
Hari berganti, Audrea tengah menginjakkan kaki di perusahaan yang sama seperti kemarin. Kini dirinya telah di dalam ruang HRD, anehnya si tua bangka penjahat kelamin itu tak menampakkan jati dirinya. Batang hidungnya sejak tadi belum terlihat sama sekali.
Justru di depannya kini seorang gadis muda, sekiranya dia seperti lebih tua dari Audrea. Mereka berjabat tangan dan Audrea tersenyum tipis sesaat, sedangkan gadis di depannya memeriksa data diri Audrea kembali.
Di taruhnya berkas dalam amplop di atas meja, gadis itu membenarkan posisi kacamatanya. Lalu mengatakan, "Lumayan juga ya, pengalaman kamu. Saya cukup puas membaca biodatanya serta melihat riwayat ahli kamu."
"Di sini kamu sudah tau, bukan? Kalau di perusahaan ini sangat membutuhkan orang berkompeten, bertanggung jawab, dan ulet." Gadis itu menjeda sebelum melanjutkan di berdeham pelan. "Langsung saja, ceritakan tentang diri kamu."
Audrea mengangguk dan melontarkan balasan, "Perkenalkan nama saya Audrea Safira, umur saya dua empat tahun, dan berdomisili di Yogyakarta. Saya lulusan dari salah satu universitas ternama atau terfavorit di Jakarta dengan jalur undangan beasiswa dan berasal dari jurusan teknik informatika, saya ...."
Interview tersebut berjalan terus, dengan Audrea yang disuguhkan pertanyaan dan pengetahuan tentang perusahaan terdahulu. Bukan bermaksud untuk mencari informasi, tapi sang HRD baru ingin mengetahui alasan logis dan rasional Audrea.
Karena Audrea sesuai kriteria, tapi Audrea disilakan menunggu kabar berikutnya sesuai prosedur perusahaan. Panggilan terakhir adalah keterimanya Audrea, namun jika tak ada, maka ia tidak lulus dalam interview ini.
Karena sesinya telah habis, keberanian untuk bertanya pun sangat gatal jika tak dikatakan. Audrea lalu bertanya, "Sebelumnya mohon maaf, HRD yang kemarin, dipecat atau mengundurkan diri?"
"Ah, dia ... sampah itu disingkirkan dari perusahaan ini, pemilik perusahaan telah berganti. Mungkin dari sore kemarin, sangat cepat dan dia banyak memecat para koruptor di perusahaan ini serta membasmi sisanya," terangnya membuat Audrea mengerutkan kening.
"Perlu aku ingatkan, ini adalah anak perusahaan bos besar kita. Tempat lama kamu juga sama, itu adalah miliknya, bahkan dia juga mengakusisi beberapa dari mereka yang hampir bangkrut," tambah gadis itu.
Audrea seperti mendapatkan benang merah, tak sengaja ia berdecak pelan. Sungguh gila keuangan Brama, kuasanya di manapun, seolah pria itu pantas memiliki semuanya. Ya, ia akui memang Brama sangat tajir melintir.
"Kalo begitu saya permisi undur diri, Bu," pamit Audrea balas berdeham pelan karena gadis itu sedang menyesap kopinya.
Ia keluar dari ruangan HRD, semua pegawai serius mengerjakan tugas masing-masing. Hanya beberapa berpapasan dengannya sambil melempar senyum ramah, Audrea lalu memasuki lift. Menekan tombol lantai dasar menuju basement kantor.
Audrea tampak tenang tidak mendapati penampakan gadis kemarin. Dirinya bersandar pada dinding di dalam lift, menghembuskan napas lelah karena bertemu orang asing. Jiwa penyendirinya meronta. Ingin lekas bertemu dengan bantal dan guling, terutama kasurnya.
Tiba di basement, bagian parkiran motor, kaki Audrea melangkah pelan. Suasana di sana sangat hening, di pilar-pilar basement sosok misterius mengintipnya yang mengetahui eksistensi astral di sekitar. Bulu kuduknya berdiri dan dirinya sedikit melirik ke kiri serta kanannya melalui ekor mata.
__ADS_1
Di depan motornya, Audrea mengeluarkan kunci. Hendak menaiki, namun di belakangnya muncul suara.
"MATI!" teriak sosok itu dan membuat Audrea refleks membalikkan badan.
Tidak ada siapapun, ia dengan cepat menaiki motornya dan menyalakan mesinnya. Melaju dengan kecepatan sedang sampai luar kantor, di jalan raya barulah Audrea menambah kecepatannya.
'Setan mana lagi yang ganggu gue?' pikirnya heran.
Pasalnya dirinya sedang tak ke manapun, apa lagi barusan bukan hantu yang sama seperti kemarin. Hawa jahat sangat kental tadi, perasaannya jadi resah gulana. Sialnya mempunyai indra ke enam, dapat melihat apa yang orang lain tak bisa lihat.
Selalu berusaha mencoba menjalankan hidup normal, supaya tidak disangka aneh atau dibedakan dalam masyarakat. Tapi nyatanya itu amat sulit, rasanya ia hampir gila sendiri.
Selang tiga puluh menit kemudian, Audrea sampai rumah. Di pekarangannya, ada Bayu menyapu halaman karena daun berjatuhan mengotori pemandangan. Memasuki gerbang yang terbuka dan memarkir motornya.
"Mas, kok gak istirahat aja sih?" tegur Audrea tak enak hati. "Ngapain nyapu, biar aku yang kerjain sini."
Tangan Audrea hampir merebut sapu lidi digenggam Bayu, namun pria itu menghindarinya. Bayu berujar, "Udahlah, lagi nanggung. Mending kamu makan sana, tadi belum sarapan 'kan?"
"Aku gak apa-apa, sekarang kamu masuk gih." Bayu mengusir Audrea, membuat gadis itu cemberut dan menggerutu dalam hati.
Bayu menggelengkan kepala melihat Audrea bermuka masam, di matanya Audrea sangat menggemaskan. Gadis manis dan cantik yang berhasil merebut hatinya, meluluhlantakkan sebagian kewarasan diri hingga nekat ikut ke ibu kota.
"Dia makhluk sempurna, lebih pantas jika dia bersanding dengan aku," gumam Bayu tersenyum miring.
***
Di tempat lain, Rafli terus merutuki kebodohan Audrea. Padahal ia sudah mencoba mengirim pesan serta menelpon, bahwa dirinya sedang sakit. Sayangnya, Audrea sudah siang belum juga datang. Jika itu karena pekerjaan dan uang, ia bisa memberikannya.
Mewujudkan keinginan sang pujaan hati kalau itu masalah benda dan kebutuhan sehari-hari ataupun lainnya, uangnya menggunung. Namun Audrea tidak memanfaatkan dirinya sebaik mungkin, padahal dirinya rela menerima Audrea.
__ADS_1
Netra hitam kelamnya melirik ke lututnya yang membengkak kebiruan, sulit sekali bergerak tanpa kedua kakinya. Kini ia terdiam di kamar, enggan keluar guna menemui orang lain.
Omong-omong soal Brama, pria congkak itu di rawat baik oleh Dara. Dia masih sadarkan diri, Rafli juga sedikit iba karenanya. Khodam-nya musnah. Badannya menjadi ringkih serta dipenuhi lebam, mengingatnya, Rafli bergidik ngeri.
"Kata Mamah, dia bisa aja linglung pas bangun dan menjadi gila. Udah khodam-nya mati, gak dapet Audrea, azabnya nauzubillah." Ia membayangkan semuanya, seolah tergambar di depan mata.
Rafli mengenyahkan pikiran negatif tersebut, kemudian kepalanya menengok ke arah pintu kamar. Ibunya menyembulkan kepalanya dan masuk kamar sepenuhnya, lalu berjalan menuju kasur sang anak.
"Muka kamu kok ditekuk gitu?" tanya Dara heran.
Tangan Rafli mengibas dan mengatakan, "Sengganya aku masih ganteng 'lah, Mah."
"Ganteng sih, tapi kasian ngenes banget tuh muka. Efek dari cinta bertepuk sebelah tangan," ledek sang ibunda.
"Mah, jangan doain yang enggak-enggak. Anakmu ini masih berjuang," protes Rafli menerangkan.
Dara pun berdecih, "Halah ... paling juga, nanti Audrea gak peka lagi. Cara kamu terlalu kolot sih, kalo deketin cewe."
Rafli akhirnya memikirkan perkataan sang ibu, benar juga. Rafli kurang tindakan, hanya mengandalkan gombalan tak bermutu yang membuat Audrea terkadang ilfeel.
Melihat anaknya yang merenung, Dara terkekeh kecil. Ia pun menyarankan, "Gimana kalo kamu ajak tinggal ke sini? Terus kasih alasan yang logis, biar kamu bisa mulai pendekatan dengan efektif. Manfaatin aja sakit kamu, buat dia gak tega ninggalin kamu."
Senyum Rafli mengembang mendengar usulan tersebut, ia menjentikkan jarinya setuju. "Mamah emang, the best!" pujinya memeluk sang ibu sebentar.
"Oh, jelas ... Mamah Dara gitu loh!" timpal Dara lalu mengibas rambut ke belakang.
'Kenapa gak kepikiran dari tadi? Gue kirimin aja pesan yang banyak, biar dia gumoh sekalian! Terus mau enggak mau ke rumah, deh!' pikir Rafli.
Tangannya meraih kembali handphone-nya, ia mengetik pesan dan menelpon berkali-kali dan dimatikan. Sedangkan sang ibu, bangga sendiri. Ide cemerlangnya amat disambut baik oleh anaknya.
__ADS_1
Ya, sebenarnya itu adalah cara sang suami memikatnya dulu.