Perkara Gaib

Perkara Gaib
Aku Tidak Pulang


__ADS_3

Alarm di handphone pemuda itu berdering nyaring memecahkan kesunyian malam. Ia terlonjak kaget dan langsung mematikan benda elektronik tersebut, ia menghembuskan napasnya dengan berat.


Matanya beralih kepada bangunan kuno di depan sana, sejauh mana memandang hanya kegelapan yang ia lihat. Sudah empat jam lamanya sang teman dan Yuda belum juga kembali, menambah perasaan gusar kian menjadi.


Waktu menunjukkan jam sepuluh kurang, memang belum tengah malam, namun mandat untuk pergi dari sana setelah empat jam ia menunggu, dirinya harus pergi dari sana kalau mereka belum juga muncul. Tapi seakan tidak peduli, Rafli mencoba menunggu mereka kembali.


Ia merutuki diri sendiri yang layaknya disebut sebagai pecundang. Kekuatan tak bergunanya ini sangat tidak menguntungkan, matanya mulai berkaca-kaca, hatinya bergemuruh ingin menyusul sang pujaan.


"Dre ... lo di mana? Balik Dre, lo udah janji!" gumam Rafli menunduk dan melipat kedua tangannya sembari menunduk.


Jam dua belas malam pun tiba, suasana semakin mencekam. Kabut lumayan tebal muncul di depan candi tatkala tatapan Rafli terangkat, di sana ia samar-samar melihat ada seseorang berdiri di kegelapan yang di cahaya 'kan oleh sinar rembulan.


Postur tubuhnya ia mengenali itu, senyum cerah terukir di wajah Rafli. Lalu ia juga mendengar sayup-sayup suara Audrea memanggil untuk segera masuk dan menyelesaikannya bersama, ia hampir saja membuka pintu mobil. Tapi di depan pintu sudah ada sang khodam Audrea berdiri membawa tongkat menghadap sosok di depan.


"Kowe metu saka mobil, mengko Mbah sing dipateni Audrea," sentaknya. Walau semestinya tidak akan mungkin.


(Kamu keluar dari mobil, Mbah yang akan dihabisi oleh Audrea).


"Terus Audrea sekarang di mana Mbah, kalo di depan bukan dia?" tanya Rafli tak sabaran.


Kepala wanita tua itu menoleh. "Dheweke isih kepepet karo Yuda ing alam ghaib, mung ndedonga supaya tugase cepet rampung."


(Dia masih terjebak bersama Yuda di alam gaib, doakan saja agar tugasnya cepat selesai).


"Mulih ... ojo suwe-suwe neng kene, bahaya. Tindakake kaya sing diomongake Audrea sadurunge," tambahnya kembali mengingatkan Rafli supaya tidak bertindak bodoh.


(Pulang ... jangan terlalu lama di sini, bahaya. Ikuti seperti ucapan Audrea sebelumnya).


Tanpa bertanya lagi Rafli mengangguk pasrah dan menyalakan mesin mobilnya. Ia pun pamit, "Saya pulang Mbah."


Khodam milik Audrea tidak merespon apapun, ia hanya berjalan pelan ke arah candi menghampiri sosok misterius itu.


"Rafli ...," panggil sosok tadi terdengar lirih. Kepala pemuda tersebut ia gelengkan, mengabaikan eksistensi asing tersebut.


Mobilnya lalu meninggalkan lokasi candi, ia hanya bisa melirik dari kaca spion. Matanya ia usap kasar karena situasi yang membuatnya lemah, sesak dan berat rasanya. Audrea terjebak bersama Yuda yang tidak akan tahu kapan mereka bisa keluar, Rafli semakin merasa bersalah.


***


"Terima kasih Pak Ustadz sudah mau membantu saya," ucap Anto bersalaman.

__ADS_1


Ustadz itu mengangguk lalu tersenyum dan menyahut, "Sama-sama Pak Anto, jangan lupa yang satu di minum setelah magrib dan satunya tuang sedikit untuk mandi."


"Iya Pak, sekali lagi saya sangat berterima kasih kepada Bapak!" Air mata haru keluar begitu saja. Hatinya menjadi damai dan kembali aman setelah sehari pulang dari kampung halaman teman bosnya itu.


Ia pun memberi salam dan berpamit pulang yang dibalas salam juga dari Ustadz tersebut. Anto perlahan mulai menghilang dari pandangan sang Ustadz, ia berzikir menggunakan tasbih pada tangan kanannya. Kemudian lantunan ayat suci terdengar, menyampaikan doanya sambil menatap langit berwarna cerah dan tak lupa ia mengangkat tangannya seraya berdoa.


"Wakul robbi a'uudzubika min hamazaatisy-syayaathiin wa a'udzubika robbi ayyahdhuruun."


(Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan, dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, agar mereka tidak mendekati aku). - QS. Al-Mu’minun: 97 -98.


"Amin."


Ia mengangkat kedua tangannya dan menangkup wajahnya lalu ia turunkan kembali, berbalik melangkah memasuki rumah sederhana yang di tinggali bersama istri dan anak tercinta.


Saat pintu terbuka, seketika ia mematung, keadaan di sini sangat berantakan. Refleks kakinya berlari menuju kamar tidur sang anak. Matanya menatap kosong ke depan saat pintu terbuka lebar, di sana sesosok makhluk berdiri di belakang anaknya, mata berbinar dan bening itu terganti dengan warna merah menyala menyaratkan kemarahan.


"USTADZ SIALAN!" teriaknya lantang hingga memecahkan kaca jendela.


Ia menutup telinganya sambil memejamkan mata, tapi ketika terbuka, sang anak menghilang.


"Ahmad! Di mana kamu Nak?!!" pekiknya menangis meraung memanggil nama sang anak. Hanya mainan robot-robot-an anak yang tergeletak di lantai kamar, ia berlari keluar rumah dan menghampiri tempat Anto.


Sesampainya di rumah Anto, sang Ustadz mengetuk dan mengucapkan salam berkali-kali. Parahnya, tidak ada suara sebagai jawaban atas ucapan salam.


Kriet ....


Pintu terbuka sendirinya tatkala tangannya mengambang di udara untuk mengetuk pintu kembali. Dengan keberaniannya sang Ustadz membuka lebar pintu itu, hal sama juga terjadi di sini. Ia menatap nanar pemandangan di depan matanya.


"Assalamualaikum ... Pak Anto?" panggil Ustadz sambil berjalan perlahan.


Brak ....


Kepalanya menoleh ke belakang sembari mengelus dada. "Astaghfirullahaladzim ... Ya Allah, lindungi hamba dari mara bahaya."


Kakinya melangkah lagi menuju ruang sebelah kanan, pintu itu terbuka sedikit. Ia membukanya perlahan, pemandangan pertama yang ia jumpai adalah lantai berlumuran darah. Barang juga berserakan ke mana-mana.


Kemudian ia beralih ke ruang lain di sebelahnya. Pintunya seperti terkunci dari dalam, Ustadz tersebut terus memanggil nama Anto. Namun tak jua dapat jawaban.


Brak ... brak ... brak ....

__ADS_1


Dobrakan terus ia lakukan, sampai ke lima kalinya pintu barulah terbuka. Ustadz tadi lekas masuk ke kamar, matanya membulat sempurna di kala satu badan manusia menggantung kaki di sebuah tali yang melilit lehernya. Netra itu terarah kepadanya, ada darah di sela mata mayat tersebut, lidahnya menjulur keluar.


"Pak Anto ... innalillahi wa inna ilaihi raji'un."


Hari itu menjadi pemakaman seorang Anto dan Ustadz tersebut pun ditahan di kantor polisi sebagai saksi mata dalam kasus pembunuhan ini. Istri Anto yang baru melahirkan sangat terpukul karena kepergian sang suami, di sisi lain istri dari sang Ustadz di posisi sama, suaminya di tahan polisi.


Di mana anak sang Ustadz? Anak itu sudah di temukan di pekarangan belakang rumah Anto di dekat sumur.


Rafli juga selaku bos Anto mengunjungi Anto saat baru sampai di Jakarta seorang diri. Rasa bersalah membuatnya tak kuasa berlama-lama dan tidak lupa dirinya memberikan uang berjumlah fantastis kepada keluarga yang di tinggalkan dengan dalih terlalu dekat.


Seandainya dirinya tidak mengajak Anto ke kampung halaman Audrea, pasti orang itu tidak akan berakhir tragis seperti ini


***


"Ini apa ya?" tanyanya pada diri sendiri.


Sebuah benda terbalut kain usang yang diikat dengan benang merah ia temukan di laci dashboard mobil ketika sedang mencari kaca matanya. Rafli mengerutkan keningnya karena ia juga menemukan secarik kertas dengan tulisan yang jelas ia kenali.


Itu dari Audrea ternyata. Jujur degup jantung saat mendengar atau membaca nama pujaan membuatnya teringat kejadian tempo hari, di mana ia harus meninggalkan Audrea dan Yuda sekaligus membawa rasa patah hatinya pulang ke Jakarta.


Surat itu bertuliskan:


......"Hai my boy ... gue udah merasa akan terjadi sesuatu dengan gue dan Yuda. Karena yang kita hadapi ini bukan manusia, melainkan semacam setan atau jin."......


..."Oh ya, ingat pagi saat kunjungin makam ibu? Ada nenek yang memberikan sesuatu kepada gue, untuk apa tadinya gue enggak tau."...


..."Tapi saat gue masukin tas dan bawa pulang, Mbah bilang itu adalah jimat dari tulang rusuk penjaga makam yang udah lama meninggal dan juga konon katanya orang itu mempunyai ilmu atau kekuatan tinggi."...


..."Intinya, itu dapat digunakan buat jimat pelindung. Jaga diri lo ketika lo nemuin benda ini saat gue belum balik dan di bawa terus kalo bisa, gue janji akan pulang."...


..."Jaga diri baik-baik ya ... jangan lupa bismillah kalo ingin melakukan suatu hal, see you next time."...


^^^Audrea Safira.^^^


"Gue kangen sama lo! Pulang Dre, jangan terlalu lama. Gue enggak mau kehilangan lo!"


Tangannya meremas surat itu sampai kusut, sesekali tangannya memukul dasboard mobil guna melampiaskan kemarahannya. Dengan berat hati ia lagi dan lagi menuruti Audrea, ia berjalan gontai tanpa semangat.


Memasuki rumah megah yang diisi oleh ayah dan ibu serta adiknya, di ruang keluarga sang ibu melihat wajah tampan anaknya tak seperti biasanya sejak pulang kemarin.

__ADS_1


"Kamu kenapa Nak? Harus ya dipendam sendiri?" sendu sang ibu menatap kepergian putra sulungnya.


__ADS_2