
Neli tengah memakai sebuah krim di siku dan lututnya yang terasa kering. Juga di perutnya yang sekarang terlihat membesar di hari yang sudah memasuki bulan lahir untuk anaknya.
Neli merasa gelisah menanti kehadiran sang buah hati yang akan hadir dalam hitungan hari, meskipun di awal kehamilannya Neli tidak menginginkan bayinya, tapi seiring berjalannya waktu rasa sayang itu muncul pada dirinya. Tapi sanggupkah ia jika suatu saat nanti Kaisar akan meninggalkannya dan putranya mengingat setiap kata cinta yang ia ucapkan tak pernah di balas oleh suaminya.
Neli duduk di ranjang dengan pikiran yang menerawang jauh akan masa depannya nanti, hidup tanpa Kaisar itu lah yang ia takutkan, meskipun dari jauh hari ia sudah mempersiapkan ini tapi tetap saja ada rasa tak rela dalam hati dan benaknya.
"Neli Kau sedang apa?" Kaisar datang dengan membawa jus buah juga dengan kue bolu di atas nampan.
Kaisar tersentak oleh panggilan Kaisar.
"Kai kau tidak berkerja?" Neli mengalihkan tatapannya pada Kaisar.
"Hei. Ini weekend, mana ada seorang pimpinan perusahan bekerja di hari libur." Kaisar menyerahkan kue bikinan ibunya. yang langsung di lahap oleh Neli.
"Hm. Kuenya enak."
"Ini bikinan ibu."
Kaisar menatap kaki Neli yang terlihat membengkak.
"Neli kakimu membengkak?"
"Ya, Kai. Kemarin saat aku periksa dengan ibu kata dokternya ini tidak papa, hanya saja tekanan darahku tinggi, sepertinya aku akan melahirkan melalui oprasi caesar Kai." Mata Neli berkaca saat mengatakan itu, sepertinya ia tak akan menjadi seorang ibu yang sempurna, di awal saja ia merasa gagal menjadi seorang ibu, ia tak akan bisa melahirkan anaknya dengan normal.
__ADS_1
"Kai maaf, aku tak bisa menjadi ibu yang baik untuk anakmu." Neli sudah meneteskan air matanya yang langsung di seka oleh Kaisar.
"Stt. Jangan seperti itu. Kau adalah ibu yang baik, tidak masalah kau harus melahirkan dengan cara apapun. Anak kita lahir dari perutmu dan dari benih kita berdua, aku akan menyayangi bayi kita bagai manapun caranya lahir. Terimakasih sudah menyediakan tempat untuk anakku tumbuh." Kaisar mengecup kedua pergelangan tangan Neli bergantian.
"Mau jalan-jalan denganku ke taman?" Kaisar menawarkan diri untuk mengajak istrinya jalan-jalan.
Neli menganggukan kepalanya bersemangat.
"Habiskan kue dan jusnya lebih dulu."
Kaisar mengambil lotion dan ia balurkan ke kaki istrinya.
"Neli memangnya apa yang kau pikirkan sampai tekanan darahmu semakin tinggi?" Kaisar menelisik wajah istrinya.
Kaisar tau jika istrinya berbohong tapi ia juga tak ingin memojokan istrinya.
Setelah menghabiskan makanannya Neli mengganti pakaiannnya dengan dres selutut.
"Ibu dan Ayah kemana Kai?" tanya Neli, ia heran ini masih pagi tapi ibu dan ayah mertuanya sudah tak berada di rumah.
"Ibu dan ayah keluar kota. Ada urusan pekerjaan katanya." ujar Kaisar ringan.
"Kai. Aku kangen ibuku, jika setelah kita ketaman, bagai mana jika kita mengunjungi ibuku?" Kaisar mengangguk.
__ADS_1
"Terimakasih." Neli memeluk lengan suaminya.
"Ayo keburu panas. Malah berpelukan kaya teletubis." Goda Kaisar. Neli sampai mendengus tak menyukai celotehan suaminya.
Kaisar menyetir mobilnya dengan sangat perlahan.
"Kai." Neli memekik saat perutnya terasa kencang serta di iringi oleh gerakan kasar dari dalam perutnya.
"Kau kenapa Neli." Kaisar langsung panik saat mendengar pekikan istrinya. Dengan segera ia meminggirkan mobilnya.
"Sakit Kai." Neli mengadu, ia juga meraih tangan suaminya dan menaruhnya di perutnya yang tampak menonjol runcing di antara perutnya yang bulat. Entah itu tangan atau kaki bayinya tapi yang jelas bagian itu sangat menonjol.
"Sayang. Kau sedang apa? Kasihan Mamamu. Jangan nakal ya. Nanti kita ketemu nenek okay." Kaisar selalu berkata lembut jika dengan bayinya, meskipun masih di dalam perut.
Setelah beberapa kali Kaisar mengelus perut buncit itu, bayinya kembali tenang dengan ia bisa melanjutkan perjalanan.
"Kai, aku ingin makan bubur ayam." Neli melilitkan kepalanya ke penjual bubur di dekat taman saat Kaisar memarkirkan mobilnya.
"Kau lapar lagi?" Kaisar mengangakan mulutnya, ia sedikit tak percaya jika wanita itu lapar kembali padahal baru beberapa menit yang lalu Neli menghabiskan satu loyang kue bolu dan segelas jus buah.
Sungguh benar kata orang jika wanita hamil itu menjadi orang yang rakus.
Kaisar menahan Neli dan mencium bibir wanita hamil itu dengan rakus. "Semakin lama kau semakin rakus soal makanan." Gunam Kaisar setelah melepas ciumannya.
__ADS_1
"Kau yang rakus. Semakin malam kau mengunjungi putramu." Ketus Neli. Sedang Kaisar hanya tertawa menanggapinya.