
Setelah kejadian diruangan tadi, Sekar pun memutuskan untuk pulang, tapi Noel malah bersikeras agar Sekar tetap dirumah sakit untuk di rawat inap agar lukanya segerah sembuh. Tapi akhirnya keputusan Sekar tidak bisa digangu gugat.
"Loe ini kenapa sih jadi orang kok keras kepalah banget." ujar Noel sambil berjalan mengikuti Sekar.
"Hey loe tuli yah dari tadi gue ngomong loe gak ngerespon sama sekali...woy cewek barbar....."
Sekar pun berhenti berjalan dan berkata
"Thanks untuk yang tadi, tapi kamu nggak punya hak untuk tahu dan ikut campur urusanku."
"Dasar cewek barbar, kenapa loe selalu sembunyi sih, apa loe gak punya teman buat curhat?"
"Aku gak pernah sembunyi dari apa pun dan kamu benar aku dari dulu gak punya teman dan gak mau berteman." sikap masih dingin.
"Kenapa?"
"Apanya?"
"Kenapa loe gak mau punya teman?"
"Sikat-nya sih gara-gara banyak yang munafik."
"Jadi maksut loe mereka gak ada yang tulus buat temenan dengan loe?"
"Hm."
"Tapi kan semua orang gak sama, kenapa loe gak kasih orang lain kesempatan?"
__ADS_1
Sekar menghelah nafas, setelah itu Sekar menarik tangan Noel dan membawanya duduk kursi taman dirumah sakit.
"Kenapa loe malah ngajak gue kesini?"
"Kamu pikir aku gak lelah apa bicara sambil berdiri kanyak tadi?"
"Oh iya gue lupa kalau kaki loe sakit, jadi kenapa loe gak kasih orang lain kesempatan untuk berteman dengan loe."
"Karena semuanya gak pantas untuk diberi kesempatan."
"Apa loe tau di dunia ini itu gak ada yang buruk bahkan duri yang tumbuh pada mawar menghiasi mawar itu dengan cantik."
Setelah Noel selesai berbicara Sekar melihat wajah Noel dan seakan yang bicara tadi bukan Noel tapi orang lain, angin sepoi - sepoi yang bertiup dengan diiringi oleh daun - daun yang berguguran menghiasi sore yang indah.
"Hey ngapain lihatin gue gitu amat? oh gue tau gue cakep tapi jangan liatin gitu juga kali."
"Kanyak-nya udah lama kita ada disini lebih baik loe pulang deh nanti orang rumah nyariin loh!!"
"Loe pulang ajah dulu gue masih nunggu taksi online!!"
"Emang loe gak dijemput sama supir loe?"
"Aku gak mau ngerepotin siapa pun dirumah, karena aku hanya punya bik lina sama pak budi. "
"Siapa mereka?"
"Bik lina itu pembantu dirumah dan pak budi itu supirku, mereka sudah puluhan tahun menemaniku dan mereka juga ada untukku saat aku terpuruk."
__ADS_1
"Emang nggak orang tua loh kemana?"
Sekar pun terdiam sejenak dan berkata.
"Mama udah nggak ada sementara papa nggak tau lagi..."
"Sorry gue nggak bermaksud..."
"Nggak lagi pula hal itu nggak akan nyinggung aku."
Entah mengapa Noel merasa bahwa Sekar yang ada di hadapannya saat itu bukan Sekar yang dingin yang lihat tapi Sekar yang penuh dengan kehangatan dan kenyamanan seperti mentari pagi.
"makasih yah..."
"Untuk Apa???"
"Aku gak nyangka bakal cerita banyak kayak gini ke kamu badahal kata orang sih aku anak-nya tertutup sama dingin banget."
"Nggak salah sih.. Oh iya nama loe Sekar kan."
"Iya, oh iya bener juga yah kita belum kenalan secara resmi yah sekarang kenalin Sekar, Dewi Putri Sekar Sari." sambil mengulurkan tangannya.
"Salam kenal nama gue Noel Adidarma." membalas uluran tangan Sekar.
Bersambung...
__ADS_1