
"Gue gak keliatan di mata lo, Dre?" celetuk Rafli.
Audrea berhenti dan menengok ke belakang, seakan sadar atas kesalahannya, ia menghampiri pemuda bermuka masam itu. "Maaf, gue enggak ngeh ... Fli, jangan marah ya?"
Rafli menghela napas pelan dan mengangguk tanpa menjawab, ia langsung menggandeng tangan mungil Audrea, menautkan jemarinya serta menarik lembut melewati Bayu yang menatap mereka datar.
"Ayo Mas, katanya Mas laper," ajak Audrea membuat Bayu mengubah drastis raut wajahnya.
"Iya Dre," balas Bayu singkat.
Bayu mengekori mereka berdua. Ia bungkam seribu bahasa saat Audrea mengabaikannya, padahal dirinya ikut ke Jakarta supaya bisa dekat kembali bersama Audrea seperti dulu, apa lagi rasa sesak tatkala bersentuhan atau dekat Rafli tubuhnya terasa panas.
Memandang kosong ke arah Audrea dan Rafli yang kini membuat sarapan untuk mereka berdua, Bayu semakin dibuat jengah. Dulu ia mendekati Audrea tanpa pengganggu, bahkan saat dulu, Audrea benar-benar tidak pernah bisa berjauhan darinya.
Bayu berdecak, "Sok mesra!"
Decakan itu tak terdengar sampai telinga mereka, mereka tengah asyik bersama masakannya. Rafli sesekali menggoda Audrea, hingga kedua pipi gadis cantik itu bersemu merah. Tangan Bayu mengepal kuat, suasana berubah menjadi mencekam.
Rafli dan Audrea pun merasakan aura kegelapan begitu besar. Seketika mereka menoleh ke arah Bayu, energi tersebut berasal darinya, Rafli langsung memasang badan di depan Audrea sebagai tameng sembari menatap tajam Bayu.
Semua mata tertuju padanya, dengan cepat dia memasang senyum.
"Kalian kenapa? Kok liat aku kaya gitu?" tanyanya seolah tidak tahu apa-apa.
"Energi itu berasal dari lo, ngaku aja deh!" bentak Rafli.
Punggung Rafli diusap lembut oleh Audrea bermaksud untuk bersabar tanpa adanya emosi. "Mas, itu dari Mas?" tanya Audrea pelan.
"Maksud kalian ini apa? Energi? Itu? Aku enggak tau apa yang kalian maksud," keluh Bayu beralibi.
"Apa jangan-jangan yang tadi itu cuma energi lewat aja kali, Fli?" bisik Audrea bertanya.
Netra pemuda di depannya masih menatap nyalang Bayu, ia juga takut salah sangka. Tapi hatinya mengatakan kalau Bayu berbahaya, mungkin bisa jadi yang dimaksud khodam sang ibu adalah Bayu, hanya pria kampung ini di sini seorang.
Rafli akhirnya mengedikan bahu, namun takhayal membuatnya untuk tak dapat lengah kembali. Rafli bersuara, "Lo yang lanjutin sendiri, gue pengen nunggu di samping Mas Bayu."
"Hmm, kita harus bijak dalam melihat lawan. Takutnya salah sasaran jadi tambah masalah," ujar Audrea menasehati.
Mata pria itu berputar malas, tak lama ia mengangguk mengiyakan. Dirinya berjalan empat langkah dan duduk di samping Bayu seperti ia ucapkan tadi, sedangkan Bayu memilih tidak mempedulikan.
__ADS_1
Matanya justru mengunci Audrea dalam pandangannya. Rafli melihat tatapan ketertarikan di sana, ia berdecih pelan. Mengikuti arah mata Bayu, memang Audrea begitu cantik dan memikat, ingin juga rasanya meminang serta membangun pesta pernikahan megah untuknya. Menjadikannya seorang ratu di kehidupannya, pasti itu sangat membahagiakan.
"Audrea cocok deh, kalo bersanding dengan gue," ucap Rafli tiba-tiba yang terdengar memancing perhatian Bayu.
"Dia cantik, pinter, dan idaman bagi semua kaum adam. Cowo kampung kaya lo bisa apa? Gak berguna dan nyusahin ya pastinya," hinanya melanjutkan.
Kepala Bayu menoleh, Rafli melihat jelas rahang kokoh pria berwajah manis di sampingnya mengetat. Kilatan amarah terpancar di netranya, Bayu kembali membuang pandangannya seakan tidak ingin mencari keributan.
"Marah aja Mas, gak apa-apa. Gue cuma mau tegasin, Audrea sampai kapanpun enggak pernah jadi milik lo. Buang jauh-jauh pikiran lo yang pengen memilikinya," bisik Rafli tepat di telinga Bayu.
Prang ....
Badan Audrea berputar cepat, wajahnya seketika panik melihat darah segar mengucur di kepala Bayu. Ia berjalan cepat dan mendorong Rafli yang bermaksud menjauhkannya dari Bayu, Audrea memegang pundak pria manis di hadapannya.
"Lo gila, Fli! Mas Bayu kenapa lo tabok make piring!" bentak Audrea berteriak penuh amarah setelah menoleh.
Belum mengeluarkan bersuara, Rafli sudah diabaikan. Audrea membopong Bayu yang terluka, kepala Bayu menoleh sebentar ke arahnya sambil tersenyum penuh kemenangan dan terlihat Bayu sedang mengendus aroma Audrea di leher jenjang gadis itu.
"Sial! Gak bisa, gue enggak mau mundur terus-terusan, Audrea harus liat ke arah gue kali ini!" gumam Rafli kesal dan ia berusaha untuk mencegah emosi yang tersulut karena Bayu.
Kakinya melangkah lebar mematikan kompor, kemudian ia menuju kamar tamu tempat Bayu tidur. Di sana Audrea dengan telaten mengobati luka tersebut, beberapa pecahan piring tertancap di kulit kepala Bayu ia ambil perlahan.
Mimik wajah khawatir tersirat begitu jelas. Hati Rafli kembali berdenyut nyeri, gejolak api cemburu melahap kesabarannya. Ia memutuskan pergi dari rumah Audrea, saat hendak menyalakan mesin mobil, dari spion mobilnya ia melihat sosok pria berjalan mendekat nampak sangat familiar.
Rafli bersedekap dada lalu berceletuk sembari mengusir, "Lo tuh ya, enggak ada cape-capenya pisan, kalo mau bertamu juga percuma. Mending pulang aja sana!"
"Saya ke sini mau ketemu Audrea, mending kamu menyingkir. Ganggu aja!" Brama memandang datar sang lawan bicaranya serta mengabaikannya, niat ingin bertemu dengan pujaan hati, malah ternyata harus menghadapi algojonya terlebih dahulu. "Enggak peduli percuma atau tidak, saya akan tetap menemui calon istri saya!"
Mata Rafli melotot sebagai jawaban tidak setuju, tangannya hampir melayangkan tinju, namun itu hanya mengambang di udara dan langsung ia tarik kembali.
"Jangan asal ngeklaim! Lo itu cuma mantan bos, yang Audrea aja jarang ketemu lo, percuma kalo modal tampang sama kaya. Di hati dia cuma ada nama gue!" protes Rafli dengan percaya diri membuat Brama tertawa kencang.
Tangan Brama mengibas di depan Rafli. "Halu kamu tinggi juga, ya? Ini menjelang siang, mending bangun sekarang."
"Sialan!" umpat Rafli terpancing emosi dan ingin memukul wajah pongah Brama.
"Rafli, kok lo di luar?" sela Audrea muncul di belakangnya yang tidak tahu kalau ada Brama di depan Rafli. Begitu pula Rafli lagi-lagi tangannya mengambang di udara tak jadi melayangkan pukulannya.
Brama berjalan mendahului Rafli, kening Audrea berkerut samar mendapati mantan bos perusahaan sebelumnya di tempatnya bekerja berkunjung ke rumahnya. Dengan sopan ia tersenyum ramah dan membungkuk hormat, di belakang Brama, Rafli berdecih sinis.
__ADS_1
"Hai, Audrea ...," sapa Brama sambil menampilkan senyum terbaiknya.
Audrea hanya bisa tersenyum kikuk. "Mohon maaf, Pak Brama ada keperluan apa ya datang ke rumah saya?" tanya Audrea ramah yang tak menghilangkan sopan santunnya.
"Saya ingin kamu kembali bekerja di perusahaan saya," pinta Brama langsung kepada topik pembicaraan.
Mata gadis itu melirik ke arah Rafli yang berjalan menghampirinya. Ia menyenggol lengan temannya dan bertanya sambil berbisik, "Ini gimana ya? Gua emang butuh pekerjaan, tapi gue gak mau balik ke sana."
"Mendingan pergi deh, Audrea bakalan kerja sama gue," sanggah Rafli tanpa persetujuan Audrea.
Plak ....
Tamparan keras diberikan Audrea kepada Rafli di lengannya, sedangkan pria itu merasakan rasa panas begitu menusuk. Ia meringis pelan dan menekuk wajahnya bertanda merajuk, Audrea tak mengindahkan perilaku Rafli.
Ia memandang Brama dengan pikiran rumit, Audrea pun tersenyum canggung sambil menunduk sesaat guna permintaan maaf atas sikap Rafli barusan.
"Maafkan teman saya Pak ... begitu juga saya tidak bisa menerima tawaran Bapak, apa lagi tak ada niat untuk bekerja kembali di sana. Jadi mohon maaf sudah menolak tawaran anda," cetus Audrea secara gamblang tanpa ingin menutupi.
Kekecewaan menghampiri Brama, namun tak berlangsung lama dia tersenyum manis. Mendekati Audrea yang tadi berjarak tiga langkah, kini menambah dua langkah demi mengikis jarak. Sampai aroma menyegarkan terhirup oleh hidung mancung Audrea.
"Ya udah, tapi saya ada satu permintaan. Apakah boleh saya menyuarakannya?" Audrea mengangguk walau tidak tahu apa itu.
"Jadilah teman saya," katanya terdengar tulus.
Rafli berjengit terkejut, berani sekali Brama mendekati gadisnya dan beralasan ingin jadi teman. Pendekatan macam apa itu? menyebalkan. Ia tanpa izin dan dengan lancang memeluk pinggang Audrea secara posesif dan melempar tatapan sinis nan tajam menandakan permusuhan.
"Pak—"
"Ditolak!" potong Rafli cepat membuat Brama semakin terbakar api kecemburuan.
'Ini kenapa cari masalah mulu sih?!!' pikir Audrea frustasi akan tingkah laku Rafli.
Melepaskan diri dari Rafli ternyata sangat sulit, ia merasakan kecemburuan amat mendalam di diri Rafli. Membiarkan mereka berdebat tanpa Audrea mengangkat suara, yang pada akhirnya perdebatan itu dimenangkan oleh Rafli.
Tawa kecil mengudara. Kepergian Brama dengan tampang kesal serta kusut tak Audrea cegah atau meminta maaf kembali, Rafli tersenyum seperti manusia congkak.
Pria itu menepuk dadanya bangga. "Gimana debat gue? Hebat 'kan bisa buat Brama mundur?"
"Iya hebat, tapi lepasin dulu. Pinggang gue pegel!" ketus Audrea membuat Rafli terkekeh.
__ADS_1
Di jarak beberapa meter, seorang pria hanya bisa menahan rasa panas merambat ke hati hingga pikirannya. Ia tidak bisa menemui Audrea, karena dirinya sudah menyuarakan kalau ia ingin menyerah saja.
Namun tetap, semua rasa tersebut sulit dihapus meski berjalan dan berlalunya waktu.