
Yuda merasakan dadanya terasa sesak, air mata pun berjatuhan. Kesedihan menyerang tanpa permisi. Badannya luruh sambil bersimpuh memegang dada, Yuda dibuat linglung sendirian. Badannya sangat aneh, bukan ini yang ia inginkan.
"Aku kenapa? Dada ini sangat nyeri luar biasa," keluh Yuda beralih duduk dan meluruskan kaki.
Ia perlahan mengambil oksigen di sekitar dengan rakus. Mengusap aliran air yang menetes dari matanya, semakin ia hapus, makin banyak pula yang berjatuhan.
"Hahaha ... baru kali ini aku ngerasain kesedihan mendalam," gumam Yuda tertawa sumbang.
"Tuhan mana yang mempermainkan aku? Sungguh lancang!" seru Yuda kembali menangis sejadinya.
Tangannya memukul lantai amat kencang, ia menunduk dalam penuh kesedihan. Perasaan ini tentang Audrea, gadis pujaannya. Entah mengapa pikirannya menjurus ke gadis itu. Langsung dirinya bangkit dan menghilang sekejap mata, di depan pintu dirinya berdiri.
Aroma sang gadis tak tercium di sekitar, beralih kepada Rafli terlintas di benaknya. Yuda tanpa berpikir panjang kembali menghilang tanpa disadari Bayu tengah memantau keluar jendela dari dalam rumah, ia tersenyum miring. Terkekeh geli, dirinya ternyata tidak harus bertindak, nyatanya Yuda lebih bisa diandalkan.
Beralih kepada kediaman Rafli serta keluarga.
Rafli memeluk sayang tubuh Audrea, begitu pula sebaliknya. Audrea berdoa kepada Tuhan-nya agar jalan yang ia ambil bukanlah kesalahan, memang ada nama Rafli di lubuk hati dan kekhawatirannya lebih besar ketika Rafli mengalami musibah atau terluka.
Dirinya cenderung bimbang, antara Yuda dan Rafli adalah sama-sama sosok ternyaman. Namun dirinya sudah terlanjur melukai Yuda terlalu dalam, biarlah sekarang Yuda menyadari, bahwa cinta mereka tidak akan pernah pantas untuk diperjuangkan.
Mengakhiri dengan menjalin hubungan serius bersama Rafli adalah kebenaran, Tuhan-nya pasti merestui. Pertentangan segala aspek juga sangat kecil. Mereka seiman dan sehati, sedangkan Yuda? Yuda saja tidak tahu siapa Tuhan-nya sendiri, maka dari itu Audrea memikirkan semuanya amat matang.
Kriet ....
Mereka berdua menoleh dan melepaskan pelukan hangat tersebut. "Ada Yuda di depan rumah, tapi Mbah gak mengizinkan Mamah untuk membawanya masuk. Beliau juga membentengi sekitar rumah ini lagi," jelas Dara berdiri di ambang pintu.
"Ya udah Mah, biarin aja, nanti anaknya juga pergi!" sahut Rafli acuh.
Audrea enggan merespon, baru saja dirinya memikirkan Yuda dan hubungan barunya. Kini malah orang itu muncul entah dari mana.
"Kalo gitu Mamah balik lagi ke ruang keluarga, ya?" ucap Dara dibalas anggukan oleh Rafli dan Audrea. Wanita paruh baya itu tersenyum hangat, gadis cantik di depannya sekarang ialah calon menantunya sendiri.
"Kalian jangan berlebihan, ingat, belum sah!" pesan Dara sebelum melenggang pergi dan sempat menatap tajam sang anak yang terlalu nyeleneh.
Rafli tersenyum saat sang ibu menghilang dari pandangannya, ia membaringkan tubuhnya dan menaruh kepala di atas paha Audrea tanpa permisi. Audrea sendiri seperti ingin menjitak kepala Rafli, pria tak kenal malu ini tiba-tiba mencari ulah. Karena ia belum terbiasa oleh perilaku Rafli yang manja, apa lagi tangannya diambil dan ditaruh di atas kepala guna mengelus rambut sang pria.
"Lo ngapain sih? Ada banyak ngapain make paha gue?" tanya Audrea bernada sinis.
__ADS_1
"Ya ampun, sayang! Aku kamu, jangan lo gue, gak boleh!" sentak Rafli merespon membuat Audrea geli sendiri.
Audrea memegang tengkuknya dan melirik ke samping. "Gue—gue belum terbiasa," sahut Audrea gugup.
"Biasain aja sih, calon bini," goda pria itu amat santai. "Atau mau gue panggil baby? Honey? Sweetie? Ah, darling?" sela Rafli sembari menaik turunkan sepasang alisnya.
Plak ....
"Aduh, kira-kira dong kalo mukul!" ringis Rafli ketika lengannya ditampar kencang.
Audrea pun mendengus, "Lo sih, bikin gue geli aja! Bisa gak sih, sabaran dikit. Gue beneran belum terbiasa!"
"Maafin aku ... aku 'kan cuma pengen romantis-romantisan sama calon istri," cicit Rafli cemberut.
'Lah? Serius nih, si Rafli? Kok jadi ngambekkan gini?' pikir Audrea.
"Masih marah?"
Audrea menggeleng, tapi juga tak berbicara satu katapun. Rafli merenggut kesal. Ia duduk dan menatap Audrea dengan sendu, agar iba terhadap dirinya. Ia ingin disayang-sayang layaknya kekasih pada umumnya, Audrea mengerutkan keningnya.
Beberapa detik kemudian dirinya paham, Rafli sedang mencari perhatian. Hati jahil yang selama ini tertidur pun terbangun, Audrea membuang pandangannya. Menatap objek lain tanpa ingin bersitatap dengan Rafli.
Audrea menoleh. "Gua beneran ada, makanya tadi terima."
"Bukan jadiin gue alat buat alat jauhin lo dari Yuda 'kan?" Mata Audrea melotot ia mencubit kecil pinggang Rafli, menoyor pelan kepalanya.
"Kalo ngomong gak usah ngaco!" elak Audrea.
"Haduh, gu—aku minta maaf dan jangan salah paham," lanjutnya jadi geli sendiri.
Mata Rafli mengerjap pelan. "Beneran?"
"Hmm," balasnya singkat seraya mengangguk membuat Rafli menampilkan senyum merekah di wajah tampannya.
"Ah, sayangg!" pekik Rafli memeluk Audrea.
'Nih orang bikin pusing aja, belum juga nikah!' kata Audrea frustasi dalam hati.
__ADS_1
***
Yuda menatap nanar ke arah rumah di depan mata. Kekuatan kian memudar, perasaan ini membuatnya lemah. Rahangnya mengeras dan mengepalkan tangan begitu kuat, ia berbalik serta memercikan api.
Membakar habis tanaman kesayangan Dara yang telah lama dirawat, tapi Yuda tak tahu itu. Dirinya menghilang lagi dalam sekejap mata, kembali ke goa tempatnya bertapa dan meminta ilmu.
Di sana ada sang leluhur tertawa kencang menghina Yuda karena dirinya menjadi lemah akibat mencintai Audrea terlalu dalam. Yuda tak mengindahkan, ia bersimpuh memberi salam seperti biasanya.
"Kowe kalah? Hahahaha ... wong mlarat!"
(Kamu kalah? Hahahaha ... kasihan!)
Yuda memejamkan mata, kepalanya masih menunduk. Sebisa mungkin dirinya tak terbawa emosi, memang inilah konsekuensi dari kehidupan yang ia jalani. Sekarang ia hanya perlu memohon, meminta kekuatan guna menjaga diri dan mengalahkan mereka yang menentang dirinya.
"Nuwun sewu Mbah, kula mboten badhe nindakaken malih. Aku pengin kuwat kaya sadurunge," pinta Yuda memohon.
(Maafkan aku Mbah, aku enggak akan begitu lagi. Aku ingin kuat seperti dulu.)
Hahahaha ....
"Apik, sampeyan mung kudu mundur lan nglirwakake manungsa sampah kasebut. Aja nyoba ngalih!" ucapnya menyeringai licik.
(Bagus, kamu hanya perlu bertapa kembali dan mengabaikan para manusia sampah itu. Jangan mencoba beralih!)
Jantung Yuda berdetak kencang, ia sudah mengambil keputusan bulat. Toh, Audrea tak akan pernah melihatnya. Hatinya justru dibuat sakit terus-terusan tanpa tahu dirinya bagaimana di keadaan terpuruk.
Yuda menganggukkan kepalanya patuh, sang leluhur tersenyum miring. Ia mengangkat tangannya ke udara, mengambil sebuah kris yang muncul dengan ujung gagang kepala tengkorak kecil. Itu adalah sebuah kepala dari janin yang baru saja ingin menjadi bayi, sang leluhur kemudian menyodorkan kris itu.
Kepala Yuda mendongak menatap ke arah kris tersebut dan bertanya, "Kuwajibanku apa kejaba semedi, Mbah?"
(Apa tugas akh selain meditasi, Mbah?)
Sosok di depannya tertawa kecil. Lalu duduk bersila di atas batu besar, ia melebarkan senyumnya.
"Nglampahi wong enom jenenge Rafli, kanggo kurban ing rembulan purnama!" titahnya menyeringai.
(Habiskan pemuda bernama Rafli, untuk persembahan pada bulan purnama!)
__ADS_1
Wajah datar Yuda terangkat kembali dan menunduk hormat. Ia pun menyahut, "Inggih Mbah, miturut dhawuh panjenengan."
(Baik Mbah, sesuai dengan perintah mu.)