
"Ka... kau hamil?" tanya Adam dengan wajah yang terkejut dan langsung menatap Anin yang berdiri di sampingnya dengan wajah yang sama terkejutnya.
"Iya sayang, aku hamil." Alya kembali memeluk Adam.
Anin yang masih terkejut dengan apa yang di dengarnya, langsung beranjak dari tempat itu dengan berlari.
"Anin tunggu.... !" teriak Adam, melepaskan pelukan Alya.
"Mas kau mau kemana?" tanya Alya menarik tangan Mas Adam yang sudah ingin berlari mengejar Anin.
"Alya, aku harus mengejar Anindita! Nanti kita bicarakan ini lagi." seru Adam yang langsung berlari mengejar Anin yang sudah keluar dari halaman rumah.
"Kalian itu bodoh, mau saja di tipu oleh test pack orang lain." gumam Alya dengan seringai licik di wajahnya, menatap Adam dan Anin yang berlari keluar dari halaman rumah.
Alya sudah membuat rencana ini setelah dirinya tahu Mas Adam dan Anin satu kamar di Bali, Alya berpura-pura hamil agar dapat mengulur waktu supaya Mas Adam tidak menceraikannya. Dan Alya pun sedang membuat rencana lainnya agar Mas Adam mau tidur dengan dirinya.
"Aku sangat yakin, Anin pasti akan marah besar pada Mas Adam." ucap Alya dengan tertawa sinis.
Anin yang terus berjalan cepat dengan sesekali mencari tukang ojek, langsung di tahan oleh tangan Mas Adam yang mengejarnya dari belakang.
"Anin tunggu.... !" seru Adam menarik tangan Anin.
"Mas... lepaskan tanganku," ucap Anin berusaha menghempaskan tangan Mas Adam.
"Anin... " Adam tidak meneruskan perkataannya dan hanya menatap wajah Anin yang terlihat sedang menahan tangisnya.
"Mas... aku mohon lepaskan aku. Aku --- " Anin terdiam saat Adam memeluknya dengan erat.
"Maafkan aku," bisik Adam di telinga Anin. "Maafkan aku yang sudah menyakitimu," ucap Adam kembali.
"Mas... kau bilang padaku, kau tidak pernah tidur dengan Alya. Tapi kenapa sekarang Alya sedang hamil anakmu," ujar Anin dengan terisak. Anin sudah tidak bisa menahan tangisnya lagi, hatinya sangat terluka saat tahu Alya sedang mengandung anak Mas Adam.
"Aku memang tidak pernah menidurinya, maksudku hanya sekali pada waktu di hotel yang pernah aku ceritakan padamu," ucap Adam berusaha untuk menenangkan Anin.
"Tapi Mas, waktu itu aku kira Alya hanya menjebakmu. Tapi sekarang Alya justru hamil....!" ucap Anin masih dengan tangisnya.
__ADS_1
Adam pun kembali memeluk tubuh Anin dengan erat dan membelai rambut Anin dengan lembut, hatinya ikut terluka saat melihat wanita yang di cintainya itu menangis karena dirinya.
"Kau tunggu disini, aku akan mengambil mobil! kita bicarakan ini di dalam mobil." ucap Adam yang di jawab anggukan kepala oleh Anin.
Adam pun langsung berlari ke dalam rumah untuk mengambil kunci mobil dan tas kerjanya, dan langsung menyalakan mobilnya tanpa pamit pada Alya.
Di dalam mobilnya Adam dan Anin saling terdiam tidak ada yang berbicara sama sekali, Adam sesekali menatap wajah Anin yang memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil. Suasana begitu hening tanpa ada yang memulai pembicaraan terlebih dahulu, Anin dan Adam sibuk dengan isi kepala masing-masing dan tak terasa mobil pun sudah sampai di depan tempat kerja Anin.
Anin pun langsung turun dari mobil tanpa mengucap salam pada Mas Adam, dan Adam hanya terdiam menatap punggung Anin yang sudah mulai masuk kedalam gedung kantornya.
"Kenapa jadi begini?" gumam Adam dalam hati memukul setir mobilnya dengan sangat keras. "Aku tidak pernah berfikir kalau Alya sampai hamil," ujar Adam pada dirinya sendiri.
Setelah lima belas menit berada di depan kantor Anin, Adam pun menjalankan kembali mobilnya dengan beban pikiran yang terus berputar di otaknya.
.........
Jam istirahat kantor.
"Seriusan Alya hamil?" tanya Mita dengan terkejut. Yang di jawab anggukan kepala oleh Anin. "Lalu reaksi Mas Adam bagaimana?" tanya Mita kembali.
"Yang sabar ya say," ucap Mita dengan mengelus punggung tangan Anin.
"Aku kesal Mita...! Aku kesal dan marah pada diriku dengan pemikiranku yang beranggapan kalau Alya itu sudah menjebak Mas Adam dan mereka sebenarnya belum pernah tidur bersama. Karena pemikiranku yang konyol itu membuat aku mengambil keputusan untuk menerima Mas Adam," ujar Anin dengan emosi.
"Anin, kau itu tidak boleh menyalahkan dirimu sendiri. Dan kau tidak boleh menyesali keputusanmu yang sudah menerima Mas Adam" ujar Mita berusaha menenangkan hati Anin yang sedang emosi.
"Tapi Mita, kalau saja aku tidak bertindak gegabah waktu di Bali. Mungkin aku tidak akan sesakit ini mendengar Alya hamil," ucap Anin kembali yang mulai mengelurkan air matanya karena emosi yang ada di hatinya.
Mita yang awalnya duduk di depan Anin, langsung berpindah tempat ke samping Anin dan memeluk sahabatnya itu dengan erat.
"Menangislah, jika itu membuatmu lega." ucap Mita mengelus punggung Anin.
"Mita, aku harus bagaimana sekarang?" tanya Anin sambil terisak. "Aku tidak bisa hidup dengan berbagi suami, apalagi aku sudah mencintai Mas Adam."
"Kau tidak harus berbagi suami, kau bisa tanyakan pada Mas Adam dia pilih siapa? kau atau Alya!" seru Mita.
__ADS_1
"Tidak semudah itu Mita, Alya sekarang sedang hamil." ujar Anin dengan menghapus air matanya.
"Iya juga sih," gumam Mita. "Eh tunggu dulu, apa kau tidak merasa ada yang aneh? Masa tiba-tiba Alya bilang kalau dia sedang hamil?" ujar Mita dengan menatap wajah Anin.
"Maksudmu?" tanya Anin dengan binggung.
"Aku pikir kehamilan Alya itu hanyalah salah satu trik Alya untuk memisahkanmu dan Mas Adam! Sama halnya ketika Alya menyabotase Mas Adam dan membuat Mas Adam menikahinya" jawab Mita.
"Tapi aku melihat sendiri hasil test pack nya," ujar Anin.
"Anindita, hasil test pack bisa saja punya orang lain! memangnya kau melihat langsung saat Alya melakukan test packnya?" tanya Mita.
"Tidak sih," jawab Anin.
"Nah maka dari itu, coba kau ajak dia ke dokter kandungan agar lebih jelas dia itu hamil atau hanya pura-pura hamil," ujar Mita.
Anin pun memikirkan perkataan Mita yang masuk di akal, karena melihat betapa liciknya seorang Alya dan bukan tidak mungkin Alya bisa memalsukan hasil test pack.
"Tapi kalau nanti hasil dari Dokter kandungan pun sama, aku harus bagaimana?" tanya Anin dengan wajah yang sedih.
"Kalau memang Alya hamil, keputusan ada di tanganmu dan juga Mas Adam." jawab Mita dengan wajah pasrahnya.
Karena Mita sangat yakin kalau Adam sampai tidak bisa memilih antara Alya dan Anin, besar kemungkinan Anin pasti akan meminta cerai dari Adam. Karena prinsip sahabatnya itu sangat lah kuat yang tidak ingin hidup dalam pernikahan poligami.
.......
Anin yang sudah berada di dalam kamarnya memikirkan terus perkataan Mita tentang kehamilan Alya, dan Anin sudah memutuskan untuk membawa Alya ke Dokter kandungan untuk mengecek apa benar Alya hamil atau hanya berpura-pura hamil.
Dan jika nanti Alya benar hamil, mau tidak mau Mas Adam harus menentukan pilihannya. Karena Anin tidak akan mau hidup dalam berbagi suami.
Sementara itu Adam yang masih berada di ruang kerjanya, duduk dengan menatap langit-langit ruangannya. Ingin rasanya Adam pulang ke rumah untuk menemui Anin, tapi kaki nya serasa begitu berat untuk meninggalkan ruangan kerjanya. Adam tidak tahu harus berbuat dan berkata apa kalau dirinya bertemu dengan Anin.
Adam sangat binggung dan pusing dengan masalah yang menimpa dirinya, baru saja dirinya merasakan kebahagian dengan memiliki Anin seutuhnya. Tapi kebahagiaan itu runtuh hanya dalam sekejap saat mendengar berita kehamilan Alya.
"Apa yang harus kulakukan?" gumam Adam pada dirinya sendiri.
__ADS_1