
"Aku tidak mau," jawab Adam yang langsung masuk kedalam kamar Anin.
"Keluar... !" bentak Anin dengan sangat keras.
"Aku lelah aku ingin tidur," ujar Adam yang langsung berbaring diatas tempat tidur Anin.
Anin yang kesal langsung menarik tangan Mas Adam dengan sekuat tenaga, namun usahanya sia-sia karena tubuh Mas Adam yang lebih kuat dan besar darinya membuat tarikan Anin hanya seperti sedang mengelus tangan Mas Adam.
Anin yang putus asa akhirnya keluar dari kamarnya dengan perasaan yang sangat kesal, dirinya memutuskan untuk beristirahat di kamar tamu di lantai bawah. Namun saat dirinya melangkah kearah tangga entah mengapa tatapan Anin justru tertuju ke pintu kamar Alya.
Dengan perlahan Anin pun melangkahkan kakinya kearah pintu kamar tersebut, dengan hati yang berdetak kencang Anin memegang handle pintu dan mendorong pintu tersebut yang ternyata tidak di kunci oleh Alya.
Anin yang penasaran pun masuk kedalam kamar Alya, entah apa yang membuat dirinya ingin sekali memasuki kamar madunya itu. Padahal sejak kedatangan Alya kerumahnya, Anin tidak pernah sekali pun menginjakan kakinya di kamar Alya.
Anin menatap kesekeliling kamar dan mendekat ke arah foto yang di pajang di kamar Alya yaitu foto Alya bersama Ibu Tika. Anin pun menatap kearah meja rias yang terlihat rapih dengan peralatan make up yang komplit, Alya memang suka berdandan itu sebabnya Alya terlihat cantik. Sedangkan dirinya yang memang tidak suka berdandan terlihat sangat jauh berbeda dengan Alya.
Saat Anin hendak keluar dari kamar Alya, matanya menatap berkas yang tidak asing baginya yang tergeletak di atas meja rias Alya. Anin pun mengambil berkas itu dan membuka isinya, betapa terkejutnya Anin saat tahu isi berkas tersebut.
Berkas itu berisi semua profil tentang Mas Adam yang pernah di lihatnya tapi belum sempat di bacanya. Anin membaca semua berkas itu berisi keterangan nama perusahaan Mas Adam di Jakarta beserta alamat rumah Mas Adam di jakarta.
"Sedang apa kau disini... !" bentak suara wanita yang tak asing baginya.
"Apa ini.... !" ujar Anin yang tak kalah kerasnya menatap Alya yang sedang berdiri di depan pintu kamar.
"Kau sudah melihatnya?" ujar Alya dengan suara yang biasa saja berjalan menghampiri Anin.
"Jangan bilang kau....?" ujar Anin menatap Alya dengan tajam.
"Iya aku yang mengambil berkas itu," ujar Alya menarik kembali berkas Mas Adam dari tangan Anin.
__ADS_1
"Untuk apa kau mengambilnya?" tanya Anin dengan wajah yang mulai emosi karena dirinya mulai teringat akan perkataan Mita kalau bisa jadi pertemuan Mas Adam dan Alya adalah hal yang di sengaja.
"Tentu saja untuk mendekati Mas Adam," ujar Alya dengan sinis.
"Maksudmu?" tanya Anin yang semakin yakin pada dugaan Mita.
"Kau itu bodoh... ! aku sengaja mencuri berkas itu, untuk bisa mendekati Mas Adam dan mencuri Mas Adam dari mu apa masih tidak jelas!" ujar Alya dengan tertawa.
"Jadi kau sengaja melakukan semua ini?" lirih Anin.
"Iya, dan bagaimana rasanya saat kau tahu aku adalah madumu?" tanya Alya dengan tersenyum licik.
"Kenapa kau berbuat itu padaku?" tanya Anin dengan mengepalkan kedua tangannya untuk menahan emosinya.
"Tentu saja untuk menyakitimu, aku benci dirimu!" bentak Alya dengan wajah yang memerah karena emosi.
"Aku benci dirimu yang hidup dengan berkecukupan dan selalu mendapatkan apa yang kau mau" ujar Alya dengan suara yang penuh dengan rasa iri.
"Kalau kau benci padaku, seharusnya setelah kau menikah dengan Adam. Kau itu memberitahukan semuanya pada Ayah dan Ibumu. Agar pernikahanku dibatalkan," ujar Anin masih dengan mengepalkan kedua tangannya untuk menahan emosi yang ada di dadanya.
"Hahahaha...., kalau hanya menikah dengan Mas Adam rasanya tidak akan cukup untuk membuatmu menderita," ujar Alya dengan tertawa keras.
"Aku ingin kau menderita dan merasakan bagaimana rasanya berada di sebuah pernikahan, di mana suami mu itu tidak mencintaimu dan tidak menginginkan mu," ujar Alya memegang dagu Anin dengan kencang.
"Kau gila Alya," pekik Anin.
"Iya aku gila, aku gila karena rasa benci ku padamu karena kau itu selalu menyakiti Ibuku," ujar Alya dengan suara yang tertahan.
"Aku tidak pernah menyakiti Ibu mu, aku hanya tidak suka dengan keberadaan kalian!" ujar Anin menghempaskan tangan Alya dari wajahnya. "Lagi pula yang seharusnya benci itu adalah aku, karena kalian Ibu dan anak tiba-tiba datang kerumahku merusak kebahagianku. Ibu mu itu mau menikah dengan Ayahku hanya karena harta Ayahku, dan kau seharusnya bersyukur sudah dianggap anak oleh Ayahku," ujar Anin dengan tajam.
__ADS_1
"Diam kau... !" bentak Alya yang hendak menampar Anin, namun langsung dapat ditahan oleh Anin.
"Jangan pernah kau berani menyentuhku di dalam rumahku sendiri," ancam Anin menatap tajam Alya dan menghempaskan tangan Alya dengan keras. "Kelakuanmu yang menjijikan itu semakin membuatku tidak menyukaimu dan juga Ibumu," ujar Anin.
"Kalau kau tidak suka dengan apa yang aku lakukan, bercerailah dengan Mas Adam. Gampangkan!" ujar Alya dengan sinis.
"Aku memang akan secepatnya bercerai dengan Adam setelah Ayah ku sembuh," ujar Anin dan segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar Alya.
"Ingat... ! kau harus secepatnya mengurus perceraian kalian. Agar aku bisa memiliki Mas Adam seutuhnya," ujar Alya dengan tersenyum sinis pada Anin.
"Kau itu benar-benar gila," ujar Anin dengan membanting pintu kamar Alya dengan keras.
Alya yang berada di dalam kamarnya tertawa dengan sangat kencang, "Aku akan membuatmu menderita dengan selalu melihat kemesraan ku dengan Mas Adam," gumam Alya dalam hati dengan seringai liciknya.
Anin yang masih emosi dengan kelakuan Alya yang sudah membuat dirinya terjebak di dalam pernikahan yang tidak diinginkannya, semakin emosi saat melihat Mas Adam masih tertidur di atas tempat tidurnya.
Dengan sekuat tenaga, Anin yang sudah mengambil bantal gulingnya langsung memukul badan Mas Adam dengan sangat kuat.
"Aww... Anin hentikan!" ujar Adam yang langsung bangun dari tidurnya karena tubuhnya di pukul.
"Keluar dari kamarku... !" teriak Anin masih dengan memukul bantal guling kearah Mas Adam.
"Kau itu kenapa?" ujar Adam dengan tangan yang menangkis bantal guling yang di pukul kearahnya
"Aku kenapa? kau yang kenapa? kau itu sangat menyebalkan sama seperti istri tercintamu itu," teriak Anin dan tanpa sadar mengeluarkan air matanya karena dada nya begitu sesak.
Adam yang melihat Anin menangis, langsung terdiam dan keluar dari kamar Anin tanpa mengatakan apa pun.
"Dasar laki-laki bodoh.... !" umpat Anin, dengan air mata yang masih mengalir di pipinya.
__ADS_1