Perangkap Cinta Pertama

Perangkap Cinta Pertama
Akan membawa bayiku


__ADS_3

"Kaisar ini beneran dirimu?" Neli bertanya dengan mata yang mengerjab beberapa kali dirinya masih sangsi jika yang ada dihadapannya adalah Kaisar.


"Menurutmu? Pria yang kau puja seumur hidupmu memiliki kembaran." Kaisar mendengus.


"Kau sedang apa di sini?" ujar Neli, suaranya terdengar lemah persis seperti seorang gelandangan yang tidak makan dua hari dua malam.


"Aku di sini akan menjemput anakku pulang."


"Anak?" Neli mengerutkan kening bingung.


"Ya anak yang kau culik dariku dan kau membawanya pergi. Tega sekali kau memisahkan aku dan anakmu." Kaisar melotot dengan dan berkacak pinggang.


Neli repleks memeluk erat perutnya sendiri. "Di-dia anakku. Aku tidak menculiknya. Bagai mana mungkin kau mengatakan aku menculiknya di saat bayinya masih di perutku."


"Kita harus pulang ke kota."


"Aku tidak mau."


"Kau harus mau, turuti perintah suamimu."


"Suami? Suami siapa?"


"Tentu saja suamimu, kita sudah menikah Neli." Kaisar menunjukan bukti-bukti pernikahannya.


"Aku tidak ingin menjadi istrimu."


"Kau ingin anak kita lahir di luar pernikahan? Kau jangan egois Neli, jika kau tak ingin menjadi istriku tidak papa, tapi berkorbanlah sedikit Neli demi bayi kita kau harus tetap menjadi istriku sampai bayi kita lahir."


"Tapi-"


"Kau pikir aku sudi menikahi wanita gila sepertimu? Aku menikahimu juga karna terpasa, terpaksa karna benihku sudah tersemai di rahimmu."


Neli berpikir, benar apa yang di katakan Kaisar , ia tidak boleh egois bagai manapun calon bayinya berhak mendapatkan status yang layak agar di masa depan hidup bayinya lebih mudah.

__ADS_1


"Neli apa kau sudah makan? Maksudku apa bayiku sudah makan." Kaisar menatap manik sayu wanita yang selama dua belas tahun menhejar cintanya.


"Belum." Neli menggelengkan lemah kepalanya pun ia masih lemas hanya untuk sekedar memasak atau mencari makanan.


"Kau ingin makan apa?" Kaisar menurunkan egonya. Ia harus bersikap lebih lembut pada wanita yang sudah menjadi istrinya itu. Karna yang Kaisar ketahui jika seorang wanita hamil itu di jaga perasaannya agar senantiasa dalam keadaan mood yang baik, agar kesehatan Neli dan baginya tetap terjaga.


"Apa saja, yang terpenting makanan. Aku juga ingin makan buah dukuh Kai." Neli berujar dengan malu-malu kambing, ia tak memiliki pilihan selain meminta apapun yang ia inginkan pada Kaisar. Pria itu satu-satunya yang bisa di andalkan kali ini.


"Tunggu sebentar aku akan menelpon orangku." Kaisar berjalan keluar menghubungi orang suruhannya.


Saat Kaisar kembali masuk Neli tengah muntah-muntah di kamar mandi, tak ada yang di keluarkan dari mulut serta hidungnya selain cairan bening yang entah akan sampai kapan akan habis.


"Neli."


Kaisar membantu Neli untuk mengusap punggung serta memegangi rambut wanita itu agar tidak terkena muntahannya.


"Kai mual. Owek ... "


Lagi-lagi Neli memuntahkan isi perutnya.


"Sudah?" Kaisar mengusap mulut istrinya yang basah. Neli tidak merespon pertanyaan Kaisar, wanita itu hanya mengangguk pelan juga dengan mata yang mulai tertutup.


Kaisar menggendong tubuh istrinya.


"Selama disini apa kau tidak makan Neli.? Tubuhmu semakin kecil dan kurus." Kaisar meraih ikat rambut di atas meja kecil di sudut ruangan dan mengikat rambut Neli dengan asal.


"Bukan aku tidak makan Kai, hanya saja makanan yang aku makan akan selalu keluar kembali seperi tadi." Neli mengusap tubuhnya yang di penuhi keringat.


"Sudah lama kau seperti ini?"


"Semingguan ini Kai. Aku tak tau kenapa aku selemah ini." Neli terpejam di atas tikar meskipun tidak tertidur.


"Dasar bodoh. Kau seperti ini karna sedang mengandung anakku." Kaisar mendengus, ia mengepalkan jemari panjangnya saat ada dorongan ingin menoyor kepala wanita itu.

__ADS_1


Neli membuka matanya dan menatap tajam Kaisar. "Menurutmu karna ulah siapa aku msnderita seperti ini?"


"Tentu saja karna ulahmu sendiri." Kaisar menolak mengakui perbuatannya.


"Ya sepertinya aku hamil oleh diriku sendiri."


"Baiklah Neli, kau hamil karna ulahku aku tak ingin anakku menganggap aku tak mengakuinya."


"Siapa yang merawatmu selama di sini?"


"Tidak ada yang merawatku. Aku hanya merawat diriku sendiri."


"Dasar keras kepala. Harusnya kau tidak melarikan diri dariku." Kaisar mendekatkan wajahnya mengecup perut rata Neli. Neli sampai di buat terkejut dan memundurkan tubuhnya.


"Menjauhlah Kau aku sudah tiga hari tidak mandi."


"Jorok." Tapi Kaisar malah mengambil minyak kayu putih dan mengolesnya di kening Neli.


"Kau sangat menyayangi bayi ini Kay?"


"Tentu saja dia anak pertamaku." Kaisar kadang-kadang masih berkata ketus.


"Kau menginginkannya?"


"Dia anakku Neli tentu saja aku menginginkannya."


"Meskipun ibu anakmu adalah aku?"


"Ya meskipun ibunya adalah kau. Karna yang aku inginkan adalah anakku bukan dirimu. Aku tidak perduli tentang dirimu." Kaisar tidak sadar jika perkataannya sangat melukai perasaan Neli.


Neli yang bodoh, harusnya ia tidak terlalu banyak bertanya jika tidak ingin dirinya semakin terluka. Harusnya Neli sadar diri dari awal Kaisar sudah mengatakan jika yang pria itu inginkan adalah bayinya.


"Lalu apa yang akan kau lakukan saat bayi ini sudah lahir.?"

__ADS_1


Neli sudah menyiapkan hati akan jawaban Kaisar, Neli sudah menebak jika Kaisar akan kembali berkata pedas padanya.


"Aku akan membawa bayiku pergi, dan memberikannya ibu yang layak bagi bayiku.


__ADS_2