
Rafli telah bersiap-siap untuk pergi ke rumah Audrea, gadis itu terus saja berkeliaran di benaknya tanpa henti dan memutuskan Rafli bangun lebih awal serta merapihkan penampilannya. Kumis tipis dan jambang ia pangkas habis, menunjukkan nilai ketampanannya yang kian meningkat.
Di depan cermin ia memandang takjub terhadap dirinya sendiri. Pria ini menjentikkan jarinya merasa puas, hatinya berdebar setelah sekian purnama. Audrea berhasil menciptakan rindu menyiksa untuk dirinya, sungguh tak sabar melihat wajah ayu itu.
"Jangan ngaca mulu, nanti itu cerminnya pecah. Mending sekarang kamu sarapan dulu," celetuk sang ibu yang kini berdiri di ambang pintu.
Rafli berbalik dan menyisir rambutnya ke belakang menguarkan pesonanya. "Gimana, aku udah ganteng, Mah?" tanyanya sambil berjalan ke arah pintu.
Mata wanita paruh baya itu menilai dari atas sampai bawah. Kepalanya mengangguk pelan dan berkata, "Biasa aja."
"Salah nanya," sesal Rafli cemberut.
"Ya udah, kita ke bawah!" putusnya melanjutkan lalu menggandeng tangan sang ibu.
Sedangkan di lain tempat, Yuda tengah bertapa sejak kembali ke dunia manusia. Menyampingkan perasaan serta kekecewaan yang membelenggu hati dan berniat mencari keberadaan roh Lastri yang sudah tak menunjukkan eksistensinya.
Selang beberapa menit setelah matahari terbit. Muncul kabut di dalam goa dan penerangan menggunakan dari obor menimbulkan cahaya remang-remang, samar-samar satu sosok kakek tua berdiri di depannya.
Perlahan juga mata Yuda terbuka sampai sempurna merasakan kehadiran seseorang, mendapati sang leluhur tengah menatap tajam ke arahnya, dengan cepat pria itu bangkit dan bersimpuh seraya menyatukan kedua tangan sambil menunduk dalam.
"Nuwun sewu ngganggu wektu, Mbah," kata Yuda sopan.
(Mohon maaf sudah mengganggu waktunya, Mbah).
Makhluk itu terlihat geram dan mendengus, "Nggolek masalah karo sapa sampeyan? Sial, ora ngelingi watesan!"
(Cari masalah dengan siapa kamu? Dasar, tak ingat batasan!)
Bruk ....
"Arghh! Nuwun sewu, Mbah!" jerit Yuda disertai ringisan.
Tubuhnya terpental membentur permukaan kasar di dinding goa, ia berusaha bangkit tatkala makhluk itu mendekat. Yuda tidak bisa mengeluarkan kekuatannya, berada di dunia gaib menguras banyak tenaga dalamnya, sampai ia memutuskan untuk kembali bertapa setelah sekian lama.
Yang ia herankan, kenapa leluhurnya semarah ini? Ia tak merasa membuat kesalahan.
"Lali cah iku, yen kowe pengin daya sing luwih dhuwur, mungsuhmu saiki tambah akeh!" tegasnya memperingati.
(Lupakanlah anak itu, jika kamu ingin kekuatan yang lebih tinggi, sekarang musuh kamu semakin banyak!)
Namun kepala Yuda menggeleng cepat. "Nanging aku tresna marang dheweke, Mbah.
__ADS_1
(Tapi aku cinta, Mbah padanya).
"Bodho! Busak perasaan iku, wong sing mbok tresnani dudu nasibmu!"
(Bodoh! Hapus perasaan itu, orang yang kamu cintai bukanlah takdirmu!)
Yuda sudah sering mendengar kalau Audrea memanglah bukan takdirnya, tapi apa salahnya jika ia menaruh harap? Walau sempat dibuat sakit hati, ia tetap menyayangi gadis itu tanpa syarat.
Belum juga membuka suara kembali, kakek tua tadi menghilang. Terganti bayangan orang di dekat obor yang berjarak sepuluh meter, hanya pantulan bayangan di sana.
"Sial!" umpat Yuda geram.
Dengan cepat ia berpindah, namun tak ada siapapun. Orang barusan menghilang entah ke mana, aromanya juga tidak tertinggal sama sekali. Yuda langsung menajamkan matanya, berjongkok dan menyentuh bekas jejak kaki tanpa alas.
Diendus bau itu. Tapi hasilnya masih nihil, sedetik kemudian ia berdecih sinis. Tawa kecil mengudara.
"Aish ... bermain kucing-kucingan? Hmm, enggak masalah!" gumamnya lalu menghilang dari goa tersebut.
Kembali kepada Rafli, pemuda itu sudah setelah menghabiskan sarapannya dan segera mengambil jimat pemberian Audrea di kamarnya, berjalan menuju garasi melewati dapur. Sang ibu melihat anaknya langsung memberhentikannya.
"Ada apa, Mah?" tanya Rafli lembut.
Cup ....
"Assalamualaikum," ucap ibunya mengingatkan Rafli mengucapkan salam guna mengalihkan perhatian.
Rafli merasa tersadar jadi kikuk dan berujar, "Assalamualaikum Mah. Aku pamit."
"Walaikumsalam." Tangannya diraih dan di kecup pelan oleh sang anak, tangannya yang satu mengelus singkat kepala Rafli.
Anaknya pergi bersama hati penasaran penuh tanda tanya besar, untungnya sang anak mengerti maksudnya. Rafli terlalu peka ternyata, membuatnya bimbang pada sesuatu.
"Apa aku harus membuka mata batinnya sepenuhnya?" lirihnya pada diri sendiri.
Suaminya melihat pemandangan ibu dan anak itu. Betapa beruntungnya menjadi suami Dara, ya Dara. Selama ini namanya adalah Dara dan ia bernama Anton, keduanya menikah karena primbon Jawa kuno sangat cocok.
Apa lagi mereka mempunyai kelebihan dalam hal spiritual, entah harus menamainya anugerah atau kesialan. Tapi dirinya dan sang istri selalu menepis bala mendatangi keluarga kecilnya, Anton tersenyum kecil sembari menghampiri sang istri yang terdiam dengan tatapan sendu.
Usapan di bahu Dara membuatnya terlonjak kaget, kepalanya menoleh mendapati satu sosok orang yang begitu ia cintai. Memeluknya erat seolah tak pernah ingin melepaskannya, suaminya juga membalas pelukan hangat sang istri.
"Mungkin ini waktunya untuk membuka semuanya, dia mempunyai gadis yang ingin dia jaga. Kita enggak bisa menahan kekuatan batinnya lagi," usul Anton mempererat pelukannya sembari mengelus punggung Dara demi menyalurkan ketenangan dan tak lupa senyum terpatri di wajahnya. "Semua akan baik-baik saja, sayang."
__ADS_1
Dara melonggarkan rengkuhan tersebut, menatap lamat wajah suaminya seraya mengangguk pasrah. "Masih enggak nyangka, kalo anak kita sudah besar dan bahkan dewasa."
"Apa ini benar?" lanjutnya justru bertanya.
Anton mengecup dahi istri tercintanya penuh sayang, lalu membalas tatapan ragu yang tersirat di netra teduh Dara.
"Yakinlah, sayang ... Rafli sudah bisa mengendalikan dirinya sendiri," ucapnya meyakinkan kembali perasaan Dara.
Helaan napas panjang terdengar, Dara mengangguk lagi bersama kemantapan hati. Suaminya sungguh mampu membuatnya mempercayai situasi guna untuk tidak berlebihan.
***
Di rumah Audrea.
Rafli melemparkan tatapan permusuhan terhadap Bayu, masalahnya pemuda desa itu sering sekali mendekati Audrea yang sedang bersih-bersih. Karena amat kesal, Rafli menarik kasar Bayu dan menunjuk arah lain, banyak kerjaan tanpa harus mengganggu sang gadis.
"Duh, sakit Mas ...," keluh Bayu.
Audrea mengalihkan perhatian dan pandangan ke arah Bayu, dengan cepat ia memisahkan dua manusia tersebut.
"Kalian apa-apaan, sih? Mas Bayu cuma mau bantu, juga Mas Bayu lawan aja Rafli kalo nih orang ngeselin!" tegasnya kepada mereka berdua.
Rafli mengibaskan tangan kanannya lalu berkata, "Balik ke kampung aja sana! Lo gak pantes di sini."
Plak ....
"Kok mukul, sih!" protes Rafli ketika lengannya di tampar.
"Minta maaf gak! Mas Bayu itu tamu gue, lo harus menghormati kehadirannya!" desak Audrea tak enak hati sambil tersenyum canggung saat bersitatap oleh Bayu.
"Ya enggak kdrt juga kali!" Mata gadis di depannya melotot, mau tidak mau Rafli mengalah dan memasang wajah masam. "Ah, iya-iya. Gue minta maaf, ya Mas."
Wajah masam Rafli sangat ketara tak ikhlas, tapi Bayu juga memaksakan senyumnya. "Iya saya maafin," sahutnya dan mengalihkan pandangannya ke Audrea.
Audrea jadi tersenyum lega, ia melihat Bayu dan menggandengnya depan mata Rafli, membawa pria desa itu menuju dapur. Tentunya Rafli yang melihat semuanya merasa aneh, tidak pernah sekali saja Audrea menggandeng sedekat itu.
Hatinya mulai berdenyut nyeri, ia meraba debaran jantungnya. Rasa cemburu merambat ke mana-mana, sampai ia tersenyum miris.
"Apa segitu gak pentingnya, kedekatan kita? Apa hanya berakhir sebagai teman?"
"Tak disentuh rusak dan disentuh pun lenyap."
__ADS_1
Maksud Rafli di sini adalah keadaan serba salah, antara mendekat atau menjauh. Semua luka akan timbul tanpa diminta dan diminta pun, luka tersebut justru semakin menjadi.
Jika Yuda juga tahu, mungkin ia berucap, "Sudah terkena garam, terkena pula cairan lemon. Bukan membaik, malah luka itu semakin perih."