
Tapak kaki seorang pria membekas di tanah basah, sebab gerimis turun tanpa diundang, di kiri dan kanan ada pohon bambu berderet. Sesekali semilir angin lewat, menciptakan sebuah suara gesekan menambah suasana mencekam, pria itu tetap menaiki anak tangga.
Cahaya rembulan menerangi jalannya menuju ke puncak. Ia hampir saja tergelincir kalau tidak menahan bobot tubuhnya sendiri, sebenarnya ia sedikit bingung. Tempat yang aneh dan hati pula menuntun dirinya melangkah demi langkah, melewati kesekian pohon bambu.
Kepalanya perlahan terasa pening, berjalan terus-menerus tanpa tahu apa yang menantinya di atas sana membuatnya bimbang. Namun tetap saja kakinya bergerak tak sesuai keinginan.
Ia sedikit melihat di puncak sana, seperti ada seluet sosok misterius berdiri membelakanginya. Rasa penasaran menyeruak masuk, memandang waspada sosok yang semakin ia lihat jelas dengan menambahnya langkah. Di saat sudah sampai, dirinya mengerutkan keningnya, kembali ia memperjelas penglihatannya.
"Siapa di sana?" tanyanya tegas.
Orang asing tersebut bergeming. Brama, selaku seseorang yang selalu bersikap waspada, ia tetap melangkah lagi. Presensi sosok misterius masih diam di tempatnya, Brama mencoba mencolek bahu itu. Perawakannya seperti seorang gadis, ia tebak kalau manusia di depannya sedang tersesat.
"Siapa kamu?" tanya Brama kembali.
Kemudian barulah sosok itu berbalik, menampilkan senyum mengembang menyeramkan membuat Brama merinding.
"Kamu kalah!" cibirnya lalu terkikik melengking.
Mengingat ingatan terakhir, Brama pun langsung pias. Ia berkata, "Bi—bisa aja, aku lagi gak beruntung kemarin."
"Bangun dan temui takdir kamu!" Suara serak terdengar jauh, padahal jelas gadis itu ada di depannya.
Belum juga melontarkan pertanyaan, dirinya menghilang ditelan kabut. Brama sontak celingak-celinguk mencari keberadaan gadis barusan, pernyataannya bak peringatan jadi tersematkan di benaknya.
"Aku harus bangun!" desis Brama pelan.
Dirinya turun dari sana dan menelusuri jalan setapak sebelumnya, aneh, jalan tadi menghilang. Aliasnya terangkat satu, lalu ia membalikkan badannya.
Srek ....
Brugh ....
__ADS_1
Sialnya Brama terperosok di tanah, tekstur tanah yang licin membuatnya terjatuh begitu saja. Matanya bergulir ke sekitar, rumput ilalang mengelilingi Brama. Sampai ia melihat cahaya terang kian meredup, secepat kilat dirinya bergerak dan meraihnya.
"Ini pasti jalan keluar!" serunya sendiri.
Hingga usahanya tak sia-sia, Brama terhisap cahaya berpendar tadi. Kesadarannya pun mulai terkikis, Brama kembali jatuh tergeletak bagai seonggok benda tak berguna. Pandangannya kosong dan matanya perlahan tertutup.
***
"Yakin lo, mau ngeliat tuh manusia?" tanya Rafli ragu.
Ibunya berlari dan membuka kamar Rafli secara kasar, napasnya tersengal. Dara mengatur aliran pernapasannya, jujur ia takut kalau dirinya menemui Brama yang kini berteriak bak orang gila.
"Tante?"
"Kayanya efek dari semua itu mulai bekerja," cetus Dara memberitahu.
"Terus gimana, Mah? Audrea mau nekat nemuin mantan bosnya, aku gak ngizinin," sela Rafli risau.
Mereka bertiga saling pandang. Audrea masih belum tahu apa permasalahannya, namun otaknya kembali mengais berbagai ingatan. Hasilnya nihil, seolah memori ingatan kemarin juga hilang, kejadian sore sampai malam menjelang dirinya tak mengingat apapun.
"Tante, Rafli ... sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Audrea dirundung penasaran.
Mata Dara melirik anaknya dan mengangguk. Rafli akhirnya bercerita mengenai semua kejadian, cerita itu tak dikurangi atau dilebihkan. Sedangkan Audrea mendengar penjelasan Rafli dengan serius, anehnya ia menyimpulkan tentang Bayu.
Pemuda yang satu kampung halamannya dengannya baik-baik saja sampai sekarang, bahkan Bayu menunjukkan sikap biasa saja. Rafli bercerita juga kalau ada yang mencurigakan terhadap Bayu sendiri, Audrea lantas menggeleng tak setuju.
"Kenapa, Dre?"
"Gu—gue gak percaya, masa iya Mas Bayu ada sangkut pautnya? Kayanya gak mungkin aja, dia aja sakit-sakitan di rumah," jelas Audrea memberi alasan tepat.
Dara pun menasehati, "Enggak semua yang terlihat menawan atau baik itu dalaman juga serupa, Nak. Kadang kamu perlu berwaspada karena tinggal bersama orang asing."
__ADS_1
"Bener Dre yang nyokap gue katakan," timpal Rafli menyetujui nasehat sang ibu. "Gak semuanya orang polos harus lo anggap baik, buka pikiran lo. Jangan coba terjebak dalam kebodohan sendiri, udah gue ceritain 'kan? Kalo kejadian tentang piring di dapur? Masa iya lo gak bisa menyimpulkan, seolah gue adalah pembohong ulung bagi lo saat Bayu tergeletak lemah."
Audrea mendapatkan tatapan kecewa Rafli, setiap kata dalam kalimat barusan cukup menohok dirinya. Ia tertampar para kenyataan, jika dirinya naif di sisi lain. Namun ragu kalau Bayu memang pelakunya dan ada terkaitan dengan kejadian kemarin yang tak ia ingat sama sekali.
Karena suara Brama juga sudah berhenti, Dara keluar dari kamar sang anak. Meninggalkan mereka berdua untuk berbicara perlahan tentang satu sama lain, agar terhindar dari perasaan egois tanpa mereka sadari sejak awal.
Gadis itu terduduk di lantai samping kasur Rafli, ia memeluk lututnya dan menaruh di atas lipatan tangan. Dirinya kembali mencerna, ada kemungkinan pula kalau kejadian Yuda dan Bayu kala itu adalah sebuah kesalahan pahaman.
"Dre, ada yang lebih penting dari semuanya selama ini," ucap Rafli tiba-tiba membuat Audrea menoleh.
"Apa? Cerita apa lagi yang gak gue tau dan peka?" tanya Audrea terlihat merasa bersalah melihat kondisi Rafli.
Sedangkan Rafli mengabaikan jantungnya yang berdetak tak normal. Ia menatap dalam netra teduh milik Audrea, berdeham pelan mengusir kegugupan. Tidak peduli akan situasi, baginya hati ini butuh kepastian sebelum semakin dalam terjatuh.
"Gue sayang sama lo, gak mau jadiin lo pacar, tapi langsung nikah!" ungkap Rafli terasa konyol pada diri sendiri.
Wajah Audrea terlihat bodoh atas pengakuan Rafli, otaknya selang berhenti bekerja. "Hah?"
Rafli sendiri meraup wajahnya dengan kasar. Di luar kamar ada sang ibu yang ingin mengantarkan minum, namun diurungkan ketika mendengar pengakuan Rafli di saat tak tepat. Anaknya berbicara, tapi dirinya yang menanggung malu.
"Dre? Jawab!" sentak Rafli tak sabaran.
Seolah kesadarannya kembali, Audrea mengalami hal aneh. Jantungnya berdetak kencang dan pipinya bersemu merah.
"Nikah langsung aja gak sih?" cicit Audrea tanpa basa-basi. Hitung-hitung mengakhiri masa lajang, walau menanggung malu karena menjawab tanpa berpikir panjang.
"Hah? Serius? Gila, semudah ini ngelamar lo? Setau gitu, udah gue lamar dari tahun kemarin dah!" seru Rafli girang dan berdiri melupakan sakit di lututnya hingga membuatnya meringis serta merintih kesakitan. Audrea membantu Rafli kembali ke kasurnya.
Keduanya terdiam antara malu dan tidak tahu ingin membicarakan apa, kecanggungan menyerang mereka berdua. Audrea sendiri memilih jemarinya, berpikir kembali kalau keputusan tidak akan salah, pasalnya ada nama Rafli di hati dan benaknya.
Berita itu terbawa angin menuju suatu tempat, seorang pria dengan mata terpejam membuka mata tiba-tiba. Tatapan nyalang melayang entah ke mana tatkala angin berbisik kabar menyebalkan tersebut.
__ADS_1
"Milik aku ya milik aku, enggak ada orang lain yang berhak!" imbuhnya tersenyum miring.