
Keberangkatan kembali menuju Jakarta dilakukan pada siang hari, Audrea tadi sempat beristirahat sebentar guna menetralisir rasa lelah yang mendatanginya. Untungnya ada Bayu di sampingnya, pemuda itu setia menemani sang teman.
Menjaganya dari ruang tamu setelah membereskan barang-barangnya. Ia ikut Audrea dengan beralaskan ingin merasakan jadi anak rantau, lagi pula Bayu sempat bilang kepada Audrea karena dirinya juga tak punya siapapun di desa.
Membuat Audrea mengiyakan tanpa berpikir panjang, berhubungan gadis itu tinggal sendiri di Jakarta, jadi iya setuju saja. Walau sedikit meragukan kemampuan temannya ini, Audrea mencoba menepisnya. Jakarta adalah ibu kota, terdapat banyak lapangan pekerjaan dengan pendidikan tinggi. Namun ia hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk sang teman.
"Kira-kira kita bakalan sampai jam berapa di Jakarta, Dre?" tanya Bayu.
Audrea yang sedang memperhatikan jalanan lewat kaca bis pun menoleh, melirik ke arah jam tangannya. Ia berucap, "Kemungkinan tengah malam. Diliat dari jalurnya, jalur ini pernah aku lewatin saat pergi ke Jakarta untuk pertama kalinya, jadi kemungkinan akan lama."
"Perjalanan kita panjang juga ya, aku gak nyangka bakalan merantau. Makasih ya, Dre. Berkat kamu aku bisa keluar dari kampung itu," ujarnya terdengar tulus.
"Ya ampun ... enggak usah makasih kali, Mas. Lagian apa yang ada di desa, sampai Mas ingin pergi dari sana?" Sontak saja pria di sampingnya seperti gemetar ketakutan, kepala Bayu celingukan memeriksa sekitar.
Keadaan dalam bis kini bersuasana hening. Ia memepetkan tubuhnya ke Audrea berbisik, "Akeh memedi!"
(Banyak setannya).
Kening gadis itu berkerut samar. "Bukannya dari dulu emang banyak, ya?"
"Sekarang memedinya beda, Dre," papar Bayu.
"Maksudnya beda, apa Mas?"
Tatapan Bayu berubah menjadi serius, matanya menilik dalam wajah cantik Audrea. Tangannya terangkat dan telunjuknya di taruh depan mulutnya sendiri, sebagai gestur diam.
"Setiap matahari tenggelam dia akan muncul, meneror siapapun yang ada di luar rumah," sanggah Bayu menekan salah satu kata. "Dia ada disekitar kita, mengikuti langkah kaki warga dan dia mampu meningkatkan kecemasan manusia."
"Kita akan kalah. Tapi hanya satu kunci memberhentikan teror," katanya masih memandang lamat sang lawan bicara.
Audrea meneguk air liurnya dan bertanya, "Apa kuncinya?"
Bayu mengangkat sedikit dagu Audrea, pria itu tersenyum miring.
"Dia ingin menjadikan kamu pengantinnya." Audrea membelalakkan matanya, tangannya mendorong paksa tubuh Bayu yang terlalu dekat sembari menepis tangan itu.
Audrea melayangkan tatapan sinis. "Kamarnya di sana, aku cape. Jangan berisik," selanya menjauh dan memasuki kamar.
Pintu itu terdengar terkunci dari dalam, sedangkan Bayu tertegun karena perilaku Audrea. Ada suatu rasa untuk saat ini tak bisa dijelaskan, lalu tak lama dirinya tertawa kecil dan tersenyum aneh yang sulit diartikan.
__ADS_1
Bayu melangkah ke arah kamar Audrea tepat di samping ruangan yang akan ia tempati, di depan pintu ia berhenti. Jarinya ia gigit paksa hingga darah menetes dan menuliskan sebuah kalimat di pintu, darah tersebut pun menyerap sampai benar-benar hilang. Pria itu tersenyum lagi, memilih memasuki kamar tamu.
Tulisan bertinta 'kan darah terpampang, seperti di bawah ini:
꧋ꦢꦶꦪꦩꦶꦭꦶꦏ꧀ꦏꦸ꧈ꦱꦺꦠꦺꦫꦸꦱ꧀ꦚꦄꦏꦤ꧀ꦱꦺꦥꦺꦂꦠꦶꦆꦠꦸ꧉
***
Whus ....
Harimau Jawa ini tengah bersemedi di alamnya. Semilir angin kencang menerpa keras seluruh tubuh, membuatnya membuka mata berkilat amat tajam. Hidungnya mengendus aroma asing dan seketika geraman tertahan tak ia keluarkan.
"Tulung putuku, makhluk kuwi pinter banget akting!" pinta seseorang di dalam pikirannya.
(Tolongin cucu aku, makhluk itu pintar banget).
Ia bangkit dan mencoba telepati kepada khodam Audrea, hasilnya nihil. Aliran energi wanita tua itu menghilang tanpa tersisa, seperti lenyap entah kenapa.
Di lain tempat. Rafli sudah tertidur pulas, begitu pula dengan kedua orang tuanya.
Bruk ....
Harimau itu duduk penuh kewibawaannya, ia menunggu ketiga orang di hadapannya sampai sadar betul mereka ada di mana. Salah satu dari mereka ya itu ibu dari Rafli tersadar terlebih dahulu, dia terlonjak kaget saat berhadapan oleh khodam-nya, dengan sigap dirinya menunduk hormat.
"Makhluk ana ing kene," ungkapnya tenang.
(Mahkluk itu ada di sini).
Mata wanita paruh baya itu akhirnya melotot, kemudian dia memukul kencang kedua pria yang masih terdiam, sesekali mereka hampir tertidur kembali.
"Audrea dalam bahaya!" pekik sang ibu sangat dongkol kepada anaknya. Yap, berhasil. Rafli langsung menegakkan badannya, menghampiri ibunya.
"Terus gimana, Mah?! Calon mantu Mamah dalam bahaya, tapi aku masih di sini!" panik Rafli.
Berbeda dengan sang ayah, ayahnya kembali terlelap bersandar pada pohon jati. Membuat istrinya selaku ibu Rafli berengut kesal.
"Dheweke ana ing omahe. Khodame ora ana," celetuk khodam sang ibu memberhentikan kepanikan Rafli.
(Dia ada di rumahnya. Khodam pendampingannya tak ada).
__ADS_1
"Si Mbah ke mana? Kenapa enggak jagain Audrea?" tanya Rafli beruntun khawatir.
Kepala harimau Jawa itu menggeleng. "Dheweke ilang, tenagane uga ora bisa dideteksi.
(Dia menghilang, energinya juga enggak bisa terdeteksi).
"Kayane ana kedadeyan, aku ora bisa nemokake dheweke," lanjutnya menambahkan semakin membuat Rafli melemas.
(Sepertinya terjadi sesuatu kepadanya, sampai aku tak bisa menemukannya).
Tubuhnya luruh, ia mengacak rambut hitamnya dengan frustasi. Meraup wajahnya juga dengan melampiaskan rasa bersalah, tak luput memukul tanah hingga terluka.
Sang ibu justru ikut terluka. Anaknya begitu mencintai sosok Audrea, gadis cantik yang mampu memikat hati anaknya. Ia mendekati Rafli, merengkuh tubuh bergetar sang anak bersama isakan kecil terdengar.
Rafli bersuara parau berucap, "Kenapa aku selalu enggak bisa jaga dia, Mah? Selemah itukah aku? Aku juga ingin melindunginya, aku mencintainya Mah."
"Tenang sayang, semu—"
"Iki dudu wektu kanggo nangis. Ngadega lan kuatake awakmu lan imanmu, amarga makhluk iki ing tataran jin, sing jelas luwih kuwat tinimbang kita khodam. Amarga dheweke duwe," sela harimau itu sekaligus menjelaskan.
(Ini bukan waktunya nangis. Bangun dan perkuat diri serta iman, sebab makhluk itu berada di tahap jin, yang jelas lebih kuat dari kami para khodam. Karena dia memiliki benda itu).
Ibu Rafli yang ucapannya dipotong dibuat penasaran dengan kata terakhir, benda itu? Kepala berpikir bercabang.
"Benda apa? Seperti semacam pusaka?" tebak ibunya.
Rafli pun nimbrung, "Kayanya iya deh Mah. Soalnya Audrea pergi ke alam gaib sana mencari suatu benda katanya."
Harimau Jawa itu bangkit, sosoknya gagahnya mengalihkan perhatian kedua beda generasi di depannya. Ibu Rafli ikut bangun dan membungkuk hormat.
"Ati-ati supaya bocah kasebut ora bali menyang desane. Apa wae sing kedadeyan sabanjure,
(Hati-hati agar anak itu tak kembali ke desanya. Apapun yang terjadi nantinya).
Tanpa mengatakan sepatah kata lagi, khodam sang ibu pergi secepat kilat. Begitu juga dengan mereka yang kini sudah kembali ke kamar masing-masing, kedua orang tuanya jadi istirahat kembali, namun Rafli enggan menutup mata.
Isi kepalanya ke sana kemari, kadang ia bingung sendiri, bisa-bisanya dirinya mencintai secara sepihak kepada Audrea yang jelas hanya menganggap teman dan tak lebih.
"I will always love you, till my last breath," gumamnya lirih menatap langit kamar.
__ADS_1
Rafli terpejam perlahan, air matanya menetes pelan. senyum kecil timbul di bibirnya, membayangkan wajah cantik Audrea, sungguh hatinya merindu kali ini.