Perkara Gaib

Perkara Gaib
Musuh Lama


__ADS_3

Audrea berupaya keras membuka pintu kamar itu, kepanikannya bercampur khawatir memikirkan sesosok Rafli. Atensi pria itu tak ia dapati di manapun, hanya kamar tamu yang ditempati Rafli 'lah pintu masih terkunci dari dalam.


Dengan kesal ia menggedor dan meneriakkan nama pemuda tersebut berulang kali, tapi nihil. Sahutan tak juga didapatkan. Audrea berhenti sejenak dengan napas yang tidak beraturan, ia mengedarkan pandangan ke penjuru sisi guna mencari alat untuk membuka pintu kamar.


Matanya jatuh pada benda keras di pojok ruang, sebuah tongkat besi baseball.


Brak ... brak ... brak ....


Kenop pintu kamar rusak dan terjatuh, langsung saja ia masuk. Ruangan itu kosong dengan satu bau anyir menyeruak masuk ke indra penciumannya. Kepalanya menoleh ke arah lemari, ada darah segar menetes di sela bagian bawah pintu, dengan perasaan tidak karuan ia melangkah gontai.


"Rafli ... lo di dalem?" tanya Audrea masih melangkah pelan. Sampai di depan lemari, jantungnya berdetak kencang, memompa aliran darah ke seluruh tubuh begitu cepat.


Tangannya terulur sembari gemetar. Keringat dingin juga jatuh menambah kesan takut menggerayangi hati.


Kriet ....


Brugh ....


"Hahh, Rafli ...." Badannya luruh seketika, ia membeku di tempat. Tangannya kembali terulur, menggapai tubuh sang teman yang jatuh terlentang di hadapannya.


Wajahnya terlihat pucat, di bagian perutnya ada luka menganga lumayan lebar. Setelah sadar dari keterkejutannya, Audrea memeriksa nyawa Rafli. Audrea bernapas lega dan bersyukur kepada Tuhan-nya, denyut nadi dan napas itu masih ada.


Karena takut kejadian terulang seperti tempo hari atas kehilangan Rafli, Audrea memanggil dokter ke rumahnya dan mengawasi langsung sang dokter yang mengobati sang teman.


Saat sudah terasa cukup, dokter itu pergi setelah dibayar oleh Audrea. Ia kembali ke kamar guna melihat keadaan sang teman, pemuda itu masih terkulai lemah di atas kasur.


Audrea duduk di pinggir kasur, menatap sendu wajah tampan tersebut. "Lo harus bertahan Fli, jangan tinggalin gue, gue enggak siap."


"Fli— eh?"


Angin menerpa dirinya. Sesosok wanita tua alias sang khodam datang menemui Audrea, ia membungkuk sejenak.


"Nuwun sewu, kula sembrono. Ana wong liyo sing teka sadurunge," sesalnya membuat Audrea menyampingkan amarahnya.


(Maafkan aku, aku lengah. Ada sosok asing yang berdatangan tadi).


"Sapa iku?" tanya Audrea.


(Siapa itu?)


"Mungsuh kita ing jaman biyen." Audrea mendengar hal tersebut hanya memijat keningnya, kepala sangat pening. Bagaimana bisa musuh dari masa lalu kembali lagi? Ah, gila ya.

__ADS_1


(Musuh bebuyutan kita di masa lalu).


"Ana cara kanggo ngalahake," lanjutnya berceletuk. Audrea memincingkan mata sembari memberi gestur bertanya.


Wanita tua itu terdiam sejenak lalu membalas, "Pateni keturunan pungkasan."


(Bunuh keturunan terakhirnya).


Rahang gadis itu mengeras disertai tangannya terkepal, mengalihkan pandangannya ke Rafli yang terbaring. Kalimat terakhir tadi bagaikan mencari dosa besar yang tentunya disengaja, dosanya sudah banyak dan makin menumpuk mendengar cara terakhir barusan.


***


"****** SIALAN!" maki pria di depan gadis yang bersimbah darah.


Ia mencambuk dengan brutal dan mengambil pisau, menyayat tanpa belas kasihan. Pelampiasan hasrat membunuhnya ia torehkan ke seorang manusia tidak bersalah, mayat itu terbujur di kala sebelum merenggangkan nyawa anggota tubuhnya dimutilasi hidup-hidup.


Brama mendengus saat mencium bau familiar sesosok makhluk halus di ruangan tersebut.


"Tidak tertarik penawaran ku?" goda makhluk menyeramkan di belakang tubuhnya.


"Aku bisa membuatmu digilai olehnya. Jangan terlalu lama berpikir Tuanku," tambahnya menyeringai sambil terkikik.


"Singkirkan nenek tua itu, aku akan mengurus gadisku sendiri!" titah menuntut.


Makhluk di depannya tersenyum miring dan menunduk. "Baik Tuanku."


Dia menghilang dengan beringsut mundur, dirinya hilang di kegelapan ruangan itu. Brama juga melenggang pergi dari sana, meninggalkan mayat tersebut membusuk dan menghilang dengan sendirinya.


Di lain tempat. Pria berkemeja biru gelap menggulung baju bagian lengannya sangat kasar, ia merindukan gadisnya. Foto telanjang Audrea yang biasa ia tatap sudah menimbulkan rasa jenuh, dirinya ingin sekali menuntaskan hasratnya secara langsung.


Ia meraup wajahnya, melepaskan semua pakaian sampai tak sehelai benang pun menempel.


"Sayang ... ahh ... aku merindukanmu ...," desahnya menggesekkan bagian intimnya di guling.


Dirinya memeluk erat seolah benda tersebut adalah makhluk hidup. Isi kepalanya dipenuhi dengan satu nama dan kabut nafsu.


"Audrea sayang, hanya milikku seorang!" gumamnya lemah.


***


Senyum teduh ia berikan untuk Rafli, pria itu telah siuman. Terlihat sangat jelas gurat ketakutan di wajahnya tatkala matanya terus saja bergulir ke seluruh ruangan, memang ini salahnya, selalu terlambat untuk menolong keadaan sang teman dan berakhir buruk.

__ADS_1


"Dre ... dia di sini!" bisik Rafli lalu meringkuk di dalam selimut.


Tangan halusnya mengusap lembut kepala Rafli yang tertutup. "Rumah ini udah dipasang pagar pelindung lagi kok, Fli. Reda-in takutnya, gue jadi tambah khawatir kalo lo begini dan rasa bersalah makin besar," keluh Audrea mencurahkan isi hatinya.


Kepala Rafli menyembul dari balik selimut, badannya mulai seperti semula, tadinya ia masih gemetar. Mendengar ucapan terlontar dari sang teman, seketika Rafli tersadar. Mendadak dirinya menjadi cengeng dengan mata berkaca-kaca, sontak Audrea mengerjapkan matanya.


"Lo mau nangis?" tanya Audrea bingung. Rafli mengangguk lucu, Audrea tertawa kecil dan merentangkan kedua tangannya.


"Boleh peluk emangnya?"


"Hmm, boleh sih. Tapi gak lama ya?" sahut Audrea sekaligus menawar.


Mulut pria itu berdecih tak rela, "Sebentar doang apa rasanya sih?"


Netra Audrea memandang sinis teman bicaranya, ia bersedekap dada. Menatap jengah kepada Rafli, ingin sekali mengetuk kepalanya sesekali.


"Dikasih malah nawar, di kira gua jual baju obralan apa?!!" sewot Audrea melotot tajam.


Rafli mengedikan bahu. "Lo sih, pelit jadi manusia."


Baru ingin melayangkan pukulan, tangan Audrea mengapung di udara karena kehadiran khodam-nya tiba-tiba.


"Aja sembrono! Kowe ki ngremehake manungsa, mungsuhmu akeh, Dre!" tegasnya.


(Jangan lengah! Kalian terlalu menyepelekan manusia, musuh kamu banyak, Dre!)


Tongkatnya di ketuk beberapa kali, lalu ia kembali berbicara, "Kabeh makhluk nggoleki lan kepengin sampeyan. Pager ing omah iki, digawe kanggo nglindhungi sampeyan. Ora yen metu ana!"


(Semua makhluk mengincar dan menginginkan dirimu. Pagar di rumah ini, dibuat untuk menjaga kalian. Tidak jika di luar sana!)


"Yen sampeyan tetep santai kaya iki, padha karo golek celah," gertak sang khodam lagi. Setelah berkata demikian, makhluk itu menghilang secepat kilat.


(Kalo kamu tetap santai seperti ini, sama aja membiarkan mereka mencari celah).


Mereka berdua jadi saling pandang. Tiada hari dengan perasaan lega karena hidup damai, setiap hari diliputi rasa was-was. Serangan bakalan terjadi dari mana saja. Sekilas Audrea mengingat percikan ingatan.


"Kita manfaatin dia aja, gimana?" usul mereka kompak dan membulatkan mata.


Seringaian terukir di bibir Rafli. "Pemikiran kita sama?"


Audrea mengangguk, walau berat mengorbankan seseorang, orang itu berhak mengakhiri hidupnya yang telah lama ia jalani. Ini demi tujuannya, mengakhiri teror yang ada dan melenyapkan Lastri pula sebagi tumpuan pertama.

__ADS_1


__ADS_2