Perkara Gaib

Perkara Gaib
Teka-teki Desa Banyu Hilir


__ADS_3

"Dhemit sialan!" desis khodam Audrea.


Kuntilanak itu semakin terkikik melengking, ia sesekali mengelus rambut hitam Audrea.


"Iki anakku, Mbah."


"Aja gawe-gawe iki, panggonanmu ora ana ing kene!" sentaknya hendak mengetuk tongkat ke tanah.


Melihat itu, sang kuntilanak meludah di depan sang wanita tua. Ia menyeringai lalu melesat secepat kilat, hingga di depan dia, ia membuat khodam tersebut terpelanting ke belakang.


Ringisan kecil terdengar. Tapi sang khodam menyerang balik, sampai kuntilanak itu tercekik.


"Tindakake wae! Sampeyan isih ora bisa ngalahake aku!" ujarnya menekan cengkeramannya.


(Buat ulah aja! Kamu belum bisa mengalahkan aku!)


Tangan khodam itu ditepuk keras. Mata hitam legam di depannya mendelik saat tahu wujud di tangannya sendiri, refleks ia melepaskan dan melirik ke depan sana. Kuntilanak tadi tertawa kencang, ia terkikik sambil menunjuk.


“Mbah, aja nesu, aku mung guyon! ledeknya.


"Mbah, kita pergi aja. Aku udah gak kuat," sanggah Audrea sekaligus mencegah.


Mata itu berkilat tajam memandang lawannya. Sebelum ia pergi, kuntilanak itu dibuat kesakitan ketika tongkat diketuk keras beberapa kali. Muncul akar berduri melilit tubuhnya, tapi takhayal ketawanya masih bisa menggelegar.


“Ojo lali karo Mbok Nduk, hihihi....”


Mereka berdua pergi meninggalkan alam bawah sadar. Namun tidak bagi Audrea, usapan lembut tadi terngiang-ngiang di kepala. Sampai ia sadar, dirinya masih di dalam mobil.


Matahari juga menampakkan diri ke langit luas, ia menelisik ke dalam mobil, sejenak helaan napas lega keluar. Semuanya tertidur dengan aman di dalam mobil.


Tangan kirinya terangkat memeriksa waktu, menunjukan pukul tujuh pagi. Di samping Rafli tertidur pulas, ia ingin mengedarkan pandangannya ke arah luar mobil. Alangkah terkejutnya Audrea melihat orang di depan kaca, ia mengelus dada.


"Astagfirullah, ngapain nih orang?" gumam Audrea sekaligus kesal.


Perlahan ia membuka pintu membuat orang tadi beringsut mundur, Audrea tersenyum kikuk. Ia menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal sembari memberi hormat selayak menghormati orang yang lebih tua darinya.


"Ngapunten Pak, kula Audrea. Aku mung teka wingi, nyuwun pangapunten, panjenengan sinten Pak?" tanya Audrea sopan.

__ADS_1


(Permisi Pak, Saya Audrea. Saya baru saja tiba tadi malam, mohon maaf, Bapak siapa?)


Mata pria paruh baya itu memincing tajam lalu tersenyum hangat setelah memastikan sesuatu. "Oh, putune Mbah. Aku kira sapa."


"Mbah siapa?"


"Ojo suwe-suwe neng kene, bahaya," ucapnya mengalihkan pertanyaan Audrea. Sedangkan Audrea mengernyitkan dahi sampai berkerut samar.


"Maksude piye— eh, kok pergi sih? Enggak sopan banget," dengus Audrea kesal melihat kepergian pria paruh baya itu tanpa bisa mencegah karena terlalu ingin tahu banyak hal.


Belum selesai meredakan kekesalannya, pundaknya di tepuk dari belakang, refleks ia menoleh dan tersenyum lebar menatap seseorang yang ia kenal tentunya.


Mereka berdua spontan berpelukan, melepaskan rindu. Sudah beberapa tahun Audrea tidak pulang, wajah pria ini masih sangat manis. Seperti sosok kakak, orang itu menorehkan kasih sayangnya kepada Audrea.


"Aku kaget, aku kira sapa. Aku ora ngerti yen sampeyan sing mulih," seru pemuda itu.


(Aku kaget, aku kira siapa. Aku enggak tau kamu pulang ternyata).


Audrea mengusap lengan lawan bicaranya. "Ya, aku mulih. Ana urusan ing kene, Mas."


(Iya, aku pulang. Ada urusan di sini Mas).


(Semoga aja kamu enggak lama di sini).


Alis Audrea menukik dan bertanya, "Kok ngono ta, Mas? Apa ana kedadeyan sawise aku lunga saka kene?"


(Kok gitu Mas? Ada sesuatu yang terjadi setelah aku pergi dari sini?)


Kepala Bayu celingukan memeriksa sekitar, ia meneguk ludahnya susah payah. Karena merasa sulit untuk berucap, Bayu menggelengkan kepala. Tapi tak luput memberikan kode kepada Audrea yang sejak tadi memperhatikan.


"Simpen dhisik critane Mas Bayu, ngenteni wektu sing pas," sahut Audrea berupaya memberikan ketenangan karena terdapat raut gelisah di wajah Bayu.


(Simpan dulu cerita Mas Bayu, tunggu waktu yang tepat).


"Matur nuwun Dre, wis ngerti." Audrea hanya tersenyum tipis dan mengangguk, lalu matanya beralih pada pintu mobilnya yang terbuka, wajah manis Bayu berubah sedikit masam.


Rafli merenggangkan badannya, nyawanya belum terkumpul penuh sembari mengucek matanya perlahan. Di pintu lain Yuda memandang Audrea bersama Bayu, tatapannya sangat mengintimidasi seolah Audrea memiliki kesalahan.

__ADS_1


Banyak penduduk desa memperhatikan mereka sejak tadi, apa lagi para gadis desa yang jarang sekali melihat pria kota atau mungkin belum pernah. Jadi membuat mereka penasaran, ditambah Audrea tidak setengah-setengah memboyong para pria tampan kecuali pria paruh baya yang berada di dalam mobil.


Tangan mungil Audrea menggandeng tangan besar nan kasar milik Bayu, ia melakukannya demi saling mengenal. Dengan kesal Rafli memutuskan tautan tangan tersebut lalu matanya nyalang ke arah Bayu.


"Jangan gitu dong, Mas Bayu ini udah kaya kakak gue sendiri. Gandengan udah biasa dari kami kecil," protes Audrea kepada Rafli.


Pria itu memutar bola matanya malas. "Tetap aja gue gak suka, mending lo gandeng tangan gue, nih nganggur!"


"Enggak ah, tangan lo panuan!" tolak Audrea mentah-mentah sambil menggeplak pelan punggung tangan Rafli.


Bayu mengulum senyum dan menyanggah, "Tangan aku mau?"


"Hmm! Maulah!" Melihat reaksi Audrea, Yuda dan Rafli berdecih bersamaan.


"Maaf Neng? Apa kita sebaiknya merapihkan rumah untuk ditinggali, karena jujur saya rada takut tidur di mobil," sela Anto tak hati.


"Maaf ya Pak, saya malah keasikan ngobrol. Ya udah kalo gitu nanti lagi ya Mas kita lanjut," putus Audrea tersenyum tipis. Bayu mengangguk dan pamit kepada mereka semua, sembari melerai warga yang terlalu ingin tahu kepulangan Audrea di dekat pekarangan depan rumah Audrea.


Kepalanya menghadap Rafli, Yuda, dan Anto. Mengajak mereka membersihkan rumah tersebut, di dalam ada satu ruang tamu, ruang keluarga yang terhubung ke ruang tamu, dan juga dua kamar tidur beserta di belakang ada dapur, tapi letak kamar mandi tepat di belakang rumah dekat sumur.


Mereka membersihkan tanpa terlewat sedikit pun, Audrea membersihkan debu di kamar sang ibu. Untungnya semua barang di halangi plastik besar, jadi hanya melepaskan sisanya, walau masih banyak yang kotor.


Matanya menatap teduh pada figura di dinding kamar. Ada sosok ayah dan ibu beserta anak kecil di dalamnya, ayahnya meninggalkan Audrea bersama sang ibu ketika berumur lima tahun.


Karena sakit keras dan tidak mempunyai biaya berobat menuju kota, terpaksa beliau di rawat dengan banyaknya kekurangan di rumah, sampai ia kehilangan sosok ayahnya.


Mirisnya warga di desa tidak peduli, hanya kepada ibu Audrea mereka bersimpati. Sejenak ia membuang pandangannya ke arah lemari, persis seperti lemari di kamarnya dan di Jakarta.


"Kok gue baru sadar ya? Semua lemari gue punya ukiran sama," gumamnya berjalan.


Jemarinya mengusap debu di gagang pintu lemari, ia berusaha membukanya.


Brak ....


"Arghh!" pekik Audrea tertahan.


Whus ....

__ADS_1


Ia mengambil napas seraya terpejam, senyum lebar tertoreh di wajahnya.


"Hihihihi ... Audrea!"


__ADS_2