
"ARGHH! SAKIT! AMPUN— LEPAS!" jerit seorang gadis dengan lantang memecahkan sepi.
Di dalam gubuk reyot itu ia di pasung dan dicambuk berkali-kali menggunakan rantai panas yang mampu memberikan sakit serta jejak permanen di kulit tubuhnya.
Teriakannya sangat memekakkan telinga, tapi tak urung sang penyiksa lompat kegirangan melihat pemandangan itu, baginya ini hiburan luar biasa.
"Hahaha ... gimana hukumannya, sakit?" tanya pria itu melihat gadis di depannya mulai terkapar tak berdaya.
Bulir air mata berjatuhan, ia mengangguk lemah. Lidahnya terasa kelu dan tenggorokannya sangat sakit disertai tubuh bersimbah darah. Ia mengangkat pandangannya, memasang wajah memelas.
"Tuan, sa—ya minta maaf," ujarnya tersendat.
Sang pria yang dipanggil Tuan hanya memincingkan mata, mendekati lagi lalu menoyor kepala gadis tersebut sangat kuat. "GARA-GARA KAMU, SAYA TIDAK BISA MENDAPATKAN AUDREA!" bentaknya penuh kabut amarah.
Ctas ...
Ctas ...
Ctas ....
"HAH! MATI KAMU, MATI!" amuk pria itu sambil menginjak gadis tadi yang ia cambuk kembali.
"Sial! Seharusnya hari ini aku bisa mengurung Audrea, tapi gara-gara cleaning service ini, kesempatan itu jadi hilang!" gerutunya kesal sambil menendang tubuh tak bernyawa itu. "Pergilah ke neraka, ******!"
Ia keluar dari gubuk reyot tersebut, menyiram minyak tanah di dinding terlihat lapuk lalu membakar sampai gubuk itu hanya tinggal abu beserta isinya, beruntungnya tidak ada tumbuhan penghalang dan penduduk, walau ia melakukannya di pinggiran hutan.
Di lain tempat Audrea baru tiba di rumahnya. Di dalam ada Rafli yang sedang bermalas-malasan, sedikit info, Rafli adalah seorang pria sukses di usia mudanya sebagai pengusaha parfum terkenal ternama di Indonesia. Jadi ia hanya perlu memperhatikan dari jauh dan pekerjaannya di tanggung oleh sang tangan kanan.
Kembali ke mereka. Rafli melihat Audrea yang berjalan lesu, pria itu bangkit dan duduk di sofa memandang sang gadis memilih duduk di seberang sana. Rafli menopang dagu, menatap lamat hingga larut ke lamunannya.
"Ck, ada ya? Cewe cakep, punya temen cakep. Tapi kok, kita gak bisa jadian?" tanyanya tanpa sadar.
__ADS_1
Audrea melotot dan menegakkan badannya menghadap Rafli. "Apa maksud lo?"
"Kita, enggak ... gue, gue yang terjebak di friend zone," ucap Rafli lalu cemberut.
Bugh ....
Bantal terlempar sangat mulus dan mendarat tepat di wajah tampan Rafli. Setelah sadar pria itu mendelik. "Apa mau marah?" tanya Audrea menatap tajam.
Jelas Rafli langsung menciut seketika. Tak lama bunyi bel mengalihkan perhatian mereka, Audrea berdiri dari duduknya. Tangan Rafli mencekal pergelangan tangan Audrea, ia meminta untuk ikut dan Audrea menyetujuinya.
Sesampainya di depan pintu setelah terbuka, tidak ada satu orang berdiri di sana. Tapi saat mau melangkah, kaki Audrea seperti menyenggol sesuatu. Ia tertunduk guna melihatnya, ada sekotak berwarna coklat susu dan sepucuk surat.
Rafli mengintip ke arah pandang Audrea. Alisnya bertaut. Ia bertanya, "Lo enggak mesen paket 'kan?"
Audrea menoleh sebentar dan melihat kotak itu dengan seksama lalu menggeleng.
"Tolong buang, Fli. Gue enggak mau liat kotak kaya gini di rumah," cicit gadis itu sambil menendang pelan kotak di bawahnya. Ia langsung menarik Rafli ke hadapannya.
Meski gugup, menggeleng. Tapi menyahut, "Gue belum bisa cerita. Yang pasti, gue ngerasa trauma liat kotak kaya gini. Mending lo cepetan buang, deh ...."
Pria tampan ini menghela napas, tidak ingin berlama-lama dan menanyakan banyak hal, Rafli bergegas membuang kotak itu. Ia menengok saat Audrea mengintipnya, karena penasaran tangannya perlahan membuka kotak itu.
Padahal tempat sampah sudah ada di depannya, Audrea hanya bisa mengumpat dalam hati. Bodoh sekali temannya malah mempunyai rasa penasaran, tapi melihat Rafli mematung dan mengambil barang di dalam kotak.
Tangannya menjinjing pakaian seksi yang berlumuran cairan putih. Mata Rafli berkilat tajam, ia menggeram dalam diam tatkala masih ada satu benda yang belum ia lihat isinya.
Dengan kesal ia membuangnya dengan membanding benda menjijikkan itu. Ia berjalan penuh amarah. Audrea melihat itu seperti ada asap di kepala Rafli.
"Ada satu benda yang belum gue liat." Suara ramah dan jenaka yang biasa masuk ke pendengaran Audrea terganti menjadi datar dan begitu dingin, apa lagi wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun.
Tangan Audrea ditarik lembut, membawa gadis itu untuk di suruh duduk bersamanya.
__ADS_1
"Gila, bener-bener gila! Kalo lo mau tau apa isi tadi tuh kotak, gue pastiin lo bakalan jijik," ungkap Rafli setengah-setengah membuat Audrea menautkan kedua alisnya.
Surat ia lempar di depan temannya, Rafli mempersilakan Audrea membukanya.
Mata jernih itu melebar sempurna. Ia menutup mulutnya dengan salah satu tangannya, melempar ke depan Rafli lagi.
"Orang sinting mana yang ngirimin gue surat menjijikkan kaya gitu, anjir!" umpat Audrea. Wajahnya memerah, ia berusaha meredam emosinya yang kian menambah.
"Tadi juga, pas buka tuh kotak, gue liat lingerie seksi dengan bekas cairan putih di sisinya. Dari baunya jelas itu bau alat vital cowo," ungkap Rafli serius semakin menambah emosi Audrea bertambah.
Tangan Rafli meraih surat yang sempat dibaca oleh sang teman. Banyak kalimat vulgar dan rangkaian kalimat menjijikkan, sang pengirim menyampaikan keinginannya untuk menjalani hubungan di atas ranjang dengan malam yang panas.
Rafli pun berdecak, "Penggemar lo kali ini orang sakit. Anj*ng, gue ikutan emosi, sialan!"
"Waktu itu juga ada yang kirim gue paket dalam kotak gitu, makanya gue nyuruh lo buang, ada sedikit rasa trauma kalo diliat. Tapi kali ini malah beda lagi paketnya," jujur Audrea pelan.
Rafli menghembuskan napasnya lelah. Temannya banyak sekali ditimpa berbagai macam masalah, ada saja yang menggangu ketenangan sang teman.
Berakhir Audrea menceritakan semuanya, tidak ada ditutupi lagi dan secara detail ia menyampaikan sampai tak ada yang terlewat sedikit saja. Rafli menjadi pendengar baik, di lubuk hatinya ia sungguh merasa bersalah tidak bisa melindungi temannya itu.
Berbeda, malah Audrea sering melindungi serta menolongnya di suatu masalah. Ia bersyukur kalau gadis di depannya ini adalah gadis kuat nan tangguh.
"Lain kali cerita, Dre. Kalo gue enggak bisa melindungi fisik lo, tapi seenggaknya gue bisa lindungi mental lo," ucap Rafli sendu. Audrea mengangguk patuh sambil tersenyum kecil.
"Jangan ada yang ditutupin di antara kita. Gue pengen ada untuk lo selalu," lanjutnya tulus.
Wajah tampan itu diraup asal oleh Audrea sembari tertawa kecil. "Iya bawel, cerewet banget sih lo!"
"Gue cerewet karena gue peduli," ketus Rafli dan ia mengusap pelan wajahnya.
'Karena gue cinta Dre, sama lo,' tambah Rafli di dalam hati sambil menatap sendu sang wajah gadis cantik di depannya.
__ADS_1