
Jika boleh, aku ingin terhubung
benang merah.
Jika boleh, aku ingin menentang
takdir dari berpisah.
- Basurata Yuda
...----------------...
"Hah ... hah ...."
Napas tersengal nan lelah di seluruh tubuh terasa amat berat. Ia di hadapan 'kan sesuatu yang luar biasa kali ini, peluh pun ikut menetes dari dahinya. Baju juga lepek karena keringat dingin keluar melalui celah kulitnya, wajah tampan pucat itu terduduk letih bersandar di belakang pilar.
"Bagaimana keluar dari sini? Sial! Make terpisah segala pula!" umpatnya pelan sambil memukul angin.
Srek ... srek ... srek ....
Yuda kembali bersembunyi dan mengumpat geram, saat mereka memasuki tempat ini, satu sosok kuntilanak hitam mengejar mereka sehingga berpencar entah ke mana. Pikirannya dipenuhi oleh sang pujaan, Audrea pasti sedang bersembunyi juga.
Suara itu kian mendekat tatkala Yuda menahan napasnya. Pria itu membekap mulutnya sendiri guna sang makhluk tak menemukan dirinya, tidak jauh dari sana. Di seberang pilar lainnya ada Audrea memberi syarat untuk tak bersuara dan bernapas.
Anggukan lemah sebagai jawaban, perlahan ia berjalan mengendap-endap menuju ke arah Audrea. Sampai di samping gadis itu barulah bisa bernapas lega.
"Biarin dia pergi dulu, kita ngumpet di sini," bisik Audrea menatap Yuda.
Lawannya berdeham pelan. Mata bergulir kepada kuntilanak hitam tersebut, dengan berjalan menyeret kakinya yang panjang sebelah dengan menunduk.
Tangan Audrea meraih telapak tangan Yuda yang menganggur, setelah melihat makhluk tadi menghilang, Audrea menarik Yuda. Melangkah semakin dalam menuju suatu tempat yang terletak di tengah bangunan candi.
Cahaya bulan merah menyoroti halaman pertengahan. Hati Audrea tiba-tiba saja menjadi gusar tak karuan, ia melanjutkan langkahnya ke depan. Yuda bingung sendiri, sungguh tidak tahu maksud sebenarnya kedatangan mereka ke dunia gaib ini.
Audrea melepaskan tangannya, lututnya terbentur keras ke tanah karena luruhnya badan. Ia sangat lemas sampai tak tahu harus berbicara apa, mulutnya seakan bungkam, sedangkan mata Yuda beralih ke arah batu.
Di atasnya seperti ada tempat suatu benda, namun dirinya tidak mengetahui benda apa itu. Kemudian ia berjongkok di samping Audrea yang kini tengah menangis dalam diam, badannya menghadap Audrea, wajah cantik itu berair sendu.
__ADS_1
"Dre ... sebenarnya kita ngapain ke sini?" tanya Yuda heran.
Kepala gadis di depannya menggeleng lemah. "Aku gagal, benda itu udah hilang!" racaunya pelan.
Sontak ekspresi Yuda pias, benda? Otaknya merasa tumpul, reaksi lainnya tak tergambar jelas di wajah tampannya.
"Benda? Benda apa? Apa lagi yang kamu sembunyikan dari aku, Audrea?!!" tegas Yuda menatap nyalang lawan bicaranya.
Audrea mengangkat pandangannya. Ia menyahut, "Benda itu harus dihancurkan. Kalo benda itu masih ada, musuh aku akan terus bertahan dalam kekuatan yang besar."
"Maaf, aku juga ada maksud lain ngajak kamu ke sini. Yud ... jangan benci aku," lanjutnya lirih.
"Kepentingan kamu emang nomor satu. Tapi apa kamu enggak mikir, kalo aku nemenin kamu ke sini udah seperti orang bodoh. Enggak tau mau apa ke sini, kamu selalu jawab untuk mengalahkan musuh kamu. Kamu seneng membodohi orang lain, iya? Jadi ini sifat gadis yang pernah aku puja? Kamu licik, Dre. Meski aku gak tau apa niat kamu lainnya," lugas Yuda penuh kekecewaan.
Bahu Audrea di guncang sedang, Yuda mencengkram lumayan keras di bahu kecilnya. "Sakit Yud," keluh gadis itu terisak.
"AKU YANG LEBIH SAKIT, DRE! KAMU EGOIS, KAMU ENGGAK PERNAH BISA PEKA! APA AKU HARUS MATI DULU, BARU KAMU MEMBALAS PERASAAN AKU? IYA?!!" bentak Yuda menggelegar dan menguatkan cengkeramannya.
"Maaf, Yuda."
Cengkeramannya terlepas, ia ikut bersimpuh sembari menunduk sembari memukul dadanya yang terasa sesak dan pengap.
"Tuhan, jika cintaku padanya terlarang, mengapa Kau bangun megah perasaan ini dalam sukmaku?"
(Quote dari cerita Rama dan Shinta, bagian Rahwana).
Tangannya memukul tanah melampiaskan amarah, pria itu memecahkan tangisnya. Gadis di depannya pun masih terisak pelan, Yuda mencoba menulikan pendengarannya. Teriakkan tadi masih belum bisa melegakan hati, meredam rasa sakit seperti dengan satu cara.
Mengikhlaskan. Tapi apa ia bisa? Rasa yang setiap hari membuncah kian dalam itu amat sulit ia tepis, sekarang malah ia menguburnya. Yuda tertawa sumbang, apakah mencintai harus sesakit ini? Lalu ke mana semua perjuangannya? Ah, itu akan lenyap tentunya.
"Kasih tau, bagaimana agar kita kembali?" sentak Yuda seraya menghapus kasar jejak air mata.
Audrea menyodorkan tangannya dan berkata, "Pakai darah aku. Seperti sebelum-sebelumnya."
Di raihlah tangan Audrea, bekas luka yang belum mengering Yuda abaikan, tanpa kasihan ia menekan luka itu sampai darah keluar. Audrea hanya menangis dalam diam, dirinya sangat salah, jadi dia tak ingin menambah masalah.
Ringisan terdengar di telinga tajam milik Yuda. Sarah menetes ke tanah, seketika mereka pun berpindah tempat begitu saja sebelumnya sesosok makhluk besar meraih keduanya.
__ADS_1
"Lancang!" ucapnya geram sendiri lalu ikut menghilang.
***
Pas tiga bulan, dua insan terbaring di bawah sinar matahari yang menyorot langsung ke mereka. Kaki mereka terkena air sungai, salah satu dari keduanya menyipitkan mata. Tubuhnya melemah dan sakit.
Tangannya menghalangi cahaya di atas dan bangun dari tidurnya, ia menyesuaikan pencahayaan. Beberapa detik setelahnya ia menghela napas lega, matanya mulai mengedar ke seluruh tempat.
Gadis cantik di sampingnya masih dalam kondisi tak sadarkan diri, tapi dirinya tak mengindahkan keberadaan Audrea. Yuda pun bangkit perlahan, berjalan tertatih menjauhi Audrea.
Beberapa menit kemudian disusul oleh Audrea yang ikut terbangun. Gadis ini nampak kaget dan sedikit terlonjak, ia memandang sungai lalu di seberangnya.
"Alhamdulillah udah balik," sanggahnya.
Untungnya arus sungai sangat bersahabat, ia menyeberang dengan hati-hati. Berjalan menuju ke rumahnya dan mengambil barang yang tersisa, namun pandangan warga desa seperti ketakutan saat dirinya muncul.
"Mereka kenapa sih?" gumamnya heran sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Tau ah." Audrea mengedikan bahu acuh, melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.
Tak disangka ternyata Bayu menunggu dirinya di teras rumah, melempar senyum manisnya untuk Audrea. Pemuda itu berlari dan memeluk Audrea, jelas saja Audrea bingung.
"Akhirnya kamu kembali!" seru Bayu sumringah.
Audrea berusaha melonggarkan pelukan itu, ia tersenyum kikuk. "Ya, aku pulang."
"Temen kamu udah pulang duluan, Dre. Aku antar kamu ke Jakarta, ya?" tawar Bayu tiba-tiba.
"Eh— hmm ... aku bisa pulang sendiri kok Mas," tolaknya halus.
"Enggak boleh. Aku juga sebenarnya ingin ikut keluar dari desa ini," bisiknya sembari melirik ke kiri dan kanan.
Kening Audrea berkerut samar dan bertanya, "Loh, emang kenapa?"
"Enggak bisa diceritain," sahut Bayu pelan membuat Audrea berdecak.
Ia tanpa mengucapkan sepatah kata pun berjalan masuk dan meninggalkan Bayu sendiri di teras. Bayu hanya diam, ia mengerti kalau Audrea akan bersiap-siap lebih dahulu. Tapi ia seperti mengulum senyum di kala setiap beberapa warga lewat memberi hormat seakan segan kepadanya.
__ADS_1
"Jakarta? Kotanya seperti apa, ya?" tanya pada diri sendiri sambil mengetuk dagu seolah sedang berpikir.
Bayu mengangguk samar, dirinya memilih menunggu dengan tenang.