
Dokter memeriksa keadaan Bayu, menyatakan jantungnya sedikit lemah, dianjurkan untuk di rawat di rumah sakit, mendengar kata rumah sakit membuat Bayu menolak keras. Dokter juga mengatakan tekanan darahnya lumayan tinggi, luka di leher mengakibatkan pernapasannya sedikit terganggu.
Karena pria manis ini tidak mau digiring ke rumah sakit, mau tak mau Audrea memutuskan merawatnya di rumah dan sang dokter tak lupa memberikan resep obat untuk dibeli di apotek terdekat sesuai anjuran darinya.
Audrea mengangguk saja sebagai jawaban. Dokter itu ia bayar dan mengucapkan terima kasih sebelum sang dokter benar-benar pergi, sedangkan Audrea mendongak melihat langit masih meneteskan air hujan.
Dokter tadi pun ia antar sampai depan rumah saja, melenggang meninggalkan pekarangan rumah Audrea bersama mobilnya. Di dalam kamar, Bayu bergerak gelisah.
Tidurnya terasa terganggu oleh tetesan air mengenai keningnya, ia mengira bahwa itu akibat atap yang bocor. Namun lama-kelamaan dirinya semakin menggeliat tidak nyaman, dengan mata masih terpejam ia bangun sambil mengusap keningnya.
Kemudian ia membuka matanya perlahan, menatap dan memfokuskan penglihatannya. Tangannya seketika bergetar, jantung berdetak lebih cepat tak seperti biasanya. Sekuat tenaga ia menahan posisi kepala guna tidak menengadah ke langit kamar.
Kriet ....
Audrea muncul menimbulkan perasaan lega. "Mas, kok udah bangun aja?"
"Ngantuknya hilang, Dre," ucap Bayu berbohong.
Langkah Audrea semakin mendekat, menerbitkan sebuah senyuman di wajah Bayu. Gadis itupun sama halnya, berjalan mendekat seraya melemparkan senyum kecil dan membungkuk tepat di telinga Bayu.
"CEPET NGALIH!" teriaknya lantang.
(Bergerak cepat!)
Sontak saja Bayu terlonjak kaget, tapi saat ia melirik ke arah Audrea, gadis itu menghilang dengan bersama pintu terbuka setengah. Napasnya memburu, gejolak rasa takut akan sesuatu menghantuinya.
"Sial! Bisa-bisanya pas aku lagi lemah, malah mudah kena teror!" rutuknya kesal memukul kasur.
"Mas ...," panggil Audrea mengalihkan perhatiannya. Kepala Audrea menyembul di sela pintu. "Kamu abis keluar? Pintunya terbuka soalnya."
"Iya, tadi abis keluar sebentar ke kamar mandi. Maaf ya, aku gak langsung tutup pintunya, soalnya tadi kelamaan berdiri pusing banget." Audrea membuka lebar pintu itu sepenuhnya, tak lama gadis itu mengangguk dan berjalan menuju Bayu.
__ADS_1
"Lain kali kalo mau ke kamar mandi panggil nama aku aja, takutnya Mas tiba-tiba pingsan."
Bayu tersenyum geli, gadis ini sungguh mencemaskan dirinya. Ia saja belum tahu kondisi tubuhnya sendiri membuat Audrea mencebik kesal.
Ia berucap, "Beneran aku bisa sendiri. Udah gede juga, masa iya ke kamar mandi dianterin sih?"
"Seterah deh, yang jelas Mas Bayu harus banyak istirahat. Jikalau nanti aku kerja duluan, Mas juga gak bisa seenaknya kerja, karena jantung Mas Bayu lemah. Makannya aku khawatir," jelas Audrea membuat Bayu mengangguk mengerti.
"Aku semakin tambah enggak enak. Malah sekarang jadi beban kamu, maafin Mas ya, Dre? Mas seharusnya gak ikut ke Jakarta," sesal Bayu menunduk.
Audrea jadi serba salah, bukan itu bermaksud membuat Bayu tak enak hati. Ia hanya khawatir oleh pria yang sudah dirinya anggap layaknya seorang kakak, Audrea beralih duduk di samping Bayu, menangkup tangan pemuda ini penuh perhatian.
Ia menghembuskan napasnya pelan. "Mas, jangan merasa jadi beban. Justru aku bersyukur Mas bisa keluar dari desa itu, di sana Mas juga udah gak punya sanak keluarga atau saudara. Diliat juga warga desa seperti menjauhi Mas, Mas harus bertahan dan aku akan selalu di samping Mas Bayu ketika dibutuhkan. Jadi jangan menyalahkan diri sendiri."
Hati Bayu menghantar kehangatan, sudah sangat lama sekali tidak ada orang memperhatikannya. Walau ia tahu penyebab utama mengapa warga desa Banyu Hilir lebih memilih menjauh, namun ia tak akan ceritakan itu.
"Terima kasih, Audrea. Kamu gadis baik, aku bersyukur bisa kenal kamu," ungkap Bayu tersenyum manis.
Gadis di sampingnya mengangguk dan menyahut, "Sekarang ... Mas punya aku, di sisi Mas Banyu.
"Ya, aku bersungguh-sungguh."
Bayu merentangkan kedua tangannya lalu meminta, "Beri aku pelukan, siapa tau besok sembuh."
"Hahaha ... ada-ada aja. Sini aku peluk!" seru Audrea menyambut.
Tangan Bayu mendekap erat tubuh Audrea, tak menyangka bahwa dirinya bisa meminta pelukan hangat. Ada letupan bahagia menggelitik relung hati, Audrea adalah gadis yang pantas bersanding dengannya, tidak peduli apapun rintangan itu. Pastinya Bayu akan menghadapi dan menghancurkan mereka yang ingin merebut sumber kebahagiaan, dunianya.
'Kamu hanya milikku, selamanya,' bisiknya membatin.
***
__ADS_1
Seorang pria sedang menggelontorkan dana guna mengakuisisi sebuah perusahaan serta menjatuhkannya, agar mudah diambil alih oleh dirinya. Mau seberapa banyak jumlah uang, ia tak peduli, sekarang prioritasnya adalah menjadikannya sebagai anak perusahaan untuk bagian cabang.
Hah ... kalian pastinya tahu siapa orang itu.
Yap! Ialah Bramantyo Putra Atmaja, mantan kekasih Audrea— ralat, mantan bos.
Ia gunakan segala kekuasaan yang ia punya, tak lupa uang pun turut turun pastinya. Ini semua demi Audrea, ia ingin memiliki perusahaan itu karena sedang di incar oleh gadisnya. Jadi dengan berani dan penuh tekat, dirinya meruntuhkan para kepercayaan penanaman pemilik saham.
"Sudah sore ternyata," gumam Brama mengecek waktu di jam mahal yang melingkar apik di pergelangan tangannya.
"Tuan, saya mempunyai informasi," ucap sang khodam muncul di belakang Brama.
Tanpa menengok Brama bertanya, "Apa itu?"
"Penjaganya telah dikunci di dunia gaib, tempat musuh bebuyutan keluarganya." Brama menggelung baju ke atas lengannya, dirinya bingung sesaat bersama kening yang berkerut.
Ia menoleh dan menatap tajam lawan bicaranya. "Ini karena pemuda itu mendapatkan pusaka terlarang, benda itu benar-benar hilang. Kita harus bertindak, atau Tuan dapat dengan mudah disingkirkan," jelas khodam-nya memberitahu.
Tangan Brama mengepal kuat, duduk kembali ke singgasananya.
"Berarti kemarin orang itu ada di rumah Brama sesuai tebakan aku, benar begitu?" Sang khodam berdeham singkat membuat Brama semakin terbakar api kemarahan.
"Yuda ... dia disingkirkan secara tak terhormat, dituduh dan dicampakkan," tambah khodam-nya.
Brama menoleh ke samping, tapi tidak sampai menengok ke belakang. Dirinya bersuara, "Tunjukkan cara memperkuat ilmu, sebelum bulan purnama tiba. Kita harus lebih kuat, kalo perlu cari benda pusaka yang kekuatannya serupa atau mendekati, secepatnya."
"Sepertinya ada, akan saya Carikan sesuai keinginan anda, Tuan!" seru sang khodam lalu menghilang dari kegelapan.
Brama kembali memeriksa waktu, masih ada kesempatan menyembunyikan Audrea. Bulan purnama menjadikan suatu tumpuan tepat untuk melakukan ritual, bagi mereka yang ingin menjalani suatu sesembahan ataupun lainnya.
Dirinya bangkit dan melenggang pergi, saat sampai di lobby kantor beberapa pegawainya menunduk hormat penuh tatapan binar. Berbeda oleh Brama, ia sedang menampilkan wajah datarnya, biasanya ia memasang topeng. Menunjukkan betapa ramah dirinya serta membuat mereka semakin menyanjung dirinya, sungguh Brama nampak seperti seseorang gila validasi.
__ADS_1
"Menjijikkan," gumam Brama tatkala melihat pegawai magang tersenyum genit dan menggunakan pakaian ketat.
"Aku harus memecat orang yang hanya bisa merusak citra perusahaan ini," lanjutnya menambah kecepatan langkahnya.