
Audrea melirik singkat ke arah handphone-nya yang terus berdering, melampirkan nama Rafli di layar dengan riwayat banyak panggilan serta pesan. Ia akan memeriksanya jika Rafli mulai berhenti, lima belas menit berikutnya, pria itu sudah tidak mengirimkan pesan ataupun menelpon.
Barulah Audrea meraih kembali handphone-nya. Keningnya berkerut samar dan hatinya mulai gelisah, ia memukul pelan kepalanya sendiri. Merutuki kebodohan yang dirinya perbuat. Pesan itu meminta Audrea datang ke kediamannya, lalu matanya terkunci tak di salah satu foto yang ia kira lutut.
"Astaghfirullah ... nih orang abis jatuh di mana? Kok baru ngasih tau sih!" paniknya bergerak risau.
Lantas dirinya bersiap secepat mungkin, mengambil kunci motor di atas nakas dan keluar kamar. Audrea mendapati Bayu sedang menikmati kopi di depan televisi, ia pun menghampiri pria manis itu.
"Mas, aku mau ke rumah Rafli dulu ya. Soalnya dia lagi sakit," pamit Audrea.
Bayu tersenyum tipis. "Ya udah, hati-hati di jalan ya? Jangan ngebut nyetir motornya, keselamatan kamu nomor satu."
"Tenang aja Mas, aku bakalan hati-hati kok. Kalo gitu aku duluan ya, assalamualaikum ...," salam Audrea pergi meninggalkan Bayu.
Telinganya tidak mendengar balasan, namun menurutnya, dirinya sendiri yang kurang memasang pendengaran dengan baik, mungkin.
Kepergian Audrea menuju rumah Rafli membuat Bayu mengubah pandangannya, ia menatap datar gadis itu. Baginya Audrea hanya perlu memperhatikan dirinya saja, tidak boleh ada orang lain.
"Harus apa kemarin aku terlalu gegabah ya? Soalnya waktunya pas untuk melenyapkan khodam Brama," gumamnya berpikir.
Sedangkan di lain tempat, alias di rumah Rafli. Pemuda itu ingin sekali berjingkrak senang, pasalnya wanita yang ia cintai membalas pesan dan kalimat kekhawatiran di setiap kata begitu jelas terlontar untuk dirinya. Sungguh ide brilian sang ibu amat ampuh.
Ah, tidak. Rencana belum berjalan lancar sepenuhnya, ini masih awal. Ia melirik waktu ke arah jam dinding menunjukkan pukul satu siang. Rafli beralih menelpon ibunya dan meminta tolong untuk membantunya bersiap, agar Audrea mempunyai rasa iba terhadapnya.
Satu menit berlalu, Dara datang. Matanya melihat wajah cerah sang anak dan kembali mendekat.
"Terus sekarang apa yang harus aku lakuin, Mah? Buat aku keliatan menyedihkan, Audrea dikit lagi mau sampe!" seru Rafli.
"Ini Mamah bawa air hangat, tempelin ke jidat kamu sama leher. Bentar ...."
Mata Rafli membulat lucu, Dara mencipratkan air ke tubuhnya dan tak lupa ke pinggiran wajahnya juga terkena. Tangannya ingin menghapus, namun Dara mendelik sebagai isyarat tidak setuju membuat Rafli menghela napas pasrah.
__ADS_1
"Kalo mau Mamah bantu, diam aja. Tak usah banyak gerak," saran sang ibu bernada sinis.
Rafl menimpali, "Dibantunya yang ikhlas. Biar anaknya gagal untuk kesekian kalinya."
"Kamu aja yang kurang berbakat kaya Papah," cibir sang ibu mampu membungkam mulut Rafli.
Berdebat adalah hal biasa, tapi lawannya sangat pintar memutar fakta. Walau yang dikatakan Dara termasuk dalam kenyataan, jadi Rafli memilih diam ketimbang malu kalau mulut ibunya itu mengeluarkan kalimat ajaib menohok hati.
Kini semua sudah siap. Tinggal menunggu kehadiran Audrea saja, Rafli sungguh tak sabar. Jujur saj dirinya menahan rindu yang membuncah, jantungnya juga ikut bertalu-talu menunjukkan perasaan itu tak akan pernah berubah. Semua di dalam hatinya masih sama, menantikan Audrea merespon rasa cintanya.
Selang beberapa menit, Audrea telah tiba di kediaman Rafli. Dirinya disambut baik oleh Dara. Sudah lama sekali wanita itu tak melihat atau bertemu Audrea, ternyata Audrea semakin cantik. Pantas anaknya jatuh cinta kepada Audrea, kelembutan dan perhatian gadis ini terpancar tulus dalam netranya seperti madu.
Tangan Dara mengusap lengan Audrea dan membalas ucapan salamnya. Mereka berjalan menuju ruang tamu sembari mengobrol.
Audrea pun menyapa, "Hai Tante, apa kabar?"
"Alhamdulillah baik ... kamu makin ke sini makin cantik ya? Hampir bikin Tante pangling," puji Dara menuaikan rasa tersipu bagi Audrea.
Dara menyahut, "Enggak apa-apa. Kamu bawain beling, tetep bakalan dia terima kok, hahaha ...."
"Ampe lupa, dia 'kan kuda lumping ya Tan?" canda Audrea mengundang tawa Dara kian pecah.
Kemudian Dara mempersilahkan Audrea duduk, sedangkan dirinya mengambil dan menyiapkan jamuan. Kembalinya Dara bersama minuman dan cemilan di atas nampan, ia letakkan di meja di depan Audrea.
"Silakan di minum dulu," ucap Dara menawarkan Audrea.
Gadis itu mengangguk dan meminumnya, kebetulan dirinya sangat haus serta membutuhkan melepaskan dahaga. "Oh ya, Tante ... Rafli ada di mana?" tanya Audrea tak melihat keberadaan sang teman.
"Dia lagi di kamar." Dara menjawabi sembari menatap lamat wajah Audrea, sangat tidak membosankan jika dipandang.
"Kalo kamu mau liat, ke kamarnya aja sana. Siapa tau dia merasa terhibur karena kedatangan kamu," saran Dara membuat Audrea mengiyakan.
__ADS_1
"Tapi aku takut dia marah, soalnya dari kemarin aku kek cuekin dia. Padahal gak gitu maksudnya," jelas Audrea mengingat kejadian di mana Rafli mencelakai Bayu.
Mengerti rasa bersalah gadis di depannya, Dara mengusap lembut bahu Audrea. Ia pun berkata, "Rafli enggak pernah bisa mengabaikan kamu, kamu terlalu spesial untuknya."
"Sekalipun aku jahat sama dia?"
"Iya, kamu tau sendiri dia kaya bagaimana. Rafli justru takut kalo kamu akan menjauhi dia, jadi nemuin dia aja sekarang, sekalian kalian melepas rindu?" goda Dara di akhir kalimat membuat Audrea bersemu merah.
"Eh— itu, aku biasa aja sih, gak kangen," elak Audrea gugup lalu bangkit dari duduknya yang menimbulkan senyum geli di bibir Dara. "Aku ke kamar Rafli dulu, ya Tan!"
Gadis itu berjalan cepat demi menghindari godaan Dara. Jantungnya berdetak tak karuan tatkala mendengar kata 'melepas rindu', tapi siapa yang rindu? Rafli atau dirinya? Apakah bisa keduanya? Tidak, Audrea mengenyahkan pikiran itu, berekspektasi mampu menjatuhkan dirinya ke tanah saat tak sanggup melambung tinggi.
Sampai di depan kamar Rafli, Audrea ragu untuk mengetuk pintu. Tapi tanpa berpikir panjang lagi, dirinya mengetuk dan langsung masuk ke kamar. Di sana ia memandang prihatin kondisi Rafli, lututnya bengkak dan membiru.
"Rafli?" panggil Audrea lirih.
Pria itu menarik napas penuh kelegaan. Rafli tersenyum lalu menyahut, "Sini! Jangan diri di situ terus, lo mau jadi patung?"
Senyum lemah itu ditampilkan Rafli guna meyakinkan bahwa dirinya benar-benar butuh perhatian Audrea. Sedangkan Audrea sendiri mendekat, matanya menatap sendu sang teman yang terbaring lemah.
Brugh ....
Audrea memeluk Rafli erat, ia dapat merasakan kalau tubuh itu sangat penuh keringat dan hangatnya tak seperti biasanya. Dekapan tersebut dibalas oleh Rafli, mereka benar-benar melepas kerinduan. Padahal hanya selang satu malam saja mereka harus berjauhan.
"Huwaa! Maafin gue, gue salah mengabaikan lo! Jangan marah, Fli!" pekik Audrea sambil menangis tak kuasa menahan kesedihan.
Rafli sampai terlonjak kaget dibuatnya, masalah teriakan Audrea pas sekali di telinganya.
"Kok lo yang nangis? 'Kan gue yang sakit loh!" ledek Rafli terkekeh kecil.
Namun Audrea tidak mengindahkannya, ia tetap di posisi sama. Rasa nyaman ini cuma Rafli memilikinya, walau jantungnya terus saja berisik minta dibinasakan. Audrea terlalu enggan melepaskannya.
__ADS_1
'Boleh gak ya berandai? Andai waktu bisa dihentikan, gue pengen memeluk lo sepuasnya kaya gini. Maaf Dre, gue terlalu cinta sama lo,' batin Rafli bergejolak ingin memiliki seutuhnya Audrea.