
Audrea bangkit dari bersimpuhnya, menatap lamat wajah Bayu yang sangat tenang. Sekali lagi ia menepis seluruh keanehan, jikalau Bayu benar terlibat. Kaki melangkah dengan cepat menuju keluar rumah, tapi tak disangka satu sosok pria berbadan gagah berdiri di bawah guyuran hujan.
Mengembalikan ingatannya bertemu Yuda. Dia berdiri di tempat yang sama, memandang sendu ke arah Audrea, Audrea sendiri merasakan tatapan itu. Sangat menyayat hati.
Ia kembali mengambil langkah. "Ada urusan apa kamu ke sini?" tanyanya terdengar tegas.
Air mata keduanya menyatu oleh buliran hujan yang berjatuhan membasahi bumi. Tangan Yuda stagnan di udara, baru saja ia ingin membelai pipi Audrea, namun gadis itu melangkah mundur.
"Kamu enggak bisa ikut campur lagi, kamu hanya perlu menunggu Rafli datang," ucap Yuda tiba-tiba.
"Dari mana kamu tau? Apa kamu pelakunya?" tuduh Audrea menunjuk Yuda.
Kepala pria menggeleng cepat, ia kemudian merogoh kantung celananya. Menunjukkan handphone mahal anti air dan sebuah pesan dari ibunya Rafli, Dara. Audrea lantas mengernyitkan keningnya heran, dari mana Yuda mendapatkan nomor orang tua Rafli?
"Tenang aja, Dre. Aku apa yang ada di pikiran kamu, aku dan Dara berteman sejak lama, Dara bilang harimau itu tengah mencari keberadaan Rafli. Tenangkan 'lah pikiran kamu, itu juga handphone kamu mati dan membuat Dara ikutan khawatir karena susah dihubungin," jelas Yuda.
Audrea tidak membalas, ia membalikkan badan dan terduduk di teras bersama hujan kian deras.
"Lebih baik kamu masuk! Kamu bisa sakit nanti, aku ke sini hanya ingin menyampaikan pesan Dara. Selebihnya aku enggak bisa bercerita banyak bagaimana bisa kita terikat benang merah. Jadi jangan terlalu ingin tau," cetus Yuda lalu berbalik melenggang pergi dan di luar pagar pria itu melesat secepat kilat.
Seketika Audrea merasa perutnya terasa digelitik. Ia bergumam, "Gimana gue mau jujur dan cerita semuanya, lo aja masih punya banyak hal yang disembunyikan dari gue. Sekarang orang bodoh di siapa?"
Deg ....
Jantung Audrea berdetak tak nyaman lagi, ia mencari pegangan guna bangun dari duduknya. Pikirannya berkelana bagaimana keadaan Rafli, sesak napas menghampiri dan Audrea pandangannya juga mulai kabur atau memburam.
"Lo harus sel—selamat, Fli," monolognya.
__ADS_1
Tubuhnya kini limbung ke kiri dan kanan, keseimbangannya juga perlahan menghilang sampai ia terjatuh dan tergeletak tak berdaya di atas ubin yang dingin, bersamanya cipratan air hujan mengenai dirinya.
Kesadarannya terkikis, kemudian matanya pun tertutup rapat. Audrea pingsan dengan kondisi kedinginan, sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya ia sayup-sayup mendengar suara Rafli di arah jarum jam angka sembilan dan suara Bayu di arah sebaliknya.
Hingga seutuhnya ia terpejam dan tak sadarkan diri. Langkah seseorang dari dalam rumah menghampiri Audrea, ia menatap iba dan penuh cinta. Membelai lembut surai hitam legam yang lepek akibat terkena hujan, pasalnya gadis tergeletak di depannya ini terlihat rapuh.
Disaat kesadaran menghilang merenggut dirinya, masih sempat pula Audrea mengingat Rafli. Membuat Bayu mempunyai ambisi gila guna menghancurkan Rafli atau kalau bisa ia lenyapkan sekalian.
Tanpa sadar ia menumbuhkan tekat yang jika ketahuan Audrea, dirinya akan dicampakkan begitu saja. Sungguh ide berlian melintas dan hinggap di pikirannya tanpa diminta.
Sekarang jemari Bayu mengelus pipi Audrea, wajahnya berubah pucat. Bibir merah merekah yang biasa menampilkan senyum manis untuknya terkatup rapat. Bayu menghela napasnya pelan, lalu mengangkat Audrea dan menaruhnya di kamar gadis itu sendiri.
"Kenapa penghalang banyak sekali? Aku 'kan cuma mau miliki kamu, apa itu salah?" Ia memandang rumit Audrea yang terpejam erat, sekaligus geram tertahan. "Enggak seharusnya pikiran kamu tertuju padanya, hanya boleh aku di pikiran dan hati kamu!"
Bayu berdecak, "Bisa-bisanya kamu buat aku menyematkan sosok kamu di hati dan pikiran ini. Dasar manusia jahat!"
"Mangan iki, ndedonga kanggo mulih!" pekik sang harimau melempar daun kelor melalui mulutnya ke arah Rafli yang entah dapat dari mana. Setelah itu melanjutkan pertarungan barusan.
(Makan ini, berdoa agar bisa pulang!)
Tapi tak ayal ia juga menerima cepat, dirinya menarik Brama sekuat tenaga. Menggoyangkan tubuh Brama begitu kencang sampai sang empu tersadar, pria congkak itu terlihat linglung.
"Ini cepetan makan jangan banyak nanya, kunyah terus berdoa biar kita bisa pulang. Sekarang!" titah Rafli tanpa aba-aba menyuapi ke mulut Brama yang Baru ingin melontarkan pertanyaan.
Keduanya mendelik kompak merasakan sensasi sepa ini, kemudian tak lupa mereka memanjatkan doa guna kembali ke dunia mereka sebenarnya. Syukurnya, portal waktu muncul tepat di depan keduanya.
Brama langsung berinisiatif memapah Rafli, Rafli sendiri sebelum masuk ke sana menoleh ke arah belakang. Sang khodam milik ibunya tengah mengulur waktu untuk kepergian mereka, Rafli memandang sendu. Lalu barulah ia beranjak pergi dan benar-benar kembali ke alam manusia.
__ADS_1
'Gue yakin ini ada campur tangan pria kampung itu!' pikir Rafli menerka.
***
Audrea bangun dari pingsannya, kepalanya terasa berat dan pening secara bersamaan. Matanya melirik ke arah bajunya yang sudah terganti, helaan napas terdengar berat. Hatinya kembali risau dan khawatir, Rafli.
"Aish ... kepala gue sakit banget," keluh Audrea memijat pangkal hidungnya.
"Loh, Dre! Kamu jangan duduk dulu kalo masih pusing banget!" panik Bayu mendekati.
Audrea sendiri melihat keadaan Bayu, pria di depannya ini tampak terlihat segar dibandingkan tadi sore.
"Mas sendiri aja masih sakit," ucapnya pelan menepis pelan tangan Bayu.
Bayu pun tersenyum kecil. "Syukurnya aku udah sembuh dan bisa rawat kamu yang abis hujan-hujanan," sahutnya membuat Audrea tak enak hati.
"Maaf udah ngerepotin, Mas Bayu," cicit Audrea mengungkapkan.
"Enggak apa-apa ... sekarang istirahat ya, biar lekas sembuh?"
Audrea menurut dan tidak ingin menanyakan tentang siapa yang menggantikan baju. Sungguh ia kepalang malu, Bayu juga tidak mengeluarkan kalimat lain selain menyuruhnya istirahat kembali sampai ia melupakan Rafli dalam benaknya.
Kemudian ia terlelap karena usapan lembut di kepalanya, Bayu sesekali bersenandung merdu mendayu indah dan mampu memancing rasa kantuk yang sempat pergi. Tidak lupa ia meniup mata Audrea, melanjutkan lagi sentuhan memabukkan untuk gadis pujaannya.
"Kamu hanya perlu bertemu pagi, maka semua berjalan lancar tanpa mengingat kejadian hari ini. Tidurlah sayang, pejamkan manik indah bak permata guna menghindari ingatan kenyataan, ingatlah juga ... bahwa aku, tersemat sepesial di hati dan pikiranmu," bisik Bayu tepat di telinga Audrea.
Senyum terbit di bibirnya, tak lama terganti dengan seringaian. Kali ini dirinya mungkin gagal, tapi tidak dengan lain waktu.
__ADS_1