Perkara Gaib

Perkara Gaib
Kecemburuan Brama


__ADS_3

"Mba, liat Audrea gak? Hari ini dia masukkan?" tanya Angga di depan meja Sarah.


Sarah mengangkat pandangannya. "Lupain dia Angga, dia— dapat membawa kesialan untuk kamu," sahutnya sedikit gugup.


"Mba, aku nanya keberadaan dia. Bukan lainnya!" tegas Angga meradang.


"Dia—dia mengajukan surat pengunduran diri," ungkap Sarah.


Tadi pagi ia sempat berpapasan oleh Audrea yang ditemani oleh temannya tanpa takut diomeli karena membawa orang luar. Audrea menunjukkan surat itu di depan Sarah, seketika rasa bersalah membubuhi hatinya.


Ia menghela napas lelah, melihat wajah murung Angga. Semua di luar kendalinya, Lastri selalu berhasil mempermainkannya. Ia pun menepuk pelan punggung tangan pria itu yang tergeletak di meja.


"Ke rumahnya aja, kayanya dia udah pulang," saran Sarah. Sekejap senyum kecil terbit di wajah Angga dan mengangguk semangat.


"Nanti selesai kerja aku ke sana deh, kenapa enggak kepikiran ya? Makasih ya Mba Sarah!" serunya lalu kembali ke meja kerjanya.


***


Suana nampak suram di basement, sangat senyap. Hanya ada suara langkah kakinya saja, tapi saat ingin mencapai mobilnya, persis di sebelah kanannya muncul jejak seperti kaki berwarna merah pekat.


"Abaikan Sarah, abaikan!" gumamnya mendorong diri agar tidak peduli.


Tap ... tap ... tap ... tap ....


Langkah kaki seseorang terdengar dari balik badannya, matanya bergetar ingin menangis. Badannya juga mulai terasa kaku, dengan sekuat tenaga ia pura-pura tak tahu dan melanjutkan langkahnya sendiri.


Memasukkan kunci ke lubangnya, entah mengapa tangan gemetar. "Astaga, tangan sialan!" umpat Sarah.


Suara itu semakin mendekati dirinya. Tepat pintu berhasil dibuka, ia bernapas lega dan menyandarkan punggungnya ke kursi kemudi. Ia mengusap peluhnya yang sempat keluar di sekitaran dahi.


"Wangi mu aku suka, erghh ...," erang sosok di dibelakang.


Makhluk itu berucap tepat di samping telinga Sarah, air liurnya bahkan menetes mengenai baju kemeja milik Sarah. Jelas badan gadis itu menegang dan meremang.


"Brama sangat tau keinginan ku hahaha!" ujarnya merengkuh tubuh sintal Sarah.


Napasnya tercekat dan susah payah ia mengeluarkan suara, "Lepaskan— aku!"


Perkataan tadi tak di ladeni oleh sosok tersebut, ia menggerayangi setiap tubuh Sarah. Sedetik kemudian Sarah menghilang di bawa entah ke mana.


Yang jelas sekarang tempatnya kini berganti di sebuah ruangan bercahaya temaram dari satu lampu. Sarah mulai memberontak dan ia berhasil terlepas, tapi pandangannya malah melihat seorang pria yang sering ia rindukan akhir-akhir ini.


Pria itu memajukan dirinya menghadap Sarah, membelai lembut pipinya dan mengecup keningnya seolah penuh cinta. Mata Sarah terpejam, ia sudah terhanyut dalam ilusi dan menikmati belaian memabukkan itu.

__ADS_1


"Sarah," panggil makhluk di depannya dengan suara berat nan serak menggoda.


Tangan Sarah terulur mengalungkan di leher yang ia sangka sang kekasih.


"Aku merindukanmu, sayang." Air matanya jatuh dan memeluk erat tubuh itu, menghantarkan kehangatan baginya.


Dalam hati makhluk itu tersenyum miring. 'Manusia bodoh!'


Mulut mereka bertaut, saling bertukar saliva dengan pergerakan semakin sensual. Mata mereka berkabut gairah dan nafsu. Perlahan pakaian Sarah sudah ditanggalkan oleh makhluk tersebut.


Menggauli Sarah secara perlahan, meninggalkan sentuhan memabukkan bagi gadis itu.


"Eughhh ... shhh ... kenapa ini nikmat sekali?" racau Sarah mendesah kelimpungan.


Akhirnya pun keduanya saling menyatu, ******* di ruangan itu bersahutan. Decitan kasur berbunyi keras sampai mengganggu Brama yang sedang di kamar sebelah. Ia berdecih jijik memiliki khodam bejat itu, tapi kembali lagi ia sungguh tak peduli.


Ingin membunuh Sarah malah makhluk itu tertarik, jadi tidak mengambil pusing, Brama mengiyakan saja.


Ia bangkit dan bersiap-siap untuk ke rumah Audrea, memantau gadisnya dari jauh seperti biasa. Tadinya ia sangat kecewa karena Audrea memilih undur diri, tapi dirinya tidak mampu mencegah. Hal hasil Audrea meninggalkan ruangan HDR, tanpa menoleh jika ada dirinya di dekat sana.


***


Pria itu menggertakkan giginya, tangannya terkepal kuat ingin sekali melayangkan tinju. Di luar sana sesosok pria sedang memeluk erat gadisnya, begitu pula sang empu yang membalas dekapan tersebut.


Brama mendatarkan wajahnya di kala melihat tangan sang pria digandeng dan ditarik menuju ke dalam rumah. Dengan kesal Brama memukul stir mobil.


"Siapa pria itu? Aku belum menyingkirkan para benalu lainnya, tapi kenapa menambah satu benalu lagi? ARGHH! Kamu buat aku gila, Dre!"


Hendak ingin menyala mesin mobil, Brama dibuat kesal kembali. Di sana ia melihat Angga membawa paper bag dengan senyum di wajahnya, ia merasa kepala mengeluarkan asap sekarang.


"Lihat kalian semua, tunggu kematian kalian! Audrea hanya milikku!" lanjutnya menyeringai lebar.


Suana dalam mobil van berwarna hitam itu terkesan panas karena amarah Brama yang mulai meluap, bagai diberi kejutan, dengan mudahnya juga ia melihat Audrea menerima tamu keduanya, apa lagi ada Rafli juga di sana. Jadi ada tiga pria dan satu gadis dalam satu tempat, ia kembali meradang, memilih untuk pulang menyusun rencananya yang berantakan bak potongan puzzle.


Berbeda dengan Audrea, sebenarnya ia sedikit canggung. Apa lagi melihat Yuda dan Angga saling beradu pandang memberi tatapan tajam seperti belati, sedangkan Rafli baru ingin berteriak lantang memanggil sang teman ia urungkan.


"Apa-apaan nih? Lo berdua ngapain ke sini? Maaf aja ya, tempat ini bukan panti sosial," ketus Rafli secara tak langsung mengusir mereka.


Audrea sontak saja melotot mendapati tingkah Rafli yang ketara tidak suka.


"Aduh ... temen aku emang sering bercanda, kalian kalo pengen menyampaikan sesuatu sampaikan aja. Abaikan temen aku," kata gadis itu sembari menarik tangan Rafli untuk pria ini duduk di sampingnya.


Angga bergeming sesaat, tapi kemudian ia tersenyum manis ke arah Audrea. "Aku pengen ngobrol berdua aja sama kamu."

__ADS_1


Bulu kuduk Audrea berdiri, ia melihat Yuda dan Rafli secara bergantian.


"Kayanya enggak bisa deh, soalnya aku gak punya banyak waktu. Makanya aku mempersilakan Mas Angga duluan," sahut Audrea.


"Ya udah, aku cuma ingin ngajak kamu kencan akhir pekan nanti. Itu pun kalo kamu mau," ajak Angga kembali menampilkan senyum. Walau di hatinya terus saja melayangkan sumpah serapah kepada dua orang pria yang sedang memperhatikannya.


Melihat kebingungan Audrea, Rafli menatap datar ke arah Angga. Ia membalas, "Enggak bisa, dia sibuk."


"Saya tidak bertanya pada anda," timpal Angga cepat.


"Sepertinya melihat keterdiaman Audrea udah cukup sebagai jawaban, bahwa dia enggak bisa," sela Yuda membuka suara. "Benarkan, Dre?"


Sejenak gadis itu menghela napas sebelum mengangguk. "Maaf ya Mas, aku enggak bisa. Udah ada janji temu sama seseorang," tolaknya halus.


Wajah tampan Angga berubah menjadi sendu, memasang wajah memelas agar di kasihani. Ia mengangguk lemah sambil melempar senyum kecutnya.


"Berarti ada yang lebih penting ya, Dre?" tanya Angga pelan membuat kedua pria lainnya berdecih.


Dengan tak enak hati Audrea menjawab, "Bener Mas. Ada yang lebih penting dari Mas Angga."


Mendengar ucapan Audrea, Yuda dan Rafli menahan tawanya yang ingin sekali meledak. Berbanding balik oleh Angga, ia menunduk sembari menggigit kedua pipi dalamnya. Penolakan tersebut sangat jelas menjatuhkan harga dirinya.


"Pulang aja sana, udah ditolak masih aja stay. Enggak malu tah?" ucap Rafli meledek dengan nada kata di akhir khas logat suatu daerah.


Karena kepalang malu, ia mengangkat pandangannya. Ia tersenyum kikuk.


"Ah, kalo gitu aku pulang ya Dre. Kalian juga jangan kelamaan di rumah orang, kalo enggak punya tempat tinggal ke panti sosial aja," pamit Angga dan sekaligus meledek dua orang lainnya.


Mengabaikan umpatan kasar Rafli yang mengudara.


Suasana kembali hening, mereka menghembuskan napas secara bersama untuk memulai obrolan dengan serius. Audrea menatap mereka satu persatu, lalu matanya berhenti di Yuda.


"Bantu kami Yud," pinta Audrea.


"Aku siap membantu kamu Dre." Matanya tersirat rindu, sangat sakit rasanya menahan semua rasa sendirian, ia kadang berpikir dirinya semakin jauh oleh gadis pujaan.


Rafli pun ikut berbicara, "Ini tentang semuanya. Lo harus bantu atau enggak sama sekali."


"Kamu seperti meremehkan aku Fli? Coba bercermin, sejauh mana kamu membantu Audrea. Apa enggak bosan menyusahkan orang lain terus-menerus?" sindir Yuda sinis.


Audrea merasa keadaan tidak kondusif mulai ikut berujar, "Kalian kalo cuma pengen ribut aja, jangan di sini. Yang ada hanya bikin suasana makin berantakan."


Mereka akhirnya terdiam. Memilih mengalah jika Audrea sudah marah, apa lagi raut wajah cantiknya terlihat sangat tidak bersahabat. Audrea menegakkan badannya, menatap kembali kepada mereka.

__ADS_1


"Ayo akhiri semuanya."


__ADS_2