
Setelah kejadian itu, keesokan paginya Sekar terbangun di kamarnya. Setelah itu Sekar pun beranjak dari kasurnya dan bersiap untuk berangkat ke sekolah.
Setelah bersiap Sekar pun turun untuk sarapan, saat Sekar pergi ke meja makan dirinya sudah mendapati Noel yang sudah lama menunggunya.
"Good morning." sapa Noel dengan rama.
Sekar hanya tersenyum dan duduk untuk menikmati sarapannya.
"Udah sarapan?" tanya Sekar.
"Belum..." jawab Noel singkat.
"Lah... kenapa nggak sarapan?"
"Iyalah non kan den Noel nungguin non sampai nggak pulang semalam." kata bik lina menyelah pembicaraan mereka.
Mendengar ucapan bik lina pun spontan membuat Sekar tersedak.
"Ehh.... nih minum dulu.." kata Noel sambil memberikan sekelas minuman kepada Sekar.
Sekar pun mengambil minum yang diberikan oleh Noel.
"Hahaha..." tawa Sekar yang tidak bisa dia tahan lagi.
"Hey kenapa ketawa?" tanya Noel.
"Nggak papa kok, bik lina tolong buatin makan buat Noel yah...!!"
"Baik non." jawab bik lina.
"Eh nggak usah bik nanti saya bisa beli mie instan di kantin sekolah."
"Nggak bisa, mie instan itu nggak baik untuk kesehatan apalagi untuk sarapan kamu mau nilai yang sudah standar jadi di bawah standar."
Perkataan Sekar merupakan sebuah kelamahan bagi Noel, Noel pun diam dan menuruti permintaan Sekar. Setelah sarapan mereka pun pergi berangkat ke sekolah.
Sesampainya di sekolah...
"Duluan ajah gue harus parkir sepeda dulu!!" pinta Noel.
"Ok..." jawab Sekar singkat.
Skip, saat jam pelajaran dimulai tiba-tiba Sekar di panggil oleh wali kelasnya untuk menghadap ke kepala sekolah di ruangan kepalah sekolah.
"Tenang gue juga bakalan pergi sama loh." kata Noel yang berusaha menenangkan Sekar.
__ADS_1
Sekar hanya menganggukan kepalanya.
Saat di ruangan kepala sekolah....
"Selamat pagi pak..." kata Noel dan Sekar saat melihat kepala sekolah.
"Selamat pagi, apa kamu Sekar?" tanya kepala sekolah.
"iya pak." jawab Sekar singkat.
Setelah itu kepala sekolah pun mengalihkan perhatiannya ke Noel.
"Nak Noel kenapa ada di sini?" tanya kepala sekolah mendadak.
"Maaf, tapi ada perlu apa yah anda dengan teman saya."
"Bukan sesuatu yang penti hanya..."
Ucapan kepala sekolah pun terpotong oleh Olivia.
"Bukan urusan yang besar apakah anda bercanda kepala sekolah.." teriak Olivia yang menerobos masuk ruangan kepala sekolah.
"Gadis ini telah melakukan kekerasan di lingkungan sekolah apa itu sesuatu yang kecil menurut anda?" teriak Olivia.
"Nona tenang dulu saya bisa jalaskan hal ini.." kata kepala sekolah.
"Apa.... loh pikir loh bisa seenak loh pangil nama orang, inget loh itu masih siswa baru disini jadi loh nggak perlu sok sok an deh di hadapan gue." teriak olivia yang membuat ruangan menjadi bising.
"Pak kepala kalau nggak ada yang pengting lagi saya dan Sekar akan kembali ke kelas. " kata Noel dengan tegas.
"Ta... tapi... " kata kepala sekolah.
"Nggak bisa saya bakal aduin kejadian ini ke orang tua saya." kata olivia.
"Yaudah laporin ajah gue juga bakal laporin hal ini ke bokap gue." balas Noel.
"Tunggu dulu apa nggak bisa di omongin baik-baik. " kata kepala sekolah yang terjepit diantara Olivia dan Noel.
"Nggak bisa..." teriak olivia dan Noel bersamaan.
Setengah jam kemudian orang tua dari belah pihak pun datang.
"Pak kepala saya nggak terimah yah kalau anak saya di tampar. protes mama Olivia sekaligus bibi Sekar.
"Bagaimana anda bisa bicara seperti itu anda juga tahu sendiri kalau anak anda yang mencari masalah terlebih dahulu." protes papa Noel.
__ADS_1
"Maaf boleh masalah ini diselesaikan dengan damai saja." kata kepala sekolah yang sudah tidak mengerti harus berbuat apa lagi.
"Tentu saja bisa asal senior mau mintak maaf kepada Sekar." kata Noel.
"Hey nggak bisa begitu, yang salah siapa yang mintak maaf siapa.." brontak Olivia.
"Saya setuju dengan putri saya, pak kepala jika anda bersikeras menyalahkan Putri saya dalam hal ini saya akan melaporkan kejadian ini kepada ayah Olivia." ancam mama Olivia.
"tunggu dulu..." kata pak kepala sekolah.
"Maaf nyonya tapi saya ingat di berita kalau anak dari tuan Rendra mengalami depresi dan menjadi gila." kata Sekar yang sedari tadi diam.
"Benar tapi se.. sekarang dia sudah sembuh." belah mama Olivia.
"Tapi bukanya gadis kecil itu menghilang dan tidak tahu keberadaannya, tapi... mengapa tiba-tiba aku menemukan seseorang yang mengakui kalau dirinya seorang gadis yang telah lama hilang dan satu lagi bukan kah gadis itu menghilang saat umurnya 8 tahun seharunya sekarang gadis tersebut 15 tahun dengan kata lain dia masih SMP atau baru masuk SMA tahun ini ,bagaimana mungkin senior adalah seorang gadis yang hilang itu." kata Sekar.
Mama Olivia hanya bisa diam dan tidak bisa membelah diri lagi.
"Olivia ayo kita pulang....!!" ajak mamanya sambil menarik tangan Olivia.
"Tapi.... ma..."
"Nggak ada tapi, cepat mama tungu kamu di mobil." kata mamanya sambil berajak pergi.
Setelah itu Olivia pun juga mulai beranjak pergi.
Noel dan Sekar pergi ke kelasnya dan kepala sekolah memutuskan mengakhiri masalah tersebut di sini.
Saat dalam perjalanan ke kelas...
"Ngomong-ngomong dari mana kamu tahu tentang itu semua?" tanya Noel.
"Karena gadis itu adalah aku."
Suasana pun menjadi sangat hening, sementara tangan Sekar bergetar hebat.
Noel pun menggandeng tangan Sekar dan berkata.
"Tenang.... nggak perlu khawatir gue akan selalu ada untuk loh kok, selalu kalau mau nangis-nangis ajah tapi setelah itu harus bangkit lagi ok, nggak perlu terperuk terus karena masih ada gue dan orang-orang yang masih sayang dan peduli sama loe." kata Noel sambil menghapus air mata Sekar.
Sekar pun langsung memeluk erat Noel dan menangis dan seperti biasa Noel hanya diam dan menunggu Sekar sampai dia benar-benar tenang.
Bersambung....
__ADS_1