
Perjalanan panjang ditempuh oleh Sekar, sebelum keberangkatan banyak sekali yang harus Sekar urus dari Ijasa SMP, bisnis cafe yang ia dirikan dan visa untuk keberangkatan.
Ketika Sekar tiba di bandara Indonesia sekar melihat banyak poster papanya yang sekarang bekerja sebagai model. Melihat perubahan papanya itu seolah Sekar ingin berteriak dan menangis, tapi dirinya selalu menahan diri.
Setelah itu Sekar melanjutkan perjalanannya ke rumah neneknya. Dalam perjalanan Sekar hanya diam, termenung melihat jalan yang terlintas.
"Jalan ini..... Padahal sudah lama tapi masih membuatku sesak."
Saat dalam perjalanan seorang supir taksi menyalakan sebuah radio untuk menghilangkan kebisuan dan kebetulan terdengar suara papanya yang sedang melakukan siaran.
"Nona bukankah datang dari luar?" tanya supir tersebut tiba-tiba.
"Iya.." jawab Sekar singkat sambil terus mendengarkan siaran tersebut.
"Apa nona mengenal orang yang sedang siaran?" tanya supir itu lagi.
"Mungkin..." jawab Sekar dingin Sabil mengalihkan pandangannya ke jendela.
"Kalau nona mengenal dia pasti sedih jika mengetahui tentang kisah hidupnya."
"Oh kalau begitu coba ceritakan aku ingin tahu sepertinya menarik!!" kata Sekar sinis.
"Sial kenapa aku jadi terpojok gini..." gumang supir tersebut yang langsung terteguk mendengar Sekar.
__ADS_1
"Kenapa diam, bukankah kau suka bicara?" tanya Sekar dengan senyum sinisnya.
"Ah... maaf saya a-akan ce-cerita."
"Cih... sudahlah aku tidak ingin mendengar hal itu lagi."
"Ba-baik..." jawab sang supir gemetar.
"Gadis ini sepertinya bukan gadis sembarangan..." gumang supir taksi tersebut.
"Kenapa aku harus mendengarkan hal yang aku alami sendiri, merepotkan." gumang Sekar.
"Nona... kita sudah sampai ditempat tujuan." dengan wajah tegang.
"Nona muda Selamat datang. "
"Keluarkan koperku lalu taruh dikamar dan siapkan air hangat sepuluh menit lagi aku akan mandi."
Seperti biasa Sekar bicara dengan nada datar dan auranya yang dingin membuat orang berada di sekitarnya menjadi tidak nyaman.
"Baik..."
Setelah itu Sekar langsung pergi menemui neneknya.
__ADS_1
"Nenek apa aku boleh masuk, nek... nenek..." sambil mengetuk pintu
1 menit Sekar terus mengetuk pintu tak ada balasan. Sekar pun terpaksa mendobrak pintu itu sendiri. Saat pintu terbuka Sekar dikejutkan saat menemukan neneknya terbaring tak berdaya dilantai. Melihat hal itu Sekar berteriak dan memanggil para pelayan untuk membawa neneknya kerumah sakit.
Sesampainya dirumah sakit nenek Sekar langsung dibawa keruang gawat darurat. Setelah menunggu beberapa jam lamanya akhirnya salah seorang dokter keluar.
"Dok bagaimana keadaan nenek saya?"
"Maaf nona kami sudah lakukan yang terbaik tapi nenek anda tak bisa diselamatkan lagi, mohon maaf..."
"Apa... ini nggak mungkin dokter pasti salah..."
Sekar pada saat itu sok dengan apa yang dia dengar, Sekar pun belari masuk untuk melihat neneknya.
"Nenek kenapa nenek tinggalin sekar, sekarang Sekar gak punya siapa siapa lagi."
"kenapa.....kenapa semua orang yang aku sayangi pergi meninggalkan aku, apa salahku sebenarnya..."
Saat pemakaman Mata Sekar seolah seperti sungai yang kering tak ada air tersisa, Sekar masih bernafas tapi jiwanya seolah pergi dari dirinya, suasana duka yang kini diiringi air hujan membuat Sekar terhanyut didalam kesedihan. Disana hanya ada Sekar bik lina dan pak budi orang yang bekerja dirumah neneknya Sekar selama betahun tahun, mereka berdua menemani Sekar setiap kali Sekar dalam kondisi terpuruk.
Bersambung...
__ADS_1