PERJALANAN CINDERELLA

PERJALANAN CINDERELLA
11. Friend


__ADS_3

"Perasaan ini... setelah sekian lama aku merasa nyaman dan aman lagi, tapi kenapa dari semua orang yang aku temui kenapa malah cowok yang baru aku kenal yang membuat perasaan ini muvul lagi." gumang Sekar dalam hati.


"Hey kenapa diam ajah dari tadi?" ucap Noel sabil menepuk pundak Sekar.


"Nggak, hanya saja disini begitu tanang." jawab Sekar yang masih setengah terkejut.


"Iya sih tapi sampai kapan loe bakal ada disini, ini udah sore."


"Yah sampai taxi-nya dateng."


"Kalau nggak dateng?"


"Yah jalan kaki." sambil tersenyum.


"Gadis bodoh, kaki lo masih sakit masa loh mau jalan kaki."


"Udah mendingan."


"Yaudah gue pulang dulu."


"Yaudah hati-hati dijalan."


"Ampun dah... loe ini cewek peling nggak peka yang perna gue kenal." emosi meledak-ledak.


"Aku peka kok, buktinya aku bisa ngerasain panas, dingin, sama sakit."


"Dasar bocah IPA....." teriak Noel.


"Kenapa kamu teriak ini masih dirumah sakit."


"Bodoh ah...." Noel menarik tangan Sekar dengan paksa.


"Hey Noel kemana kita mau kemana?" teriak Sekar.


Noel tak menjawab pertanyaan dari sekar dan terus berlari sambil memegang erat tangan Sekar.


Setelah beberapa lama berlari akhirnya


Noel berhenti disebuah parkiran rumah sakit.


"Jadi kamu nyeret aku buat ke parkiran rumah sakit... Dasar cowok gila..." teriak sekar.


"Diem dari tadi teriak - teriak mulu emang nggak capek pita suaranya."


"Dasar cowok gila.." teriak Sekar.


"Loe diem dulu disini, gue mau pergi ambil motor gue dulu."


"Hey jangan main ting..tinggal aja bodoh." gemetar.

__ADS_1


"Kenapa takut nanti kangen yah... "


"Bodoh ak.. Aku nggak suka tempat ini."


Sekar semakin gemetar dan ketakutan,


Noel yang ada disana hanya mengirah bahwa Sekar hanya bercanda saja.


"Loe tunggu aja disini gue mau ambil motor sebentar."


"Hey jangan per.. gi...."


Sekar secara spontan memegang tangan Noel dengan erat dan Noel pun merasakan tangan Sekar yang gemetar ketakutan.


"Jadi dia beneran takut, gue kita bercanda." ucap Noel dalam hati.


"Hey gak papa , kalau loe takut loe gak papa kok pegang tangan gue." sambil mengelus kepalah Sekar.


Sekar hanya mengagukan kepalah-nya.


Setelah mengambil sepeda motornya Noel langsung beranjak pergi meninggalkan parkiran, tapi seluruh badan Sekar masih gemetar ketakutan seperti tadi.


"Apa loe masih takut?"


Sekar tak menjawab pertanyaan Noel. Tak lama setelahnya Noel pun berhenti disebuah tempat, Setelah itu Noel pun turun dari motor-nya.


"Kenapa kita berhenti?" tanya Sekar


Setelah Sekar turun Noel pun menarik tangan Sekar dan membawanya ke sebuah tempat.


Sesampainya disana....


"Rumah pohon.. " Noel.


"Rumah pohon siapa?"


"Tukang bakso, yah punya gue lah, dasar punya otak gak pernah dipakai, yaudah tunggu apa lagi cepet naik!!"


"Oke..."


Setelah Sekar dan Noel masuk kerumah pohon...


"Wahh...lebih luas dari kelihatanya."


"Ini tempat gue buat nenangin diri kalau marah sama tempat pelarian gue setelah kabur dari rumah."


"Apa kabur dari rumah?" terkejut.


"Biasa aja kali, emang loe gak pernah kabur dari rumah?"

__ADS_1


"Percuma aja sih kalau kabur tapi nggak punya rumah."


Sekar yang tadi senang dan melupakan ketakutan-nya sesaat, mendadak terlihat lebih murung dari biasanya. Noel yang melihat Sekar pada saat itu menarik tangan sekar dan membawa Sekar ke balkon rumah pohon tersebut.


"Hey jangan sembarangan tarik-tarik tangan orang dong." bentak Sekar.


"Habisnya muka loe bikin suasana disini jadi nggak enak, yaudah gue bawah aja loe lihat sunset."


Sekar pun terdiam menikmati pemandangan matahari terbenam bersama Noel.


"Disini ternyata nggak jauh dari pantai yah."


"Yah gak jauh dari sini ada pantai, dulu dipantai itu gue dan keluarga gue sering habisin akhir pekan bersama."


"Sekarang??"


"Semenjak orang tua gue pisah, keluarga gue kehidupan gue berubah gak seperti dulu lagi, Reza tinggal sama mama sementara gue tinggal sama papa."


"Sorry nggak bermaksut..." kata Noel yang terhenti oleh Noel.


"Dont worry, lagi pula kan itu udah lewat."


"Sebentar bukanya kak Reza itu lebih tua dari kamu, tapi kenapa gak panggil kak Reza kakak?"


"Nggak pingin..."


"Karna dia memiliki kasih sayang mamamu kan." tebak Sekar sambil melihat matahari yang hampir tak terlihat.


"Nggak juga." spontan Noel.


"Nggak perlu bohong, menurutku kak Reza juga sama sepertimu kehilangan sosok seorang ayah, karena semakin berharap untuk kebahagian yang sama semakin dalam menyimpan luka sama juga, menurutku kamu dan kak Reza harus bicara."


"Bicara sama dia nggak mau."


"Kamu takutkan."


"Takut pada apa?" tanya Noel sambil tertawa kecil.


"Takut nanti gengsinya ilang."


"Gue nggak ngerti apa yang loe maksut?"


Sekar pun menarik tangan Noel dan berlari.


"Loe mau bawa gue kemana?" teriak Noel sambil terus berlari mengikuti langkah Sekar.


"Ikut aja." jawab Sekar.


 

__ADS_1


Bersambung.....


 


__ADS_2