
Suara kicauan saling bersahutan, seolah sedang bertukar informasi. Sesekali mereka melihat sekitar, terlihat juga Sarah ada di antaranya. Ia sempat bertatap muka oleh Audrea yang baru datang, tapi langsung saja ia membuang pandangannya.
"Pemimpin perusahaan ini kenapa harus cape-cape ke ruangan tim kamu, Sar?" tanya wanita di sampingnya.
Sarah mengedikan bahu. "Entah, mungkin ada urusan dengan salah satu staf."
"Terus stafnya siapa?" tanyanya dan lain juga mengangguk karena memilih jadi penyimak.
"Hai, Dre! Bos kita jangan digodain ya, cukup masuk dan duduk yang manis tanpa ganggu," hina Sarah membuat orang sekitar melirik.
Audrea menghela napas lelah, ia memandang tak minat untuk membalas. Matanya mengedarkan pandangannya ke arah mejanya, di sana ada pria tampan berkisar tiga puluh tahunan.
Kakinya jalan perlahan. Ia membungkukkan badan, menatap ke bawah.
"Audrea Safira," gumamnya yang masih terdengar oleh sang empu.
Gadis itu menunduk hormat. "Mohon maaf, Pak. Apa saya membuat kesalahan?" tanyanya sopan.
"Tidak ada. Datanglah ke ruangan ku setelah jam pulang kantor," titahnya lalu bangkit. Ia menepuk pundak Audrea yang belum menjawabnya.
"Aku menunggumu," lanjutnya berbisik di telinga.
Jujur saja ia merinding, badannya meremang mendengar suara berat dan serak sang pria tepat di telinganya. Bahkan matanya masih membulat sempurna.
"Mba, dia siapa ya?" tanya Audrea pada Sarah sedikit menahan kesal karena ekspresi wajah itu menampilkan raut sinis.
"Jangan pura-pura bodoh Dre. Dia bos besar di perusahaan ini, kamu mau cari perhatian ya?" tuding Sarah tak jelas.
Bola mata Audrea berputar jengah, ia jadi melengos tanpa berbicara lagi. Memuakan sekali jika harus menghadapi Sarah yang terlihat tidak baik-baik saja dari sorot matanya.
Mata itu terpejam sejenak, merasakan hembusan angin menerpa wajah. Membawa suara suara sang khodam, ada pesan jikalau Audrea ingin menemui bosnya sang khodam akan keluar, dia mencium hal tak beres mengenai orang tadi.
***
Mengakuisisi perusahaan yang hampir saja gulung tikar sudah ia jalankan. Namun, punggung kokohnya bersandar pada kursi kebanggaannya di sana terkena perasaan gelisah, mengambil langkah seperti ini cukup memakan waktu. Gadis itu sulit berpaling barang sedikit pun.
Brama termangu sambil memandang puja foto seorang gadis. Betapa indahnya ciptaan Tuhan yang membuatnya tergila-gila untuk beberapa bulan terakhir, menyimpan semua rasa sendirian dan berakhir ingin mendapatkan gadis itu seutuhnya.
Informasi terkait Audrea secara detail mudah ia dapat sekali memerintah, hatinya berdebar kencang tatkala mata bulat kecil tersebut sempat bersitatap oleh netranya.
__ADS_1
"Kenapa aku sangat mencintainya?" tanyanya lirih.
Helaan napas berat terdengar. Jarinya mengetuk meja, sosok di belakangnya menyeringai melihat sang manusia tengah kebingungan dengan hatinya sendiri.
"Khodam-nya akan ikut ke ruangan ini, apa saya perlu mencegahnya?" tawar makhluk tersebut berbisik di telinga.
Ia tidak langsung menjawabnya, terlalu sibuk memikirkan Audrea kian otaknya tak stabil dalam bekerja. Brama Menatap lurus dan mengangguk.
"Kenapa kamu selalu menawarkan, tapi lama sekali melakukannya? Butuh imbalan, hah?" tebaknya membuat raut wajah sang makhluk pias.
Kemudian suara cekikikan menggelar memenuhi ruang. Ia berpindah cepat di depan Brama, sontak saja pria itu terlonjak kaget. Deretan gigi taring dan wajah menyeramkan tersirat senang mendengar tebakan Brama adalah benar.
Dia mengacungkan jari telunjuk. "Aku butuh seorang gadis cantik setiap malam Jum'at, tepat jam dua belas malam tidak lebih dan satu ayam cemani beserta sesajen dengan setetes darahmu di dalam kopi hitam. Jangan berikan aku gadis buruk, karena aku akan membangun pasukan dari seorang gadis yang bakalan mengandung anakku!" jelasnya panjang lebar.
Brama cukup terperangah ia menggeleng heran, memang sehebat apa kekuatan dan kekuasaan hingga ingin menciptakan pasukannya sendiri?
"Untuk sekarang aku enggak bisa. Karena butuh pertimbangan untuk menjalani semuanya, kamu pergilah. Aku akan coba dengan caraku sendiri dulu," tolak Brama halus.
Sosok itu berdiri tegak dan bersedekap dada sembari menatap tajam ke arah Brama. "Tau sendiri bukan kawanmu seperti apa? Jangan anggap remeh, ia adalah makhluk terkuat dari jaman Majapahit, Brama."
"Gak ada yang menganggap remeh. Cuma aku enggak mau salah mengambil langkah dan melibatkan makhluk gaib dalam hidupku, setan!" elak Brama tak kalah tajam.
Tiba-tiba dia menghilang, Brama memejamkan mata meredamkan percikan api di kepalanya. Berbicara dengan makhluk tersebut memakan banyak tenaga. Ia mengadahkan kepala, memijat keningnya pelan.
Ia tersenyum miring, terkekeh membayangkan wajah sombong sang khodam dan terlihat percaya diri sekali dengan perkataannya. Brama mengangkat alisnya seolah berpikir dapat dari mana kesombongan itu.
"Sombong banget, segala ingin membangun pasukan. Paling juga dia yang butuh bantuan dan bukan aku," cibir Brama membenarkan posisi duduknya.
Ia menanggalkan jasnya dan menggelung lengan kemejanya. Tampaklah urat tangan menghiasi, sangat kekar, meraih cerutu di dalam laci. Menyalakan benda tersebut lalu menghisapnya, barulah keluar asap mengepul kecil.
***
"Kok nih rumah beda ya?" gumam Rafli panik.
Sosok khodam pendamping Audrea muncul, membuatnya terjengkang ke belakang.
"Golek panggonan sing aman saiki!" katanya dan pergi begitu saja.
(Cari tempat aman sekarang!)
__ADS_1
Rafli masih mencerna semuanya, ia bangun dan bergegas ke kamar mengambil langkah cepat. Meraih handphone untuk menghubungi Audrea. Napasnya tak beraturan, telpon gagal tiga kali, ia berharap Audrea mengangkatnya.
"Assalamualaikum—"
"Walaikumsalam, Dre. Si Mbah tadi muncul kasih peringatan buat gue cari tempat aman, gimana nih? Gue enggak tau tempat amannya!" potong Rafli panik.
Di seberang sana Audrea refleks berdiri dan menyahut, "Lo jemput gue ke kantor sekarang! Kita enggak bisa kaya gini terus, atau lo tunggu gue di rumah. Jangan ke mana-mana, ngerti?"
"Please, cepetan Dre. Gue takut," mohon Rafli.
"Tenang ya, gue pulang sekarang, banyak istighfar sama baca ayat kursi atau surat pendek kek. Biar lo tenangan," ujar Audrea ikut khawatir.
Telpon pun mati secara sepihak dari Audrea, ia membereskan barang-barangnya. Persetan dengan pekerjaannya sekarang, yang terpenting adalah keadaan dirinya dan temannya sekarang. Kalau memang ia tidak bisa lanjut bekerja di kantor pun tak masalah baginya.
Sedangkan di posisi Audrea. Sarah memperhatikannya yang sedang mengemas barang bawaan. Alisnya bertaut heran, ingin bertanya rasanya sulit sekali, namun tidak lama ia mencium bau kembang melati segar.
Matanya berubah jadi merah sekental darah, pandangannya menjurus ke arah Audrea yang sudah keluar ruangan. Ia menutup mulutnya terkikik geli sendiri.
"Hihihi ... akan aku buat kamu tamat hari ini," gumamnya menyeringai lebar.
Kembali lagi di rumah, Rafli bersembunyi di dalam lemari. Ia dirundung ketakutan, ingatan tentang diculik dan dibawa ke dunia lain masih tercetak jelas di benaknya. Matanya mulai berkaca-kaca, satu persatu bulir air turun, ia gemetaran karena hawa semakin aneh di sekitar.
Matanya melirik jam di pergelangan tangan, butuh waktu dua puluh menit untuk Audrea sampai rumah. Tiba-tiba lemari tempat persembunyiannya bergoyang kencang, matanya melotot kaget.
Pikiran buruk mulai menghantuinya, kepalanya menggeleng ribut. Lemari tersebut pun berhenti dan terdengar suara langkah dari luar kamarnya, dirinya tetap pada tempat persembunyiannya, segala lafaz Allah ia sebut beserta bacaan surat-surat pendek.
Ayat kursi pun tak lupa, ia membacanya sembari menangis. Langkah demi langkah semakin jelas dan itu menandakan makhluk itu sudah berada di dalam kamar.
Tak ... tak ... tak ....
Langkah kaki terseok tersebut semakin mendekat, lalu tak lama berhenti tanpa suara. Matanya terbuka sedikit, ia tak mendengar lagi suara itu, kepalanya di dekatkan ke pintu lemari dengan daun telinga menempel di sana. Benar-benar hening, sejenak ia bernapas lega.
Tok ... tok ... tok ....
Wajahnya pucat pasi, keringat dingin mengucur deras di seluruh tubuh. Tatapan mata itu kosong, air mata terus saja mengalir tatkala suara ketukan sangat dekat. Kelegaan tadi lenyap begitu saja tanpa tersisa.
Pundaknya dicolek dari samping, Rafli perlahan menengok walaupun berat, saat itu juga matanya terbuka sempurna dengan suara menyangkut ingin teriak di tenggorokan bersama napasnya seakan berhenti mendadak.
"Assalamualaikum ... bacaanmu salah," kata sosok itu mengkoreksi.
__ADS_1