Perkara Gaib

Perkara Gaib
Tentang Perasaan & Bangunan Candi Tua


__ADS_3

Audrea berdiri di samping pusara sang ibunda, ia berjongkok dan di susul Rafli di belakangnya. Mereka membersihkan makan yang mulai di tumbuhi rumput panjang serta daun berserakan, beberapa menit berlalu makam sudah bersih.


Taburan kembang tujuh rupa ditabur di atasnya, air mawar juga ia tuangkan dari ujung sampai nisan. Rafli memimpin doa untuk almarhumah ibu Audrea diikuti oleh gadis itu.


Mereka pun beranjak setelah mengirimkan doa. Mereka berdua yang masih di area pemakaman sangat heran, semua pengunjung makam menatap keduanya dari datang hingga ingin kembali pulang. Rafli menelan rasa penasarannya itu, namun langkah mereka terhenti ketika ada wanita paruh baya menghampiri.


"Nylametake desa, ibumu ora bisa ngalang-alangi maneh. Sampeyan kudu nyegah dhewe!" serunya. Dia memberikan suatu benda aneh pada Audrea


(Selamatkan desa itu, ibu kamu udah enggak bisa mencegahnya lagi. Kamu harus mencegahnya sendiri!)


"Mbok—"


"Huss, ojo nganti biasa. Yen mulih, golekana anakmu!" usir si penjaga makam memotong pembicaraan. Kepergian wanita tua itu di temani gerutuan dari dirinya sendiri, Audrea menatap kepergiannya.


(Hus, jangan kebiasaan. Pulang sana, dicariin anakmu!)


Ia melihat sekitar, semua orang tidak lagi menatap ke arah Rafli dan dirinya. Lamunannya buyar saat sang penjaga makam membuka pembicaraan bersama Rafli. Tapi Audrea justru memandang lamat ke benda yang ia genggam, benda ini terbalut oleh kain coklat lumayan usang yang diikat dengan benang merah, lalu ia memasuki benda itu ke dalam tas kecil sembari bergidik acuh.


"Nuwun sewu ngganggu kunjungan panjenengan, tiyang punika biyasa matur ingkang boten trep kaliyan pengunjung makam sanesipun," jelas penjaga pemakaman tak enak hati.


(Maaf mengganggu kunjungan kalian, orang tadi udah biasa berbicara tidak jelas kepada pengunjung makam lainnya).


Audrea mengangguk dan menyela, "Nggih Pak, mboten napa-napa."


(Iya Pak, enggak kenapa-kenapa).


"Matur nuwun Mba, nyuwun pangapunten," pamit orang itu dan Audrea serta Rafli membalas dengan senyuman.


(Terima kasih Mba, saya permisi dulu).


Rafli menghela napas lega, ia menepuk pundak sang teman. "Untung lo bisa bahasa Jawa, bisa hah hoh hah hoh, nanti jawabannya."


"Hahaha ... kaya orang bloon ya Fli?" ledek Audrea membuat Rafli merenggut kesal.


Mereka pun melenggang pergi dari sana, tanpa disadari di pohon beringin besar di tengah pemakaman ada satu sosok memperhatikan mereka, lebih tepatnya Audrea.


"Sampeyan ora bisa mlayu saka takdir iki," gumamnya menatap kepergian Audrea.


(Kamu tidak bisa pergi dari takdir ini).


Sosok itu pun menghilang perlahan seperti memudar sendirinya. Sebelum hilang, bibirnya mencetak senyum kecil di wajah pucatnya.


***


"Dre, kenapa penduduk desa ini pada milih menjauh dari kita ya? Padahal di sini kamu juga penduduk asli, tapi mereka malah mencoba menghindar," ungkap Yuda memendam kecurigaannya.


Audrea yang sedang menata makan siang menoleh, ia tidak menjawab langsung. Otaknya mencerna perilaku warga desa, kejadian beberapa tahun silam memasuki ingatannya.


"Aku enggak tau, kayanya sih gara-gara kejadian Ibu meninggal beberapa tahun lalu. Tapi aku enggak mau berburuk sangka dulu, takut itu cuma pemikiran aku yang membuat spekulasi sendiri," tutur Audrea.


Yuda menghembuskan napasnya panjang. "Terus kita ke sini sebenarnya untuk apa?"


"Mencari kelemahan musuh bebuyutan keluarga aku di masa lampau, mereka bangkit lagi dan ikut menyerang Rafli." Jawaban Audrea membuat Yuda terkena percikan api cemburu, raut gadis itu mencurahkan perhatian dan kekhawatiran begitu dalam.


'Adakah aku di hati kamu, Dre?' sendunya dalam hati.


Yuda mendesah berat. "Aku ke kamar dulu, makannya nanti aja."

__ADS_1


"Lagi gak enak badan?" tanya Audrea heran.


"Enggak, cuma lelah aja kok. Maaf ya enggak bisa makan siang bareng, gak apa-apa 'kan?"


Audrea tersenyum kecil dan membalas, "Iya gak apa. Tapi nanti sore kita harus siap-siap, kita akan ke suatu tempat."


"Ke mana?" tanya Yuda penasaran.


"Nanti kamu juga bakal tau," sahut Audrea yang masih sibuk sendiri.


Pria itu meninggalkan Audrea sendirian di meja makan. Audrea berhenti sejenak, menghempaskan tubuhnya di atas kursi, meraba dadanya yang terasa berdenyut atau mungkin lebih tepatnya berdebar.


Dirinya takut salah sangka kalau ia sungguh mencintai Yuda, siapa tahu itu hanya sebuah rasa kagum semata tanpa dilandasi cinta. Tiba-tiba nama Rafli terlintas di benaknya, ia tersenyum kecil.


Kini ia merasa seperti gadis bodoh, tidak tahu pasti tentang perasaan sendiri. Entah itu kepada teman dekatnya Rafli atau terhadap Yuda. Kadang ada angan di mana dirinya tidak ingin merasakan apapun, menurutnya perasaan itu sangat rumit, ibarat rumus fisika dan teori lainnya.


Setelah banyak melamun, Rafli benar-benar datang. Pria itu mendesah kesal sambil mengacak rambutnya hitamnya.


"Lo tau gak?—"


"Ya mana gue tau," sahut Audrea cepat.


Rafli menatap datar sang teman dan mendengus, "Makanya jangan dipotong! Gue lagi pusing sama Pak Anto Dre."


"Pak Anto kenapa? Sakit?" tanya Audrea heran. Kening gadis itu berkerut samar.


"Dia katanya pengen pulang ke Jakarta, dia dapat kabar dari istrinya kalo mau lahiran. Kalo Pak Anto pulang, nanti kita tinggal bertiga doang," keluh Rafli menyampaikan informasi. "Terus tidurnya berdua pula sama Yuda, 'kan gue males liat mukanya."


Lawan bicaranya tertawa kecil sambil menepuk lengan Rafli. Alasan tak berdasar tersebut mampu menghibur Audrea, gadis itu melihat mimik wajah Rafli semakin suram, ia pun berdeham pelan dan memasang wajah serius.


"Huh ... ya udah. Nanti sore kita anterin ke terminal terdekat, sekalian kita bakalan ke suatu tempat yang udah di tunjuk sama Mbah," ujar Audrea memandang Rafli.


"Ok, berarti kita akan mulai dari sana. Semoga aja semua ini bisa lekas selesai seperti apa yang kita inginkan," sambung Rafli meredam kegugupannya.


"Dre ... jangan liat gue kaya gitu, gue salting bego!" rutuk Rafli membuat Audrea mendelik.


Jarinya mencubit pinggang pria itu karena kesal, tapi tak membuat lawannya meringis. "Dasar baperan, kaya gitu aja salting. Gimana nanti gue ajak nikah lo!— Ehh?" ceplosnya dan langsung membekap mulutnya sendiri.


"Hahaha ... calon bini gue bisa aja nih kalo ngomong," goda pemuda itu seraya menaik turunkan alisnya.


"Berarti gue ada kesempatan dong, buat dijadiin suami lo?" tambah Rafli semakin membuat Audrea mengalihkan pandangannya.


"Dasar gila!"


"Gila karena kamu sayang." Mendengar balasan tak terduga, Audrea melipat kedua tangannya di meja dan menenggelamkan kepalanya di sana. Rafli makin menjadi dalam hal menggodanya, tawa renyah pemuda tersebut sampai terdengar di telinga Yuda.


Sungguh ia ingin menghilang saja karena dua insan yang terus menerus membuat hatinya kian memanas, karena kesal ia hendak menghampiri mereka. Namun ada sebuah tongkat menghalang di depan pintu yang ingin ia buka, matanya melirik penuh ke arah pelaku.


Wanita tua itu menggeleng pelan. "Ora usah diganggu, takdir wis tinulis ing tangane Gusti Allah wiwit lair saka bayi, malah sadurunge dheweke lair ing jagad iki."


(Jangan mengganggu mereka, takdir sudah tertulis di tangan Tuhan sejak kelahiran seorang bayi. Bahkan sebelum dia lahir ke dunia ini).


"Mbah, jangan ikut campur. Ini bukan urusan Mbah, tolong menyingkirkan dari jalan saya Mbah," usir Yuda.


"Mangkel dadi manungsa, mikir bali. Jodohmu ora ono neng kene, jodohmu yo neraka Yuda," sela sang khodam Audrea membuat Yuda kalah telak. Apa lagi banyak dosa yang menumpuk melebihi tingginya gunung, perbuatan keji dan kekejamannya dalam menginginkan suatu tujuan ideal untuk dicapai sangat membakar ambisinya kian tertantang karena menikmati semuanya.


(Keras kepala jadi manusia, pikirkan timbal baliknya. Jodoh kamu enggak ada di sini, jodoh kamu ya neraka Yuda).

__ADS_1


"Mbusak rasa iku, aja nganti membebani Audrea maneh karo rasa sing ora ana gunane," tambahnya lalu menghilang dalam sekejap mata berkedip.


(Hapus rasa itu, jangan membebani Audrea lagi dengan perasaan yang tidak berguna itu).


Badan Yuda luruh, ia jatuh bersimpuh lalu menangkup wajahnya. Matanya memanas akibat hatinya terasa perih, ia juga masih mempunyai detak jantung yang bekerja hingga saat ini dan begitu pula hatinya.


Pikirannya berkelana mencari jalan keluar agar bisa melawan takdir, namun nihil. Perkataan wanita tua tadi seakan memberitahu tahu Yuda secara tidak langsung, bahwa ia segera mendapatkan ganjaran dari perbuatannya selama ini.


Bulir air mata menunjukkan kelemahan seorang pria, menandakan jika ia benar-benar rapuh. Dulu kalau ia menangis ada Lastri yang merengkuhnya sembari mengusap lembut pucuk kepalanya. Sekarang ia hanya di peluk angin dan udara di sekeliling kamar, denyutan nyeri mengingat kesalahannya kepada Lastri menghantarkan penyesalan menggerogoti lubuk hati.


Ia bersandar pada dinding di sana. Memandang kosong ke depan, rasa kerinduan dan terpukul menjadi satu. Bodohnya ia baru sadar masih ada nama Lastri di sana, tapi tak mengelak kalau Audrea juga ia cintai begitu tulus.


"Siapa Tuhan ku dulu? Aku melupakan Tuhan hingga berjalan kesesatan yang membuahkan penyesalan," gumamnya tertawa sumbang.


***


Jam menunjukkan pukul setengah lima sore, sebelumnya dua jam lalu mereka mengantar Anto ke terminal terdekat. Karena jarak yang jauh, Audrea memberitahu kalau ia memajukan waktu perjalanan, hingga sekarang petang hampir diujung hari.


Rafli yang menyetir di arahkan oleh Audrea ke tujuan mereka, sampai di waktu matahari tenggelam barulah mereka tiba. Langit sudah gelap sejak lima belas menit lalu, di depan mereka ada sebuah candi kuno bangunan tua yang sangat gelap gulita dan tentunya nampak menyeramkan.


Bulu kuduk Rafli seketika berdiri karena merinding. Ada rasa sesak ketika mereka keluar mobil, udara pengap di sekitar menusuk indra mereka. Tapi belum sempat melangkah, Audrea mendengar bisikan.


"Rafli aja digawa mlebu, dheweke ora bisa ngurusi awake dhewe," bisik khodam-nya.


(Jangan membawa Rafli masuk, dia enggak bisa jaga diri sendiri).


Kepala Audrea menengok Rafli, ia mengulum senyum karena tingkah pria itu sangat jelas mengeluarkan ketakutan. Audrea paham Rafli sudah berkali-kali diculik makhluk astral, membuatnya trauma karena guncangan mental berkali-kali yang dia terima.


Tangannya mengusap pelan lengan kekar temannya, Rafli tersentak dan menoleh ke arah Audrea. Hampir saja ia menjatuhkan senter di genggamannya, ia membalas senyum itu sedikit kikuk.


"Jangan takut ya, gue akan jagain lo, gue janji. Tapi maaf banget Fli, kata Mbah lo enggak bisa masuk ke dalam, bahaya kalo lo nekat masuk," ucap Audrea hati-hati.


Sebenarnya ada kelegaan saat mendengar hal tersebut, tapi ia menelaah kembali dan melirik ke arah Yuda yang sedang melihat sekitar sembari menyoroti lampu senter ke berbagai sisi. Otomatis di dalam sana hanya ada Audrea dan Yuda, sungguh ia tidak rela.


"Gue bisa kok jaga diri sendiri," tolak Rafli berusaha menyakinkan Audrea.


Gadis itu tetap menggeleng, ia menangkup wajah pria di depannya dengan kedua tangan di setiap pipi. "Please, dengan sangat gue gak mau lo kenapa-kenapa. Jangan bikin gue kecewa Fli dengan jawaban lo."


"Tapi Dre—"


"Sttt ... masuk lagi ke dalam mobil, jangan pernah keluar kalo gue belum balik. Abaikan suara sekitar dan kalo bisa lo tidur aja, misalkan gue dan Yuda belum balik dari waktu tiga jam atau empat jam, lo harus pergi dari sini. Kembali ke rumah, nunggu pagi dan pulang ke Jakarta," pesan Audrea memotong ucapan Rafli.


Entah kenapa perasaan Rafli mendadak tidak enak, ia menggeleng cepat. Namun Audrea memeluknya erat, demi menenangkan dirinya.


"Lo harus janji untuk kembali Dre," sahutnya menjatuhkan air mata.


Audrea mengangguk ragu, tapi berbeda dengan ucapannya, "Gue balik kok."


Mereka mengurai pelukan itu, Rafli dan Audrea serta Yuda berjalan bertolak arah. Rafli segera masuk ke dalam mobil seperti diperintahkan oleh Audrea, ia memandang kepergian sang pujaan memasuki candi sembari bergandengan tangan dengan Yuda.


Ia menyampingkan rasa cemburu. Sorotan senter kian menghilang karena mereka sudah berbelok kiri di dalam sana, keringat dingin membasahi keningnya. Tiba-tiba ia merasakan cahaya kecil melingkupi seluruh mobilnya, ia melotot karena terkejut tatkala matanya mengedarkan pandangan.


Tangannya menggapai gagang pintu mobil, namun sosok khodam Audrea muncul di sampingnya dan membuatnya terdiam takut.


"Tetep wae kene, sampeyan bakal aman. Mbah bakal ngayomi kowe miturut pesene Audrea," katanya pelan dengan suara khasnya.


(Tetap di sini aja, kamu bakalan aman. Mbah akan melindungi kamu sesuai amanat Audrea).

__ADS_1


Rafli yang sedikit mengerti bahasa Jawa mengangguk patuh, tak lama sosok itu memudar dan menghilang meninggalkan wangi melati segar. Susah payah ia menelan ludah, apa lagi jantungnya berdetak sangat kencang. Berhadapan langsung dengan beliau tanpa Audrea membuat Rafli seperti berlari maraton saja. Rasa syukur karena ikut di lindungi terus ia ucapkan dalam diam, walau ada rasa bersalah karena temannya sedang berjuang tanpa bisa ia membantu.


"Huh ... semoga kalian cepat balik dengan keadaan selamat," rapal Rafli tulus sambil memandang sendu candi yang berdiri kokoh di depannya itu.


__ADS_2