Perkara Gaib

Perkara Gaib
Akhir Sarah & Pulang Ke Kampung Halaman


__ADS_3

Seorang gadis menangis tersedu-sedu, kesuciannya hilang direnggut tanpa sadar.


Badannya menunjukkan memar di setiap sisi kulitnya, bagian intimnya juga sangat sakit luar biasa. Ia kembali menangis dan terisak, Sarah secara tak sengaja menatap sosok dirinya di cermin rias di sampingnya.


Aneh, tubuh sintalnya jadi tambah ringkih bak tulang hidup. Wajahnya juga pucat seperti terkena penyakit keras, matanya terbuka sempurna di saat memeriksa lagi keadaan tubuhnya.


"Ak—aku kenapa?" Ketakutannya semakin menjadi ditambah asap hitam muncul di depannya.


Sosok tinggi besar berbulu, wajah menyeramkan disertai taring tajam di mulutnya. Mata merah menyala memandang dirinya rendah. Badan Sarah bergetar hebat karena takut, ia menggeleng tatkala makhluk itu berjalan mendekati.


Sarah beringsut mundur. "Ampun, jangan sakiti saya!" mohonnya.


"Hahaha ... kamu menikmatinya tadi manusia! Ingin lagi?" goda sang makhluk itu. Ia berjalan dan mulai merangkak di atas kasur yang di tempati Sarah.


Sedangkan Sarah makin mundur hingga mentok sandaran kasur. Perlahan sosok tadi berubah menjadi kekasih Sarah, pria berwajah tampan dan tubuh atletis menggoda.


Apa lagi ada pahatan indah di bagian perutnya, membuat Sarah mudah terlena. Ia memajukan diri dan memeluk erat tubuh itu, bersamaan dengan mereka menyatu kembali.


Sarah menikmati itu sampai ajal menjemput, tubuhnya tinggal tulang dan kulit. Matanya seperti ingin keluar, makhluk tersebut pun berhenti sembari berdecak kesal. Membuang ke samping mayat Sarah.


"Manusia tetap akan kalah jika berhadapan oleh nafsu. Naif, tapi aku suka!" Ia tertawa kencang merutuki kebodohan Sarah, perlahan sosoknya hilang dan meninggalkan kamar bersama mayat Sarah tergeletak tak bernyawa.


***


"Ini udah malem, kamu nginep di sini aja Yud," saran Audrea. Jam menunjukkan pukul sebelas malam lewat lima belas menit, di sebelahnya, Rafli mendengar saran Audrea mendelik tak setuju.


"Eh, enak aja. Pulang aja lo sana! Gue enggak mau bagi tempat tidur," usir Rafli dan Yuda hanya mengedikan bahu acuh.


"Besok kita mulai jalanin misi. Jadi lebih baik semuanya kumpul di satu tempat, lagian lo sama-sama cowo bagi tempat tidur bisa kali!" protes Audrea. "Kalo lo enggak mau gue suruh Yuda sekamar sama gue, nih!"


Mata Yuda berbinar, berbeda olehnya, Rafli membuka lebar netranya itu.


"Enak aja, ya udah lo sekamar sama gue!" pungkas Rafli mengalah.


Audrea jelas saja tersenyum penuh kemenangan. Ia menepuk pundak Rafli dan meninggalkan kedua makhluk itu di ruang tamu. Mata Rafli beralih ke Yuda yang juga menatapnya.


"Tidur sekarang?" tanya Yuda.


"Hmm." Balasan singkat barusan ia anggap angin lalu. Rafli tergolong pria pencemburu, raut wajahnya menampilkan tidak kenyamanannya, tapi Yuda bergeming.

__ADS_1


Keduanya mulai memasuki kamar dan bersiap untuk tidur, Rafli mulai duluan merebahkan tubuhnya. Sedangkan Yuda terdiam sebentar, lalu melirik ke arah lemari. Dari sana ia mencium bau anyir dan juga bau kembang melati muda.


Kepalanya menoleh ke Rafli yang sedang menyamankan posisi tidur. Ia mencolek pemuda itu. Menunjuk ke arah lemari, tiba-tiba badan Rafli jadi merinding.


"Kemarin gue jadiin tempat ngumpet," sahutnya tahu apa yang ada dipikiran Yuda.


Kening Yuda berkerut, matanya menangkap ada tetesan darah jatuh di selanya. "Kekuatan jahat tertinggal di sini," ungkapnya.


"Maksud lo?" tanya Rafli.


"Darahnya menetes Fli. Kamu tau hal ini juga?" tanya Yuda balik.


Sontak saja pria yang jadi lawan bicara menengok ke arah lemari, di sana darah menetes tanpa sebab. Rafli beringsut mundur, ketakutan akan teror menghampiri benaknya.


"Yud, berarti tuh makhluk ngincer gue dong?"


"Bisa dibilang iya. Karena kamu diincar akibat enggak bisa melindungi diri sendiri, jadi target aslinya ia kesampingkan demi mengecoh," jelas Yuda sesuai analisisnya sendiri.


Rafli meneguk air liurnya susah payah dan berkata, "Ya udah kita tidur aja. Gue enggak mau kepikiran hal ini dulu, keselamatan Audrea juga penting, karena dia target asli dari semua teror yang gue alami."


Ada sedikit rasa kasihan mendengar penuturan Rafli, namun ia menepis itu. Balasan anggukan tanpa kata ia beri, dirinya juga sedang lelah malam ini. Kekuatan Audrea yang tersembunyi menimbulkan banyak sosok terpancing dan mengincarnya.


***


Keesokkan harinya, mereka menyiapkan perlengkapan untuk berangkat menuju kota Yogyakarta, kampung halaman Audrea. Di sana ada desa terpencil tempat kelahiran dan kenangan manis bersama sang ibu.


Mereka berangkat menggunakan mobil Rafli, pria itu tadi pulang sebentar ditemani oleh Yuda. Audrea tersenyum simpul saat melihat keduanya akur walau tak lama.


Audrea memeriksa kembali barang bawaannya. Sang khodam muncul di sebelahnya lalu berbisik, "Ing dalan bakal ana alangan, yen wis mlebu ing wilayah alas, aja mandheg. Bakal akeh gangguan."


(Perjalanan nanti akan ada halangan, jika sudah memasuki wilayah hutan, jangan sampai berhenti. Banyak pengganggu).


“Inggih Mbah," sahut Audrea pelan sembari menunduk patuh.


Ketukan tongkat terdengar, sang wanita tua itu menghilang. Tapi Yuda langsung menoleh cepat ke arahnya, ia tak mendengar percakapan singkat gadis tersebut. Rafli malah tidak ingin tahu, karena nantinya Audrea akan berbicara sendiri padanya.


Setelah dirasa semua siap, mereka bergegas pergi. Sebelum Audrea melangkah keluar pagar, ia pun memejamkan mata. Membaca sesuatu yang entah apa itu, tapi juga tidak diketahui sang khodam.


Sesudahnya Audrea menepuk pundak supir yang Rafli bawa demi mengurangi kelelahan saat menyetir. Ia pun berpesan, "Di mana pun ada hutan, mau itu keadaan kepepet atau mengalami hal ganjil. Jangan sekali berhenti di sana, ngerti Pak?"

__ADS_1


"Ngerti Mba," balas si supir bernama Anto.


"Emang kenapa Dre?" tanya Rafli.


Yuda menyela, "Gangguannya banyak. Kalo mau selamat ikutin omongan Audrea, kita enggak tau ada pamali atau larangan lain di wilayah sana."


"Bener kata Yuda. Ayo kita berangkat, jangan lupa baca doa," timpal Audrea membenarkan dan kikuk melihat Yuda. "Kayanya kamu enggak punya Tuhan, jadi diem juga enggak apa-apa."


Yuda tidak mengambil hati, ia mengangguk saja. Memang benar, entah Tuhan seperti apa yang ia sembah dulu, sampai ia lupa jika ia ada karena takdir Tuhan.


***


Perjalanan memakan waktu sekitar sebelas jam. Sesuai pesan Audrea sang supir mengikuti arahan, walau tadi sempat Rafli mendadak ingin buang air kecil yang berakhir membuangnya di dalam botol, membuat ia habis-habisan jadi bahan gurauan Yuda.


Di tambah saat mobil mereka seperti menabrak sesuatu. Jelas Audrea dengan lantang memperingati kembali, pada akhirnya mobil terus melaju hingga keluar dari hutan.


Untungnya segala rintangan bisa mereka lewati, kini mobil tersebut sampai di desa bernama Banyu Hilir, yang memiliki 'air pinggir sungai'. Desa ini sangat sepi, entah karena sudah malam atau biasa begitu, mereka selain Audrea, menganggap wajar.


Tapi otak cantik Audrea bertolak belakang, memang sudah lama sekali tidak berkunjung, tapi suasana di desa menurutnya semakin sepi. Hanya obor yang menyala di depan rumah masing-masing.


Mereka turun dari mobil. Melihat rumah yang berbeda dari rumah lain, Audrea melangkah terlebih dahulu. Sedangkan lainnya menurunkan barang bawaannya.


"Kamu pulang, Nak!"


Bulu kuduknya berdiri, matanya mengedarkan pandangan ke penjuru sisi. Suara familiar milik seseorang menyapanya, ada terselip rintihan di nada tadi.


"Enggak, ibu udah enggak ada," gumam Audrea meyakinkan diri seraya menggeleng. Ia berjinjit mengambil kunci rumah di sela ventilasi udara.


Whus ....


Udara panas menerpa seluruh kulitnya, matanya juga terbelalak menangkap sosok wanita memakai baju putih lusuh dengan rambut panjang menjuntai sampai menyapu lantai, sosok itu mengambang di arah jalan menuju kamar.


"Anakku wis mulih!" Kepalanya di goyangkan ke kiri dan kanan, ia tersenyum lebar menghadap Audrea yang membeku. Badan seketika terasa kaku dan wajah di depannya semakin mendekat dengan lehernya memanjang ke arah Audrea.


"Anake Ibu! Ayune, hihihi!"


Brugh ....


Kesadarannya pun menghilang bersama keringat dingin membasahi baju.

__ADS_1


__ADS_2