
Audrea memijat keningnya, tiba-tiba ia merasa pusing karena situasi kali ini yang di mana Rafli dan Brama sedang berkumpul di rumahnya. Padahal ia tak mengundang mantan bosnya itu untuk bertamu, jadinya Rafli selalu memberikan tatapan tak senang kepada Brama.
Begitu pula Bayu tidak ingin Audrea jauh dari sisinya, kalau Bayu masih wajar karena membutuhkan dirinya. Lalu ia masih belum paham kenapa mantan bosnya ini datang, berdebat pula oleh Rafli seakan sudah mengenal sejak lama.
"Pak, ada urusan apa Bapak datang ke rumah saya?" tanya Audrea penasaran.
Brama menoleh seraya tersenyum dan membalas, "Saya hanya ingin menjenguk kamu."
"Menjenguk? Saya sehat-sehat saja Pak, tidak sakit," sahut gadis itu heran.
Rafli hampir saja menyemburkan tawanya, saingannya sungguh bodoh mencari alasan.
"Dre, aku pusing banget. Boleh anterin ke kamar?" pinta Bayu menyela pembicaraan mereka.
Kepala Audrea menghadap Bayu, benar ternyata, wajah itu tampak pucat dan sayu. Kasihan sekali melihatnya, membuat Audrea memegang lengan dan tangan Bayu guna memapahnya memasuki kamar, ia pergi tanpa pamit kepada kedua pria yang menatapnya.
Kepala Rafli menggeleng melihat tingkah Bayu, apa lagi Brama semakin mengeraskan rahangnya. Bisa-bisanya ia kalah dengan pria kampung macam Bayu, tangannya jadi terkepal kuat. Melalui ekor matanya, Brama melirik ke arah Rafli yang juga bereaksi sama.
Ia dengan berani menyenggol lengan pemuda itu menggunakan siku. "Apa sih, genit banget lo! Gue masih normal!" sanggahnya menghindar.
Brama berdecak, "Saya juga masih normal. Bahkan saya mencintai Audrea, ada hal penting yang ingin saya bicarakan."
"Apaan tuh?" Kening Rafli berkerut samar sarat penasaran.
"Ngerasain kalo pria kampung itu bukan, pria biasa?" tanya Brama mencoba Rafli memberikan pendapat.
Rafli sendiri tidak menjawab langsung, ia menelaah kejadian aneh dan tingkah Bayu yang sangat manipulatif, perilakunya tersebut dapat membahayakan dirinya atau Audrea di masa mendatang. Bayu lebih licik yang ia bayangkan.
"Untuk sekarang jangan cari masalah dulu sama Bayu. Dia bahaya," tutur Rafli merubah mimik muka menjadi serius.
Alis Brama terangkat satu lalu kembali bertanya, "Se-bahaya itukah dirinya?"
"Ya ... dia punya bakat dalam hal memanipulasi keadaan, wajah polos tampak tak berdosa membuat Audrea luluh dengan kepolosan Bayu," ungkap Rafli mengingat kilasan memorinya kemarin.
"Lo harus lebih pintar, Brama. Ketampanan, uang, kuasa, serta kekuatan lo. Itu enggak akan mudah buat Audrea ngelirik sedetik aja tentang perasaan lo," lanjutnya karena juga merasa kalah telak untuk sekarang ini akibat kehadiran Bayu. Ia ingin sekali membuktikannya kepada Audrea, betapa licin orang itu. "Brama ... dia berbahaya."
Baru ingin membalas pernyataan Rafli, Audrea datang membawa nampan berisikan cemilan dan minuman. Gadis itu menyajikannya di depan kedua pria yang menatapnya lamat, membuat Audrea tidak nyaman.
__ADS_1
Ia melihat Rafli juga Brama secara bergantian. Dirinya heran sendiri, karena sebelum ia pergi keduanya masih melempar tatapan permusuhan tanpa ingin menyudahinya.
Tangannya bersedekap dada, semakin salah tingkah dan menutupi dengan berdeham pelan. Menunggu apa yang ingin dibicarakan, namun tidak kunjung membuka suaranya. Audrea jadi bosan sendiri, mendadak Rafli yang cerewet dan suka berceloteh diam membisu sambil menikmati cemilan serta minumannya.
Begitu pula Brama melakukan hal sama, dalam hatinya Brama menikmati jamuan sang gadis, kue kering yang tak terlalu manis dan rasanya pas di mulutnya. Bersama teh hangat sebagai minumannya, tapi ia merasakan rileks saat seteguk masuk dan mengecapnya.
"Kalian ke sini cuma numpang makan?" tanya Audrea sudah gatal ingin berbicara.
"Lain kali gue ajak Mamah ke sini, pasti dia suka dijamu sama calon menantunya," sahut Rafli sambil mengunyah pelan makanan di dalam mulutnya.
"Aku menyukai ini, jarang-jarang aku memakan makanan manis. Hanya di sini aku berani mencicipinya," celetuk Brama tidak menghiraukan Rafli berkata 'calon menantu'.
Kepala Audrea mengangguk mengerti, sekejap ruangan berkedip, lalu Brama menghilang dengan kue kering dipegangnya tadi jatuh tercecer di lantai. Rafli dan Audrea saling pandang, mereka bangkit dari duduknya.
Berjalan cepat menuju kamar Bayu, mendapati sosok Bayu masih terbaring di atas kasur. Entah kenapa, mereka seperti mempunyai firasat yang sama, namun semuanya lenyap tatkala melihat langsung Bayu yang terlelap.
"Ke mana ya, Pak Brama? Gue tadi juga ngerasa terjadi sesuatu di kamar, justru di sini enggak ada apa-apa," ujar Audrea menoleh ke Rafli.
"Gue juga rasa gitu ... tapi sesuai kenyataan, kalo Bayu masih di sini," pungkas Rafli berjalan menelusuri kamar dan mengecek sekitar.
Audrea mencekal pergelangan tangan Rafli, membuat Rafli terhenti dan memandang bingung sang teman. "Ada apa?"
Cekalan di pergelangan tangannya, ia hentak lumayan kuat. Rafli tetap menuntaskan rasa penasarannya. Mengabaikan Audrea yang kian mengganggu dirinya, ia berbalik dan menatap kecewa sang gadi pujaan.
Audrea terdiam, tatapan Rafli berubah. Tersirat kemarahan di mata tajamnya, ia beringsut mundur. Melihat Rafli melanjutkan kegiatannya yang tertunda, Audrea jadi bungkam sendiri. Apakah dia salah? Tentu saja, hanya ada Bayu di pikirannya tanpa mempersilakan Rafli tersemat sebentar saja.
Sedangkan Rafli meneliti setiap sudut kamar berkali-kali, tapi hasilnya nihil. Sampai ia tertuju kepada lemari yang mencuri perhatiannya, lemari itu adalah saksi bisu dirinya dihantui. Ia beranikan mendekati dirinya, Audrea sendiri sedikit cemas karena Bayu menggeliat tidak nyaman.
"Fli ... udah yu, di sini gak ada apapun," cicit Audrea menahan kekesalannya.
Rafli tak mengindahkan permintaan Audrea. Ia jadi mengingat lemari dengan bahasa tulisan sama, namun kalimat berbeda. Ia meraba perlahan, berdoa guna diberi pencerahan dari Sang Maha Pencipta, matanya terpejam.
"Aku sudah menandainya, takdir tidak bisa ditepis—"
Set ....
Mata Rafli terbuka karena seseorang membalikkan badannya secara paksa. Sesosok mengerikan terlihat murka dengan taring panjang menghiasi sekitar mulutnya, Rafli sendiri langsung terkejut bukan main. Bacaan kalimat tadi terputus, begitu pula dunianya.
__ADS_1
Sialnya, Rafli berpindah ke tempat antah berantah. Sekelilingnya di penuhi pepohonan, hanya ada satu sosok menatap tajam ke arah dirinya. Rafli langsung beringsut mundur, ia kemudian meraih jimatnya dan menggenggamnya dengan erat.
"Bocah sialan! Kok kowe wani-wani karo aku!" bentaknya menggema di hutan itu.
(Anak sialan! Berani kamu mencari gara-gara dengan aku!)
Di sampingnya ternyata ada Brama yang bersimbah darah bersama dengan khodam-nya terbakar api, terlahap begitu saja tanpa bisa memadamkannya. Pria yang biasa mengeluarkan tingkah congkaknya telah tepar, berusaha mengais udara sedapatnya.
"Brama bangun!" teriak Rafli memanggil membuat makhluk itu tertawa kencang.
"Manungsa bodho! Dheweke bakal dadi pangananku bengi iki! Hahaha ...."
(Manusia bodoh! Dia akan menjadi makananku malam ini! Hahaha ....)
Bugh ....
"ARGHH!!!"
Tulang terasa patah, lututnya terlihat tergeser akibat ditendang tiba-tiba. Rafli berteriak histeris merasakan sakit luar biasa, ia menangis tersedu-sedu. Jimat digenggamnya tak berfungsi, Rafli terus menyebut dan menyuarakan nama khodam sang ibu.
"Hahaha ... jimat kasebut ora bakal bisa nulungi sampeyan saka kekuwatanku sing gedhe!" ledeknya terkikik geli karena Rafli bak orang bodoh.
(Hahaha ... jimat itu tidak akan pernah bisa membantu kamu untuk melakukan kekuatan besar ku!)
Rafli menggeleng kuat, ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Badannya bergetar hebat karena ketakutan, trauma di masa lalu disaat diculik oleh Lastri terngiang-ngiang dan tergambar jelas bagaimana ia di tawan.
Tangisan pria tampan itu pecah, dirinya beringsut mundur sambil mengalihkan pandangannya lalu menutup mata serta telinganya. Suara cekikikan Lastri terekam jelas dalam ingatan, bersama makhluk itu tertawa terbahak-bahak menikmati kelemahan Rafli.
Mudah sekali rasanya. Ternyata menyerang mental lebih seru dibandingkan dengan membunuhnya secara langsung. Ya, walaupun itu tidak berlaku kepada pria angkuh di sampingnya yang setengah tersadar.
"AUDREA!" teriaknya tak tahan.
Di alam berbeda, Audrea sangat bingung. Dirinya jatuh terduduk melihat Rafli menghilang tepat di depan matanya, ia menangis tatkala mengingat Rafli mencoba baca tulisan di lemari.
Deg ...
Telinganya berdenging bersamaan jantungnya berdetak kencang memompa aliran darah. Audrea terengah-engah, ia melirik ke arah Bayu yang tenang dalam tidurnya.
__ADS_1
"Rafli, lo di mana," lirih Audrea memegangi dadanya terasa sesak.