
Seseorang terbaring lemah. Kamar dihancurkan oleh Brama habis-habisan tempo hari karena melihat hal senonoh di matanya, walau Angga selamat itu tak menjamin ketakutannya akan pudar. Bayangan tubuh Sarah yang hanya tinggal tulang serta kulit membuatnya meringkuk di atas kasur.
"Aku enggak mau kaya dia!" gumamnya pelan sembari terisak.
Teror menyeramkan makhluk juga tidak luput setiap harinya, Brama menyerang mental Angga seperti Angga melakukannya kepada Audrea, membuat gadis itu jadi selalu was-was terhadap sekitar. Menjadi manusia paranoid adalah hal menyebalkan, di mana mental korban tidak akan pernah tenang dengan apa yang ia alami.
Kini Angga menangis sejadinya. Memandang takut ke arah makhluk berdiri menjulang tinggi, badannya berbulu dan giginya bertaring panjang disertai mata melotot menyiratkan amarah.
"Aku bunuh atau mati sendiri?" ucapnya memberi pilihan.
Jelas Angga terkesiap secara spontan menggeleng, dan berucap lirih, "Mohon maaf aku! Aku janji enggak akan ganggu Audrea lagi!"
"MANUSIA HINA! KAMU PANTAS MATI!"
Sret ....
Mata Angga mendelik sempurna, darah menggenang di lantai dan menodai kasur. Sekali lagi, Makhluk itu mencabik-cabik badan Angga setelah memenggal kepalanya.
Kepalanya pun terputus dan menggelinjang tepat di kaki makhluk tersebut. Di injaknya kepala di bawah kakinya. Mulut Angga sempat bergumam tak jelas ketika kepala dan badannya terpisah.
"Ma— maa," gumamnya lalu kerja otaknya mulai berhenti.
Makhluk tadi bersedekap dada, ia berbalik dan menghilang. Tugasnya sudah selesai membasmi satu hama ketiga, sisanya masih sulit ia hadapi.
Di lain tempat, Brama menekan emosi dan kesabarannya. Menyelamatkan Audrea bukan perihal mudah, kalau tidak berhasil maka ada nyawa yang akan dibayar, entah itu dirinya atau Audrea sendiri.
"Padahal kita udah memusnahkan Lastri, tapi malah Audrea pergi begitu aja. Berasa sia-sia!" gumamnya kesal.
Khodam-nya pun muncul lalu berceletuk, "Tuan ... jangan gegabah jika kamu ingin masuk ke dunia gaib itu. Mungkin saja kamu bisa masuk, tapi belum tentu bisa keluar."
Brama tak menjawab, ia membenarkan ucapan khodam-nya.
"Khodam miliknya tidak bisa masuk karena ia sudah membuat kesepakatan dengan leluhurnya, jadi kemungkinan Audrea akan menghadapi semuanya menggunakan kekuatannya sendiri," tambahnya memberitahu.
"Kamu dapat informasi dari mana?" tanya Brama mengintimidasi.
Khodam pendamping miliknya pun menjawab, "Aku diperingati olehnya langsung dan dia memberi penjelasan, manusia akan mudah terjebak di sana, jadi kesempatan untuk keluar sangatlah kecil."
"Hmm, awasi kehidupan keluarga yang bernama Rafli." Makhluk itu mendengar perintah tersebut mendengus kasar, matanya menajam seketika.
"Kenapa?" tanya berapa heran.
__ADS_1
"Mereka bahkan memiliki khodam yang kuat, kedua orang tua bocah itu sudah lama menganut ilmu spiritual sejak kecil. Membuat mereka memutuskan untuk menikah dan menutupi bersama kelebihannya," ungkap khodam milik Brama yang lagi dan lagi membuat Brama terperangah.
Brama menggeleng sambil tertawa kecil, sungguh peka khodam-nya ini. Mendeskripsikan bagaimana pintarnya dia mengais informasi amat baik, kemudian ia mengangguk pelan, lalu memandang bangga sembari tersenyum miring.
"Apa ada lagi?"
Makhluk tersebut menampilkan seringaian. "Rafli memiliki wadah dan daya spiritual paling tinggi diantara ketiganya, bukankah kita harus menjadikannya umpan, kalo kamu mau pujaan hatimu selamat, Tuan?"
Senyum miring itu luntur, terganti dengan perasaan was-was. Bisa saja nanti Audrea malah jatuh hati kepada Rafli yang telah menyelamatkannya, bukan dirinya.
"Kita hanya mengaktifkan kekuatan dalamnya dan jangan khawatir, setelah tugas bocah itu selesai, kita habisi dia atau kalo perlu jebak sekalian agar dia enggak mengganggu kamu," kata khodam-nya memberi saran.
"Hah ... ya udah, kita akan atur semuanya. Semoga aja sesuai dengan rencana," putus Brama tatkala menyetujui perkataan sang khodam.
***
"Kamu lagi enggak ngepet 'kan, Fli?" tebak sang ayah curiga.
Sebab anaknya terlalu santai, tapi yang selalu saja mengalir ke rekening anaknya itu. Seakan menyimpulkan Rafli telah bangkrut karena melihat kemalasan sang anak. Sedangkan Rafli berdecak kesal, sudah beberapa kali ia dituduh yang tidak-tidak oleh ayahnya sendiri.
"Kerjaan ya emang gitu, anak kita tuh punya bawahan. Jadi bisa deh ngandelin pegawainya," sindir istrinya menyela.
Rafli tersenyum culas. "Papah itu selalu di rumah Mah, jangan kaya gitu."
Kepala keluarga itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal, anaknya berkata bohong, padahal dia tahu kebenarannya. Demikian pula sang istri semakin tersulut emosi, membuang pandangannya dan menatap ke arah santapannya.
"Udah deh, lanjut makan. Jangan ribut di meja makan. Rafli! Kamu jangan mancing!" lerai sang ayah pada anaknya.
Pundak Rafli bergidik acuh, menyuap makanan ke dalam mulut dan menikmati masakan ibunda tercinta. Suasana juga mulai hening, hikmatnya tanpa perdebatan membawa ketenangan.
Beberapa menit kemudian mereka selesai bersama, kepala keluarga itu menoleh ke arah istrinya. Seolah mengerti, istrinya selaku ibu dari Rafli mengangguk serius.
Baru ingin bangkit suara sang ayah keluar, memerintahkan Rafli untuk kembali duduk tenang. Bantahan tidak terlontar, namun mimik wajah kebingungan sangat ketara.
"Sementara waktu jangan keluar rumah sembarangan. Kalo mau keluar harus sama Mamah," papar ayahnya semakin membuat Rafli keheranan sekaligus penasaran.
"Ya ampun Pah. Aku bukan anak kecil lagi, kali. Jangan aneh-aneh deh," tolak Rafli mentah-mentah.
Sang ibu menghembuskan napas pelan dan beralih merespon, "Ini demi kebaikan kamu sayang."
"Jawab aja, kenapa?" tanya Rafli.
__ADS_1
"Kekuatan spiritual kamu sangat tinggi, memancing berbagai macam makhluk. Apa lagi kamu belum bisa melindungi diri sendiri, karena kemampuan itu belum aktif. Jadi, tolong dengarkan kami, Nak!" pinta ayahnya sendu.
"Bukannya Papah enggak percaya begituan?" tanya Rafli menyudutkan.
Ayahnya menggeleng cepat. "Semua ada alasannya Nak. Jadi bagaimana, kamu bakalan menuruti keinginan kami 'kan?"
'Hal gila apa lagi? Et dah, gini amat hidup gue!' keluh Rafli membatin.
Berat hati ia mengangguk ragu, mengabaikan permintaan kedua orang tuanya sembari memohon sangatlah tak pantas.
Mata Rafli menatap mereka bergantian lalu tersenyum hangat. "Aku nurut aja deh, asal jangan dijodohin aja setelah ini," guraunya mengundang tawa kedua orang tuanya.
Pikiran mereka berkecamuk, masing-masing mempunyai pemikiran yang bercabang menghadapi hal besar. Menjaga Rafli dalam penjagaan ekstra kembali lagi, menjauhkan anaknya dari hal negatif.
Ibunya memandang teduh kepada anaknya, ada rasa bangga karena Rafli sangat penurut di zaman di mana kebanyakan kaum milenial menjadi pembangkang di depan orang tuanya.
***
Sesosok makhluk mengawasi rumah Rafli, tangan ditaruh di belakang pinggang dan tangan satunya memegang tongkat. Ia mengetuk pelan, menyelimuti sekeliling rumah menggunakan kekuatannya, kemudian dirinya melangkah menjauhi pekarangan rumah.
"Matur nuwun, Mbah. Aku bisa ngurusi majikanku dhewe," tegur makhluk dibelakangnya yang berwujud harimau Jawa.
(Terima kasih, Mbah. Saya bisa menjaga majikan saya sendiri).
Khodam Audrea membalik tubuhnya perlahan, kepala menunduk menghormati siapa yang menegurnya.
"Aku mung nindakake amanah," sahutnya sopan tanpa mengurangi rasa hormat.
(Saya hanya menjalani amanah saja).
"Pramila kula nyuwun agunging samudra pangaksami, mugi panjenengan sampun ngantos gampil klentu."
(Jadi saya mohon untuk Tuan, supaya enggak mudah tersinggung).
Harimau itu mengaum, ia duduk dengan kewibawaannya di depan khodam pendamping Audrea. Matanya masih menatap tajam, kepalanya mengangguk menyetujui.
"Baiklah, liyane bakal dakurus. Dadi sampeyan bisa pindhah saiki, pikirake urusan sampeyan dhewe," balasnya berwajah datar.
(Baiklah, sisanya saya yang akan mengurusnya. Jadi kamu pergi sekarang, urus kepentingan kamu sendiri).
Mendengar itu, dirinya seperti sedang diusir. Mengangguk kecil sebagai jawabannya, ia pun menghilang dari mata harimau tersebut. Sedangkan harimau Jawa itu bangkit lalu melangkah masuk, lenyap perlahan begitu saja.
__ADS_1
Karena tadi terlalu serius, mereka berdua tidak menyadari bahwa ada satu sosok menguping percakapan tadi. Makhluk itu menyeringai lebar dan tertawa tertahan.
Dia bergumam, "Kabar kecil yang menarik."