
kini matahari sudah terbit, semua hidangan untuk serapan pagi sudah siap, semuanya sudah bangun dan berkumpul di meja makan, kecuali nia.nia masih di dalam kamarnya bersiap siap untuk turun
"pagi" ucap nia sambil duduk di bangku
"pagi" jawab mereka dengan sontak
teman teman mencoba memuji mawar di depan revan, davin ,dino, raka dan nia, untuk menunjukkan kalau mawar begitu cantik dari nia dan mawar la yang cocok untuk davin
"war hari ini lo cantik amat" ucap temannya mawar yang bernama ani
"makasih, tapi aku biasa biasa aja kok, kan aku ke kampus emng kek gini" ucap mawar
nia hanya diam dan tetap fokus dengan serapannya,sedangkan para kaum cowok hanya mendengarkan saja
"kak mawar memang selalu cantik" ucap niko dengan ekspresi memuji sekalian tampak ngledek
"jangan lebai ko" ucap mawar yang sok malu untuk mendapatkan perhatian
tiba tiba nia sudah berdiri
"aku duluan" ucap nia sambil mengambil jaketnya nya di atas kursi
"biar aku antar" ucap davin sambil mengoles selai di roti
"ngak usah, tolong antari mawar aja, kek nya dia berharap sama kamu " ucap nia membuat orang heran sedangkan mawar membulatkan matanya
"woi maksud lu apa, gue ngak ngomong apa apa, kok lo bilangin gue kek gitu" ucap mawar sedikit kesal
"maksud gue baik kok, kalau di pikir pikir kak davin cocok sama mawar" ucap nia dengan wajah ngeles
"nah, baru nyadar lo ni" ucap teman mawar ,anggi
"gue nyadar banget ngi" ucap nia
"udah udah, kalian apa apaan " ucap davin tapi sudah di potong oleh nia
"kak mending batalkan saja perjodohan ini, banyak yang ngak suka dengan perjodohan ini, kalau ngak pilih mawar saja" ucap nia
"maksud kamu, saya membatalkan perjodoh ini dan milih mawar" ucap davin dengan bingung
nia hanya meangguk angguk saja dan pergi menuju begasi
"kak maafin sikap nia barusan ya kak, nia sikapnya memang suka aneh" ucap mawar dengan polos dan sok perhatian
sedangkan revan pamit pulang
__ADS_1
"kamu ngak perlu minta maaf" ucap davin dengan dingin
"pokoknya kakak jangan dengerin nia" ucap mawar yang tampak begitu baik
"kalau gitu kami pulang dulu" ucap davin dan di ikuti dino dan raka
di dalam mobil davin, dino dan raka masih bingung
"vin menurut lo siapa yang baik" ucap raka
"maksud lo" ucap davin yang masih fokus mengemudi
"tampak nya mereka ngak akur, ada yang saling menjatuhkan dan Kayaknya mawar suka sama lo vin dan nia tampak nya ingin menolak lo" ucap raka dengan serius
"kalau gue sih belum bisa percaya dengan sifat mawar" ucap dino yang duduk di belakang
"tapi kan dia baik sama kita perhatian lagi, sedangkan nia entah menganggap kita tamu atau kagak, ngak di jamu kek tamu" ucap raka dengan nada kesal
"aku akan tetap melanjutkannya" ucap davin dengan pandangan lurus ke depan
"kalau nia ternyata orang yang gak baik untuk lo gimana vin" ucap raka
"batalkan saja" ucap davin dengan begitu gampang
"Waw mantap banget ni keluarga alexander, ingat bro itu cewek" ucap dino di belakang
besok pak hutomo dan mira akan pulang, dan nia akan mengatakan hal itu kepada papa nya
kini nia tampak sibuk di dalam kamar saja hingga besok pagi baru keluar kamar, kebetulan pak hutomo dan mira datang
"mama udah pulang" ucap niko,
"udah nak"ucap mira dan memeluk niko,
mira tetap meyanyangi niko dan mawar cuman tidak untuk nia
"pa, aku mau bicara" ucap nia dengan wajah dingin tapi serius
" nia papa baru pulang pasti capek, besok aja napa" ucap mawar dengan syirik
" gue mau bicara sama papa, bukan sama lo" ucap nia dengan kesal
"udah udah, jangan berantem lagi, nanti kita bicara papa mau ganti baju dulu" ucap hutomo
"kalau gitu aku tunggu di ruang kerja papa" ucap nia dan langsung menuju ruang kerja papanya
__ADS_1
sudah 15 menit nia menunggu dan pak hutomo datang
"mau bicara apa" ucap hutomo sambil menu kursi kerjanya
"aku mau papa nyerahkan bisnis ke aku, bukannya papa sudah janji kalau bisnis papa akan papa serahkan saat aku sudah siap, dan sekarang aku sudah siap pa" ucap nia dengan serius
tentu itu membuat hutomo bingung
"bisnis akan papa bagi 3 dan akan papa serahkan saat kamu sudah selesai kuliah dan bagian niko sementara akan papa pegang" ucap hutomo dengan serius
"kalau aku mau nya sekarang gimana pa dan aku mau utuh" ucap nia sambil memandang papanya
"kok seperti itu mawar dan niko gimana kan mereka juga anak papa" ucap hutomo dengan serius
"tapi aku anak utama keluarga ini" ucap nia dengan serius dan mata tajam
"terus jika bisnis papa serahkan ke kamu, terus kamu ingin melantarkan kita setelah kamu di lantik, gitu" ucap pak huto dengan nada rendah
"kok papa berpikir seperti itu, kenapa papa pikirnya buruk ke aku, apa aku begitu kejam" ucap nia dengan begitu ada perasaan
"bukannya kamu ngak suka sama kita" ucap hutomo dengan menatap lurus
"terus kalau aku ngak suka aku akan menelantarkan kalian" ucap nia dan sekeliling matanya sudah merah
"terus kamu kenapa meminta perusahaan " ucap pak hutomo dan melirik nia
"karena aku sudah siap untuk menjalankan bisnis papa " ucap nia dengan meyakinkan papanya
"terus kenapa kamu tidak mau kalau di bagi 3,kalau bukan karena kamu ingin mengusir kami dari rumah ini" ucap hutomo dengan serius
"sebenarnya papa sayang atau tidak sama aku" ucap nia dengan tertunduk dan air mata yang sudah menetes
"maksud kamu, sudah pasti papa sayang sama kamu nia" ucap pak hutomo mendekati nia dan memegang pundaknya tapi nia menepis tangannya
"tapi papa membuktikan kalau papa tidak menyayangi nia, jadi mending nia pergi dari rumah dan ANGGAP SAJA NIA SUDAH NGAK ADA" ucap nia sambil menegakkan kepalanya dan sedikit berteriak di akhir katanya
"kamu mau kemana, jangan tinggalkan papa ni, papa sayang sama kamu,sangat jangan pergi nia" ucap hutomo dengan mencoba memeluk nia
"apa papa tau sejak papa menikah kasih sayang itu sulit untuk aku dapatkan seutuhnya dan ini baru pertama kalinya papa memeluk aku" ucap nia sambil meneteskan air mata dan nia melepaskan pelukan papanya
itu membuat hutomo terkejut dan merasa bersalah sangat bersalah kepada nia
.
.
__ADS_1
.