Perkara Gaib

Perkara Gaib
Diusir Tanpa Iba


__ADS_3

Bayu bersantai di tepi danau, masih sekitar Jakarta tentunya. Ia sengaja mencari tempat sepi yang jarang orang kunjungi, entah mengetahui tempat ini dari mana, jelasnya ia seperti mencari ketenangan di tengah padatnya kota. Tapi jika dipikir-pikir, kehidupannya sekarang amat menenangkan ketimbang dulu hidup di desa, apa lagi ada Audrea sekarang di sampingnya.


"Ya ... aku harus menikmatinya, jangan sampai aku melewati setiap inci bagian terpenting di dunia ini. Audrea misalnya," gumamnya pelan lalu tersenyum merekah mengingat gadis cantik itu.


Mentari mulai muncul perlahan, gerimis juga sudah berhenti turun. Tapi ada sesuatu yang membuatnya penasaran, tadi pagi ketika berangkat ia sempat melihat siluet seseorang dari kejauhan. Ia seperti mengenalinya, namun tak tahu siapa itu.


Rafli tidak mungkin. Pria angkuh itu sudah memberikan kabar tadi malam, bahwa dia akan kembali pada sore hari. Ada yang ia lupa, tapi jika dilihat beberapa orang mengincar Audrea. Dari cara bersitatap ataupun mengobrol, gerak-gerik yang mudah ditebak.


Set ....


"Siapa kamu?" tanya orang di belakangnya sambil menodongkan belati.


Kening Bayu berkerut kasar. 'Siapa orang ini?' pikirnya.


"Cepat jawab! Berani sekali kamu menginjakkan kaki di tempatku! Jangan berpikir kalo aku gak bisa tau, siapa kamu sebenarnya?" sentak orang misterius yang membuat Bayu terkekeh kecil.


"Udah tau pakai nanya, kamu enggak bodoh 'kan?" gurau Bayu.


Tangan tadi ia tepis kasar, lalu ia menjauh beberapa meter dengan cepat. Barulah dirinya melihat seorang pria berbadan tinggi yang tengah melempar tatapan tajam penuh permusuhan, kilat amarah tersirat di sana.


Bayu memasukan tangan ke kantong celananya, berdiri santai tatkala langkah pria itu ingin mendekat. "Hey, kalo aku terluka, Audrea akan khawatir. Gunakan otak kamu lain kali, ini semakin membuat kalian semakin jauh, bukan?" paparnya bersandar di pohon.


"Tapi kamu harus disingkirkan sebelum suatu hal besar tersebut tiba," ungkap Yuda tersenyum miring. Ya, orang itu adalah Yuda.


Karena perkataan tersebut, Bayu jadi terpancing. Ia berdiri tegap di depan Yuda, membalas tatapan yang terlihat murka. Tidak ada yang boleh menghalanginya, mungkin sekarang masih sedikit lemah, namun dirinya tak akan membuat orang lain menang dengan mudah.


Ia menutup mulutnya menggunakan tangan, dibalik itu dirinya tersenyum miring.


"Sudah cukup mengulur waktu, rasakan ini!" Pukulan dilayangkan Yuda ke arah Bayu sampai tersungkur ke tanah.


Yuda berjalan mendekat kembali, melayangkan pukulan yang sama dan memegang kepala Bayu guna mengeluarkan serta menghilangkan sukmanya.


Sedangkan Bayu bergeming tanpa melawan sedikitpun, memudahkan Yuda menghabisi Bayu dengan senang hati. Ia tekan kekuatan dalamnya, membuat Bayu merintih kesakitan dan berteriak bagaikan disiksa.


Dari kejauhan Audrea terlihat pulang dan melihat kerumunan di pekarangan rumahnya, dengan cepat ia mengebut mendapati pemandangan yang membuat matanya melotot tak percaya saat mengintip.

__ADS_1


Dirinya membelah kerumunan itu, para tetangga mengerumuni bak semut. Yuda di sana bersama tingkah gilanya seperti menyiksa Bayu, ia berlari dan mendorong kuat pria itu, mengabaikan tatapan tanya dari Yuda.


Brugh ....


"Mas Bayu!" teriak Audrea panik tatkala Bayu pingsan.


Kepalanya berputar ke samping. Ia menunjuk, "Dasar makhluk kotor! Apa perlu aku musnahkan kamu! Beraninya, mengganggu Mas Bayu!"


Yuda yang tersadar mengedarkan pandangannya ke sekeliling, dirinya mengumpat dalam hati. Entah sejak kapan dirinya di sini, setahunya tadi mereka masih berada di danau yang jaraknya lumayan jauh. Bisa-bisanya ia terpancing Bayu, makhluk itu licik juga ternyata.


Yuda memilih terdiam. Ia bangkit mengabaikan suara Audrea yang berteriak penuh amarah, dibantu para tetangga, Bayu di gendong menuju kamar. Audrea memanggil seorang dokter ke rumah, setelahnya ia berterima kasih pada orang yang membantu.


Beralih mengingat Yuda, ia bergegas menemuinya di depan rumah. Benar dugaannya, pria itu masih di sini.


"Yuda!" panggil Audrea bernada dingin dan wajah datar sedang melangkah mendekat.


Plak ....


"Jauhin aku, kehidupan aku, dan juga orang-orang terdekat aku. Jangan berlagak sakit hati lagi, Yuda. Kamu malah terlihat menjijikkan bersama tatapan dibuat sedih seperti ini," hina gadis itu dan tamparan yang dapat meluluhlantakkan besar perasaan Yuda kembali, hanya karena seorang pria. "Apa perlu aku kirim kamu ke alam baka? Biar sekalian kamu bertanggung jawab atas semuanya sendirian, tanpa melibatkan orang lain lagi?"


Yuda bungkam, mencerna semuanya. Ah, ia jadi sadar. Benar semua ini salahnya, ia menatap sendu Audrea, salah satu tangan gadis pujaannya menunjukkan ke arah gerbang sambil membuang pandangannya. Isyarat untuk dirinya segera pergi dari sana.


"Jangan kembali lagi," tutur Audrea lalu mengatupkan mulutnya.


Senyum kecil terbit di bibir Yuda dan berujar, "Maaf untuk segalanya."


Audrea menggeleng, kepalanya tertunduk dalam. Memejamkan mata yang hampir mengeluarkan lelehan air dari sana, tangannya ia turunnya saat mendengar langkah menjauh. Matanya terbuka, melihat kepergian Yuda begitu saja bersama hujan kembali membasahi bumi.


Ia meraba dadanya. Memukul pelan penuh kesesakan merambat ke relung hati, ia bersumpah menghapus rasa itu di dalam sana. Kehadiran Yuda adalah kesalahan, ia membenci hal tersebut. Tak ada kebaikan bersama orang tersayang, justru itu akan jadi sebuah malapetaka di esok hari.


"Enyah ... enyah dari kehidupan aku, Yud," gumam Audrea sangat lirih.


Ia melangkah gontai memasuki rumah. Menunggu dokter yang akan datang sambil melihat keadaan Bayu, ia merasa kasihan pada Bayu. Pria yang tidak tahu apa-apa dan menanggung rasa sakit akibat Yuda.


Sebelumnya ia berganti pakaian terlebih dahulu lalu melangkah ke kamar tamu. Bayu masih pingsan, wajahnya juga amat pucat disertai demam saat punggung tangan Audrea mengecek suhu di dahi pria bermuka manis ini.

__ADS_1


Ia mengusap lembut kepala Bayu dan pergi ke dapur mengambil air hangat untuk mengompres, kembali lagi ke kamar mendapati Bayu yang terduduk lemas bersandar pada bahu ranjang.


"Mas Bayu," panggil Audrea membuat sang empu menoleh dan tersenyum lemah.


Audrea meletakkan baskom kecil berisikan air hangat dan beserta kain bersih untuk mengompres di nakas samping kasur. Ia duduk di depan Bayu, tangan pria itu tengah memijat pangkal hidungnya.


"Ganti baju dulu Mas, mau aku bantu gantiin atau ganti sendiri?" tanya Audrea menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena merasa malu.


Yuda menjawab, "Ambilkan baju aja, Dre."


Gadis di depannya berdeham pelan sebagai jawaban, Audrea bangkit dan melangkah menuju lemari. Seketika dirinya tertegun di tempat, tulisan berbentuk ukiran di pinggiran lemari membuatnya terdiam.


Tulisan berbeda dengan bahasa Jawa kuno yang sama terpampang jelas di matanya. Sekilas memori mengingatkan dirinya saat berada di kampung, ia sempat memfoto tulisan tersebut sebelum berangkat ke candi.


"Dre, mana bajunya?" tegur Bayu memecahkan pikiran Audrea.


Audrea langsung membuka dan mengambil baju yang tergantung di sana, menutup kembali seraya melirik ke arah tulisan aneh di sana. Entah hanya tulisan atau ada suatu hal besar dibaliknya, ia menyodorkan tangannya dan membalik tubuh guna menghindari Bayu yang akan berganti pakaian.


Setelahnya Bayu juga memberi isyarat kalau ia sudah berganti, baru Audrea menyuruh Bayu berbaring kembali.


"Apa kau makan siang dulu, Mas?" tawar Audrea.


Bayu menggeleng. "Mau tidur aja, Dre. Makannya nanti aja."


Audrea membenarkan selimut yang dipakai Bayu dan tak lupa membantu menyamankan posisi bantal pria itu, ia tersenyum manis dan mengambil kain untuk mengompres.


"Ya udah, Mas tidur aja. Lagi pula, dokternya juga belum dateng," ucapnya.


"Aku enggak apa-apa, seharusnya enggak perlu manggil dokter, Dre. Maaf ya, udah ngerepotin kamu." Kepala Audrea menggeleng.


Ia menyahut, "Gak ngerepotin kok. Sekarang istirahat ya? Jangan ngobrol mulu, nanti malah gak jadi tidur."


Mendengar ocehan Audrea, Bayu terkekeh kecil. Ia hanya mengangguk dan perlahan memejamkan matanya, Audrea masih setia di sana. Sampai hampir ia terlelap sepenuhnya, ia sempat mendengar ucapan Audrea yang membuatnya tersenyum tipis, sangat tipis sampai tak terlihat oleh Audrea.


"Hmm ... Mas Bayu kalo diliat ganteng sama manis, ya? Kaya Jawa tulen beneran. Eh? 'Kan emang orang Jawa!" gumam Audrea lalu menepuk keningnya pelan dan mencebikan bibirnya.

__ADS_1


Di sisi lain Bayu membatin, 'Coba aja gak sakit!'


__ADS_2