
Tetap digenggam, pelan saja,
karena ia mudah rapuh.
- Author
...****************...
Hari berganti, pagi ini langit tampak mendung. Awannya menggelap tak secerah hari sebelumnya, embun pagi dan hawa yang sangat dingin, sampai seorang gadis masih betah bergumul dengan selimut hangatnya.
Rintikan air hujan mulai turun seperti sedang bersenandung mendayu merdu secara alami, menambah nyaman kian tidur tenang tak terganggu. Memeluk gulingnya begitu erat, mengabaikan alarm handphone berbunyi nyaring.
Sampai suara ketukan dari luar pintu kamar terdengar bersama ucapan seseorang yang mengatakan sesuatu dengan samar. Ia masih enggan untuk merespon, Audrea kembali mengacuhkannya.
"Tangi, Dre!" teriak Bayu sampai mengeluarkan bahasa Jawa-nya.
Dor ... dor ... dor ....
Akibat suara gedoran pintu yang amat berisik, mau tidak mau Audrea bangun. Dengan malas ia duduk terlebih dahulu guna mengumpulkan nyawanya, mengucek pelan matanya. Ia melirik jam dinding yang ada di sampingnya, matanya mencoba memperjelas penglihatannya.
Tiba-tiba saja ia melompat dari kasur dan mengambil handuk serta pakaian ganti, dengan tergesa-gesa dirinya berlari menuju kamar mandi. Membuka pintu kamar begitu kasar sampai Bayu terkejut, kopi di tangannya pun jatuh dan mengotori lantai.
Netranya melihat Audrea sedang yang terburu-buru, kepalanya hanya menggeleng pelan. Matanya beralih menatap miris kopi yang belum sempat ia minum, Bayu membuang napasnya panjang. Membersihkan serpihan gelas kaca barusan, perlahan ia mengambil pecahan gelas
"Sayang banget, belum diminum," gumam Bayu berdecak kesal.
Belasan menit terlewat, kini Audrea telah di meja makan. Memakan sarapannya secepat kilat sampai tersedak, dengan perhatiannya, Bayu menepuk punggung Audrea pelan.
"Pelan-pelan makannya," tegur Bayu.
Kepala Audrea menggeleng, ia menerima minum yang disodorkan kepada dirinya dari Bayu. Audrea bernapas lega dan menyahut, "Aku hampir telat buat taro lamaran, Mas."
"Ya udah, tapi kalo makan seharusnya hati-hati. Takut keselek lagi," kata Bayu memperingatkan.
Audrea mengangguk pasrah, tak lama sarapannya usai disusul oleh Bayu. Keduanya saling membersihkan meja makan dan piring kotor sejenak, karena tahu masing-masing dari mereka juga dikejar waktu. Akhirnya mereka keluar rumah bersama, bedanya Audrea menyetir motornya yang telah lama tak dipakai dan untungnya kemarin ia sempat men-service motornya tersebut.
Sedangkan Bayu memilih menaiki angkutan umum, uang sakunya ditambahkan oleh Audrea. Tadinya ia sempat menolak, tapi gadis itu terus memaksa, hingga ia menerimanya dengan berat hati karena takut merepotkan.
***
Audrea tiba di tujuannya, gedung yang menjulang tinggi berdiri kokoh di depan mata. Ia menapakkan kaki, decakan kagum diberikan sebagai pendapat pertama. Berjalan beberapa langkah lagi mendekati meja resepsionis di depan sana, Audrea tetap berjalan tenang.
Karena melihat penunggu di meja resepsionis sedang mengangkat telepon, mau tak mau ia menunggunya. Selang beberapa menit dia terlihat mengakhiri percakapannya, dengan sigap Audrea berdiri tepat di depan meja resepsionis.
"Selamat pagi, apa ada yang bisa saya bantu?" sapanya sopan disertai senyuman hangat.
"Selamat pagi. Saya ke sini untuk menaruh surat lamaran pekerjaan," balas Audrea sopan.
__ADS_1
"Mohon ditunggu sebentar, ya Bu. Saya menghubungi bagian HRD terlebih dahulu." Audrea mengangguk patuh tanpa menjawab, ia hanya tersenyum tipis dan kembali menunggu dengan tenang.
Matanya bergulir ke berbagai macam arah, teknologi yang maju di kantor ini sangat tidak ketinggalan zaman. Banyak juga satpam dan keamanan lainnya di sini, lamunannya buyar saat sang wanita penjaga resepsionis menegurnya.
"Ya?"
"Silakan naik lift bagian kiri, bagian kanan khusus pemilik perusahaan dan tamu penting, ruangan HDR ada di lantai sepuluh tepat pintu lift terbuka, ruangan berada di depan lift. Hanya perlu berjalan lurus saja," jelas wanita penjaga resepsionis itu.
"Baik, terima kasih. Saya permisi," pamit Audrea kepadanya dan dibalas senyuman ramah.
Whus ....
Matanya menatap sekeliling ketika sampai di depan lift, kemudian ia menggeleng heran. Angin lewat barusan menandakan sesuatu, dirinya bergeming di tempat.
"Ada-ada aja, baru juga pertama kali dateng udah mau nunjukin eksistensi aja," gumam Audrea.
Ting ....
Denting lift terdengar. Audrea melihat pintu lift terbuka, lima orang keluar dari sana dan hanya Audrea yang masuk sendirian di lift itu. Jarinya menekan angka tujuan, lalu pintu tertutup.
Lantai demi lantai di lewatkan begitu saja tanpa halangan dan orang masuk ke dalam lift, ia kira dirinya akan melewatkan lantai tujuh juga, namun perkiraannya salah.
Pintu lift terbuka di lantai tujuh, tapi tak ada seorang pun di sekitar sini. Audrea juga tidak menjumpai manusia berlalu lalang, pemandangan di sana pula gelap dan hening. Dengan cepat ia menekan tombol untuk pintu segera tertutup.
Keningnya berkerut dikala pintu yang sudah tertutup, terbuka lagi menampilkan seorang wanita berpakaian kantor. Kepalanya menunduk dan jalan perlahan, dilihat wanita itu sedikit pincang. Pintu lift tertutup, lift mulai bergerak lagi, namun serasa sangat lamban.
"Permisi ... jangan ganggu saya, saya enggak berbuat macam-macam kok," ujar Audrea.
Jawaban tidak ada, hanya napas berat terdengar dari belakang tubuhnya. Audrea membaca ayat-ayat suci, matanya terpejam sesaat tatkala makhluk itu memegang bahu kanannya.
"Tolong aku," rintihnya di telinga Audrea.
Belum Audrea membalas, tiba-tiba kepalanya di pegang oleh tangan setan itu. Sampai kepingan ingatan seseorang bermunculan di isi kepalanya, kilasan seseorang meregang nyawa terekam jelas. Kepalanya menengadah ke atas dan ia jatuh terduduk, tubuhnya bersandar pada dinding lift.
Tiba di mana sebelum kejadian, Audrea melihat ....
Seorang pria berkisar antara empat puluhan tengah memangku paksa seorang gadis. Mengelus pahan secara sensual dan menciumnya di sekitaran leher jenjang gadis itu, sedang sang empu terus berontak, bahkan sesekali ia berani melukai pria tua hidung belang tersebut.
Karena kesal orang itu mencengkram kuat dagu korbannya dan menatap tajam bak belati. "Hei, saya ini atasan kamu, mau kamu saya pecat! Saya bisa membuat perusahaan manapun menolak ****** seperti kamu, jadi lebih baik urungkan niat untuk berontak!" gertaknya membuat gadis itu berwajah pias.
Kepalanya menggeleng ribut bersama lelehan air mata jatuh begitu saja melewati pipinya, kalau dirinya berhenti bekerja, tanggung jawab sebagai tulang punggung keluarga tak bisa ia serahkan ke sang ibu yang sudah tua. Adiknya pun juga perlu pendidikan tinggi, ia tak sanggup jika harus menganggur.
"Bagus. Jangan melawan cantik," ucap pria tua itu mengecup pipi sang gadis.
Adegan beralih ketika korban tadi ingin membunuh pria bejat itu, namun naasnya ia ketahuan dan dirinya yang terkena imbasnya. Kematiannya pun dibuat seperti kecelakaan, lantai tujuh pada malam saat kejadian terbakar. Membakar mayat sang gadis dan ditemukannya ganja serta alat pemantik untuk membakar barang haram tersebut.
Padahal kejadian aslinya adalah sang gadis dicekik sampai mati. Cctv pun rekamannya terhapus dan yang menemui dan memadamkan api adalah sang pelaku, dalang dari semua kejadian tersebut.
__ADS_1
Audrea kembali bernapas normal, tanpa sadar ia meneteskan air mata. Ikut serta merasakan kilasan hidup seseorang, berjuang sendirian dan menjadi tulang punggung keluarga, berakhir tragis di tangan seorang manusia yang kini masih hidup dengan ketenangan dan bergelimang harta.
Memberitahu kepada dirinya kalau seluruh anggota keluarga pelaku memakai jimat dari orang pintar alias dukun. Membuat sosok itu tak bisa membalas perbuatan bejat sang pelaku, Audrea menjadi geram karena mengetahui perihal semuanya.
Lift berhenti lalu berdenting dan pintu terbuka, netra teduh Audrea melihat orang berlalu lalang ke sana kemari, untungnya Audrea langsung bangkit dari duduknya dan merapikan segala penampilannya.
Berkaca pada dinding lift, melirik sosok wanita dibelakangnya yang penuh luka bakar dan wajah hancur. Audrea pun istighfar sejenak, ia mengalihkan pandangannya lagi.
Ia berjalan anggun menuju ruangan HRD, karena diperintahkan langsung oleh penjaga resepsionis di lobby kantor. Entahlah, ia merasa aneh saja. Seharusnya cukup ditaruh di sana dan nanti pastinya akan disampaikan lewat seseorang, bukannya langsung ke ruang HRD, karena di sana juga interview dilakukan.
Ketukan pintu ia lakukan, sahutan seorang pria menyuruhnya masuk.
"Selamat pagi—" Napasnya tercekat tatkala menyapa orang di ruangan tersebut yang nampak familiar sekali.
Ia masih di ambang pintu dan membuat pemilik ruang berdeham. "Silakan duduk."
"Ah, iya terima kasih," sahut Audrea tersadar.
Ia menunduk dan memejamkan mata sebentar sembari mengepalkan tangannya begitu kuat. Kemudian kepalanya terangkat, menampilkan senyum menawan yang ia paksakan.
"Boleh saya lihat surat lamaran kamu?" tanya orang itu terdengar sopan.
"Tentu boleh, Pak," balas Audrea sambil menyerahkan dokumen dalam amplop coklat.
Tak sengaja tangan mereka bersinggungan, Audrea merasa tangannya tadi di elus dan dengan cepat ia menariknya kembali. Mengubah tatapan sopannya menjadi dingin, sedang pria tua di depannya mencuri pandang.
Sesekali matanya tertuju kepada badan Audrea, Audrea sendiri kesal bukan main. Tapi dirinya harus menahan percikan api amarah, kalau salah sedikit saja nanti ia akan jadi korban selanjutnya.
"Kamu saya interview sekarang mau?" tawarnya tersenyum cabul.
Audrea mengeraskan rahangnya lalu menjawab, "Secepatnya itu, Pak?"
"Ya ... kalo mau sekarang saya akan kasih kamu posisi yang bagus," ujarnya mengimingi sesuatu.
"Besok saja Pak, karena nanti siang saya ada panggilan interview di tempat lain," dalih Audrea mencoba menghindar.
Orang itu mengangguk dan menyetujui, tak lupa ia menyuruh Audrea datang lagi ke ruangannya besok untuk melakukan interview. Setelah percakapan tak nyaman barusan, Audrea keluar ruangan itu dan mendapatkan tatapan penasaran di sekitarnya.
"Kamu diapain sama tua bangka tadi?" tanya pemuda dan diikuti gadis di sampingnya.
"Cuma disuruh melakukan interview, tapi saya menolak untuk memundurkan jadi hari esok. Memang kenapa, ya?" tanya Audrea balik.
Mereka berdua dan karyawan di belakangnya bernapas lega. "Enggak apa-apa, di sini harus jaga diri. Ya udah semuanya kembali kerja, sampai jumpa besok," pungkas pemuda itu mengakhiri.
Audrea jadi paham sekarang, perbuatan bejat pria tua itu sudah menjadi buah bibir di kantor ini. Entahlah, bagaimana dia bisa bertahan di masa jabatannya. Seharusnya orang itu diganti atau kalau perlu dipecat sekalian, menurut Audrea.
"Ck, sampah perusahaan," decak Audrea tak habis pikir.
__ADS_1
Ia melenggang pergi dari sana, berniat untuk pulang saja ke rumah. Mengistirahatkan pikiran serta tubuhnya dari kegiatan pagi hari yang menjengkelkan ini, ya ia sangat butuh istirahat!