Perkara Gaib

Perkara Gaib
Sosok Tak Di Undang


__ADS_3

Hari menjelang petang, langit berwarna jingga muncul begitu indah di belakang bukit. Rafli mengusap peluh yang menetes, semua kegiatan bersih-bersih sudah selesai. Anto ikut duduk di sampingnya, melihat indahnya penghujung waktu dan beralih pada penduduk desa yang berlalu lalang.


Tung ... tung ... tung ....


Suara pentungan benda dari bambu seperti menginterupsi semua warga, mereka berjalan tergesa-gesa dan ada juga yang berlari. Sampai membuat Rafli dan Anto penasaran sekaligus curiga.


"Pak? Kenapa lari-lari?" tanya Rafli pada salah satu paruh baya yang sedang berjalan tertatih.


Pria itu menoleh sambil terengah-engah dan menyahut, "Mlebu omah kono!"


(Masuk rumah sana!)


Belum bertanya kembali, tapi orang tadi pergi mempercepat langkahnya. Anto mengadahkan kepala melihat langit, para burung berterbangan dari arah hutan.


Tak ....


Burung gagak hinggap di kap mobil dan atap mobil. Ada lima burung di situ, Rafli hendak mengusir tapi Yuda muncul dan mencekal pergelangan tangan Rafli. Kepalanya menggeleng dan menarik Rafli serta Anto untuk masuk ke dalam rumah.


Di sana ada Audrea, gadis itu terikat tak sadarkan diri. Mata Rafli melotot dan memandang marah kepada Yuda, namun Yuda memberi gestur supaya melihat kembali wajah Audrea.


"Gue enggak ngerti, bisa dijelasin?" kata Rafli mencoba meredam emosi.


"Dia kesurupan saat aku menengoknya di kamar ibunya. Tapi Mbah datang terus membuat Audrea pingsan," jelas Yuda secara singkat.


"Ada yang gak beres di rumah ini," cetus Rafli di anggukan kepala oleh Anto.


Yuda menggeleng. "Bukan, desa ini yang enggak beres," ralatnya.


"Terus kita harus apa Mas?" tanya Anto terlihat takut.


"Sementara ini jangan ada yang keluar dari rumah sebarang kalo malam datang, entah ada bahaya apa di luar. Jelasnya kalian gak boleh lengah juga, kalian Islam semua 'kan?"


Rafli dan Anto mengangguk kompak.


"Banyak dekatkan diri kalian pada Tuhan. Aku enggak mungkin bisa jaga dua puluh empat jam," tambah Yuda.


"Iya!" balas mereka bersama.


Audrea masih diikat, mereka bertiga memutuskan untuk menyiapkan makan malam bersama dan menjalankan sholat, kecuali Yuda. Ia bagian memantau keadaan, apa lagi khodam Audrea belum juga kembali.


Pikiran aneh ia coba singkirkan, desa Banyu Hilir ini tidak masuk ke dalam peta Indonesia atau bagian daerah Yogyakarta. Banyak hal mengganjal di hatinya.


Sejenak ia memejamkan mata menunggu Rafli dan Anto sholat, seketika bulu kuduknya berdiri dan matanya terbuka sempurna.


"YUDA!" teriak sosok di sampingnya.


Ia menoleh cepat. Tidak ada seorang di sampingnya, hanya ada dua orang sedang sholat serta satu gadis terikat di kursi. Di saat tak terduga ada ketukan pintu dari sana, posisi mereka semua berada di ruang tamu.


Yuda hanya diam tak merespon, namun Anto yang sudah sholat membuka pintu cepat.

__ADS_1


Bugh ....


Dentuman keras berasal di arah Anto, badannya terbentur dinding. Dia meringis sakit dan wajahnya memucat karena sosok di depannya. Yuda berdiri membelakanginya, tapi dia masih jelas menangkap penampakan di matanya.


"Apa mau kamu?" tanya Yuda berancang-ancang.


"Pasrahna penganten putri marang panguwasa panggonan iki, yen ora bakal cilaka!" ucap makhluk menyeramkan itu.


(Serahkan pengantin perempuan kepada sang penguasa tempat ini, jika tidak ingin celaka!)


Rafli diam-diam menarik membawa Audrea ke dalam kamar, demi menjauhi tatapan membunuh dari sosok yang ia yakini seperti genderuwo. Sedangkan di tempatnya Yuda dan Anto, Yuda menggeram marah.


"Sapa sing dimaksud? tanyanya pura-pura tidak tahu.


Makhluk di depannya berdecih, "Manungsa nistha! Ayo kula njupuk dhewe!"


(Manusia hina! Biarkan aku mengambilnya sendiri!)


"Aku ora bakal nglilani!" Yuda menyahut dengan lantang dan mendorong Anto untuk segera menyusul Rafli. "Cepat pergi Pak!"


(Enggak akan aku biarkan!)


Pertikaian tak bisa dihindari. Yuda menarik sosok tersebut keluar rumah, menyerangnya dengan membabi buta, begitu juga sebaliknya. Mereka saling adu kekuatan, mencoba mengalah dari salah satunya.


Brak ....


"Hahaha ... manusia pengguna ilmu hitam toh?" cibirnya.


Yuda memegang dadanya, ia bangkit dan menyerang kembali. Tapi naas, dirinya jatuh lagi untuk kedua kalinya. Staminanya juga berkurang, detik-detik di ujung kesadarannya, Yuda melihat sang khodam Audrea muncul.


Mengetuk tongkat ke tanah berkali-kali, membuat makhluk tadi terlempar jauh. Ia berteriak murka menghadap wanita paruh baya itu, karena memang sudah tahu kemampuan khodam Audrea. Dirinya menghilang tiba-tiba, tapi sebelumnya ia berkata, "Ngenteni sing luwih kuwat!"


(Tunggu yang lebih kuat!)


Yuda bersimpuh di depan wanita tua itu. Ia mendongak sembari memegang dadanya yang terasa nyeri luar biasa, ia lalu menunduk.


"Mohon Mbah, sadarkan Audrea," pintanya merendahkan diri.


Helaan napas berat memasuki rungu Yuda. “Lha iku Lastri, cah wedok golek celah,” katanya memberitahu.


(Dia Lastri, dia udah menemukan celah).


"Bukannya dia enggak bisa merasuki tubuh Audrea lagi, Mbah?" Lawan bicaranya menggeleng kecewa.


"Dheweke tambah kuwat, kudu ati-ati. Mbah bakal mbantu supaya pelindung Audrea luwih kuwat," ujar sang khodam.


(Dia tambah kuat, harap hati-hati. Mbah akan membantu juga agar pelindung Audrea semakin kuat).


Yuda menyugar rambut ke belakang, ia bangkit dan meninggalkan khodam Audrea. Wanita tua itu memandang rumah di depannya, membacakan mantra yang melingkupi seluruh bagian, guna mencegah kekuatan jahat.

__ADS_1


Dirinya berpindah pada kamar yang ditempati Audrea, di sana semuanya sudah menunggu dirinya. Tangan wanita tua itu di letakkan di atas wajah Audrea secara mengambang, tangan kirinya memegang tongkat lalu mengetuk seraya membaca sesuatu.


Anto melihat sosok di depan mata mengalihkan pandangannya, peluh dingin menetes akibat takut.


"Dia baik Pak," bisik Rafli memandang membisu.


Paruh baya barusan hanya mengangguk pasrah, mau kabur? Tidak mungkin, di luar sana lebih bahaya tentunya. Sungguh kejadian di luar nalar baru ia hadapi, seumur hidup ia menghindari hal gaib demi ketenangan hidupnya sendiri.


Tapi apa mau dikata, takdir terduga justru seperti menjebak. 'Ya Allah, lindungi hamba dari makhluk jahat atau mara bahaya. Hamba memohon kepada-Mu, berserah diri dan sembah ku hanya untuk diri-Mu yang maha pengasih lagi maha penyayang. Amin ... amin ya rab,' batinnya berdoa berusaha menenangkan diri.


Tok ... tok ... tok ....


"Hahhh!" Napas Audrea memburu dengan mata yang mendelik setelah tongkat milik sang khodam.


Mata Rafli dan Yuda berbinar senang, sedangkan napas Audrea sangat berat ia menoleh kepada sosok di sampingnya.


"Matur nuwun, Mbah," ucapnya tulus.


Dia mengangguk lalu menghilang tanpa meninggalkan perkataan apapun, Rafli berjalan mendekati Audrea menangkup wajah kecil Audrea. Matanya berkaca-kaca saat bersitatap oleh netra teduh milik temannya.


Ia memeluk erat tubuh ringkih itu, menangis dan selagi itu tangan Audrea mengusap pelan punggung Rafli yang bergetar, bermaksud memberi ketenangan di kala membalas pelukan.


"Makasih udah khawatir sama gue. Tadi di sana serem banget," kata Audrea lirih.


Rafli menguraikan pelukannya dan memandang Audrea dengan mata sembabnya. Ia pun menyahut, "Heh, bego! Enggak usah bilang makasih, udah kaya orang asing aja!"


"Dre." Yuda mengalihkan perhatian Audrea, mereka saling tatap.


Pria itu menambah langkahnya, berjongkok di samping ranjang Audrea. Bersimpuh membuat semua yang di sana keheranan sekaligus aneh, di tambah lagi Audrea merasa tidak nyaman.


"Jangan gini Yud! Kamu ngapain sih?" tegur Audrea tak suka tapi tidak mengindahkannya.


Dia menggeleng lemah. "Maaf aku enggak pernah bisa membantu kamu semaksimal mungkin, Lastri begitu kuat bersama dendamnya Dre. Aku mohon untuk memaafkan kesalahanku, kamu tenang aja ... aku bakalan berusaha sekuat tenaga demi memusnahkan dia agar kehidupan normal kamu kembali seperti semula."


"Yud, bangun. Aku udah maafin kamu kok," timpal Audrea.


Mata Rafli melirik tak terima dan protes, "Lo gila? Dia tuh makhluk hina yang udah menghancurkan alur kehidupan Dre! Bisa aja selama ini dia modal muka dua, emang lo enggak curiga? Gue aja curiga sama nih orang."


"Hus ... jaga bicara lo," tegur Audrea.


"Enggak apa-apa Dre, aku gak pantes dapat kepercayaan dari kamu," sela Yuda memasang wajah sendunya.


Sontak mata Rafli mendelik karena respon Yuda, jelas jika pria itu sedang menarik simpati sesosok Audrea. Sialnya, ia lupa jika Yuda memiliki rasa yang sama kepada Audrea.


"Ini mah bukan acara memaafkan. Acara cari perhatian sih iya," gumam Anto.


Sejak tadi ia memilih diam, memperhatikan ketiga orang di depan matanya. Sorot mata para pria menunjukkan rasa dari dalam hatinya dengan cara memandang Audrea, ia menepuk pelan dahinya. Bagaimana bisa pria itu terus saja menampilkan raut sedih?


Pantas jika Rafli menatapnya tak suka, masalahnya adalah Yuda juga dekat dengan Audrea dan menambah saingan saja.

__ADS_1


__ADS_2