
"Ibu Neli istriku."
"Ya. Tapi sebatas istri di atas kertas."
Yesss. Rasanya sangat sakit. Bahkan Neli memejamkan matanya, untuk menikmati rasa yang mampir padanya.
Neli juga menundukan wajahnya tak berminat sama sekali untuk mengangkat kepalanya. Ini salahnya, ya salahnya sendiri karna sudah berani menyenggol keluarga terpandanh seperti keluarga Kaisar. Harusnya Neli berpikir beberapa kali sebelum nekad melakukan tindakan bodoh menjerat Kaisar dalam pernikahannya.
"Disamping Itu, ibu tak ingin mengambil resiko jika wanita ini naik turun tangga bisa saja Neli terjatuh, Ibu tak ingin calon cucu ibu kenapa-kenapa jadi menurutlah pada ibumu." Dian memandang putranya penuh peringatan, seperti biasa dari tatapan wanita tua itu menjelaskan jika ia tak ingin di bantah.
"Jika begitu aku akan pindah kekamar tamu menemani Neli Bu." pungkas Kaisar, ia tak ingin terlihat tak berdaya di hadapan Neli. Kaisar memang keras kepala sekalipun dengan Ayahnya. Tapi saat di hadapkan dengan ibunya ia perlu berpikir beberapa kali untuk menentang wanita terhebat dalam hidupnya itu. Bahkan Kaisar menginginkan sosok istri sempurna seperti ibunya. Itu juga alasan Kaisar selalu menolak Neli di masa lalu.
Ayah ibunya memang tak mempermasalahkan Kaisar berteman atau dekat dengan siapaun, tapi Kaisar tau jika ibunya akan bertindak di luar nalar jika yang mendekati Kaisar merugikan keluarga mereka.
__ADS_1
"Tetap di kamarmu." titah ibunya tegas.
"Tapi. Bu-"
"Jangan membantah ibumu." Kaisar hanya diam sesekali melihat ke arah Neli.
"Neli ayo. Sebentar lagi makan malam, kau sedang hamil kau harus makan lebih awal. Dan kau Kaisar pergilah mandi terlebih dahulu. Neli biar ku temani makan" Neli sedikit bisa bernafas lega setidaknya mertuanya tidak sekejam film ikan terbang yang melarangnya makan dan menyuruhnya kerja tanpa henti.
Kaisar menhangguk mengiakan perintah ibunya. Lagi pula sebentar lagi ayah dan tamunya dari Dubai akan pulang mereka akan makan malam bersama sesuai rencana beberapa hari lalu.
"Makanlah yang banyak, buat agar cucuku menjadi bayi yang sehat. Kau tidak boleh melakukan pekerjaan apapun, cukup nikmati kehamilanmu jangan pikirkan apapun selain itu." Ibu mertua Neli berkata datar tanpa riak sedikitpun di wajah terawatnya.
Neli hanya mengangguk. Hilang sudah keberanian yang selalu melekat pada dirinya.
__ADS_1
Bukan Neli takut pada ibu mertuanya, hanya saja Neli tengah menjaga image demi menjadi seorang menantu yang baik, meskipun ia tidak tau sampai kapan itu akan bertahan.
"Jangan berharap terlalu banyak pada putraku."
Kalimat tersebut berjaya membuat Neli mengatupkan kembali mulut yang sudah terbuka hendak memasukan makanan. Makanan yang hampir singgah di mulutnya ia letakan kembali.
"Maksud ibu?"
"Aku memberi restu dan ijinku untuk menikahimu hanya karna aku tak ingin cucuku terlahir seperti anak haram. Meskipun kenyataannya cucuku harus memiliki ibu yang murahan sepertimu." senyuman sinis ia singgingkan di bibir merah cerahnya.
Neli terasa dadanya seperti di tikam belati. Ini adalah buah dari dosanya di masa lalu sehingga membuatnya terus merasa bersalah. Tapi di samping itu Neli menolak mengakui jika dirinya murahan karna sejauh sebelum Kaisar menggagahinya ia masih dalam ke adaan suci.
Satu hal yang Neli sadari kalimat pedas dan menyakitkan yang selalu Kaisar hunuskan padanya adalah turunan dari ibu mertuanya.
__ADS_1
"Bu tolong jaga kalimat ibu. Jangan sampai aku berpikir buruk atau lebih parahnya jika aku stres atau mentalku terganggu, dampaknya akan tak bagus untuk cucu ibu." Akhirnya Neli membuka suara, memberanikan diri untuk menjaga mentalnya supaya tetap waras.