
Aku bisa saja memperjuangkan
dirimu, tapi terkadang,
aku selalu terkalahkan oleh
pilihan mu.
- Basurata Yuda
...----------------...
"ARGHH! SAKIT, MAH!" pekik Rafli menggema memekakkan telinga sang ibunda.
Dara juga ikut meringis dan ngilu, sampai entah kenapa perutnya yang berefek mulas. Dengkul Rafli ia benarkan seperti posisi semula, menimbulkan suara geseran tulang menyakitkan menambah rasa sakit luar biasa di sana.
Rafli menangis dan meronta, menutupi mukanya menggunakan bantal. Acap kali di sentuh saja nyerinya terasa, dengkulnya jadi sensitif seketika, membenarkan tulangnya secara diurut sangat menyakitkan. Kakinya bahkan kebas, hanya dengkulnya terasa.
"Diem dulu, bisa gak sih! Nanti malah makin sakit kalo kamu kebanyakan gerak!" sentak Dara kesal sekaligus kasihan.
"Tapi sakit, Mah ...," keluh Rafli merengek bak anak kecil.
Sang ibu memijat pelan kembali. "Namanya juga lagi sakit, kamu aneh banget! Ini sekarang Mamah pelan-pelan, deh."
"Mamah enggak sampai ikhlas ya?" tanya Rafli ngawur.
"Kalo enggak sayang, gak bakalan kamu Mamah tolongin, pertanyaan kamu enggak bermutu!" ketus Dara.
Bibir Rafli ia cebikkan. Tangan cekatan ibunya amat lembut dan hati-hati, merawat dirinya dengan baik. Bahkan ia seperti anak nakal nakal yang terkadang tidak pantas mendapatkan kebaikan sang ibu, walau notabenenya adalah ia anak kandungnya sekalipun.
'Oh, ya ... Audrea pasti khawatir sama gue!' pikir Rafli panik.
Tangannya langsung meraih handphone di nakas, menghubungi nomor Audrea. Sekali dan dua kali panggilan tidak mendapat respon atau diangkat, untuk ketiga kalinya baru panggilannya dijawab. Senyum lega tercipta, namun suara lembut itu berbicara tenang tanpa panik dan lain sebagainya, berbeda dengan kejadian yang pernah menimpanya.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Fli. Ada apa telepon?" tanya Audrea di seberang sana.
Mulutnya seakan terkunci, pertanyaan seolah tidak terjadi apa-apa di sekitar dan Audrea bertindak semestinya membuat Rafli semakin mengatupkan mulutnya.
"Halo? Fli, lo masih di sana 'kan?" tanya Audrea kembali karena tak mendapati respon.
"Ah, walaikumsalam ... gak jadi, next time aja ngobrolnya," sahut Rafli lalu mematikan panggilannya dengan sepihak.
Dara yang mengamati sejak tadi pun mengerutkan keningnya, padahal anaknya sangat terhadap Audrea. Kali ini sikap dan raut wajahnya terlihat tidak bahagia.
"Nak, apa ada yang terjadi?" tanya Dara penasaran.
Rafli menggeleng bingung dan menjawab, "Aku aja enggak tau apa yang terjadi Mah, gak ada gelagat khawatir atau pengen tau keadaan aku. Justru Audrea bersikap biasa-biasa aja, bukannya ini aneh?"
"Hmm ... mending kamu istirahat aja dulu, ngobatin lutut kamu dilanjut besok, sekarang makin larut." Dara mencoba mengalihkan pembicaraan, supaya Rafli tak terlalu memikirkan.
Sedangkan anaknya mengangguk saja, Rafli merebahkan tubuhnya dan diselimuti oleh sang ibu. Layaknya anak kecil, keningnya dikecup sebelum tidur dan Dara pun berjalan keluar kamar setelah memastikan Rafli memilih lebih baik tertidur.
Pintu tertutup rapat, Rafli membuka matanya kembali. Mengacak rambut karena frustasi, seharusnya gadis pujaannya khawatir dan berceloteh ria dengan semangat menggebu-gebu. Namun kali ini Audrea nampak biasa saja, seolah kejadian tadi tak pernah ada.
"Wah, curiga gue nih! Jangan-jangan, tebakan gue selama ini bener lagi?" gumamnya berpikir ke orang yang ia klaim sebagai pelaku atau dalang semuanya.
"Audrea harus tau tentang Bayu secepatnya, ya secepatnya," tambah Rafli.
Selang bergelut dengan pikirannya sendiri, Rafli merasa lelah dan tertidur. Menarik selimut guna menyamankan posisi, di sudut ruang, satu sosok harimau Jawa muncul. Tubuhnya di balut luka hasil pertempurannya, lalu mengambil napas lega tatkala melihat kondisi Rafli sudah baik-baik saja.
Ia mengucap atas lebih tepatnya membacakan sebuah mantra dengan mata tertutup sembari menunduk ke arah Rafli. Tidak lama cahaya samar sampai terang berpendar menyilaukan mata, Rafli sendiri menggeliatkan tubuhnya.
Panas di sekujur tubuh dan sesak bersamaan di rasa, seakan ada sesuatu masuk ke tubuhnya. Beberapa menit berlalu, Rafli kembali tertidur nyaman. Sang khodam milik Dara memuntahkan cairan berwarna merah, darah.
Terlihat jelas kalau harimau ini lelah, tubuh gagahnya lemas dan perlahan dirinya menghilang untuk kembali ke alamnya sendiri. Bertapa serta memulihkan kondisinya.
Sebelum ia pergi, dirinya berkata, "Kunci iki sampeyan, Rafli."
__ADS_1
(Kunci ini adalah kamu, Rafli).
***
Yuda menghembuskan napas panjang. Hari ini terasa begitu sangat lambat, dirinya mewanti-wanti jika sesuatu terjadi. Semua puzzle tersusun, menunjukkan kalau dalang di rumah Audrea tidak lain adalah Bayu, pria kampung berwajah manis nan polos.
Mungkin banyak orang akan tertipu akan sikap sopan dan ramahnya, menebarkan senyum hangat beserta membuat Audrea tak berdaya karena kepolosan Bayu yang baru tiba di Jakarta belum lama ini.
Topeng berbentuk wajah manusia itu menyimpan hal buruk di baliknya, menguarkan sisi gelap yang ketara kalau pria itu sedang bersama Yuda. Licik dan pintar memanipulasi keadaan sekitarnya, hingga tempo hari ia sampai dituduh sebagai manusia kejam dan beradab karena mencekik leher Bayu begitu kuat.
"Dia sangat berbahaya. Jika aku membantu Audrea, bisa aja itu bakalan jadi yang terakhir. Tapi kalo aku pergi menjauh dan melupakannya, aku bisa bertapa kembali serta mendapatkan kekuatan gaib lain?" pikir Yuda menimang-nimang.
Kepalanya ia garuk pelan lalu diusap kasar. "Aku ingin serakah! Kalo aku bantu Audrea, ada kemungkinan lain, aku akan menerima konsekuensi lebih besar!"
"Bagaimana ini? Hati ini masih memanjatkan namanya, benak ini juga masih tersemat sosoknya. Sungguh, ingin sekali menentang takdir!" lanjut Yuda risau dengan segala keputusan yang akan ia ambil.
Setiap ia melangkah, dirinya harus siap menerima hukuman dari sang roh leluhur akibat melanggar perintah. Ganjaran besar lainnya juga ia pikul, menanggung siksaan perasaan karena terabaikan oleh Audrea.
Ia salah sangka ternyata, dirinya mengira kalau gadis yang selalu ia puja memiliki perasaan sama. Naasnya, semua itu tidak benar. Justru Yuda jadi korban dari cinta sepihaknya, sejenak ia tertawa miris nan sumbang.
"Aku bingung, Dre. Aku bingung, kamu terlalu aku harapkan dan dielu-elukan oleh hati aku sendiri, kenapa sesakit ini? Apa mencintai kamu adalah sebuah kesalahan?" tanyanya menatap langit.
Seolah di atas sana Audrea tengah melihat wajah sendunya. Yuda kembali menelan pil pahit kehidupan. Lagi dan lagi penyesalan karena masa lalu menghampiri benaknya, tidak memberi celah guna menikmati keindahan langit malam.
Lastri ....
Nama yang dulu juga membunuhi lubuk hati dan mengisi kekosongan Yuda. Sialnya, Yuda juga merindukan gadis itu. Ia merasa bodoh, hatinya seperti plin-plan dan kekanak-kanakan.
"Ah ... ternyata aku masih mengingat Lastri. Kenangan manis mengelilingi ingatan ini, penghangat jiwa di kala senyum mengembang ditorehkan olehnya, amat indah."
"Hahaha ... Tuhan seperti membenciku, Audrea juga melihat ke arah lain sesuai pilihan. Sedangkan aku? Hanya seonggok sampah yang mencemari kehidupan penuh warna miliknya!" gumam Yuda.
Ia sesekali tertawa dan menangis bak orang gila, kewarasan sedang berkelana entah ke mana sampai dirinya berceloteh tanpa jeda. Bukankah di memang pantas menyandang sebagai orang gila?
__ADS_1