmu abaikan setiap perkataan orang. Tidak setiap kalimat kau tanggapi Neli. Belajarlah menahan diri agar tidak terpengaruh. Mereka mempunyai mulut, mereka berhak untuk mengatakan apapun. Dan kau punya otak kau juga bisa berpikir jika menjelaskan apapun pada mereka tidak akan merubah apapun maka biarkan saja." Akhirnya Neli mengangguk dan menuruti apa yang Kaisar katakan.

__ADS_1


"I love you too. Suamiku." Neli berkata nyaring seakan apa yang di bisikan Kaisar adalah pernyataan cinta. Membuat Kaisar menautkan alis lalu setelahnya Kaisar hanya tersenyum dengan senyuman memabukan.


Keduanya berjalan tanpa menyapa sekumpulan ibu-ibu yang terlihat dinis menatap Neli.


__ADS_2