
Ada yang sedang bertengger di pohon nangka di depan rumah Audrea. Bukan burung atau hewan lainnya, sosok itu memiliki rambut panjang menjuntai ke tanah. Matanya memandang tajam khodam pendamping Audrea dengan sengit.
Jemarinya mengelus rambut hitam legam, memiringkan kepala dengan posisi sama. Wanita tua di depannya mengeluarkan seringaian, sesekali ia terkikik geli, entah apa yang ia tertawakan.
"Dhemit arep dadi manungsa? Tangi cah, impenmu dhuwur banget!" ledek sang wanita tua. Ia tahu tabiat setan di depannya, alih-alih ingin mengusir, tapi malah ada keinginan menertawakan impian konyol itu.
(Iblis ingin menjadi manusia? Bangun nak, impianmu terlalu tinggi!)
Setan itu mendengarnya lantas marah, ia menyibak rambutnya dan turun dari pohon. Wujud tersebut melayang di udara lalu berdiri tepat di depan wanita tua, wajah hancur dan penuh nanah membuat wanita tua itu jijik sekaligus menatap rendah. Jari telunjuknya diacungkan.
"Berisik! Jika kamu tidak bisa memberikan kesenangan, enyah dari hadapan ku!" sarkasnya menggeram.
Tawa wanita tua itu pecah. "Hihihi ... luwih becik kowe mlebu neraka. Para malaikat lagi ngenteni kowe saiki!"
(Hihihi ... lebih baik kamu pergi ke neraka. Para malaikat sedang menunggumu sekarang!)
Sebut saja Mba Kun. Mba Kun yang baru menjadi setan dua minggu memilih mengalah, celoteh wanita tua itu tak dapat ia mengelak lagi atau beralibi lain. Ia mendengus sebal, sungguh rendah harga dirinya di depan wanita tua itu.
Wujudnya lenyap seperti kabut secara perlahan. Wajah wanita tua memandang datar dan berbalik ke dalam rumah, memeriksa keadaan di sana. Audrea dan Rafli sedang memakan makan malam bersama dalam hening, gadis itu masih teringat kotak misterius tersebut.
Mencoba abai, tapi tetap tidak bisa. Kegelisahannya di tangkap oleh Rafli, temannya sudah menyelesaikan makan malamnya terlebih dahulu, sedang Audrea masih mengaduk makanan di piring.
"Sayang makanannya di aduk gitu, di makan atau enggak sama sekali," tegur Rafli pelan serta memberi pilihan.
Audrea tersadar lalu mengangguk. Beberapa menit kemudian, mereka kembali ke kamar masing-masing. Kini Rafli merasa saingannya bertambah, apa lagi ada orang tidak waras di sekitar yang dapat membahayakan Audrea nantinya.
"Kayanya saingan gue kali ini bukan kek Yuda. Melainkan semacam psikopat gila yang memiliki obsesi," gumam Rafli seraya mengetuk dagu. Membenarkan perkataannya sendiri, bahwa sang gadis memiliki daya pikat luar biasa.
Ia mulai merebahkan tubuh di kasur, menatap langit kamar. Sesuatu bercahaya dari luar jendela berpendar terang masuk ke dalam kamar, sontak Rafli bangkit dan menengoknya.
__ADS_1
Di luar gerbang ada seorang gadis berwajah pucat nan suram turun dari mobilnya, ia mengetahui jika itu adalah teman Audrea yang sering ditunjukkan padanya, Sarah namanya.
Terlihat dia seperti menelpon seseorang, anehnya ia tidak melangkah memasuki gerbang, tapi ternyata pertanyaan terjawab, dia menelpon Audrea hingga sang pemilik rumah keluar.
Di sisi Audrea. Ia bingung, tidak biasanya Sarah menunggu di luar pagar. Temannya itu sedang melempar senyum, seolah kejadian di kantor beberapa hari terakhir ini seakan tidak pernah terjadi. Di mana ia di diamkan serta diacuhkan. Apa lagi mendapatkan hina dari rekan kerja, yang semestinya tidak perlu di anggap serius, tapi orang-orang di sana terlalu berlebihan dalam mengambil sikap.
Saat hendak sampai pagar, sang khodam berbisik melalui angin yang berhembus halus di telinga.
"Aja nyedhaki." Badannya mematung, tapi melihat gerak-gerik Sarah semakin membuatnya penasaran dan suasana terasa aneh.
(Jangan di deketin).
Audrea berhenti. Semilirnya angin membawa suara itu beserta bau kembang melati. Setelah ditelaah ternyata wajah Sarah nampak pucat, dia menggigit pipi dalamnya dan tersenyum terkesan dipaksa.
"Dre ... aku enggak akan basa-basi, tolong mati buat kehidupan aku," pintanya tiba-tiba.
Gadis itu melongo dan menggeleng pelan. "Mba, kamu gila ya?"
"Karena lift lama, aku make tangga darurat. Tepat saat aku buka pintu, Loli merenggang nyawa di depan mata aku sendiri. Terus sosok itu berbalik dengan mata merah menyala dan darah berlumuran di mana-mana," lanjutnya histeris sembari mengusap kasar air mata yang berjatuhan.
Helaan napas terdengar, Audrea sangat bingung menghadapi ini semua. Kepalanya berdenyut pelan, rongga dadanya juga mulai sesak mengingat kematian Loli. Matanya berkaca-kaca melirik Sarah.
"Kamu percaya sama makhluk itu, kalo kamu dapet nyawa aku terus kamu selamat?" tanya Audrea tersenyum pongah, lantas Sarah mengiyakan. "Bodoh."
"Pacar aku udah dia bunuh, kini tinggal aku sendirian. Mending kamu nyerahin diri sendiri dengan sukarela, ya?" bujuk Sarah tersenyum lebar menakutkan.
Seketika Audrea tertawa, manusia bodoh mana yang percaya oleh makhluk seperti Lastri? Ah, buktinya adalah Sarah. Setan itu sedang memainkan mental korbannya ternyata.
"Dia bukan Tuhan, kamu akan tetap mati, Mba!" tegas Audrea kembali serius.
__ADS_1
Mata Sarah berkilat marah, ia mengepalkan tangan. Garis rahang kian mengeras, ingin melewati pagar, namun pelindungnya sangat kuat karena entah mengapa ia merasa terbakar kalau melewati itu. Dari luar pagar ia mengumpat dan berkata, "****** sialan! Tau diri kamu, sudah saya anggap seperti adik sendiri dan ini balasannya, hah? Brengsek kamu, Dre!"
Air mata luruh seketika, pikiran dan tubuh Sarah dikuasai kekuatan gelap. Ia menggeleng dan memilih berbalik, mengabaikan suara Sarah yang meneriaki dirinya dengan umpatan kasar. Makian terlontar lancar di luar gerbang.
Dari kamarnya Rafli masih tidak tahu apa yang mereka bicarakan, cuma suara saat berteriak ia mendengar. Melihat juga sosok Audrea berbalik seperti memasuki rumah dan diikuti oleh sang khodam.
***
Foto di laci di keluarkan, ditaruh di atas meja kerjanya. Ia masih lembur dan belum bisa mengawasi Audrea seperti setiap malam, ibu jarinya mengusap lembut wajah cantik itu.
Pria ini cukup tampan, rambutnya tertata klimis walau kancing kemejanya ia buka dua dari atas. Lengan baju yang di gelung menampilkan urat tangan, jas dan dasi sudah terlepas sejak tadi.
"Aku kangen sama kamu, sayang," gumamnya dengan suara bariton.
Ia mencium foto tersebut. Ada pancaran obsesi di matanya, sangat mendamba Audrea ketika senyum manis menghiasi wajah cantiknya. Tapi beberapa detik ia tersadar, sorot mata itu berubah, mengingat rumor buruk tentang gadisnya membuatnya jadi geram.
Ia meraih handphone di meja, menghubungi sang asisten dan memerintahkan mencari penyebar rumor itu. Mau tidak mau sang asisten mengiyakan tanpa bertanya, apa lagi dia tahu kalau bosnya ini memiliki temperamen buruk di balik sikap bijaksananya kepada bawahan lainnya.
"Akan ku habisi sendiri nyawa orang itu. Berani sekali mengganggu calon istriku," gumamnya penuh penekanan sembari tersenyum miring.
Sesuatu melekat pada tubuhnya, ia juga memiliki khodam pendamping dan menjaga dirinya. Tapi sayang, khodam itu amat jahat dan lumayan kuat. Pria misterius ini hanya terus menerus menatap lamat gadis di foto.
"Tuan, anda masih tidak mau menggunakan bantuan saya?" tawar khodam bersosok tinggi berbulu menyeramkan dengan taring. Postur tubuhnya seperti manusia, tapi perbedaan sangat berbeda drastis.
Sekilas sang pria menoleh. "Kalahin dulu khodam yang kata kamu selalu mengikuti dia, saya enggak mau di ganggu. Karena sampai sekarang rencana saya selalu aja gagal," titahnya dingin. Khodam-nya terkikik geli.
"Tenang saja Tuan, akan aku singkirkan nenek tua itu," sahutnya percaya diri. "Sampai jumpa Tuan."
Pria tersebut mengedikan bahu acuh, ia kembali pada pekerjaannya. Padahal waktu menunjukkan pukul sepuluh malam lebih lima belas menit, senyum misterius terbit di wajahnya.
__ADS_1
"Audrea Safira ... cocok sekali dengan namaku, Bramantyo Putra Atmaja," gumamnya.