
"Hey Sekar minggu ini loh luang nggak?" tanya Noel saat jam istirahat.
"Masih kurang tau, emangnya ada apa sih?" tanya Sekar balik.
"Nggak ada apa-apa sih cuman nanya ajah..."
"Oh yaudah, tapi kalau ada yang penting aku usahain datang."
"Bener nih...?"
"Iya, emang ada apa sih?"
"2 minggu lalu ada lomba melukis di pusat kota, gue ikut lomba ini dan minggu depan pengumuman pemenangnya dan ternyata karya dari pemenangnya itu di pajang di pameran yang akan di adain minggu depan." kata Noel antusias.
"Ok.. aku bakalan dateng."
"Beneran nih...."
"Iya..."
"Yaudah aku jeput kamu pas hari H nya."
"Terserah kamu."
***
Di hari minggu, seperti yang Noel katakan dia pun pergi menjemput Sekar. Saat menekan bel rumah Sekar seperti biasa bik lina selalu menyambut dirinya.
"Eh den Noel ternyata, ayo masuk dulu..."
"Iya makasih bik."
Setelah masuk Noel pun menunggu Sekar di ruang tamu.
"Tunggu sebentar ya bibik pangil non Sekar-nya dulu."
"Iya, makasih..."
Setelah itu bik lina pun pergi dan memanggil Sekar.
Sementara Noel sibuk mengamati foto yang di pajang Sekar di diding ruang tamu tersebut.
__ADS_1
"Walau udah kenal dia cukup lama, tapi gue nggak pernah lihat orang lain di rumah ini selain pelayan sama supirnya. Apa cuman perasaan gue aja yah." gumang Noel sambil memperhatikan setiap foto yang dipajang.
Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya, spontan saja Noel terkejut dan langsung berbalik.
"Maaf sepertinya saya mengagetkan anda." kata pak Budi supir.
"Ternyata pak Budi... saya kira siapa tadi."
"Maaf pak tapi kalau boleh tahu, tapi maaf sebelumnya bukan maksud saya lancang sih sebenernya yang tinggal dirumah ini itu cuma Sekar, bik Lina sama pak Budi saja yah?"
"Iya, setelah kematian nyonya besar non Sekar tiba-tiba memecat semua pembantu dan supir kecuali saya dan bik lina."
"Nyonya maksutnya neneknya Sekar."
"Iya...."
"Tapi kalau boleh tahu bukannya Sekar masih punya ayah, tapi saya tidak pernah mendengar apapun tentang beliau."
"Sebenarnya beliau ada tapi juga tidak ada."
"Maksutnya??" tanya Noel.
Tiba-tiba Sekar turun dan memotong pembicaraan itu.
"Nggak juga kok."
"Oh iya tadi bicara apa sama pak Budi kayaknya serius banget."
"Nggak tadi cuman ngobrol biasa kok, ayo berangkat udah telat nih."
"Baik, bik lina pa k budi Sekar pergi dulu yah sampai jumpa."
"Selamat bersenang-senang."
***
Sesampainya di pusat kota....
"Pameranya masih setengah jam kan, lagi kita jalan-jalan ajah dulu gimana?" tawar Sekar.
"Ok nggak ada ruginya juga sih."
__ADS_1
Noel dan Sekar pun pergi berkeliling ke pusat kota, selama itu Sekar mengajak Noel menikmati berbagai makanan yang di jual beli di sana.
"Udah kita balik ajah yuk, kita juga udah kelilingi tiga kali sama cobain banyak makanan juga tadi." ajak Noel.
"Yaudah deh..." kata Sekar.
Sekar dan Noel pun kembali sudah banyak orang yang yang datang ke pameran. Setelah dibuat menunggu cukup lama akhirnya pameran yang di adakan di sebuah galery seni itu pun di buka.
"Pegang erat tangan gue, gue nggak mau kalau nanti loh hilang di tengah kerumunan." kata Noel sambil memegang erat tangan Sekar.
Sekar hanya mengangguk kepalanya.
Setelah berada di dalam galery seni Noel dan Sekar kebingungan mencari di mana lukisan pemenang lomba di pajang. Selama mereka mencari tangan Noel bergetar di sepanjang jalan.
"Tenang kalau gagal pun masih ada lain kali kan." kata Sekar yang berusaha memberikan semangat kepada Noel.
Setelah itu Noel pun mulai tenang.
Setelah cukup lama mencari mereka pun akhirnya menemukannya dan ketika melihat hasilnya tidak hanya Noel saja yang dibuat terkejut tapi juga Sekar. Lukisan Noel menempati galery utama. Tapi bukan itu yang membuat Sekar terkejut tapi lukisan yang dibuat oleh Noel.
"No.. Noel..."
"Gimana ini juga hadia untuk loh Sekar." kata Noel sambil tersenyum.
Gambar gradasi warna biru dan dilatar belakangi oleh langit malam dan sinar bulan yang indah membuat kesan fantasi dan misterius. Seorang gadis menari diatas air yang diselimuti kabut dan bunga sakura yang mulai gugur dengan memakai gaun warna putih seperti bidadari yang turun dari kayangan.
Tapi yang membuat Sekar terkejut adalah wajah gadis yang ada di dalam lukisan Noel seperti wajahnya. Walau terkesan hanya sebuah lukisan tapi siapa pun yang melihat lukisan itu pasti mengetahui kalau yang didalam lukisan tersebut adalah dirinya. Saat itu Sekar tidak tahu harus senang atau marah melihat hal itu. Tapi yang pasti dirinya mulai terbaskan dari rantai yang membelenggu hatinya selama ini.
Sekar pun langsung menarik tangan Noel dan beranjak keluar dari galery seni. Sekar pun membawa Noel pergi ke sebuah taman yang tidak jauh dari galery seni dan tidak begitu ramai. Disana pun Sekar langsung meluapkan semua isi hatinya.
"Dasar bodoh kau memang bodoh hiks.. hiks... seharusnya kau tidak perlu melakukan itu hiks.. hiks..."
Noel pun langsung memeluk Sekar.
"Lampiaskan saja semuanya, karena loh bebas sekarang tidak ada yang membelenggu lagi sekarang."
Hari itu waktu berjalan begitu singkat tidak seperti biasanya, setelah Sekar tenang Noel pun mengantarkannya pulang.
Bersambung....
__ADS_1