
Yuda menggerakkan badannya dengan susah payah, semuanya pergerakannya terasa terkunci. Lidahnya juga kelu seolah tidak diizinkan membantu mengeluarkan suara. Di dunia ini masih malam hari, jarak Audrea sudah sangat jauh hingga ia menyerah.
Di sisi lain, Audrea berhenti dan menengok ke arah sosok berwujud Yuda. Makhluk itu tersenyum kecil, mempererat genggaman tangan di tautan mereka.
Whus ....
Angin berhembus halus di telinga bersama ucapan, "Bali, slamet Yuda!"
(Kembali, selamatkan Yuda!)
Refleks kedua manik coklat madunya membulat dan melepaskan genggaman itu, ia berbalik dan beringsut mundur menatap tajam ke arah makhluk di depannya.
Melihat reaksi Audrea yang tiba-tiba membuatnya terbahak-bahak, setelah itu suara cekikikan menggelegar. Wujud asli sesungguhnya pun muncul, wanita berambut panjang berbadan besar menjulang tinggi menampakkan air muka garangnya, kuntilanak merah itu melotot sambil mempertahankan cekikikannya.
"Di mana Yuda!" sentak Audrea.
Jujur saja ia dirundung ketakutan, tapi kuncinya adalah harus mempertahankan keberaniannya sendiri. Semakin takut dirinya, makhluk itu akan semakin kuat.
Kuntilanak merah di depannya ini menyeringai. "Manusia jadi-jadian itu harus tinggal bersamaku!"
"Dasar sinting!" maki Audrea tidak terima lalu berusaha berlari melewati kuntilanak tersebut, namun kakinya di tarik begitu kencang menggunakan rambut panjangnya.
"Arghh ... sial! Lepasin aku! Kita enggak punya urusan!" bentak Audrea mencoba melepaskan jeratan di kakinya.
Srak ....
Brugh ....
Tubuhnya di hempaskan dengan kencang, ringisan keluar dari mulutnya. Ia memejamkan mata erat meredam rasa sakit di punggung dan juga kakinya, matanya mulai terbuka perlahan.
Matanya memandang heran ke sekeliling tempat itu, gelap. Kegelapan ini tak berlangsung lama, ia memincingkan netranya tatkala merasakan cahaya berpendar di ujung sana yang entah apa itu.
Dirinya merasa tertarik menjangkau cahaya terang tersebut. Semakin terkikisnya jarak, kilaunya membuatnya memejamkan mata sembari ia halangi dengan tangannya.
***
"Kak Audrea, bangun!" ucap seseorang menggoyangkan badannya.
Lenguhan panjang ia keluarkan, matanya menyipit guna memperjelas penglihatannya. Sosok gadis ceria dengan balutan baju santai tengah menatapnya cemberut sambil bertolak pinggang.
"Enggak mungkin?" Loli berdiri tepat di depan mata kepalanya. Ia kembali mengucek mata dan menggeleng demi mengoreksi lagi apa yang ia lihat, tapi nihil, semuanya sungguhan.
Loli menepuk pelan lengan Audrea lalu berkata, "Bangun! Sarapannya udah jadi, Kak Rafli juga udah nungguin Kakak!"
Audrea tidak menjawab, justru ia menabrak tubuh Loli sembari memeluknya erat.
"Aku kangen sama kamu, Lol!" jeritnya menangis sejadinya.
"Ih, kok nangis? Cup ... cup ... cup ... jangan nangis lagi, nanti suami Kakak nunggunya di meja makan kelamaan, loh!" celetuk Loli.
Pelukan tersebut melonggarkan, Audrea menghapus jejak air mata yang membasahi pipinya. Menatap bingung Loli yang menyebutnya mempunyai suami.
__ADS_1
"Mikirnya nanti aja, deh! Jangan buang waktu berkunjung aku jadi sia-sia, Kak Audrea mendingan ke kamar mandi sekarang!" pungkas Loli mendorong secara paksa tubuh Audrea ke dalam kamar mandi.
Belum sempat menolak, Audrea sudah di dalam kamar mandinya, mau tak mau ia menyelesaikannya dengan cepat.
Beberapa menit kemudian. Ia melangkah ke arah meja makan setelah berpakaian, memandang setiap sisi sudut rumah seperti rumah Rafli. Ia lupa kapan ia menikah, sampai lamunannya buyar mendengar canda tawa di ruang makan.
Loli dan Sarah nampak di sana seperti sedang mengunjunginya, Rafli duduk di kursi bagian kepala keluarga bersama anak kecil di pangkuannya. Mereka semua menoleh ke arah Audrea, tersenyum sangat hangat dan manis.
"Pagi sayang," sapa Rafli dan menyodorkan tangan ingin menyambut kehadiran Audrea.
Senyum merekah ia tampilkan dan menyahut, "Pagi juga sayang."
"Wah ... manisnya kedua orang ini, jadi iri deh!" keluh Loli mencebikan bibirnya.
"Makanya cari sana jodohnya, diem aja, kapan mau dapet jodoh?" sela Sarah sedikit tajam.
Loli membuang pandangannya ke arah Audrea, memasang mimik wajah sedih. Ia pun mengadu, "Kak! Mba Sarah nih, nyebelin banget tau gak!"
Mereka tertawa pelan melihat tingkah lucu Loli bak seperti anak kecil, Audrea sampai menggeleng kepala.
"Jangan ketawa, ih!" rengeknya kepada Audrea.
"Kalah sama ade, ya Pah?" celetuk suara anak kecil berkisar empat tahunan.
Rafli mengangguk seraya tersenyum, berbeda dengan Audrea. Ia terdiam sesaat mencerna semuanya, wajah anak di depan matanya seperti campuran dirinya dan Rafli.
"Kamu mau gendong Lala?" tawar Rafli membuat Audrea tersenyum kikuk dan menggeleng cepat.
"Makan aja yu langsung, soalnya aku pengen habisin waktu sama kamu," ucapnya menggoda.
Audrea mengangguk patuh, hatinya bergemuruh merasakan hangat menjalar ke mana-mana. Perhatian Rafli mampu menambah rasa sayangnya, pria itu sangat tampan dan sempurna di mata Audrea.
Setelahnya mereka menyantap hidangan di atas meja makan. Tapi Audrea tidak memakannya, ia hanya menyuapi makanan ke anak di pangkuan Rafli yang kini pindah di pahanya.
Sekilas matanya berpindah ke arah kolam renang yang terlihat jelas di ruang makan, di sana seperti ada seorang pria menatapnya amat sendu. Namun Audrea bergeming, tidak menggubrisnya.
Selang beberapa menit, kini mereka berada di ruang keluarga. Anak kecil bernama Lala tadi dibawa pergi bersama Loli dan Sarah, hanya meninggalkan Audrea dan Rafli di rumah.
"Kok aku lupa ya, kalo kita udah nikah?" tanya Audrea heran dan tak mengingat apapun.
Sebelum menjawab, Rafli tertawa geli. Ia mengelus rambut Audrea dan membalas, "Kamu lagi cape dari kemarin dan banyak pikiran. Akhir-akhir ini juga kamu harus terapi ke dokter agar ingatan kamu pulih."
Dahi Audrea berkerut samar. "Jadi aku Amnesia?"
"Hmm, waktu itu aku takut banget kamu kenapa-kenapa. Syukurnya, Tuhan menyelamatkan kamu," tutur Rafli merespon.
"Oh gitu, alhamdulilah ya."
Pria itu membuka matanya penuh, rahang tegasnya mengetat. Tapi tak ayal menjawab pertanyaan Audrea dengan canggung. Perbincangan mereka semakin dekat, Audrea juga merasa nyaman.
Kini hidup bersama dengan orang yang mencintai dirinya terwujud, ia berjanji akan menciptakan kenangan indah dan manis guna mengenang semuanya.
__ADS_1
Kepalanya menoleh ke arah kolam renang yang juga dekat ruang keluarga, sosok serupa berdiri memandang dan berteriak. Tapi suara itu tak terdengar sama sekali, kerutan di dahinya timbul secara samar.
Rafli menyadari perhatian Audrea bukan kepadanya pun mengikuti arah pandang gadis itu, ia membelalakkan matanya, meraih dagu sang gadis untuk melihat dirinya saja.
"Jangan liat arah lain. Cukup aku jadi objek perhatian kamu," ucapnya sambil tersenyum manis.
Audrea terkekeh geli. "Iya, ini lagi aku liatin."
"Kalo begitu, tetap singgah di sini, ya?" pinta Rafli seraya merapihkan anak rambut Audrea dan menyelipkan ke sela daun telinga. Audrea tiba-tiba berpikir rumit, tangan Rafli terus membelai wajahnya. "Jangan pikirin apapun, hanya aku yang boleh di pikiran kamu."
"Sini, tidur di paha aku," titah menepuk pahanya.
Audrea menjadi bingung. Badannya mengikuti apa perintah Rafli tanpa membantah, jadinya ia menaruh perlahan kepalanya. Menikmati usapan tangan hangat sang pria yang katanya berstatus suaminya.
Sayup-sayup terdengar suara kecil terbawa semilir angin dari arah kolam renang. Audrea menajamkan pendengarannya tatkala mata ikut terpejam, mencoba mencari sumber pasti dari mana berasal.
"Sadar, Dre. Mbah pengen kowe sadar! Aja tiba kanggo ngapusi kang!"
(Sadar, Dre. Mbah ingin diri kamu sadar! Jangan terlena tipu dayanya!)
Suara lirih itu memasuki rungunya, kemudian ia ingat sesuatu dan bangkit. Ia beringsut mundur menghindari tatapan bingung makhluk berwujud Rafli tersebut.
Dada sesak sekaligus oksigen di sekitarnya seolah tak berguna, sedangkan Rafli berjalan mendekat sambil memasang wajah khawatir. Tapi secepatnya Audrea kembali menghindar, semua ingatannya kembali, orang yang ada di kolam renang adalah Yuda.
"****Astaghfirullahaladzim ... astaghfirullahaladzim**** ...," sebut Audrea mempertahankan kesadarannya.
"Astaghfirullahaladzim ... astaghfirullahaladzim ...," kata sosok di depannya mengikuti.
Makhluk itu berubah menjadi menyeramkan, badannya perlahan membesar, taring runcing yang memanjang serta badan berbulu dan mata merah menyala tengah menatap dirinya rendah penuh sinis.
"Pengantin ku, kita sudah menikah!" ujarnya tertawa jahat.
Audrea tidak mengindahkan kalimat barusan, ia terus saja melantunkan ayat kursi guna melindungi diri. Tubuh limbung dan nyaris ditangkap sosok itu, kakinya terus menghindar saat makhluk tersebut mengejarnya.
Derai air mata berjatuhan. Merutuki kebodohannya akan keadaan yang telat ia sadari.
"Allahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum. Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardli man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa biidznih, ya’lamu maa baina aidiihim wamaa kholfahum wa laa yuhiithuuna bisyai’im min ‘ilmihii illaa bimaa syaa’ wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardlo walaa ya’uuduhuu hifdhuhumaa wahuwal ‘aliyyul ‘adhiim."
Tujuh kali ia membaca sembari berlari, syukurnya Audrea bisa keluar dari ilusi setan itu. Namun tak hanya di situ, di depan ada kuntilanak merah berdiri menghalangi jalannya, tangan sebelah kirinya mengangkat Yuda sambil mencekik leher.
Yuda berkali-kali meronta, walau tenaganya masih kalah dibandingkan setan di sampingnya. Audrea pun berhenti. Napasnya tersengal dan sangat berat, belakangnya sosok tadi ikutan berhenti, gadis itu melempar tatapan tajam menghunus sang kuntilanak.
Makhluk tersebut terkikik geli, ilusi yang dibuat mampu menampilkan wajah bodoh Audrea. Dia merasa kalau Audrea memang di bodohi, tanpa ia tahu, lawannya masih memanjatkan sebuah doa dan ayat kursi.
"Ya Allah ... yang maha pengasih lagi maha penyayang, dengan-Mu aku berserah, dengan-Mu aku memohon serta meminta ... lindungilah hamba dari makhluk terkutuk, amin ...."
Hembusan angin kencang melempar sosok di belakangnya, begitu juga oleh kuntilanak yang menjerat leher Yuda. Mereka terpelanting jauh tak terkira, sampai Yuda dan Audrea memiliki kesempatan untuk kabur bersama.
"Jangan lepasin tangan ini!" seru Yuda lalu menggendong Audrea.
Yuda menggunakan kekuatan terakhirnya, membawa sang pujaan hati ke tempat aman. Menjauhi makhluk laknat yang tadi menyerang mereka berdua.
__ADS_1
'Kita harus selamat!' batin Yuda optimis.