Perkara Gaib

Perkara Gaib
Perdebatan Rafli & Brama


__ADS_3

"Dua bulan ... dua bulan dia masih betah di sana," gumam pemuda yang terkulai lemas di atas kasur.


Setengah lingkaran menghitam samar di kantung matanya, tidak ada sedikit gairah hidup di tersisa. Tubuhnya lamban laun semakin kurus, jambang dan kumis tumbuh tanpa ingin ia memangkasnya. Wajahnya ia tutup oleh lengannya, guna menghalangi cahaya dari arah jendela kamar.


"Rafli," panggil sang ibu di ambang pintu.


Empu yang terpanggil mengibaskan tangannya pelan seraya menyahut, "Usir dia. Kalo keras kepala siram aja."


"Tapi dia selalu mengaku teman kamu loh, sebaiknya kamu temuin dia. Mamah kalo nyambut teman kamu terlalu lama rada takut," ungkap ibunya menatap lamat sang anak. Rafli menebak dengan tepat siapa yang datang, enggan sekali dirinya menemui orang itu.


"Mirip setan, jadi Mamah takut." Mulut Rafli ditepuk pelan oleh sang ibu, tadi ibunya berjalan menuju anaknya yang terlihat semakin menyedihkan.


"Hus ... ngomongnya jangan gitu, temuin teman kamu sekarang!" titahnya mutlak membuat Rafli mendesah berat.


Dengan malas ia bangkit sambil medumal tidak jelas, ibunya hanya menggeleng sambil menghela napas pelan. Ingatan wanita paruh baya itu mengingat cerita tempo hari, di mana sang anak butuh tempat bersandar demi mencurahkan isi hatinya.


Sebagai seorang ibu, dirinya sangat terpukul karena perubahan signifikan terhadap anaknya. Suaminya sampai angkat tangan. Apa lagi Rafli dianjurkan untuk ke dokter ahli kejiwaan oleh sang ayah, mendengar hal tersebut membuat Rafli meradang.


Ibunya seorang 'lah yang percaya ceritanya, kalau kepada sang ayah selalu saja Rafli dianggap terlalu banyak halusinasi karena memikirkan temannya yang hilang.


Kini ia berjalan menuju ruang tamu, di sana terdapat seorang pria bersama khodam-nya. Bahkan beraninya ia ditatap nyalang oleh orang itu, dengan ogah-ogahan bokong Rafli menduduki sofa di depan tamunya.


"Buang obsesi lo, gue masih gak tau Audrea ke mana!" ketusnya bersedekap dada.


Brama menggeram. "Saya hanya ingin tau di mana kalian terakhir bertemu, apa sesusah itu untuk mendapatkan balasan?"


"Lagian lo aneh deh, masa punya khodam tapi nyari Audrea aja enggak bisa," cibir Rafli membuat khodam Brama geram dan menunjukkan taringnya.


"Kekuatannya lumayan tinggi kalo kamu meremehkannya. Lalu aroma tubuh Audrea juga hilang di dunia ini, saya enggak yakin kalo Audrea pergi keluar kota." Mata Brama memicingkan tajam.


Sedangkan Rafli menguap dan merasa mengantuk pun berdiri, memasukan tangannya ke dalam kantong celananya. Ia berucap, "Jawabannya iya. Tuh, udah enggak gue tutupin lagi, emang lo bisa nyari sampe ke dunia gaib? Enggak 'kan, di sana kayanya khodam lo gak bisa diandalkan."


"Apa maksud kamu?" tanya Brama seolah dari tadi Rafli merendahkan mereka.


Rafli tidak langsung menjawab, ia justru mendekatkan dirinya kepada khodam milik Brama. Seketika makhluk itu merasa sesak luar biasa dan tertekan hingga ia berlutut di depan kaki Rafli, mata merah menyala memandang sengit penuh permusuhan terhadap Rafli.

__ADS_1


Brama juga ikut merasakannya, ditambah Rafli menampar keras khodam-nya sampai tersungkur.


"Manusia kurang aj—"


"Gue enggak bisa masuk, karena enggak punya kekuatan. Khodam pendamping Audrea juga gak bisa masuk karena dunia yang dimasuki Audrea adalah wilayah kekuasaan musuh," jelas Rafli lalu memandang remeh Brama dan khodam-nya bergantian. "Kena tampar manusia aja kaya gini, gimana mau masuk ke sana terus nyari Audrea? Bisa-bisanya nanti kalian malah jadi sasaran empuk mereka lagi."


Gigi khodam Brama bergemelatuk. Dia bangkit dan hendak menyerang balik Rafli, namun kekuatan entah dari mana menahan dirinya, lalu membuatnya terbang dengan kondisi leher seperti tercekik.


"Jadi ngambang 'kan," ledek Rafli merasa bangga.


Tak ....


Seseorang dari belakangnya menjitak keras kepalanya, baru ingin mengeluarkan suara umpatan, tapi sosok menyeramkan tengah menatap tajam dirinya sampai ia merinding sendirian.


"Bagaimana kalo enggak Mamah, Rafli?!! Jimat kamu tinggal di nakas samping tempat tidur, terus mencari gara-gara seperti ini? Udah bosen hidup kamu, hah?!!" omel ibunya berkacak pinggang.


Matanya menatap tajam sang anak yang terdiam sambil menunduk takut, lalu ia melirik ke arah Brama dan khodam-nya. Menunjuk mereka tanpa takut sembari menyeringai.


"Kalian pergi atau aku akan mengirim kalian ke neraka!" gertaknya dan melepaskan jeratan kekuatan kepada khodam Brama.


Ia sejak tadi diam memperhatikan, ternyata ibu dari Rafli tidak bisa dianggap remeh. Khodam-nya saja mampu dilumpuhkan dalam sekejap, namun ia malah penasaran oleh suatu hal. Mata itu seperti menaruh rahasia, ia bangkit dan memandang kembali.


"Kayanya kita bisa menyelamatkan Audrea. Terkadang Tuhan menaruh kunci rahasia demi pintu terlarang agar gak terbuka. Saya pamit," kata Brama tersenyum miring menatap ibu Rafli.


Ibu Rafli bergeming di tempatnya, tidak mengindahkan kalimat Brama seolah dirinya tahu sesuatu. Mencoba abai dan melirik tajam khodam milik Brama, dia bangun bersama munculnya asap hitam mengepul.


Khodam-nya juga hilang tiba-tiba saat asap itu menyelimutinya, Rafli pun bernapas lega. Ia duduk di sofa dan diikuti sang ibu menyusulnya, ibunya berkacak pinggang di depan Rafli yang masih meraup ketenangan.


"Kamu tuh ya, bikin orang deg-degan aja tau! Jangan meremehkan jimat itu Rafli, bukankah kamu bilang sendiri kalo kata Mbah harus bawa itu ke manapun?" Anaknya memasang wajah memelas, Rafli seakan merasakan penyesalan.


"Mamah ngomel mulu, kasian aku sama Mamah," kata Rafli membuat sang ibu menyipitkan matanya sembari menggerakkan dagu sarat bertanya.


"Ya kasian, udah tua ngomel-ngomel mulu. Jadi nambah banyak keriputnya," sanggah Rafli enteng.


"Dasar anak durhaka! Bukannya merenung malah ngeledek, Mamah hapus nama kamu dari daftar warisan ya!" ancam ibunya menjewer telinga Rafli.

__ADS_1


Pemuda itu meringis kesakitan, ia menepuk pelan tangan ibunya. "Ampun Mah, Rafli khilaf!" sahut sang anak.


Dengan kasar sang ibu menyentak telinga Rafli, warna kemerahan timbul di sana. Sedangkan Rafli mengusap lembut telinganya yang terasa panas.


"Bikin pusing aja punya anak!" gerutu sang ibu sembari melenggang pergi.


Raut wajah anaknya berubah datar, ia tidak tahu menahu tentang kekuatan ibunya. Ingatan perkataan Brama terus terngiang-ngiang, apa lagi tatapan pria tadi tak lepas tatkala sosok ibunya berdiri.


"Mamah nyimpen rahasia besar nih kayanya?" tebaknya berpikir sejenak.


***


Di tempat lain dan beda alam. Audrea dan Yuda berlari kelimpungan saat sesosok menyeramkan mengejar mereka berdua, sudah dua hari terjebak di sana, namun belum juga menemukan tempat yang di jelaskan oleh khodam-nya.


Audrea melirik Yuda, dia masih terengah-engah. Kemudian dirinya memeriksa waktu ke arah jam di pergelangan tangannya, baginya waktu berjalan sangat lamban di sini. Tapi tak tahu pasti kalau di dunia mereka sama atau tidak.


Suara Yuda memecahkan lamunan Audrea. "Kita gak boleh terpisah kek tadi Dre," katanya memperingatkan membuat sang lawan bicara mengangguk.


"Apa masih jauh?" tanya Yuda.


"Di peta satu kilometer lagi deh kayanya," balas Audrea seraya membaca peta usang dari khodam-nya.


Yuda berdeham sebagai sahutan, mereka melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan. Perjalanan mereka di kelilingi pohon bambu di sisi kiri dan kanan, depannya ada jalan setapak.


Kedua saling bergandengan tangan dengan erat, begitu juga mengingatkan tali merah ke pergelangan tangan masing-masing.


Srek ... srek ... srek ....


Kaki mereka berhenti bersama. Keduanya saling melempar tatapan tanya, sebelum Audrea berucap, Yuda lebih dulu menariknya untuk mengumpat di balik pohon bambu yang lebat.


Mulut Yuda berkata tanpa suara, "Diam ... ada wewe gombel."


Sontak saja Audrea membekap mulutnya terkejut, lalu ia sedikit mengintip ke arah jalan yang tadi mereka lewati. Benar saja, sesosok menyeramkan berbadan besar dan berambut panjang berjalan sambil menyeret seonggok manusia seperti sudah tak bernyawa.


Spontan tangan Audrea meremas kuat tangan Yuda guna meredam ketakutan. Kepala pria itu menoleh melihat Audrea berpeluh keringat dingin membasahi keningnya.

__ADS_1


'Aku rela buat kamu terjebak di sini, asal aku bisa berada di samping kamu, Dre,' pikir Yuda asal.


__ADS_2