Perkara Gaib

Perkara Gaib
Sosok Ibu


__ADS_3

Suara itu cekikikan menggelar memenuhi rumah, hanya Yuda dan Rafli saja yang bisa mendengarnya. Mereka pun bergegas menghampiri Audrea yang sudah tergeletak tak sadarkan diri, Anto juga ingin membantu tapi dicegah terlebih dahulu oleh Yuda.


"Kita istirahat di mobil aja," ucap Yuda disetujui Rafli.


Anto yang penasaran bertanya, "Mas ... si Eneng kenapa ya?"


"Cuma kecapean Pak," sahut Rafli.


Ia membalikkan badan melihat sang khodam milik Audrea berdiri di ambang pintu rumah, sosok tersebut mengelus dadanya dengan wajah sendu walau masih menyisakan keseraman di sana.


Alis pria itu bertaut, ia mencolek lengan Yuda guna meresponnya. Yuda baru saja merebahkan Audrea di dalam mobil dan langsung menoleh ke arah sang pelaku.


"Kenapa?" Dagu Rafli menunjukkan ke arah tadi.


"Kenapa di Mbah cuma ada di sana?" tanya Yuda heran.


Bahu Rafli terangkat singkat sembari menggeleng. "Enggak tau, seharusnya dia tadi dia langsung ke sini. Tapi gue perhatiin dari tadi, beliau hanya memperhatikan kita dari pintu."


"Kamu ngerasain apa yang aku rasa sekarang?" tanya Yuda kembali.


"Gue masih normal anjir!" elak Rafli salah paham sambil memeluk dirinya sendiri.


Yuda mendapatkan respon seperti ini berdecak kesal. "Bukan itu bodoh! Perasaan gusar," ralatnya memperjelas.


Sejenak wajah tampan Rafli berubah, air mukanya jadi serius. Ia mengangguk, lalu matanya melirik Audrea yang terbaring.


"Kita harus jaga-jaga," kata Rafli.


"Mbah juga kayanya enggak bisa bantu banyak di sini," timpal Yuda membaca situasi. "Beliau menyembunyikan sesuatu dari Audrea, Fli. Kamu jangan jauh-jauh dari aku atau Audrea di sini, bahaya."


Rafli sekali lagi mengangguk dan menghela napas panjang. Entah kenapa ia merasa seperti jadi beban di antara Yuda dan juga Audrea, kekuatan saja ia tidak punya. Hanya bisa membaca masa depan atau masa lalu, itupun kalau bisa setiap saat ia pakai. Tapi sayangnya, kemampuannya akan muncul di waktu yang tidak tepat.


Sang supir tidak ada di kemudi, Rafli tersadar dan hendak keluar dari mobil, tapi pergelangan tangannya dicekal Yuda.


"Jangan ke mana-mana, bisa dengerin gak sih?" geram Yuda.


"Tapi Pak Anto enggak ada. Dia tanggung jawab gue Yud," ujar Rafli tersirat khawatir.


Yuda seperti menimang sesuatu. Kemudian ia membuka pintu mobil dan berkata, "Jangan tinggalin mobil. Biarin aku yang cari Pak Anto."


"Hati-hati ya Yud."


Ia bernapas lega, karena Yuda mau membantu mencari keberadaan Anto. Perlahan ia mengantuk dan terlelap. Untungnya mobil dipasang pelindung oleh Yuda, dia tidak ingin kecolongan sedikit saja. Apa lagi Rafli kurang bisa diandalkan.


Beralih kepada Yuda. Pria ini berjalan sambil celingak-celinguk mencari Anto, kakinya melangkah menuju belakang rumah Audrea tanpa disadari. Barulah sosok Anto ketemu, dilihatnya orang setengah baya itu sedang berdiri membelakanginya dan menghadap ke arah kebun pisang.


Perlahan Yuda mendekati, lalu menepuk pundaknya.


"Pak Anto, kenapa di sini?" tegur Yuda.


Anto bergeming, gerak sedikit saja pun tidak sama sekali. Sekali lagi Yuda menepuk. Anto berbalik, cahaya senter handphone Yuda menyoroti Anto. Pria setengah baya itu menatap kosong ke arahnya, tangannya terangkat, jari telunjuknya mengacung ke arah Yuda, tepatnya di belakang.


Matanya mengikuti tangan Anto. Seketika ia membelalakkan matanya terkejut, ada satu sosok besar menyerupai pocong, setengah badannya tertimbun tanah dan setengahnya lagi menghadapnya.

__ADS_1


"Saya enggak ganggu kamu," kata Yuda sembari menarik lengan Anto menjauhi pekarangan belakang rumah Audrea.


"Audrea!" desis pocong itu menyebut nama.


"Kenapa harus dia? Ada urusan apa?" tanya Yuda perlahan.


"Dheweke dipilih dadi penganten ing tanah iki!"


(Dia terpilih menjadi pengantin tanah ini!)


Alis tebal Yuda bertaut, ia tidak mengerti maksudnya terpilih menjadi 'pengantin tanah ini', tapi yang jelas itu adalah kabar buruk bagi Audrea. Ia pun tidak menggubris di saat pocong itu memanggil nama Audrea lagi.


Berjalan dan menarik Anto lumayan kasar, sampai di depan mobil, ia menyadarkan sang supir. Tiba-tiba Anto memuntahkan cairan hitam, tengkuknya diusap pelan oleh Yuda sembari membaca sesuatu seperti mantra.


"Saya kenapa ya Mas?" tanya Anto kebingungan beserta merasakan pusing di kepala.


Yuda menggeleng menenangkan. "Enggak apa-apa Pak, tadi Pak Anto hanya pingsan sebentar. Istirahat Pak, kita masih harus tidur di dalam mobil."


"Iya Mas."


***


"Dia pulang ke kampung halamannya," lapor khodam milik Brama.


Brama tertegun. "Buat apa dia pulang kampung? Bukannya dia yatim piatu?"


"Menuntaskan permasalahan yang dibawa seseorang bernama Yuda dan mengakhiri teror dari sesosok roh jahat bernama Lastri," sahutnya membalas Brama.


Jam menunjukkan sepuluh malam. Brama memijat pangkal hidungnya, gadisnya itu suka sekali membuatnya kepikiran. Matanya beralih kepada sang khodam.


Ia bersandar pada sofa di kamarnya. Menghisap cerutu yang sempat ia diamkan, sensasi nikotin mampu menenangkan pikirannya. Kepulan asap mengudara bersamaannya sang khodam muncul menggaet calon korban.


Ekor matanya melirik sedikit, ia menghembuskan semua asap yang tersisa. Mematikan cerutu di hadapan Angga. Pria itu bergeming, pandangannya kosong dan sesekali melihat ke arah Brama.


"Angga ...," panggil Brama sambil menjentikkan jari.


Pemuda tersebut jadi sadar, matanya mengedar ke dalam ruangan. Berhenti saat Brama melangkah maju, otomatis Angga memilih mundur. Pikirannya kacau dan kalut, kebingungan menghampiri pikirannya.


"Hei, tenanglah," tegur Brama tersenyum miring.


Kepala lawan bicara menggeleng ribut dan menyahut, "Pak ... kenapa saya ada di sini? Bapak masih atasan saya 'kan?"


"Tentu aja masih dong. Jangan ketakutan begitu Angga," cibir Brama merendahkan. "Kita belum sampai di titik pentingnya. Jadi tenangkan diri kamu sebentar aja, kali aja saya berubah pikiran nantinya."


"Maksud Pak Brama apa ya? Saya juga enggak merasa melakukan kesalahan, kenapa harus diperlakukan seperti ini? Saya bisa menuntut Bapak," gertak Angga walau ada rasa takut.


Pria di depannya tertawa kecil. Angga terdiam kemudian dirinya kembali bungkam sesaat melihat sosok tinggi besar di belakang Brama, matanya berwarna merah menyala.


Lampu di ruangan itu memang remang-remang, sekilas taring keluar di kala mulutnya terbuka, Angga mengucek mata berkali-kali, mengkoreksi penglihatan kembali.


"Kamu enggak salah liat," ucap Brama duduk di sofa sembari menyalakan cerutu. "Selamat datang di neraka dunia!"


Whus ....

__ADS_1


Angin bertiup kencang, menabrak tubuhnya hingga limbung ke samping. Sekali berkedip ia di tempat yang berbeda, mengedarkan pandangannya ke sekeliling seperti hutan belantara. Tapi saat matanya samar-samar melihat ada sosok terbaring tak bergerak membuat jiwa penasarannya diuji.


Dengan sedikit keberanian Angga mendekat, cahaya dari obor samping tubuh itu mulai terlihat jelas. Tangannya menyentuh dan membalikkan tubuh tersebut yang hanya menyisakan kulit dan tulang.


Srek ....


"Mba— Mba Sarah!" Tawa dibelakang badannya sangat menggelegar memecahkan keheningan malam. Angga lupa Tuhan-nya siapa, sampai tidak tahu harus menyebut apa.


***


Audrea sedang berzikir sangat khusyuk sehabis sholat. Bibirnya mengeluarkan lafaz Allah dengan lembut, tak lupa tasbihnya ia gunakan sembari menyebut. Matanya yang terpejam menikmati waktu damainya terusik, ada hawa panas melingkupi seluruh belakang badannya.


"la ilaha illallah ... la ilaha illallah."


Jantungnya berdetak lebih cepat, suara zikir yang ia sebut diikuti oleh sosok di belakangnya. Audrea secara refleks berbalik, tidak ada satupun wujud di sana. Tapi saat ia menghadap ke depan lagi, dirinya di kejutkan makhluk berwujud kuntilanak berwajah hancur.


Darah di mukanya menetes dan dia tersenyum amat lebar memperlihatkan gigi bergerigi. Napas Audrea tercekat, badannya langsung lemas tak karuan. Tangan dengan kuku panjang mengelus wajahnya, matanya terpejam erat sambil berusaha istighfar dan membaca ayat kursi.


Kepala kuntilanak itu tepat di depan wajahnya, dia menggerakkannya ke kiri dan kanan sembari terkikik melengking.


"Cah ayu, Ibu kangen Nduk!" lirihnya bersuara serak.


Mata Audrea terbuka, matanya berkaca-kaca menatap sosok ibu yang melihatnya sendu.


"Audrea juga kangen Ibu." Ia memeluk erat tubuh itu, usapan lembut di kepalanya seperti dulu masih sama.


Tubuh Audrea jadi tertidur, usapan masih saja diberikan kepadanya. Lantunan lagu pengantar tidur yang dulu sering ia dengar kini dinyanyikan kembali. Audrea memejamkan matanya menikmati semua ini.


Tak lelo lelo lelo ledung ...


(Mari ku timang-timang engkau anakku)


Kepala dipangku, oleh sang sosok berwujud ibu. Ia menyamankan posisi tidurnya. Audrea terus mendengarkan nyanyian pengantar tidur tersebut sambil tersenyum kecil.


Cup menengo ojo pijer nangis ...


(Cup cup, jangan menangis terus)


Keningnya di kecup pelan, menambah ketenangan yang ia dambakan sejak beranjak dewasa. Ia terlena oleh semua ini, terlalu nyaman untuk di tinggalkan.


Anakku sing ayu rupane ...


(Anakku yang cantik)


Perlahan ia juga mulai menguap dan mengantuk. Melemaskan tubuhnya, kembali menikmati waktu bersama sang ibu.


Dadiyo pendekaring bangsa ....


(Jadilah pendekar bangsa).


Sampai Audrea tidak sadar kalau sosok berwujud ibu itu berubah kembali menjadi kuntilanak menyeramkan. Mata kuntilanak tersebut beralih melihat wanita tua berdiri di ambang pintu, raut wajah marah tersirat di sana.


Sang khodam mengetuk tongkat beberapa kali.

__ADS_1


"Setan kurang ajar! Aja ngganggu putuku!"' bentaknya.


Kuntilanak itu hany terkikik melengking, tangannya masih mengusap kepala Audrea. Lalu berkata, "Aja nesu Mbah."


__ADS_2