
Setelah kematian neneknya Sekar memecat semua pelayan yang bertugas di kediaman neneknya, kecuali pak Budi, bik Lina dan beberapa yang berperan penting dalam rumahnya.
3 hari setelah kematian neneknya Sekar terus mengurung diri di kamarnya. Hal ini sangat membuat bik Lina dan pak Budi cemas.
Pada suatu malam Sekar tertidur dan terbangun di sebuah Padang rumput yang terhempas luas.
"Dimana aku?"
Tak lama setelahnya tiba - tiba terdengar suara teriakan.
"Hey...semua waktunya makan...."
Mendengar teriakan tersebut Sekar menoleh dan pandangannya langsung tertujuh pada empat orang yang sedang duduk disekitar bunga yang mekar.
Karena penasaran Sekar pun menuju ke arah asal suara tersebut, saat sampai disana Sekar pun terkejut melihat dirinya yang masih kecil bersama dengan nenek, mama, papanya bahagia di antara Padang rumput yang luas.
"Apa ini... apa maksudnya ini, kenapa aku malah memimpikan sampah ini, mereka terlihat bahagia sementara aku di sini sendirian..." Teriak Sekar frustasi.
"Kenapa... kenapa..." tangisan seketika Sekar pecah tak tertahankan.
"Apa salahku, kenapa selalu berakhir seperti ini aku lelah dengan hidup yang aku jalani ini aku lelah... hiks... hiks..."
Tiba-tiba mamanya dan neneknya berdiri tepat di depannya dan memeluk Sekar yang terpuruk.
Sekar pun mengangkat kepalanya yang tertunduk dan menangis di pelukan keduanya.
"Sekar kamu anak yang kuat maaf sudah banyak merepotkan dan meninggalkan mu sedirian." kata neneknya.
"Sekar pasti bisa melewati ini dan bersama ayah lagi...^‿^" ujar mama Sekar.
"Aku lelah sudah tidak ada harapan bagiku untuk hidup biarkan aku ikut kalian... hiks... hiks..."
"Sekar masih banyak yang belum kamu lihat di dunia ini mama dan nenek yakin kamu akan menemukan harapan itu tolong jangan menyerah yah..." kata mamanya.
Sekar pun bangun dari dari mimpinya Sambil terus meneteskan air mata.
***
__ADS_1
Amerika.....
"Nenek... sebenarnya nenek ingin membawa kami kemana sih??"
Ujar Noel si bungsu.
"Bener kata Noel nek dari tadi kita cumah berputar putar tampah tujuan yang jelas." sahut Reza si sulung.
"Nenek sedang mencari seorang gadis seusia Noel yang nenek ceritakan waktu itu, nenek ingin mengganti sepatunya yang hilang karna mengejar jambret yang mencuri tas nenek."
Mendengar ucapan neneknya perhatian Noel langsung teralihkan.
"Tunggu sebentar apa nenek bisa sebutkan ciri-ciri gadis itu?" ujar Noel
"Rambutnya hitam kebiruan, matanya hitam pekat seperti mutiara hitam, kulitnya putih dan rambutnya sebahu."
"Ciri-cirinya kayak cewek barbar yang lempar sepatunya kemarin."
"Cewak barbar??" nenek dan Reza kompak bertanya-tanya
"Oh gitu." jawab nenek dan Reza bersamaan
"Oh gitu, reaksi kalian kenapa biasa aja badahal gue berharap kalian juga kesal dan menuntut gadis itu." putus asa
"Kalau gitu ini jadi mudah." ujar Reza
"Mudah, mudah pala loe ini tambah sulit dan lagi kita juga gak tahu dimana dia tinggal." sahut Noel
"Makanya kalau punyai otak itu di pakai adhik kecil." goda Reza sambil mendekat ke Noel
"Jijik gue hushus... menjauh 10 meter dari gue."
"Sudah lah apa idemu Reza?" tanya neneknya
"Kan kata Noel sepatu gadis itu ada padanya pasti ada sesuatu di sepatu itu yang bisa kita jadikan petunjuk untuk mencari gadis itu."
"Kamu memang cucuku yang paling pintar." puji neneknya sambil menepuk bahu Reza
__ADS_1
"Kalau Reza yang paling pinter jadi gue yang paling bodoh dong." sinis Noel.
Nenek dan Reza tidak menghiraukan ucapan Noel dan langsung kembali ke apartemen mereka untuk mencari petunjuk tetang Sekar.
"Nasib jadi kacang..." kata Noel sambil mengelus dadanya.
Setelah 10 menit Reza mengamati sepatu itu, akhirnya mereka menemukan sebuah petunjuk.
"Yahoo akhirnya ketemu juga.." seru Reza
"Akhirnya, apa yang loe temuin?" Noel
"Di bawah sepatu ini ada nama pemiliknya, namanya Dewi Putri Sekar Sari."
"Lalu bagaimana kita mencarinya?"
"Sepertinya sepatu ini bukan produk Amerika, jadi besar kemungkinan dia gak ada disini." ujar Reza
"Jadi dia tinggal dimana?" nenek
"Negara X."
"Gimana loe bisa seyakin itu?" ujar Noel tidak yakin.
"Kamu lupa yah kalau aku memiki toko sepatu di kota x dan semua sepatu yang aku jual itu hasil rancanganku dan mama sendiri."
"Jadi gak ada kemungkinan kalau sepatu yang loe jual itu gak diplagiat oleh disainer lain." ujar Noel meragukan.
"Memang, tapi ini karyaku nomer 7 dan aku hanya membuat satu jadi aku yakin kalau itu karyaku."
"Memangnya apa yang membuat loe bisa seyakin ini?" Ujar Noel
Bersambung...
__ADS_1