Perkara Gaib

Perkara Gaib
Yuda Yang Terjebak


__ADS_3

Makhluk itu berhenti berjalan, melepaskan cengkeraman tangannya di pergelangan kaki mayat tadi. Dia mengangkat pandangannya lalu melirik ke kiri dan kanan melalui ekor matanya, menelisik setiap sisi.


Seringaian muncul di wajah menyeramkan miliknya, dia mengambil pergelangan kaki mayat itu lagi dan menyeretnya kembali. Selagi tidak mengganggu, dia akan diam, sebaliknya pun seperti itu.


Audrea bernapas lega melihat kepergian wewe gombel, sudah lama sekali sejak ia pindah ke kota Jakarta tidak menjumpai makhluk di depannya ini. Kemudian ia menoleh ke arah Yuda yang berada di samping kirinya.


"Dia udah pergi, kita lanjut perjalanannya Yud," ajaknya menyadarkan Yuda.


Yuda yang ketahuan memperhatikan Audrea pun mengangguk kaku, ia menggandeng tangan mungil gadis itu. Melanjutkan perjalanan dengan hati berdebar, tapi baru dua langkah mereka menambah, langit malam berganti begitu cepat.


"Aku belum terbiasa sama semua ini," celetuk Audrea.


Pria di sampingnya mengangguk dan menimpali, "Di sini buat aku jantungan. Bulan muncul mendadak, terus matahari justru timbul perlahan."


"Kira-kira kita udah pergi berapa lama ya, Yud? Di sini dua hari, di sana berapa hari ya?" terka Audrea berpikir.


"Jelasnya waktu di sini lebih lambat, Dre."


"Ujung sana kok kaya ada seseorang ya?" tanya Yuda mengalihkan topik, namun benar faktanya.


Mata Audrea memicing guna memperjelas penglihatannya, mereka berjalan hanya menggunakan sinar rembulan berwarna merah. Jadi sedikit sulit disaat kondisi terdesak kalau seandainya mereka berpisah.


Sosok wanita berdiri membelakangi keduanya, tembang Jawa mengalun mendayu. Ada merdu dan mencekam di satu tempat. Yuda refleks menghentikan langkah, menarik tangan Audrea untuk melangkah mundur.


Kepala itu akhirnya menoleh dengan tubuh masih membelakangi mereka, mata melotot dan wajah hancur itu menunjukkan ketidaksukaan terhadap keduanya. Yuda menelan ludah susah payah, Audrea cukup terkejut melihat sosok tersebut.


Pikirannya berkelana di saat umurnya menginjak usia remaja, tepat enam belas tahun. Itu adalah sosok yang menempel kepada sang ayah hingga ajal menjemput.


"Hihihi ... di sini rupanya," ucapnya bersuara serak.


Tangan gadis itu mengepal kuat. Menahan segala emosi dan dendam yang pernah menumpuk lalu menghilang seiring waktu, namun kini semua itu datang ketika memandang makhluk di depannya penuh amarah.


Sosok kuntilanak kepada Yuda, sontak membuat Audrea menggeser posisi di hadapan. Kuntilanak itu terkikik geli sembari menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Dia akan memiliki takdir mengenaskan, ya Audrea?" tanyanya menebak sekaligus mengejek.


Kerutan kasar timbul di kening Yuda, tidak mengerti maksud dari ucapan kuntilanak tersebut. Apa lagi melihat reaksi Audrea, wajah gadis itu nampak merah padam.


"Makhluk hina! Seharusnya kamu berterima kasih, karena dahulu aku gak memusnahkan kamu!" bentak Audrea dengan kabut dendam.


"Hey, bocah ... kamu dari dulu sampai sekarang juga tak akan mungkin bisa mengalahkan ku!" cibir kuntilanak itu lalu tertawa melengking.


"Hihihi ... cukup sampai sini kita saling menyapa, aku harus menyelesaikan urusan yang lebih penting!" sambungnya cepat.


Wuss ....


Sosok itu akhirnya pergi, Audrea jelas sangat dongkol karena makhluk tersebut seenak jidat menghilang. Ia memejamkan mata guna meredam emosi, Yuda memperhatikan saja tanpa ingin berbicara sepatah kata pun, takut jika semakin memperkeruh suasana.


Jadilah Audrea berjalan terlebih dahulu, melupakan janji kalau mereka akan selalu bergandengan tangan. Berbanding balik oleh Yuda, pria ini menghela napas panjang. Audrea melenggang begitu saja melupakan eksistensi dirinya.


'Gara-gara setan itu, memang dasar sialan!' batinnya mengumpat kesal.


Suara burung gagak mengiringi perjalanan mereka. Suasana yang hening tidak membuat Audrea ingin menggandeng kembali tangan Yuda. Ia berjalan sambil melihat peta yang disinari cahaya senter, walau baterainya seperti hampir habis, ia tetap menggunakannya.


"Audrea!" panggil Yuda lantang.


Kepalanya menggeleng dan menambah kecepatan larinya, sampai sosok sang gadis pujaan hilang termakan kabut. Akar pohon yang tak tahu datang dari mana muncul di permukaan tanah, membuatnya tersungkur hingga meringis.


"AUDREA, TUNGGU!" teriaknya lagi sekencang mungkin.


Hasilnya? Oh jelas, nihil.


Napasnya memburu dan terengah-engah. Yuda mengelap keringat dengan kasar, beberapa detik berikutnya ia tertawa miris. Memukul tanah dan merunduk.


"Sial! Aku dijahili," tebaknya.


Yuda mengangkat kepala, menoleh ke sana kemari mencari dalang dari terpisah dirinya dan Audrea. Pohon bambu di sekeliling bergerak bak tertiup angin kencang, hawa pengap melingkupi sekitar. Alarm bahaya berdering di otaknya, ia bangkit dan berancang-ancang.

__ADS_1


Menatap waspada tatkala suara cekikikan wanita mengelilingi pohon bambu.


"KELUARLAH, MAKHLUK RENDAHAN!" hina Yuda memancing lawan.


Brugh ....


Badan terlempar ke samping, ia kembali meringis merasa kesakitan yang luar biasa. Hendak ingin bangkit, tapi tiba-tiba saja satu makhluk menghentakkan kaki ke dadanya.


Darah kehitaman keluar dari mulutnya sembari terbatuk, kaki itu terus menekan dada Yuda tanpa iba. Mata merah menyala menyiratkan permusuhan untuk Yuda, pukulan di kakinya tidak ada rasa, baginya Yuda terlalu lemah.


"Kaya gini aja mau melawan ku? Apakah aku harus bangunkan dari mimpi mu, manusia jadi-jadian?" meliukkan kepala ke kiri dan kanan.


Yuda meludah ke samping lalu berdesis, "Seperti kamu yang bermimpi."


"Arghh!" Kaki itu kembali menekan dadanya, ia hanya bisa memandang sinis ke arah pelaku.


Di jarak jauh, Audrea menoleh dan membelalakkan kedua matanya mendapati Yuda tidak ada di belakangnya. Kepalanya ia ketuk pelan seraya merutuki kebodohannya sendiri, melupakan satu orang manusia dan mengingkari sebuah janji.


Dengan perasaan bersalah dan kekhawatiran, Audrea berbalik menyusuri jalan setapak yang ia lewati. Mulutnya juga tak berhenti istighfar bertujuan menenangkan pikirannya, samar-samar suara keributan terdengar di telinga.


Belum juga menuntaskan hasrat penasarannya, Audrea dibuat tersentak karena seseorang menepuk pundaknya. Dengan cepat ia berbalik badan, menjumpai pria yang sedari tadi ia khawatirkan.


Senyum lega serta bersyukur ia torehkan. "Alhamdulillah, aku kira kamu ke mana. Ketemu lagi akhirnya."


"Nyari aku? Maaf ya, tadi aku kebelet buang air kecil sebentar," sanggah pria di depannya sembari mengusap lengan Audrea.


Audrea mengelus dada pelan. Ia tersenyum kecil lalu membalas, "Iya Yud. Lain kali jangan pergi kaya tadi ya? Soalnya di sini aku cuma punya kamu."


"Hmm ... ayo kita lanjut," sahut sosok yang mengaku sebagai Yuda.


Tangan Audrea meraih tangan sang lawan bicara, menariknya lembut dan melangkah maju. Tanpa ia sadari orang di sampingnya ini menoleh ke belakang, melihat wajah pias Yuda yang tergeletak lemah dengan suara tercekat.


Dia melambaikan tangan sembari melempar senyum miring.

__ADS_1


"To—long—" Kata itu berhenti di tenggorokan. Matanya menatap nanar sang pujaan hati kian menjauh, air mata jatuh bersama meleburnya asa.


'Dia bukan aku, Dre!' teriaknya hanya bisa di dalam hati serta pikiran.


__ADS_2