
Audrea menangis sejadinya, relung hatinya amat sesak dan sedih. Semua yang ia alami hanya ilusi, rindunya semakin membuncah mengingat wajah Rafli dan teman-temannya. Bahkan ia tidak tahu bagaimana kabar pemuda itu selama tidak ada dirinya.
"Udah Dre, bukan waktunya untuk kamu nangis. Aku enggak tau apa yang makhluk itu perbuat, tapi kalo kamu begini terus, tugas kita ke sini akan memakan banyak waktu lagi nantinya!" tegas Yuda mulai bosan.
Kepala gadis itu mendongak, ia menghapus air matanya secara kasar.
"Ya udah kita lanjut. Jaraknya sekitar beberapa meter lagi," sanggah Audrea dan bangkit.
Tak lupa ia meraih tangan Yuda guna menggandengnya lagi, Yuda diam saja selama tidak menyinggung perasaan Audrea. Kini keduanya berjalan setelah beristirahat sejenak mengumpulkan tenaga kembali, walau ada rasa lapar di perut mereka, mereka menahannya sekuat mungkin.
Belasan menit terlewat, kini Audrea memeriksa kembali petanya. Kembali menatap tajam ke arah depan, di sana ada sebuah candi persis seperti candi di dunia nyata yang ia masuki sebelum datang ke dunia ini.
Kepalanya menoleh ke Yuda, pria itu juga heran melihat kesamaan tersebut dan ikut mengalihkan pandangannya ke Audrea yang juga menatapnya.
"Kita berpikiran sama?" tanya Yuda dibalas anggukan.
'Di sini, akan berakhir Yud,' gumamnya dalam hati.
Mengingat pesan sang khodam, Audrea melangkah maju dan berhenti. Ia pun bersimpuh sambil membacakan mantra kejawen, menggigit tangannya begitu keras hingga terluka, meneteskan darahnya di depan pintu masuk.
Yuda melihat pemandangan itu membulatkan matanya, gadis pujaannya melukai diri sendiri guna dapat tetesan darah. Perlahan muncul kabut tipis mengelilingi mereka, kaki Yuda menghampiri Audrea, namun naasnya ia terpental saat ingin menyentuh pundak Audrea.
Gadis tersebut bangkit dan mengalunkan tembang Jawa kuno yang tidak diketahui siapapun. Yuda kembali ingin meraih Audrea dan hasilnya ia terhempas untuk kesekian kalinya.
"DRE! BERHENTI, APA YANG KAMU LAKUIN!" teriak Yuda lantang.
Kepalanya menoleh memandang Yuda sendu, mengulurkan tangan memberi gestur supaya pria ini maju melangkah. Tanpa berpikir panjang Yuda mengikuti saja, anehnya tidak ada reaksi seperti tadi.
Mulut Audrea berhenti mengalungkan tembang Jawa. "Kita bisa masuk sekarang, jangan sampe ke pisah kalo udah ada di dalam."
"Iya Dre, tapi maksud kamu tadi apa ya, nyanyiin tembang Jawa pengorbanan?" desak Yuda penasaran.
"Bukan apa-apa, ayo Yud. Waktu kita enggak banyak," ajak Audrea tak mengindahkan pertanyaan Yuda.
Audrea hendak melangkah, namun Yuda mencekal pergelangan tangannya. "Ada apa lagi?" tanya Audrea.
"Apa selama ini kita punya batas waktu di dunia ini?" tanya Yuda balik secara serius.
Dengan berat hati kepala Audrea mengangguk. Cekalan di pergelangan tangannya mengendur, gurat kecewa tersirat di wajah Yuda. Padahal ia hanya bercanda kalau ingin terjebak bersama Audrea, bukan berarti harus di tempat terkutuk ini.
"Kenapa enggak kasih tau sedari awal? Bahkan kita belum tau makhluk apa yang dihadapin nanti di dalam sana, Dre?" sentak Yuda frustasi.
"Sekarang bukan saatnya berdebat, Yud. Sebaiknya kita segera masuk!" bentak Audrea tanpa sadar. Refleks ia meraup wajahnya kasar, menghembuskan napasnya karena lelah.
Yuda berdecak, "Jawab ... berapa tenggat yang dikasih tau Mbah?"
__ADS_1
"Tiga hari, Yud. Besok hari terakhir, makanya kita harus cepet," desak Audrea kembali. Mengabaikan tatapan tajam Yuda sudah melunturkan kelembutannya.
Mau tidak mau Yuda menggenggam tangan Audrea lagi, waktu mereka tidak banyak, tapi Audrea merahasiakan semuanya. Entah ada kejutan apa yang tak dia tahu lainnya. Mulutnya tertutup rapat seakan terkunci dan memberi kode supaya Audrea berjalan terlebih dahulu.
Keheningan menyapa, keduanya sama-sama terdiam seribu bahasa. Yuda baru kali ini dikecewakan oleh sang pujaan hati untuk pertama kalinya, menaruh kepercayaan dan selalu berusaha jujur kepada Audrea ternyata itu masih kurang.
Ia jadi berpikir, mungkin saja Audrea memang tidak menganggap niat baiknya dari hati. Mengabaikan jelas bagaimana ia memperlakukan Audrea secara sepenuhnya, imbalan menghargai dirinya pun tak ada.
Manik indah itu selalu tertuju kepada satu eksistensi manusia di sampingnya. Yuda menelan pil pahit kehidupan kembali, memperjuangkannya sama saja bagai makan buah simalakama.
***
"Mah ... itu kucing kita ke mana ya?" tanya Rafli pada ibunya.
Kening wanita paruh baya itu berkerut kasar karena keriput, kucing? Setahunya keluarga mereka tak pernah memelihara seekor hewan.
"Dih, tanya malah diem. Kucing kita ke mana, Mah?" decaknya kembali bertanya.
"Lagian kamu aneh, sejak kapan di rumah ini ada kucing?" sewot sang ibu bingung bukan kepalang.
Wajah tampan itu tanpa dosa menjawab, "Bulan kemarin. Itu 'loh, di maung."
Loading ....
Tak ....
Rafli mengusap kepalanya yang terasa ngilu dan ia meringis, "Aww ... Mah, kira-kira dong kalo mau jitak. Kode dulu kek!"
Akibat terlalu gemas ibunya melengos, menonton kembali acara televisi. "Siapa suruh songong? Kamu ini kerjaannya bercanda mulu!"
Mata Rafli berputar jengah, ia mendengus sebagai tindakan merajuk.
"Aku cuma mau serius sama Audrea," cicitnya pelan.
Angan merindukan sosok gadis cantik terbayang di benaknya, bagaimana cara dia tersenyum manis dan tertawa serta menghiburnya di saat kondisi terpuruk.
Mimik wajah Rafli semakin suram dipandang sang ibu. Ibunya menghela napas panjang dan berpindah duduk di samping sang anak, mengusap lembut pucuk kepala anaknya.
"Sabar ya, nanti Audrea pasti pulang kok. Mbah lagi bertapa, makanya enggak keliatan, dia bertapa untuk menambah kekuatannya. Beliau akan membantu membawa Audrea kembali," ungkap ibunya menatap lamat Rafli.
Rafli menoleh, ia mengerjapkan matanya penuh binar. Menangkup tangan sang ibu.
"Beneran Mah? Mamah enggak boong 'kan?" tanya Rafli memastikan.
Ibunya mengangguk pelan sembari tersenyum, lalu memeluk Rafli sambil menepuk punggung anaknya yang bergetar itu. Begitu pula Rafli, ia membalas pelukan ibunya sangat erat, menumpahkan kelegaan yang ia harapkan selama ini.
__ADS_1
Asanya hampir terwujud, gulir kehidupan silih berganti tiada henti. Rafli selalu menunggu momen ini atau ia tinggal berpasrah kepada Sang Pencipta alam semesta di dunia, tentang bagaimana kegundahan hati menyerang tanpa jeda.
Pikiran sering kali melanglang buana, karena hampir menginjak tiga bulan setengah Audrea pergi tanpa kabar untuk kembali. Khodam pendampingnya pun menjaganya dari jauh guna mencegah hal yang tidak diinginkan.
"Mah ...," panggil Rafli lirih bersama suara parau. Ia melepas rengkuhan hangat tersebut, menunduk dalam menghapus jejak air mata.
Hati ibu mana yang tak berdenyut nyeri melihat anak semata wayangnya terpuruk? Pasti semuanya akan merasakan, hanya dirinya tempat bercerita sang anak sejak kecil. Menumpahkan segala keresahan atau kebahagiaan, ibunya adalah tempat berbagi.
Dengan lemah sang ibu mengangguk dan Rafli bersuara, "Aku mau satu permintaan."
Mulut pria itu berucap sambil mengeluarkan ingus dari hidung mancungnya menggunakan tisu di depan mata. Sebisa mungkin sang ibu menahan diri untuk tak tertawa lepas, takut anaknya tersinggung.
"Kamu minta apa, Nak?" tanya ibunya mengusap punggung Rafli.
Rafli mengangkat pandangannya, mereka bersitatap. Tiba-tiba saja Rafli cemberut dan ia menangkup kembali kedua tangan ibunya, sesekali ia tahan cairan di dalam hidungnya.
"Mau nikah sama Audrea!" paparnya merengek membuat ibunya melongo tak percaya.
Tangan Rafli disentak kasar. Ibunya membuang pandangannya ke arah lain, bisa-bisanya sang anak memikirkan hal seperti itu disaat momen sedih. Rafli memang perusak suana bagi sang ibu.
"Kok diem, Mah?" Rafli menggoyangkan lengan ibunya, berharap direspon. Tapi ibunya terus saja terdiam tak menggubris permintaannya, padahal ia hanya ingin menikah dengan Audrea seorang. "Ya ampun, Mah!"
"Ih ... berisik amat! Orangnya belum pulang juga, minta nikahnya nanti aja, dasar perusak suana!" geram sang ibu seraya meraup wajah tampan anaknya yang sangat menyebalkan itu.
Rafli berengut kesal. "Lagian di diemin aja sih, punya anak ganteng yang lagi ngomong di anggurin, aku 'kan bukan Papah si manusia kutub!"
"Heh ... mulutnya! Mandi sana udah sore, bujangan jam segini belum mandi," usir sang ibu.
Hidung mancung Rafli langsung mengendus ketiaknya dan bagian lainnya. Ia merasa tidak mencium bau aneh, justru ia mencium aroma wangi, ya baginya.
"Enggak bau, ah," gumam Rafli masih terdengar oleh telinga tajam ibunya.
"Astaga. Kamu enggak bisa ciumnya, tapi orang lain juga punya hidung. Hidung kamu yang bermasalah," seloroh sang ibu gemas.
Bibirnya mencebik, ia bangkit dan berjalan menuju kamar meninggalkan sang ibu yang mengoceh. Berdebat dengan ibunya hanya membuang tenaga, 'the power of mother' benar adanya.
Rafli memasuki kamar. Menyalakan saklar lampu, berjalan ke arah lemari hendak menyiapkan baju ganti. Namun keningnya berkerut hingga garis alisnya terlihat menyatu, ia mengucek matanya cepat.
Tersadar akan sesuatu secara tiba-tiba, di pinggiran atas dan pinggiran lemari lainnya terdapat ukiran kayu seperti tulisan Jawa kuno, aksara kawi.
Setahunya aksara Jawa kuno adalah aksara historis yang digunakan di wilayah Asia Tenggara maritim khususnya di Pulau Jawa sekitar abad ke-8 hingga enam belas. Dulu sekali, bahasa tersebut adalah bahasa Jawa kuno sebagai alat komunikasi dalam masyarakat, namun disebut juga sebagai bahasa mati.
Tapi bodohnya Rafli, ia tidak mengerti bahasa tersebut. Sekilas ingatan di kampung halaman Audrea pun terlintas di benaknya, lemari serupa berukiran Jawa juga ada di tempat tinggal Audrea.
Serupa pula ada di rumah Audrea yang di Jakarta. Ia merasa seperti menemukan puzzle yang berserakan ke mana-mana.
__ADS_1
"Kayanya aku harus cari tau maksud semua ini. Enggak mungkin kalo cuma kebetulan semata," gumam Rafli memandang tajam ke ukiran kayu.
Dua hal yang ia tahu saat meneliti kembali sambil meraba kata. "Gelar ... jagad?"